Kun Fayakun

Kun Fayakun
Lelaki Bujang


__ADS_3

Rindu terberat adalah kepada orang yang telah tiada. Keluh kesah terberat adalah ketika kita ingin mencurahkan segalanya tapi tak memiliki tempat bersandar.


"Mas" lirih wanita mungil yang tengah menatap gelapnya langit malam.


"Iya Ze?" pemuda disamping nya menoleh.


"Kapan sih kak Aldo ngehalalin Lena? perasaan lama banget?" keluhnya.


Benar adanya belakangan Aldo dan Lena semakin dekat. Umi dan Abi sudah memberi lampu hijau pertanda ia setuju jika Lena menjadi mantunya.


Mungik kata 'halal' itu terdengar sederhana. Tapi percayalah setiap proses menuju kata itu sangatlah rumit. Benar bukan?


"Mungkin secepatnya. Kita hanya bisa mendoakan selebihnya biarkan Allah yang menjadi penentu takdir hambanya" jelas Kahfi.


Benar bukan? kita yang hanya manusia hanya bisa berdoa memohon dan berusaha. Selebihnya pasrahkan semua kepada sang Khaliq.


Mendengar jawaban dari suaminya Zeva hanya manggut-manggut pertanda ia setuju.


"Besok hari senin, Ze USG mas temanin atau enggak?" tanya Zeva.


"Mas temanin, kamu USG nya jam berapa?" pemuda ini beralih merangkul pundak istrinya.


Perlu di ingat. Demi spongebob yang badannya kotak istrinya ini sangat pendek, selain pendek mungil pula. Untuk sayang dan cinta, kalau tidak mungkin sudah di karungin. hahha.


"Sekitar pukul dua siang, nanti sebelum cek kandungan Ze keruangan mas dulu" jelasnya.


"Iya, kamu datang saja. Besok biar Mang Umar yang ngantar ya" Zeva hanya mengangguk merespon ucapan suaminya.


"Mas Ze rindu sama nenek" lirihnya.


Satuhal yang pasti rasa rindu telah menumpuk di dalam relung hati. Rindu yang tak dapat di salurkan kepada orang nya secara langsung. Hanya doa yang selalu berlabuh meminta agar yang telah tiada diberi ketenangan.


"Bagaimana kalau besok kita ziarah ke makam nenek?" usulan suaminya ini sangat pas.


Hanya ada satu cara menyalurkan perasaan rindu kepada yang telah tiada, yakni mendatangi makamnya berziarah dan melabuhkan doa yang siap mengangkasa kepada sang pemilik kehidupan.

__ADS_1


"Ze mau, tapi Ze kepengn kita semua ziarah bersama di makam nenek" pintanya.


Ziarah bersama yang dimana artinya tidak hanya mereka berdua tetapi seluruh keluarga almarhumah Ny Karina. Mulai dari Papa, Ahkam, Mama Veronika, Nur, Zidan dan yang lainnya.


"Mas akan bicarakan ini ke Kak Ahkam ya" Kahfi menatap istrinya yang menganggukan kepalanya pertanda ia setuju "Kamu gak dingin?" sambungnya.


"Lumayan" tangan Zeva mulai mengelus lengannya. Mengosoknya pelan agar mendapat kehangatan.


"Sini mas peluk" tangan Kahfi langsung membawa istri mungilnya kedalam pelukannya.


Udara malam ini memang lumayan dingin. Gazebo dihalaman tampak mulai berembun. Suara jangkrik riuh meramaikan malam. Defenisi malam kelabu seperti apa? jika malam ini di katakan malam kelabu itu tidak cocok.


Sebab langit gelap sedang bertabur bintang. Rembulan bercahaya dengan gagahnya. Suara jangkrik juga turut meramaikan. Jadi malam ini bukanlah malam kelabu, bukan?


"Kahfi, Ze ayo masuk nak sudah malam. Ze wanita hamil tidak baik terkena angin malam terlalu lama" suara Umi meramaikan malam yang hening.


Wanita hebat yang tengah berdiri di depan pintu samping yang menjadi penghubung antara jalan menuju ke gazebo yang tak terlalu jauh.


"Iya umi" respon dari Kahfi cukup membuat umi paham.


Setelah berucap Umi langsung masuk lagi kedalam. Entah kemana menghilangya? mungkin langsung menuju ke kamar untuk beristirahat, sebab jam juga sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.


"Mas Ze ke kamar duluan ya. Ze udah ngantuk. Mas kalau nonton bola jangan terlalu begadang ya" ucap Zeva.


Saat melalui ruang keluarga ia melihat Aldo tengah asik menatap layar tv yang menampilkan pertandingan bola. Kahfi berhenti. Hal itu membuat Zeva paham makanya dia berujar begitu. Dia paham suaminya adalah pemuda gila bola. Aplagi tim kebanggaannya yang bermain.


