
"Aldi... kamu mau anak mu ini berojol disini?" pekik bumil yang saat ini tengah menahan rasa sakit pada perutnya.
Bayi yang masih bertengger apik di rahimnya tengah sibuk mencari jalan untuk segera keluar dan melihat indahnya dunia serta buruknya tipu daya dunia.
"Kla, kamu tenang dulu. Itu brankanya masih di dorong suster" sambil menunjuk ke arah dua orang suster yang tengah mendorong branka rumah sakit sang suami berucap.
Benar saja. Keributan terjadi di rumah sakit saat suara cempreng milik Klara memekik dengan nyaring menusuk indra pendengaran para penduduk bumi. Emm ralat para penghuni rumah sakit maksudnya.
"Bu saya mohon tenang lah. Jika ibu terus saja berteriak maka setiap pasien yang ada di sini akan mati semua!" wajah cemas dari seorang security tengah memohon.
"Eh pak! kamu kira enak apa? saya mau berojol ini, sakitnya kebangetan huf... huff.. haahhhh" keluhnya sembari mengatur hembusan nafasnya.
"Saya tahu buk tapi...."
"Maafkan putri saya pak, saya mohon kemakluman nya" pinta Ibu Klara yang tengah sibuk menenangkan putrinya.
Bersyukur branka telah di dapatkan. Aldi dengan segera menggendong tubuh istrinya dan membaringkan nya di branka. Dua suster yang tengah bertugas sibuk mendorong branka menuju ke ruang persalinan.
"Huhhhhh... hufffff" suara deru nafas Klara dengan keringat yang membanjiri pelipisnya. Hijab instan yang sudah morat marit itu basah oleh keringatnya.
"Atur nafasnya bu... Tarik nafas... buang. hufff" instruksi dari dokter setelah berada di ruang persalinan sambil memperaktik kannya.
Dr Ana selaku bidan menaikkan kedua kaki Klara, agar sedikit ditekuk dan membukanya. Benar saja setelah di lihat memang sudah pembukaan penuh dan si bayi siap untuk keluar.
"Tarik nafas, buang. Lakukan secara berulang dan mulai mengejan" perintah dokter dengan tangan yang sudah naik turun seolah mengatur deru nafas.
"Eeeehhh.... hufff hufff huufff. Aldi ini sakit banget" keluhnya di sela ejanannya.
Dasar si Klara biang onar siratu cempreng. Udah tau di suruh ngejan eh malah sempat-sempatnya perotes.
"Kla,, tarik nafas buang. Kuatlah ini demi bayi kita" suara Aldi lirih terdengar. Tangannya masih bertautan dengan tangan Klara.
Meski luka akibat cakaran dari kuku istrinya, tak menggoyahkan semangatnya untuk menemani Klara hingga ahir persalinan.
Sedangkan di depan rumah sakit security yang tadi tidak usai usai mendumel dan berargumen seolah memarahi teman security lainnya.
"Bersyukur istri saya pas melahirkan engga kaya ibu ibu yang tadi" ucapnya sambil mengelus dadanya.
Ia lega. Ahirnya Klara sudah tidak berteriak lagi. Masalahnya usai di saat Klara di bawa ke ruang persalinan "Sudahlah mungkin ini pengajaran buat mu hahah" tawa temannya seolah mengejek nasib buruk rekannya hari ini.
Kembali lagi ke ruang persalinan:')
"Heeehhhh huaaaaa hufff.. huff ahhh eeee" ejanan dari Klara. Cukup lama ia mengejan dan ahirnya sampailah pada puncak kebahagiaan sesungguhnya.
Oekkk.. hoeeekkkk
Tangisan bayi yang masih berwarna merah berhasil mengalihkan atensi Aldi. Ia bersyukur ahirnya anaknya lahir ke dunia ini.
"Alhamdulillah terima kasih Kla" ucapnya dengan rasa syukur sambil mencium puncak kepala istrinya.
