Kun Fayakun

Kun Fayakun
Abidzar Al-Kafiiiii...


__ADS_3

Udara subuh masih sangat dingin. Cahaya matahari juga belum terbit. Embun pagi juga masih setianya menempel pada rerumputan dan dedaunan.


Ahh pagi ini Zeva seperti memiliki bayi besar yang harus ia biarkan tertidur pulas agar tak menggangunya. Selepas sholat subuh suaminya memilih tidur kembali diranjang kesayangannya.


Bukankah tidur setelah solat subuh tidak diperbolehkan? oh tentu saja jawabannya iya. Tapi mau bagaimana lagi pagi ini Kahfi berkata bahwa badannya sangat pegal dan ia memilih terlelap kembali di kamar.


Zeva memaklumi saja kelakuan suaminya itu. Toh ia juga jarang seperti ini. Zeva memilih membuat sarapan didapur dengan bahan makanan seadanya. Sebab hari ini segala kebutuhan keluarga akan ia beli, mulai dari sayur mayur dan lainnya.


Umi? jangan ditanya dimana ia sepagi ini. Jawabannya sudah pasti pergi jogging bersama Abi meski hanya keliling komplek. Dan Aldo? ah sudahlah jangan ditanyakan pemuda ini lebih memilih bersepeda di pagi hari. Katanya agar otot-otonya tidak kaku karena keseringan menaiki mobil.


"Bi hari ini kan hari minggu, nanti jika bibi belanja ke pasar Ze ikut ya" ucap Zeva sambil memasukkan nasi kedalam wajan yang akan dijadikan nasi goreng.


"Bibi belanja kepasar loh Mbak. Memangnya gak papa?" tanya Bi Nani.


"Tidak masalah bi. Ze justru senang belanja dipasar dari pada di super market. Dulu Ze juga sering belanja ke pasar ikut Bi Ijah Art dirumah Zeva"


"Oh yasudah kalau begitu nanti Bibi panggi ya" jawab Bi Nani "Bibi jemur pakaian dulu ya Mbak" tambahnya lagi dan pergi berlalu membawa tong sedang yang berisi pakaian ke halaman belakang.


Benar saja hari ini adalah hari minggu. Bila dihitung sudah hampir dua minggu berlalu semenjak hari pernikahan Klara dan Aldi. Kedua pengantin itu lebih memilih berlibur ke Bali hanya untuk mengalihkan penatnya pekerjaan dan hitung-hitung bulan madu.


Jika ditanya Lena. Gadis itu tiga hari yang lalu berkunjung kemari. Kebetulan dirumah hanya ada Zeva, Bi Nani dan Mang Umar. Jadi Lena dan Zeva sempat berbincang.


Setelah beberapa menit nasi dan bumbu tercampur rata dalam wajan, nasi goreng telah selesai. Zeva memasukkan kedalam wadah berukuran sedang dan menatanya di meja makan. Tak hanya nasi goreng, di meja makan juga tersedia roti dengan selai yang akan menjadikan pilihan kedua untuk sarapan.


Selain itu susu dan jus jeruk juga tersusun rapi di atas meja. Sebenarnya Zeva menantu atau pembantu? kenapa dia sangat rajin untuk bekerja di dapur.


Selama Zeva berkutat didapur dan mencuci beberapa peralatan masak yang kotor Umi dan Abi telah kembali dari jogingnya. Jam juga sudah menunjukkan pukul 06.30 pagi. Dimana cahaya mentati juga sudah mulai bersinar.


"Abi, Umi sarapan dulu" ucap Zeva.


"Iya Nak" Abi dan Umi langsung duduk di kursi masing-masing.


"Biar Ze ambilin ya" ucapnya sambil menyendokkan nasi goreng dan meletakannya ke piring Abi dan Umi.


Setelah itu ia memilih kembali ke dapur dan membuatkan secangkir kopi hitam untuk Abi "Ini kopi milik Abi. Ze mau bangunin Mas Kahfi dulu ya" sambil meletakan kopi di samping Abi.


"Terima kasih Nak" ucap Abi dan dibalas oleh senyuman Zeva sebagai tanda iya.


Zeva naik ke lantai atas ketika ia membuka pintu kamarnya pemandangan pertama yang ia lihat adalah suaminya yang tengah tidur tanpa mengenakan baju dan hanya memakai celana boxser.


