
... Kun Fayakun......
... Sulit bagi manusia tapi tidak bagi Allah. Ia memiliki kekuasaan mutlak atas seluruh takdir makhluk hidup....
"Dr Kahfi mari ikut keruangan saya!" pinta dr Maira setelah ia memeriksa keadaan Zeva.
Infus sudah terpasang apik. Dr memutuskan memasang infus agar menambah tenaga Zeva, karna kondisi nya saat ini sangat lemah. Kahfi hanya menurut berjalan dibelakang dr Maira.
"Duduk dulu Fi" ucap dr Maira. Ia adalah dr umum senior yang usianya lebih tua dari Kahfi.
"Kalau boleh saya tahu kapan terahir istri kamu menstruasi?"
Kahfi tertegun mendengar pertanyaan dr Maira. Ia menatap wajah dr Maira yang saat ini tengah tersenyum "Dr, anda tidak salah menanyakan itu kepada saya?" wajah Kahfi lempeng dengan menahan kekesalan di hatinya.
Ada apa? Zeva kenapa? sehingga dr Maira menanyakan hal itu. Dia tidak tau saat ini Kahfi tengah cemas memikirkannya "Kamu ini saya bertanya karena kamu suaminya! masa iya saya tanya dr Ibrahim kan gak mungkin" dr Maira berucap sambil melihat ke arah dr Ibrahim yang baru saja melintas di depan ruangannya.
Ruangan dr Maira terdapat kaca transparan berukuran besar yang menjadi pembatas, makanya ia dapat melihat siapa saja yang melintas di depan ruangan nya.
"Seingat saya, istri saya pernah bicara kalau dia bulan ini sudah telat. Emmm hubungan nya apa dok dengan kondisi Istri saya?"
"Fi kamu ini. Selamat ya istri kamu sedang mengandung. Perkiraan saya usia kandungannya baru empat minggu dan kalau kamu mau lebih jelasnya lagi, nanti ke dr kandungan saja langsung"
Apa? tidak salah dengar kan? Alhamdulillah Allah sudah menitipkan benih dari kehidupan di masa depan. Hal yang paling di nanti, dan hal yang paling di harapkan kini Allah hadirkan.
Bagaikan mimpi indah. Seolah nyata dan pasti. Namun kembali lagi, jika ini mimpi Kahfi berharap ia tak akan pernah bangun sebab mimpi ini begitu indah.
"Dr tidak sedang bercanda kan?" masih terpaku, Kahfi menatap lurus ke dr Maira. Seolah mencari kebenaran dari ucapannya.
"Saya tidak pernah bermain main. Apalagi ini hal yang sangat kalian nanti kan bukan?" senyum terbit di bibir dr Maira.
Seluruh dr dirumah sakit ini tau, jika belakangan ini Kahfi tengah mengikuti peroses bayi tabung tapi dua bulan yang lalu menjadi hal terahir sebab semua usahanya gagal tanpa membuahkan hasil.
Bunga bunga seolah bermekaran. Kupu-kupu seolah tengah berterbangan di perut Kahfi. Senyumannya sangat cerah secerah hari ini. Pelangi sinar harapan tiba. Ahirnya keluarga kecilnya akan lengkap. Malaikat kecil yang tengah di nantikan hadir.
Kahfi berjalan menuju ruangan Zeva. Setelah bercerita banyak ia memilih kembali untuk menemui istrinya. Sepanjang jalan menuju ruangan istrinya, Kahfi tak membiarkan senyumannya pudar.
"Fi kamu sakit?" tegur Ahkam saat berlalu dan berselisihan dengan Kahfi.
Bukannya menjawab Kahfi masih setia tersenyum. Ia memeluk Ahkam yang berdiri tepat di hadapannya "Kak Ze hamil" ucapnya sambil memeluk Ahkam.
Ahkam tertegun mendengar ucapan Kahfi. Ia membalas pelukan Kahfi "Selamat Fi. Malaikat kecil akan hadir di tengah-tengah kita" ujar Ahkam sambil menepuk ringan pundak Kahfi.