__ADS_1
Wajah lega dari Klara tampak terlihat. Tadinya tenaganya habis terkuras tapi setelah mendengar tangisan bayinya ia merasa seolah semua tenaganya kembali.
huff... hufff. Hembusan deru nafasnya masih terdengar naik turun.
"Selamat bayi kalian laki-laki dan saat ini dia tengah di bersihkan oleh suster" jelas dr Ana.
Setelah mendengar itu Aldi langsung keluar. Membiarkan suster di dalam ruang persalinan melakukan tugasnya.
Hingga Klara di pindahkan ke ruang perawatan. Bayi laki-laki tampak anteng tertidur dengan sesekali menggeliatkan tubuhnya.
Lengkap sudah. Semua keluarga turut berbahagia. Bayi laki-laki hadir sebagai penerus keluarga kelak.
"Kla selamat ya atas kelahiran baby boy" ujar Lena yang baru saja datang.
Tadi sewaktu Klara kontraksi dan di bawa ke rumah sakit Mami Klara sempat menghubungi Lena dan Zeva.
Setelah tahu Klara di bawa kerumah sakit, Lena terus menuju ke rumah sakit setelah ia sempat membeli buku yang dia perlukan untuk menambah wawasannya.
"Aldi selamat ya. Sudah jadi Papa jadi kurangi jahilnya. Gue takut tar anak kalian jadi nurun sifat mama papanya. Mamanya si biang onar dengan suara cemprengnya dan papanya si tukang jahil" keluh Lena.
Ia sangat tahu Aldi adalah sosok pemuda jahil. Dan Klara jangan di tanya sifatnya bagai mana.
"Terima kasih Le" senyuman mengembang di kedua sudut bibir Aldi.
"Gue mau nengok dong baby boy nya" Lena melangkah mendekat ke arah Klara dan bayinya yang berbaring di sampingnya "MasyaAllah benar-benar mirip Aldi. Asli kayak copy an saja. Aaa pipinya embul kaya baby Ahzam" ujar Lena sambil menoel pipi anak Klara.
"Le, Ze dimana? kok kalian gak bareng?"
"Waalaikumussalam" semua orang menjawab salam dari Zeva dan mengalihkan pandangan ke arahnya.
Baru juga di tanya eh orangnya langsung nongol. Zeva masuk dengan dua kantung belanjaan di tangannya. Ia menyalim tangan Mami dan Papi Klara serta kedua mertua Klara.
"Klara, Aldi selamat ya atas kelahiran baby nya. Maaf Ze telat" ucapnya sambil menghampiri branka Klara.
Ia berdiri di samping Lena disisi kiri Klara "Terima kasih Ze" ujar Klara dan Aldi.
Baby boy sangat tampan. Benar-benar mirip dengan Aldi. Pipi gembul mirip dengan baby Ahzam putra Ahkam.
"MasyaAllah Kla mirip banget ini sama si Aldi" ucap Zeva dengan sumringah. Ia menoel pipi bayi mungil itu yang sontak saja langsung membuat bayi laki-laki itu menggeliat sambil menggerakkan bibir mungilnya.
Kebahagiaan meliputi setiap orang. Kelahiran baby boy yang di buka langsung oleh teriakan serta keluhan dari Klara yang langsung membuat security rumah sakit menjadi kalang kabut akibat teriakan yang di takuti mengganggu kedamaian para pasien.
..
"Mas"
"Iya sayang?" Sahut pemuda itu sambil menoleh istrinya yang tengah duduk di depan kaca riasnya.
"Sudah seminggu Klara melahirkan anaknya. Nanti kalau mas punya waktu luang kita berkunjung ya ke rumahnya. Emm mas belum liatkan putra Aldi? apa mas tau baby boy itu benar-benar mirip dengan Aldi" ucapnya sambil tersenyum.
