
Senja memang tak secantik Pelangi. Tapi Senja tepati janji, tak seperti Pelangi. Hari ini Pelangi pergi dan entah kapan akan kembali. Tapi tidak dengan Senja hari ini dia pergi tapi esok hari dia pasti akan kembali lagi.
Dengan setianya semua menunggu Zeva untuk kembali sadar. Mungkin bagi mereka sudah cukup selama hampir dua hari ini Zeva tidur tanpa berniat untuk bangun.
Waktu menunjukan pukul 16.00 semua telah melakukan sholat Ashar di mushola rumah sakit. Klara dan Lena juga sudah berpamitan pulang. Begitu pula dengan Nur, tadi setelah ia bertemu Ahkam langsung menyuruh nya untuk pulang.
Bukan apa-apa hanya saja Nur sedang hamil. Ahkam takut jika nantinya ia jadi kelelahan dan akan menyebabkan dia sakit.
Zeva sudah bisa ditemui. Semua bergantian menjenguknya. Yang pertama masuk Ny Karina dan Tn Mahendra. Tidak lama mereka di dalam pasalnya Zeva juga belum sadar.
Karena ada urusan kantor, Tn Mahendra pulang bersama Ny Karina dan juga Mama Veronika. Kini dirumah sakit tinggal Bunda Laura dan Papa Malik. Dengan setia Papa Malik menemani istrinya menunggu Zeva.
"Sayang kapan kamu akan bangun? apa kau terlalu letih sehingga memilih untuk beristirahat sangat lama seperti ini" cairan bening pun luruh dengan bebas di pipi Bunda.
"Ze bangun ya! Ini Papa Malik di sini, nanti Papa janji akan lama di Indonesia untuk menemani Ze sampai sembuh" segala bujukan keluar dari mulut Papa Malik. Namun yang dibujuk tak kunjung menunjukkan tanda akan sadar.
Bersyukur? itu pasti. Biarpun begini kehidupan Zeva bahagia karena dia di kelilingi oleh banyak orang yang menyayangi nya.
Sementara keadaan Citra kini mulai lebih baik. Jika tidak ada kendala besok dia akan kembali kerumah dan sudah sembuh.
Urusan caffe milik Zeva juga sepenuhnya ditangani oleh Mbak Arum. Semua pegawai awalnya terkejut ketika mengetahui bahwa Zeva mengalami kecelakaan.
Jika satu kehidupan terhenti maka yang lain harus tetap melanjutkan hidup masing-masing. Sebab tidak ada guna jika kita berlarut lama dalam kesedihan.
...
Senja tampak mulai muncul. Cahaya jingga itu hadir tampak menenangkan. Suara hiruk pikuk keramaian jalan raya semakin ramai terdengar.
Kini diruangan Zeva hanya ada Ahkam. Tadi ia menyuruh Papa Malik untuk membawa Bunda pulang agar beristirahat. Sempat menolak namun Ahkam terus memberikan pengertian kepada Bunda. Nanti jika Zeva sadar ia akan menghubungi keluarga yang lainnya.
"Ze kapan kamu akan sadar? apa kamu tidak merindukan ku? Ze lihatlah langit itu, bukannya kau sangat menyukai senja? ayo bangun buka matamu Ze" ucapan Ahkam semakin lirih.
Ruangan Zeva mengarah langsung ke arah tama rumah sakit. Kaca jendela yang lumaya besar dapat memperlihatkan keadaan langit sore diluar.
__ADS_1
"Ze jadilah seperti senja. Ketika ia pergi dia tetap ingat untuk kembali lagi esok" Ahkam terus saja menggenggam lembut tangan Zeva.
Benar saja sejauh apapun senja pergi meninggalkan langit pasti esok ia akan kembali lagi. Bukan sebuah janji untuk lembali tapi itu adalah kewajibannya.
krekk...
Suara pintu terbuka ditengah Ahkam sedang bicara kepada Zeva yang hanya tidur tanpa merespon. Ahkam menoleh ke ambang pintu yang memperlihatkan dua orang pemuda yang dia kenal dekat. Sahabat lebih tepatnya.
"Kam" ucap laki-laki berkulit putih dengan badan tinggi nan atletis.
Ahkam beranjak dari kursinya dan menghampiri "Eh Do, Fi" ucapnya menyapa kedua pemuda itu.
"Kak ini pakaikan dulu" Ucap Kahfi menyodorkan kantong berwarna coklat.
