
Manusia hanyalah segumpal tanah yang diberi kehidupan. Dan pada saatnya sang Khalik mengambil nikmat kehidupan itu maka akan kembali lagi menjadi tanah.
Airmata itu kembali menggenang. Zeva hanya menganggu dikala Neneknya menanyakan kesiapan dirinya untuk menikah.
Dua buah bangku telah tersedia disisi kanan dan satu bangku untuk penghulu disisi kiri. Dan tak lupa Tn Mahendra berada di samping penghulu.
Dengan mengucap istifar, basmalah dan juga dua kalimat syahadat serta tak lupa bershalawat sebelum mengikrarkan kalimat suci dihadapan banyak orang, termasuk dihadapan Allah.
"Ananda Abidzar Al-Kafi saya nikahkan ananda dengan putri kandung saya Vania Zhalia Zevanka binti Arya Mahendra dengan mahar surah Ar-Rahmaan dibayar tunai"
Dengan nada bergetar Tn Mahendra mengucapkan kalimat itu. Untuk yang kedua kalinya dia menyerahkan putrinya kepada laki-laki lain. Namun berbeda dari yang sebelumnya.
"Saya terima nikah dan kawinnya Vania Zhalia Zevanka binti Arya Mahendra dengan mahar surah Ar-Rahmaan dibayar tunai" Satu tarikan nafas Kahfi mampu menyelesaikan ijab kabul dengan baik.
"Bagaimana saksi sah?"
"Sahh" Ucap semua yang berada di ruangan.
Tak hanya keluarga diruangan itu juga ada Dokter Ibrahim dan dua orang suster. Lengkap sudah rasanya kebahagiaan meliputi ruangan itu. Hingga lantunan surah Ar-Rahmaan mulai terdengar.
"*Bismillahhirahmaannirahim"
"Ar-Rahmaan"
"Allamal-qur'an"
"Khalagal-insan"
"Allamalhul-bayan"
"Asy-syamsu wal-qamaru bihusban"
"Wan-najmu wasy-syajaru yasjudan*"
Dengan suara merdu lantunan Ar-Rahmaan itu menggema didalam ruangan. Terukir senyum bahagia diwajah Ny Karina. Harapannya semoga kali ini jodoh yang dipilihkannya untuk Zeva tidak salah.
InsyaAllah ia adalah pemuda yang berilmukan agama dan berlandaskan ajaran islam sehingga dia paham bagaimana memuliakan wanita sekalipun dia tidak mencintainya.
Lantunan Ar-Rahmaan itu terus menggema. Semua yang mendengarkan tersenyum penuh rasa sykur. Bunda bangga ia memiliki menantu yang paham akan agama.
"Fabi ayyiala irabbikuma tukazziban"
"Tabaaraka ismu rabbika dzii aljalaali waal ikram"
"Shadakhallahuladzim"
__ADS_1
Hingga ayat terahir Ny Karina masih mengembangkan senyuman. Kembali semua mengucapkan hamdalah. Hati Zeva menghangat betapa bangganya ia kelak akan memiliki suami yang paham akan agama.
"Bahagiakan selalu Zeva nak. Jika salah tegur lah dia. Jika khilaf ingatkan dan tuntunlah ia untuk kembali ke jalan yang benar. Muliakanlah dia sekalipun kamu tidak mencintainya. Jangan pernah meninggalkannya sekalipun kamu bosan akan dirinya" Ny Karina mengatakan kalimat itu dengan nada bergetar dan suara lirih. Airmatanya tak kuasa ia tahan dan ahirnya lolos dari pelupuk mata.
"Ze jadilah istri yang shaleha. Raihlah ridho Allah bersamanya. Ia adalah laki-laki baik, patuhi segala ucapannya selama itu menuju akan kebaikan. Tugas nenek sudah selesai, dengan begini aku bisa pergi dengan bahagia" ujar Ny Karina.
"Nenek bicara apa? nenek sudah janji akan sembuh kan" nada itu semakin lirih. Zeva bangkit dari kursinya dan beralih menatap Ny Karina.
"Berbahagialah Ze"
Layar monitor menunjukkan aktifitas jantung yang semakin melemah. Dengan garis lurus tanpa gelombang siapapun yang melihat pasti sudah paham jika sipemilik kehidupan telah mengambil hak kehidupan itu dari orangnya.
Kelopak mata Ny Karina semakin sayup hingga ahirnya berhasil tertutup dengan sempurna. Kepala itu lunglai kesamping dengan sekali gerakan berhasil jatuh menandakan bahwa sudah tidak adalagi kehidupan didalam tubuh itu.
"Nek. Nek jangan bercanda. Nenek pasti sembuhkan, ayo bangunlah nek. Nek nenek.... hik, hiks, hiks" rintihan sendu menyayat duka terdengar tat kala raga itu telah terbaring tanpa menunjukak respon.
"Haaaa nenek ayo bangunlah. nenek sudah berjanji akan sembuh. Lalu kenapa nenek pergi hiks hikssss" Zeva mendekap tubuh lemah itu dengan air mata yang terus mengucur deras.
Semua yang ada diruangan kembali menangis pilu. Dengan sayang Papa Malik mendekap tubuh Bunda Laurah.
Terlihat Ahkam menangis, dan Nur istrinya berusaha memeluk agar memberikan ketenangan kepada suaminya. Tak luput dari perhatian Abi dan Umi Kahfi juga menitikan air mata. Tak terkecuali Dokter Ibrahim dan dua suster lainnya.