__ADS_1
"Pipinya gembul seperti baby Ahzam. Isss Ze jadi gemas kalau liatnya, pengen Ze gigit itu pipinya yang kaya bakpau emm massss..." ucapannya terhenti di saat Kahfi mulai memeluk tubuhnya
Ia memeluk istrinya dari belakang sambil mencium pipinya. Yang langsung secara otomatis membuat ucapan Zeva terhenti.
"Besok kalau mas gak sibuk kita kerumah Klara ya. Mas jadi penasaran sama baby boy nya. Emm dan mas juga gak sabar nungguin bayi kita lahir juga" ujarnya sambil mengelus perut istrinya.
"Mas, bayi kita masih kecil dan dia akan lahir setelah tujuh bulan kedepan"
"Kapan kamu ****** ke rumah sakit Ze?"
Zeva menyerngitkan alisnya. Satu pertanyaan dalam benakya, kontrol? dia sakit apa? begitulah pikirnya.
"Kok malah diam? mas tanya kapan kamu kontrol, emm USG maksudnya" tanya Kahfi lagi.
"Oo, USG. Kalau gak salah jadwalnya hari senin. Berarti empat hari lagi" ucapnya sambil mengingat ingat jadwalnya untuk memeriksakan kandungan nya.
Benar saja saat ini usia kehamilan nya akan memasuki usia dua bulan. Klara sudah melahirkan seminggu yang lalu. Jika di ingat itu adalah momen yang membuat hati siapa saja meringis sekaligus tertawa.
Bagaimana tidak, setelah sempat berbicara Aldi baru mengeluh karena sakit pada pergelangan tangannya. Yang mana kala di tanya penyebanya ia langsung menjawab 'ini adalah akibat dari cakaran maut si Klara' keluhnya.
Sontak saja itu membuat Zeva dan Lena tertawa. Bagaimana bisa ada cakaran maut? bukannya maut adalah sebutan untuk kematian? apa jangan-jangan cakaran maut adalah cakaran kematian. Ohh yaampun. Sumpah demi Bapak Mario Teguh yang bicaranya jago banget saat ini juga Klara ingin melayangkan protsenya.
Tapi niatnya itu ia urungkan. Sebab tidak baik juga memperpanjang masalah yang tidak terlalu penting.
"Ze, kok jadi ngelamun?" tegur Kahfi.
"Eh enggak kok mas" kilahnya saat sentuhan lembut dari suaminya menyapu hangat pipinya.
"Anak Abi, yang sehat ya. Abi sama Umi nungguin kamu buat hadir sebagai pelengkap kebahagiaan. Ada nenek dan Kakek kamu yang juga menantimu. Ada paman dan para bibi mu menanti kehadiranmu" Ucap Kahfi sambil duduk dilantai dengan sambil mengelus perut rata Zeva.
Zeva tersenyum. Bayi yang ia kandung sangat di nanti kan semua orang, tak terkecuali dirinya.
Ada hal yang tak dapat di gambarkan dan di jelaskan secara gamblang, yaitu bahagiannya di kala kita akan memiliki seorang buah hati yang akan menjadi pelengkap separuh dari kebahagiaan kita. Benar bukan?
..
Salam sayang dari Author:')
Salam kenal nama Author sudah pasti kalian tahu kan.
Usia Author juga baru 16th
Dan masih jadi pelajar.
Jadi intinya kalau karya Author rada ngebosenin mohon maaf ya. Dan masalah up yang gak teratur juga Author mohon maaf ya.
Wajar lah Authornya masih berada di fase ke labilan yang hakiki:v
Intinya buat yang ngVOTE tapi gak pernah komen, terima kasih banyak ya:')
__ADS_1
Dan buat yang ngelike tanpa komen, bahagia selalu ya. Meski kalian tersembunyi tapi support dari kalian sangat berarti:')
Sehat selalu buat para pembaca yang sudah bersedia menjadi reders terbaik meski tersembunyi:'l