Ahkam menerima dan melihat isi kantong tersebut. Ketika diraih ternyata isinya sebuah hijab instan berwarna jingga. Seketika Ahkam ingat jika Zeva tak suka dilihat laki-laki lain jika ia sedang tak menggunakan hijabnya.
Dengan cepat Ahkam kembali mendekat ke branka tempat Zeva dan memakaikan hijab instan itu dengan pelan. Aldo dan Kahfi juga ikut mendekat untuk melihat keadaan Zeva.
"Kak kemungkinan terbesar Ze akan koma" ucap Kahfi
Mereka terus berbincang "Umur adek lo berapa Kam?" entah kenapa tiba-tiba Aldo mempertanyakan itu.
"Dia masih kecil, dan jangan macam-macam. Gue tau lo gak bakalan serius" bukannya menjawab Ahkam malah memberikan ucapan berupa ancaman kepada Aldo.
"Tinggal jawab aja susah bener"
"Baru 20tahun Do. Dan lo jangan macam-macam. Dia juga udah pernah menikah tapi pernikahan itu gak berlangsung lama. Hanya beberapa bulan dan bercerai"
"Lah serius lo. Gua kira umurnya masih 18tahun. Cantik, mungil pula adek lo kok ada ya laki-laki yang nyia-nyia in dia?"
Kahfi hanya diam menjadi oendengar yang budiman. Dalam hatinya cemas, cemas karena jangan sampai jika kakanya juga akan menyukai Zeva. Jika iya bisa gawat urusannya.
"Nikah karena perjodohan....." Ahkam menceraikan semuanya kepada Aldo dan Kahfi. Bagi nya dua laki-laki ini sudah seperti keluarga jadi tidak ada salahnya jika dia bercerita.
__ADS_1
"Oo pantesan. Tapi tega juga ya bokap lo. Fi gimana? udah sendiri tunggu apa lagi deketin dong. Ya walaupun udah pernah menikah kan gak ada salahnya" ucap Aldo sambil melihat ke Kahfi.
Uhuk.. uhukkk Kahfi tersedak mendengar ucapan kakanya itu "Kenapa gak lo aja kak" sejurus kemudian dia berani menjawab kakanya itu.
"Gue udah punya, ya seusia dia jugak lah" dengan entengnya Aldo berucap.
"Kok gak pernah bilang Do" begitulah respon Ahkam "Siapa gadisnya? jangan-jangan lo jampi-jampi ya?" mata Ahkam menyipit mengejek Aldo.
"Enak aja"
"Secara umur lo udah 25 dan lo orangnya kan garing masa iya ada yang mau ama lo. Kalau gak di jampi-jampi atau lo hamili makanya dia mau?" Ahkam menduga-duga.
Bukan tanpa alasan Ahkam begitu. Tapi setaunya Aldo sangan cuek dan jarang banget ngurusin masalah perempuan.
"Jangan ngaco. Lo kira gue gorengan? garing! dan lo jangan sembarangan gue gak ngehamilin dia. Gue juga baru kenal tiga hari lalu dan gue merasa nyaman ama dia"
"Lo harus ceritain secara lengkap secara diantara kita kan gadak yang namanya rahasia"
Ahkam dan Aldo terus saja berbincang mengenai masalah wanita. Dan Kahfi tetap menjadi pendengar yang budiman. Hingga suara azan magrib menghentikan perbincangan mereka.
"Sholat dulu nanti lanjut lagi ngobrolnya" ujar Kahfi.
Ketiga pemuda itu keluar dari ruangan Zeva dan pergi ke mushola rumah sakit untuk melaksanakan panggilan sang Khalik.
Sesibuk apapun dan seterpuruk apapun jangan pernah lupa akan kewajiban kita sebagai makhluk Allah. Allah menyebut manusia adalah makhluk ciptaan-Nya yang mulia, jadi sudah selayaknya kita menjadi sebaik-baiknya manusia.
Manusia dibekali akal dan pikiran agar dapat dibedakan antara Manusia dan hewan. Begitu pula Malaikat tidak dibekali nafsu agar dapat menjadi pembeda antara ia dan manusia.
.
.
**Next....
__ADS_1
Tetap dukung novel ini, cukup dengan like, komen, rate5, faf. Jika ingin vote juga silahkan:')
Terima kasih atas dukungan kalian semua**:')