"Mas ayo bangun sudah pagi ini, ayo sarapan" ucap Zeva sambil merapikan selimut dan bantal yang sudah tak beraturan.


Tidak ada respon hingga Zeva selesai menata bantal pada tempatnya "Ayo bangun. Mas" ucapnya dengan nada lembut sambil menggoyangkan kaki kanan suaminya.


"Emmm" lenguh Kahfi namun bukannya bangun ia malah sibuk mengatur posisi nyaman pada bantalnya.


"Is kan kebiasaan. Ayo bangun sarapan Masss" ujar Zeva lagi dengan beralih dan menggoyangkan lengan Kahfi.

__ADS_1


Ahh dada itu, ya dada bidang itu membuat siapapun yang melihatnya akan berfikiran untuk tidur sambil memeluknya dengan berbantalkannya. Pasti itu terasa nyaman. Sepintas fikiran Zeva melayang saat melihat dada suaminya yang terekspos tanpa penghalang.


"Abidzar Al-Kahfiii... Mass ayo bangun sarapan" ucap Zeva dengan penyebutan nama yang panjang. Tangannya beralih memegang otot perut suaminya.


"Jangan menggoda Mas dipagi hari begini" kata itu yang keluar dari mulut Kahfi dengan mata yang masih tetpejam.


Sekali rengkuhan pada pinggang Zeva membuat ia jatuh tepat dengan dadanya yang bertumpu pada dada bidang Kahfi. Dan dengan wajah yang jatuh tepat menghadap wajah suaminya.


"Selamat pagi" ujarnya sambil mencium lembut kening Zeva.


Kenapa? kenapa Kahfi mengucapkan selamat pagi lagi? bukannya tadi sebelum subuh sudah? ah sudahlah biarkan saja dia melakukan sesukanya.


"Mau kemana sepagi ini sudah sangat rapi dan baunya harum sekali?" sambung Kahfi. Aroma lembut yang menenangkan tercium sempurna masuk ke indra penciuman Kahfi kala ia semangkin mengangkat wajahnya mengarah ke leher Zeva yang terbalut hijab instan.


"Emm enggak kemana. Mas awas ih ayo bangun sarapan dulu. Abi dan Umi sudah dibawah" ucap Zeva sambil membawa tubuhnya agar menjauh dari Kahfi.


Dengan gerakan perlahan Kahfi bangkit dan mensejajarkan tubuhnya dihadapan Zeva. cupp Kahfi malah mencium pipi Zeva "Ayo katanya mau sarapan" ajak Kahfi dikala istrinya hanya menggelengkan kepala saat menerima perlakuannya.


Setelah menggunakan celana training dengan kaus berlengan pendek keduanya turun menuju meja makan. Ternyata disana Aldo sudah terlihat duduk anteng sambil menyantap makanannya dengan rambut yang basah akibat keringat dari tubuhnya.


..


Siang ini Zeva memilih pergi menemani Lena yang memintanya untuk ikut ke toko buku. Lena mengajak Zeva sebab hanya Zeva yang berada disini sedangkan Klara tengah di Bali menikmati liburannya.


"Sudah ketemu" ucap Lena sambil memperlihatkan buku yang ia cari dan mengajak Zeva untu membayar buku itu.


"Kita ngopi bentar ya Ze. Di sana" ujar Lena sambil menunjuk kedai kopi yang tidak terlalu besar tapi dengan pengunjung yang lumayan ramai.


Keduanya melangkah ke kedai kopi. Setelah masuk mereka memilih duduk di dekat pojokan yang mengarah langsung keluar dengan kaca bening sebagai pembatas. Posisi ini sangat nyaman. Dimana kita bisa menikmati kopi sambil melihat ke arah luar yang menyajikan pemandangan jalan yang tak pernah kosong di lalui kendaraan.


"Zeva bukan?" tanya seorang gadis yang entah sejak kapan ia muncul. Membuat Zeva dan Lena berhenti dari perbincangannya dan menatap ke arah sumber suara.


"Iya Mbak" jawab Zeva.


"Boleh saya duduk?" tanya gadis itu yang langsung diangguki oleh Lena dan Zeva.


"Maaf apa kamu ingat saya Ze?"


"Emm iya Mbak Nada bukan?"