Aldo berusaha menguatkan Ahkam. Dengan sesekali menepuk pelan pundak Ahkam "Ikhlaskan semuanya takdir Allah jauh lebih indah" ujarnya.
erduduk lunglai dikursi roda Tn Mahendra menangis sembari menggenggam erat tangan Ny Karina.
"Ikhlaskan pa" ujar Mama Veronika dengan nada sendunya berusaha menguatkan suaminya.
Lena dan Klara tak kua melihat keadaan Zeva yang menangisi kepergian neneknya.
"Ze ikhlaskan ya. Nenek sudah tenang disana kita hanya perlu mendoakannya saja" ucap Lena sembari mendekat kearah Zeva diikuti oleh Klara.
Kedua gadis itu mengusap pelan pundak Zeva sembari menyalurkan ketenangan.
"Nenek sudah janji tapi dia tetap saja pergi" rintihnya dengan tangisannya.
"Ikhlaskanlah Ze. Jangan mempersulit nenek dengan terus menangisinya. Allah jauh lebih paham apa yang terbaik untuk hamba-hambanya" ujar Kahfi. Dengan keberaniannya ia mengusap puncak kepala Zeva.
Dia tak menyangka. Bahkan dia tak paham harus bahagia atau bersedih? ahirnya ia mampu meraih gadisnya. Ahirnya gadis itu menjadi miliknya.
"Jenazah akan segera di urus pihak rumah sakit" Kalimat Dokter itu membuyarkan semuanya. Dua orang suster mendekat ke branka itu dan melepas semua peralatan medis yang masih terpasang.
Dengan perlahan Kahfi mendekat kearah Zeva berdiri. Dengan sekali tarikan pelan Zeva berhasil ia rengkuh kedalam pelukannya.
"Kamu harus kuat Ze" ujar Kahfi sambil mengusap sayang kepala Zeva.
__ADS_1
"Tapi nenek sudah janji akan sembuh lalu kenapa dia tetap pergi? apakah dia tidak tepati janji?" rintih Zeva didalam dekapan Kahfi.
Tak membalas pelukan itu, namun Kahfi paham Zeva bahkan tak menolak saat didekap olehnya.
..
Dikediaman keluarga Mahendra semua turut berduka cita. Semua kerabat, saudar dekat, dan tetangga turut hadir untuk mengucapkan belasungkawa.
Seolah awan ikut berduka. Cuaca hari ini tidak terlalu panas, bahkan matahari meredup.
Setelah semua urusan administrasi dan yang lainnya selesai. Jenazah Ny Karina dibawa pulang ke kediaman utama Mahendra.
Pemakaman akan dilakukan, sebab biar bagimanapun pemakaman harus disegerakan tidak baik menunggu terlalu lama.
Setelah jenazah selesai dimandikan, dikafani dan disholatkan. Kini saatnya jenazah diantar keperistirahatan terahirnya.
Area pemakaman lumayan ramai dihadiri oleh kekuarga dan sanak sudara. Sepanjang perjalanan kepemakaman Zeva tak hentinya menangis. Dengan sabar Kahfi selalu berada disampingnya. Dengan setia ia selalu memberikan pundaknya sebagai tempat bersandar Zeva.
Orang tua Klara dan Lena juga turut hadir. Brgitu pula Aldi. Semua kerabat dekat dan orang-orang yang dikenal turut ikut kepemakaman. Dengan setia Papa Malik membantu mendorong kursi roda Tn Mahendra hingga menuju ke pemakaman.
Liang lahat telah tersedia. Satu persatu turun kedalam untuk menyambut jenazah dari bawah. Ahkam, Kahfi, Papa Malik, Aldo ikut turun kebawah. Setelah jenazah diturunkan kini giliran Ahkam melafaskan adzan untuk yang terahir kalinya.
Sedikit demi sedikit tanah mulai dijatuhkan kedalam lubang dan menghimpit jenazah. Perlahan lianglahat itu mulai tertutup dan menyisakan gundukan tanah didepannya.
Petugas pemakaman memasangkan nisan diatas gundukan tanah tersebut. Zeva, Bunda, Tn Mahendra dan yang lainnya kembali mendekat. Ustadz memimpin doa terahir untuk Ny Karina.
Sudah pergi. Satu nyawa telah kembali kepada sang pemilik kehidupan. Tidak ada yang abadi semua hanya lah fana. Tidak ada luka yang tak mampu sembuh. Tidak ada duka yang paling menyakitkan selain kehilangan.
Sang Khalik telah mengambil kembali apa yang Dia berikan kepada makhluknya. Dengan memberi satu kesempatan hidup Ia mengajarkan kita untuk menentukan kehidupan kita diatas takdirnya.
Berbahagialah buat orang-orang sholeh dan celakalah bagi orang-orang yang berbuat kejahatan.
Nyatanya sebanyak apapun hartamu, sehebat apapun ilmumu dan setinggi apapun tahtamu jika sudah saatnya sang Khalik memanggilmu kau tidak dapat menolaknya.
Manusia tercipta dari segumpal tanah yang diberi nyawa serta kehidupan yang layak. Memiliki akal pikiran dan diberi segala kenikmatan dunia. Dan pada ahirnya segumpal tanah itu akan kembali lagi menjadi tanah ketika Sang Khalik sudah memangilnya.
.
.
..
Terimakasih buat yang selalu setia mendukung novel Author. Buat yang udah vote terima kasih banyak.
Lop lop buat yang senantiasa memberi dukunga.:')
__ADS_1