
"Mimimi tata jatata" celoteh Ahzam.
Batita ini kian hari semakin aktif saja. Kini dia sudah mulai belajar berjalan. Meraih benda apa saja yang bisa ia jadikan sebagai pegangan di kala ia ingin berdiri.
"Ahzam, sayang nanti jatoh, Umi Ze disini" sambil menggendong Ahzam. Zeva membawanya kembali ke ruang keluarga di rumah Ahkam.
Saat ini Zeva tengah berada di rumah Ahkam. Semenjak dua hari yang lalu ia dan Kahfi menginap disini. Dan soal kandungannya juga sudah berusia lima bulan.
Dimana bulan lalu Bunda dan Papa Malik datang ke Indonesia. Pengajian empat bulanan di langsung kan di rumah Umi. Bunda sangat bahagia. Ahirnya putri kecilnya akan memiliki seorang anak. Tidak terasa dulu ia berpisah dengan Zeva kala anaknya itu masih kecil. Dan kini saat ini putri kecilnya itu akan menjadi seorang ibu.
"Ahzam sini nak Bunda suapin. Ahzam mamam dulu ya sayang" Nur berjalan mendekati putranya yang tengah duduk lesehan di karpet bersama Umi Zevanya.
Bubur yang menjadi makanam bayi itu dimakan dengan lahab oleh Ahzam. Tentunya tangan mungil itu tak mau diam, dia mencoba meraih mangkuk dari makanannya, mungkin ia berniat untuk makan sendiri.
"Taaahhh mamama..mamam" celotehnya dengan teriakan has batita ia meraih mangkuk makannya. Namun sayang Bundanya tak mengizinkan alhasil ia mengeluarkan teriakan mungil has batita seusianya.
"Ahzam jangan nakal ya sayang, Biar bunda yang suapin ya" ujar Zeva. Ia mencoba berbicara agar Ahzam menurut untuk makan disuapi oleh Bunda nya. Nur.
Ahzam menghadap tepat di wajah Zeva. Ia menepuk nepuk pelan pipi Zeva "Mimi, tata mama akkhh" celotehnya sambil tertawa.
"Iya mam ya sayang, biar pipinya makin gembul" Zeva mencubit pelan pipi gembul Ahzam. Putra kakanya ini benar-benar pintar. Tumbuh tangab dan sehat.
Nur menyuapi Ahzam makan, hingga suapan terahir. Habis. Itu tentu saja.
"Mbak nanti malam Ze pulang ya. Ze rindu suasana rumah"
"Iya Ze gak papa. Nanti kalau mau nginap di sini datang saja ya"
Tentunya. Zeva menginap disini pasalnya ia merindukan suasana saat dia masih belum menjadi istri Kahfi. Sebenarnya dia ingin pulang ke rumah utama keluarga Mahendra tapi niatnya ia urungkan. Mungkin dia malas jika harus mengingatkan saat bersamaan sang nenek.
Beberapa yang lalu mereka sudah berziarah ke makam almarhumah Ny Karina. Tentunya ramai, ada Ahkam, Papa Mahendra, Mama Veronika, Zidan, Nur, Ia dan Kahfi. Sedangkan Ahzam di titip ke Lena.
..
Malam harinya sesuai yang di katakan Zeva akan pulang kerumah suaminya. Tempat ia seharusnya berada "Kak Ze pulang ya. Nanti Ze kemari lagi kok kapan-kapan" ujarnya.
"Iya iya hati hati bumil, jaga calon ponakan kakak, jaga kesehatan ya" ucap Ahkam. Ia memeluk adiknya.
Ada yang berbeda, adik kecilnya yang dulu sangat ia jaga kini telah berbeda. Sekarang adiknya telah menjadi seorang istri, bahkan akan menjadi ibu sebentar lagi. Jadi waktunya tak sebebas dulu
__ADS_1
Di mana saat keduanya masih sama-sama belum memiliki pasangan.
"Hati-hati di jalan Fi" ujar Ahkam.
"Aman kak, Mbak kita pamit ya. Assalammualaikum" ujar Kahfi begitu pula Zeva.
"Waalaikumussalam"
Kini Zeva dan Kahfi telah masuk kedalam mobil. Mesin mobil mulai menyala. Kahfi membunyikan klakson sebelum benar-benar meninggalkan halaman rumah kakak iparnya itu.
Ahzam mungil pastinya sudah tidur. Batita itu sangat pintar, setelah perutnya kenyang ia pasti mengantuk dan mulai tertidur.
Bersyukur malam belum larut. Masih jam delapan. Kini keduanya telah sampai dirumah. Umi dan Abi senang, ahirnya mantunya pulang. Rumah menjadi sepi saat Zeva dan Kahfi tidak di rumah.
Jika ditanya Aldo, pastinya dia tengah sibuk. Belakangan ini ia sering lembur. Ia mengatakan ia akan lembur dan menyelesaikan tugas kantor sebelum hari pernikahannya.
Benar. Saat tiga bulan lalu ia melamar Lena, saat itu pula niat baiknya di sambut hangat oleh keluarga besar Lena. Dan rencananya mereka akan menikah dua bulan lagi dari sekarang.