Kebahagiaan begitu besar mereka dapatkan. Tak apa jika usahanya yang telah lalu gagal. Tapi kali Ini Allah berikan kebahagiaan itu secara cuma cuma.
__ADS_1
"Kak, Kahfi duluan ya. Ze diruang rawat anggrek kalau kakak mau menemuinya"
"Nanti kakak kesana. Saat ini harus memeriksa pasien dulu Fi" Senyum Ahkam tak hentinya terbit. Ia turut bahagia dengan kabar ini.
..
Sedangkan di siai lain Nada tengah menangis meratapi nasibnya. Ia mencoba ikhlas walau sulit. Sakit itu pasti. Hanya tiga hari lagi maka ia resmi menikah dengan laki-laki pilihan orang tuanya.
"Gue nyesal ninggalin lo dulu Bi. Demi pendidikan gue ngebatalin pernikahan kita. Gue memang bodoh Bi, bahkan sangat bodoh" rancaunya sambil menangis.
Sudahlah tidak ada gunanya menyesali semuanya susah terjadi. Masalalu tak akan bisa jadi masa depan. Dan masa depan adalah suatu hal yang tak dapat di tebak.
..
"Sayang..." ucap Kahfi saat istrinya membuka kelopak matanya. Ia tak hentinya tersenyum.
Baju kemejanya juga sudah ia ganti, sebab dia tidak ingin membuat iatrinya mengeluh karena parfum wanita lain menempel di kemejanya.
"Sayang, mas bahagia sekali" ujarnya sambil mencium puncak kepala istrinya "Disini ada malaikat kecil" sambungnya sambil memegang perut rata Zeva. Ekor matanya berair menandakan ia tengah terharu.
Dengan kesadaran yang terkumpul, tenaga yang lumayan lemah Zeva menyandarkan dirinya agar memudahkannya. Tangannya beralih memegang tangan suaminya yang berada di perutnya "Jangan bercanda mas" lirihnya.
"Mas gak bercanda sayang. Buat apa mas bercanda masalah kaya gini? ini gak lucu" ia memeluk Zeva yang sudah berkaca-kaca.
"KUN FAYAKUN sayang. Allah maha berkuasa ia tau apa yang kita harapkan, apa yang kita butuhkan. Mungkil proses bayi tabung itu gagal, tapi kan Allah beri cara lain dan kamu hamil"
Benar adanya ketentuan Allah adalah hal yang mutlak. Mungkin doamu belum terjawab itu karena Allah ingin tahu seberapa teguh hatimu untuk terus mengulang doa itu. Allah tau kapan ia harus memberikanmu kebahagiaan, jauh dari dugaan mu.
"Makanya sekarang kamu harus jaga kesehatan, jangan terlalu sering bekerja nanti kelelahan. Cukup dirumah, jangan ke cafe ya. Biar Mbak Arum saja yang mengurus cafe" pinta Kahfi.
Zeva hanya mengangguk menyetujui permintaan suaminya. Ia masih tak menyangka bahwa di dalam rahimnya tengah ada malaikat kecil yang Allah titipkan sebagai pelengkap keluarganya.
Kabar kehamilan Zeva disambut penuh haru oleh keluarga Kahfi. Umi yang tau Zeva dirawat hari ini juga ia hadir untuk menjenguk dan merawat menantunya.
Papa Mahendra dan Mama Veronika juga turu bahagia, mendengar jika ia akan mendapatkan cucu kedua setelah Ahzam putra Ahkam. Dengan kebahagiaan yang meliputi ia juga hadir menjenguk putrinya dengan membawa banyak jenis buah yang terbungkus rapi.
Susu ibu hamil serta beberapa vitamin untuk ibu hamil tak luka di bawa Tn Mahendra untuk putrinya. Ia tahu perjuangan Zeva selama ini agar bisa memiliki seorang anak.
"Papa ini banya sekali susunya" keluh Zeva saat melihat barang bawaan papanya itu.