"Kamu paham, benar-benar istri idaman" senyum mengembang di kedua sudut bibir Kahfi "Istirahat yago nyenyak, anak Abi juga" sambung Kahfi sambil mengelus perut rata istrinya yang terbungkus oleh piama panjang.


Zeva berlalu ke kamar. Sedangkan suaminya menuju ruang keluarga. Dimana terdapat sosok laki-laki bujang yang tengah menatap pertandingan dengan seksama. Lelaki bujang. Bukan berati bujang lapuk. Wkwkkw.


"Sejak kapan Fi?" tanya Aldo setelah lumayan lama Kahfi duduk di samping nya.


"Sejak tadi" Kahfi tetap fokus menatap layar tv "Gimana kantor kak?" sambungnya dan beralih menatap kakanya


"Aman semua masih berjalan lancar dan terkendali" senyuman kebanggaan turut mewarnai ucapan Aldo.

__ADS_1


"Alhamdulillah syukurlah. Terus Lena gimana?"


"Gimana apanya Fi?" Aldo mulai tertarik dengan pertanyaan adiknya.


Aldo menaikkan kedua kakinya dan melipatnya, seolah duduk bersila diatas soffa empuk dengan bantal sofa yang menjadi penyangga tangannya agar bisa bertopang dagu.


"Gimana kelanjutan hubungan Kakak sama Lena? Kapan di halalin anak gadis orang. Apa lo gak takut keburu di serebet orang?"


Beginilah jika kedua kakak beradik ini jika sudah berbincang. Selalu menjadi hal yang serius tanpa niatan berulah untuk bercanda.


"Maunya sih segera. Tapi Lena bilang dia mau bekerja dulu di kantor lawyer" jelas Aldo.


Mengingat beberapa bulan yang lalu Klara dan Lena sudah wisuda S1 nya. Dimana saat wisuda Klara tengah mengandung putranya.


Oh ya jika bertanya tentang baby boy Klara, maka jawabannya anaknya itu sudah di beri nama pada saat akikahnya kemarin. Baby boy 'Naufal Athaya Zein'. Ya itulah namanya. Yang dimana kata Zein diambil dari nama belakang Aldi ayahnya.


"Menikah dan bekerja. Emm menuru ku ya Kak. Lena kan masih tetap bisa bekerja meski dia sudah menikah" ujar Kahfi.


Ia mengingat istrinya juga masih sering ke cafe miliknya. Bakhan sekarang dia tengah hamil. Intinya jangan jadikan status pernikahan menjadi alasan terhalangnya wanita untuk berkarir. Wanita masih bisa bekerja tapi harus sesuai porsinya.


Dimana dalam artian wanita tetap boleh berkarir asal ia tidak melupakan tugas dan kewajibannya sebagai seorang istri.


"Aku akan bicarakan padanya. Mama Papanya juga setuju jika di segera menikah"


Benar yang di katakan Aldo. Orang tua Lena tidak masalah jika putrinya menikah di usia mudah. Bahkan ia sangat senag apalagi segera di beri cucu. Mengingat Lena hanyalah anak tunggal jadi itu membuat orang tua Lena selalu mengharapkan yang terbaik untuk putrinya.


Perbincangan dua pemuda itu hanya sampai disini. Dan keduanya kembali menatap layar tv dimana pertandingan bola Liga Premier tengah di siarkan.


Satuhal yang pasti, ruang keluarga akan ricuh dikala teriakan gol lolos dari mulut keduanya saat tim yang mereka dukung mendapatkan angka. Dan sebaliknya sofa akan menjadi pelampiasan kekesalan disaat tim yang mereka dukung gagal atau skor semntaranya lebih unnggul tim lawan.


Terkadang Umi suka marah, jika tiga pemuda rumah ini menonton acara bola. Umi selalu bilang janga teriak-tetiak. Ini rumah bukan hutan. Begitulah petuah Umi.


Tapi beruntung malam ini Abi tidak ikut gabung menonton acara bola, jadi suara di ruang keluarga tidak terlalu heboh. Malam semakin larut, penghuni rumah sudah larut dalam dunia minpi. Menyisahkan Aldo dan Kahfi yang masih terjaga.


Kebahagiaan selalu hadir di keluarga mereka. Meski selalu bahagia bukan berarti mereka tak memiliki masalah. Meski ini dunia halu tapi tetap saja ada masalah yang melanda hanya saja belum saatnya.

__ADS_1


Sumpah demi naruto yang bisa berjalan di atas air, dan spongebob yang gak kalah jagonya bisa ngidupin api di dalam air mohon untuk beri keritik dan sarannya:')


Terima kasih.....


__ADS_2