Lumayan lama bukan? Masih dua bulan lagi tapi Aldo sudah sangat rajin lembur agar pekerjaan kantornya selesai.
"Abi ini martabaknya dimakan" ujar Kahfi. Tadi diperjalanan pulang ia sempat membeli martabak langganan nya.
"Sayang gimana ada keluhan selama kamu mengandung?" tanya Umi. Ia duduk di samping Zeva, menantunya.
"Alhamdulillah enggak ada Umi" senyumnya mengembang.
Benar-benar beruntung, ia hamil tanpa keluhat pastinya sangat bangga sebab kehamilannya tidak perlu merepotkan orang lain.
Setelah lama berbincang bersama Umi, Kini mereka mulai masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Jam menunjukkan pukul sembilan tigapuluh malam, Aldo masih belum bulang. Dasar pemuda ini seketika menjadi gila kerja.
"Sayang" ucap Kahfi. Saat ini keduanya telah merebahkan tubuh masing-masing di ranjang empuk berlapis seprai berwarna biru langit.
"Iya mas?" Zeva berbalik memiringkan badan menghadap suaminya.
"Mas rindu" ujarnya sambil mendekatkan diri ke istrinya.
Rindu? bagaimana bisa? bukannya mereka selalu bertemu? apa ini? kenapa suaminya? membuat Zeva bingung.
Tangan Kahfi sudah memeluk pinggang istrinya posesif "Mas minta haknya mas malam ini. Udah lama sekali mas libur" keluhnya.
__ADS_1
Zeva menatap suaminya. Wajahnya kusut seolah beban hidup tengah di limpahkan kepadanya. Benar-benar naas nasib suaminya. Semenjak hamil memang Zeva sangat jarang melayani suaminya.
"Apa mas?" kelakah Zeva. Ia berpura-pura tidak tahu maksud dari pernyataan suaminya.
"Boleh ya, gak lama dua kali saja" pintanya.
Ingin menolak namun apa daya, ini adalah kewajibannya sebagai istri. Zeva hanya mengangguk merespon permintaan suaminya. Dengan senyum kemenangan Kahfi melakukan tugasnya.
Ia menuntaskan hasrat yang sudah lama ia pendam. Melakukan permainan dengan pelan dibawah selimut. Dinginnya malam seolah menjadi hangat. Pergemulutan dua insan yang berpadu dalam balutan ikatan halal.
Ikatan halal lebih menguntungkan. Pahala senantiasa mengalir. Berbeda dengan ikatan yang tidak jelas, tidak jelas dalam artian belum ada pengikat sah di dalam hubungan itu.
..
Pagi harinya Zeva dan Kahfi sudah sangat rapi. Balutan mukenah putih membalut tubuh Zeva. Baju koko dan sarung kotak-kotak terpasang apik di tubuh Kahfi. Peci hitam bertengger apik di kepalanya.
Abi dan Umi sudah berada di ruang sholat. Mereka akan melaksanakan sholat subuh berjamaan di ruang sholat. Bi Nani juga sudah canyik dengan balutan mukenah putih dengan bordiran benang hijau menambah ke cantikan.
"Loh dek kalian kapan pulang?" pertanyaan yang pertama kali meluncur di bibir Aldo. Baru saja masuk ke ruang sholat ia sudah di suguhkan pemandangan pasutri didalam nya.
"Tadi malam kak. Masa kak Aldo gak liat Jeep Kahfi udah terparkir cantik di garasi" kelakah Kahfi dengan senyuman.
"Tadimalam udah ngantuk dan capek banget, kakak gak liat" ujar Aldo.
"Makanya jangan terlalu gila kerja kak"
"Demi demi, biar cepat nikah ini Fi" tawa Aldo.
"Sudah-sudah, ayo sholat nanti keburu kesiangan. Ngobrolnya nanti dilanjutin. Do ikomat" perintah Abi.
Seketika perbincangan Keduanya berhenti. Aldo mengumandangkan ikomat sebelum memulai sholat.
Jika Aldo dan Kahfi di biarkan mengobrol maka yang ada sholat subuh mereka akan menjadi sholat kesiangan. Pasalnya waktu terus berjalan kedepan bukan kebelakang.
Abi menjadi imam, dengan Aldo dan Kahfi di belakangnya. Umi, Bi Nani dan Zeva berada di barisan belakang laki-laki gagah di depannya.
Lantunan merdu kalam Allah terlapas , bacaan abi sangat merdu mengalun membuat hati sejuk kala mendengarnya.
Ada perasaan bahagia kala kita masih dapat melaksanakan shalat berjamaah dikala padatnya aktifitas dari masing-masing keluarga. Meski sibuk jangan sampai membuat kita menjadi jauh dengan keluarga. Ingat sepenting apapun urusannya tetaplah keluarga yang menjadi prioritas.
__ADS_1
Kunci keharmonisan keluarga adalah seringnya berinteraksi. Jangan menjadi cuek dan melupakan satu sama lain.
Kamu hebat. Kamu sukses. Kamu kaya. Kamu bisa berbangga sebab ada orang-orang hebat yang menjadi penopang dengan doa doa yang mereka langitkan untukmu. Tetap keluarga yang utama bukan yang lainnya.