Semenjak kepergian Ny Karina, Tn Mahendra lebih hangat dan memperhatikan Zeva. Bahkan ia tak sungkan berkunjung ke rumah Abi untuk menjenguk putrinya.
"Biar kamu dan calon cucu papa sehat nak" ucapnya.
__ADS_1
Semuanya turut bahagia. Senyuman tak hentinya terukir di bibir semua orang. Hanya menunggu kehadiran Klara dan Lena. Sebab mereka belum kelihatan dari tadi.
Bunda dan Papa Malik yang tengah berada di Singapura juga tak kalah bahagianya. Baru saja seminggu yang lalu Papa Malik menyarankan agar Kahfi dan Zeva mengikuti program bayi tabung di Singapura. Tapi takdir Allah jauh lebih baik.
Saat ini usia kandungan Klara juga sudah memasuki sembilan bulan jadi wajar saja bumil ini terlambat datang. Dan Lena dimana dia? tadi ketika di kabari katanya dia akan datang.
..
Dua hari sudah berlalu, kondisi Zeva juga sudah kembali seperti biasanya. Umi sangat memanjakannya, selalu saja tidak di perbolehkan membantunya di dapur. Bukan berlebihan tapi kan ada Bi Nani yang siap membantu semua pekerjaan rumah.
Klara juga sudah hadir, ia sangat heboh mendengar kabar bahagia itu. Segala celotehan ia lontarkan mengenai masa-mas kehamilan di trisemester awal. Keluhannya yang sangat membosankan dia ceritakan semuanya.
Dan Lena dia juga sangat bahagia. Dia selalu bilang 'Ze nanti kalau kamu ngidam please ya jangan kaya Klara ngerepotin aku mulu' keluhnya. Bukan tak bahagia tapi dia hanya takut saja kejadian di masa Klara ngidam kembali terulang.
"Sayang" Kahfi menghampiri Zeva dan duduk di samping istrinya yang tengah sibuk melamun. Entah apa yang di fikirkannya "Mikirin apa? udah malam gak baik melamun"
"Ze enggak ngelamun mas. Ze tidak menyangka, takdir Allah itu indah jauh lebih indah dari harapan kita ya" Zeva beralih menatap suaminya.
Angin malam berhembus pelan mengenai wajah pasangan suami istri yang tengah berdiri di balkon kamar mereka "Jangan pernah meragukan ketetapan Allah sayang" Kahfi beralih memeluk istrinya dari samping.
"Besok pernikahan Nada. Jika kamu mau kita akan pergi ke acara itu, tapi jika tidak itu juga tak masalah"
"Mas harus hadir"
"Hanya bersamamu. Mas akan datang jika bersama mu"
"Baiklah, besok kita akan pergi menjadi tamu undangan di hari pernikahan Mbak Nada"
Kahfi beralih memeluk istrinya dari belakang, menyandarkan kepalanya di ceruk leher Zeva. Satuhal yang pasti istrinya ini sangat pendek.
"Kamu ingin makan apa Ze?"
Zeva beralih memiringkan kepalanya menatap wajah suaminya "Apa?" tanya nya.
"Kamu kan hamil. Anak kita gak mau makan sesuatu? apa tidak sedang mengidam?"
"Sudah malam. Anak nya paham, dia tidak ingin merepotkan Abinya"
"Malaikat kecil yang pintar serta Umi yang pengertian" ucar Kahfi sambil mengecup pipi istrinya "Kita tidur? angin malam tidak baik untuk kesehatan" tambahnya lagi.
Keduanya masuk ke dalam, menutup kaca besar yang menjadi pembatas kamar dan balkon, menyingkap tirai dan mulai menaiki ranjang dan merebahkan tubuh diatasnya.
"Selamat malam sayang" Kahfi mendaratkan ciuman di kening istrinya dan mulai memejamkan matanya dengan posisi tangan memeluk perut istrinya.
__ADS_1
Mampir juga di novel baru ku "SENJA SOREA" cerita nya gak kalah seru:')