"Iya saya Nada mantan calon istri Abi" ujarnya.


Siap? siapa yang bertanya dia itu mantan atau calon dari siapa? dasar gadis aneh tidak ada yang bertanya malah dia yang mengumbar.


"Ah ya kalau boleh tau sudah berapa lama kalian menikah?" tanyanya Lagi.


Jangan ditanya Lena. Gadis ini diam ia menikmati alurnya tanpa tahu gadis berambut bergelombang ini membahas Abi siapa?

__ADS_1


"Kurang lebih hampir empat bulan Mbak" jawab Zeva.


Dengan mendengar jawaban Zeva, Lena baru menyadari alur pembahasan dari cerita yang ia dengar.


"Emm sudah berapa lama kalian saling mengenal?"


"Hanya sebentar dan kita langsung menikah Mbak"


"Langsung menikah? apa kamu hamil duluan?


What? apa yang dia dengar seakan aliran darah berdesir hebat. Luapan kemarahan sudah memburu didada. Berani-beraninya dia berkata itu dan menuduh yang bukan-bukan.


" Eh Mbak. Mbaknya siapa sih? datang kok tiba-tiba kepoin perinkahan dan tiba-tiba nuduh yang bukan buka ke sahabat saya?" ucap Lena dengan nada suara yang kurang bersahabat.


"Mbaknya kenpa jadi emosi an sih? kalau enggak hamil duluan ya biasa aja gak usah sewot tinggal jawab aja kok susah"


Wajah Lena sudah tak bersahabat tersirat kemarahan yang sudah siap untuk meledak. Tapi tatapan dan genggaman tangan dari Zeva menenangkan dirinya.


"Jangan pernah menduga duga Mbak. Sebab apa yang terpintas didalam pikiran tak selalu menjadi alasan akan kenyataan" ucap Zeva dengan tenang.


"Apa kamu yakin Abi mencintaimu?"


"Saya yakin dengan suami saya"


"Asal kamu tau kita kenal dan berpacaran sudah sangat lama. Abi juga sangat mencintai saya dan perlu kamu tahu kami sempat akan....."


"Saya tau Mbak. Dan perlu saya tegaskan Mbak adalah orang di masalalu suami saya. Dan saya lebih percaya kepada suami saya. Mengenai kalian pernah hampir menikah itu adalah masa lalu kalian. Emm jika sudah tidak ada yang ingin di bicarakan kita pamit duluan Mbak" ujar Zeva.


Tanpa menunggu jawaban dari Nada, Zeva bangkit dari duduknya dan membawa Lena untuk membayar tagihan kopi yang mereka minum dan kemudian pergi keluar.


"Gadis keci. Mau sok pintar, akan saya pastikan saya akan merebut Abi kembali" gumam Nada yang masih duduk menatapi kepergian Zeva dan Lena.


Egois bukan? pergi dan menghilang, meninggalkan dan melupakan lalu tiba-tiba kembali dengan niatan menghancurkan.


"Kita pulang Ze?" ajak Lena sambil menuju parkiran dan langsung menaiki mobilnya.


Sepanjang perjalanan mereka hanya diam tanpa satu patah kata pun. Sebenarnya Lena ingin bertanya tapi ia urungkan niatnya ketika melihat wajah murung Zeva.


"Terima kasih Le" ucap Zeva dengan senyuman ketika sudah sampai di halaman rumah.


"Harusnya aku yang berterima kasih Ze. Kamu sudah nemenin belik buku dan ngopi tadi. Yaudah kalau gitu aku langsung pulang ya. Titip salam sama Abi, Umi dan yang lainnya"


"Iya hati-hati dijalan Le"


Dengan melebarkan senyuman Lena melajukan mobilnya setelah memberikan pamita kepada Zeva melalui suara klakson mobilnya.


Zeva berlalu masuk kedalam rumah dengan segudang keraguan memenuhi hati dan fikirannya.

__ADS_1


Sebenarnya apa yang membuat Zeva merasa ragu? mungkinkah ucapan Nada tadi atau yang lainnya?


Emm sudahlah. Mungkin saatnya berserah kepada sang Khalik. Akan ada titik terang dari segalanya. Hal baik akan kembali ke pada sang pemilik kebaikan dan begitu pula sebaliknya.


__ADS_2