Kun Fayakun

Kun Fayakun
Air Hangat


__ADS_3

Janji Allah itu pasti. Setelah duka akan ada kebahagian yang siap menghampirimu jadi janganlah ragu akan hal itu:')


••


"Umi perut Zeva rasanya gak enak banget, kaya diaduk aduk gitu mi" keluh Zeva kepada Umi saat selesai memasak makanan untuk sarapan pagi ini.


Sinar mentari tampak sangat cerah menemani minggu pagi untuk bersantai dan melepas penat dari segala tumpukan pekerjaan.


"Ya Allah sayang, kok baru bilang?" tanya Umi sambil memegang lengan Zeva "Sini duduk dulu" lanjutnya sambil membawa Zeva duduk di kursi meja makan.


Setelah Zeva duduk, Umi berlalu mengambil gelas dan menuangkan air hangat di dalamnya "Ini diminum dulu biar agak enakan nak" ucap Umi sembari menyodorkan segelas air yang dia bawa.


Zeva menurut dengan meraih gelas tersebut "Bismillah" ucapnya setelah itu ia meneguk separuh air yang ada di dalam gelas.


"Abi, Aldo, Fi ini sarapan dulu" ucap Umi memanggil ketiga pemuda rumah yang sibuk dengan halnya masing-masing.


"Mang Umar ayo sarapan dulu" ajak Umi kepada Mang Umar yang baru saja datang dari arah depan.


"Terima kasih Umi, tapi tadi saya udah sarapan dirumah" tolak Mang Umar dengan sopan.


"Yah, yaudah Mang kalau mau makan abil aja ya" perintah umi di angguki oleh Mang Umar.


Semua anggota keluarga berkumpul sudah siap untuk mengisi perut mereka di pagi hari. Dengan perlahan Zeva menuangkan nasi kedalam piring suaminya.


Semua memakan sarapannya dengan hidmat tanpa terburu-buru. Ditengah sarapan Zeva meletakan sendoknya dengan rapi di atas piringnya lalu meneguk air hangat miliknya yang masih tersisa.


"Umi Ze kekamar dulu ya. Ze udah siap sarapannya. Abi, Kak, Mas Ze duluann ya" ucapnya. Keringat sudah bersemayam di pelipisnya.


Bukankah masih pagi? tapi kenapa Zeva sudah berkeringat? Tanpa menunggu jawaban dari semuanya Zeva berjalan cepat menuju ke kamarnya di lantai atas. Bukannya ingin bersikap tidak sopan tetapi saat ini Zeva tengah menahan gejolak yang sudah meronta tonta pada dirinya.


"Fi istri kamu sakit?" Abi membuka suara.


"Tadi subuh baik-baik saja Bi" jawab Kahfi. Ia juga heran kok tumben istrinya meninggalkan meja makan lebih dulu.


"Tadi kata Ze perutnya agak gak enakan. Fi habis ini kamu liat gi keadaan istri mu" pinta Umi yang dibalas anggukan oleh Kahfi.


Sedangkan dikamar Zeva tampak ngos-ngosan saat menaiki anak tangga. Perutnya sangat mual serasa diaduk aduk tanpa henti. Kepalanya juga terasa pusing.


Dia berfikir mungkin ini efek kelelahan sehabis menghadiri acara tujuh bulanan Klara semalam. Dengan meraih minyak kayu putih dan mengoleskan nya diarea sekitar perut Zeva duduk di pinggiran ranjang.


Rasanya ingin memuntahkan isi perutnya tapi rasa mual itu seolah hilang dan datang lagi. Sepertinya dia sedang mempermainkan Zeva.

__ADS_1


"Eehhh" keluhnya sambil menepuk nepuk ringan perutnya untuk memastikan dia sedang kembung atau tidak.


"Ini kenapa mual banget" gumanya sendiri sambil menutupi mulutnya.


Dengan langkah yang tak bersemangat Zeva melangkah menuju ke kamar mandi. Sekali sentakan semua isi perutnya keluar bebas di wastafel.


Dengan membuka keran air ia membasuh mukannya dengan pelan. Huekkk... suara dari dalam kamar mandi.


Dengan membuka hijabnya dan meletakkan nya dengan sembarang Zeva memijat pelan tengkuknya. Huekkk... cairan bening lolos dari mulut Zeva.


Sedangkan Kahfi tengah berjalan menuju kekamarnya setelah menyelesaikan sarapan paginya.


"Ze sayang kamu kenapa? Zee" ucap Kahfi sambil memandangi kamarnya yang tak memperlihatkan keberadaan istrinya.


Gemercik suara air dari kamar mandi terdengar menghampiri indra pendengaran Kahfi.


Huekkk...


Suara itu mengalihkan atensi Kahfi. Dengan segera ia masuk kedalam kamar mandi yang tak terkunci.


"Ze sayang kamu kenapa?" tanya Kahfi saat melihat Zeva yang tengah menundukkan wajahnya di wastafel agar bisa leluasa memuntahkan isi perutnya.


Kahfi berdiri disamping Zeva. Ia meraih pundak Zeva agar bersandar pada dada bidangnya. Tubuh istrinya sudah lemas tanpa tenaga "Ze kamu kenapa?" masih bertanya Kahfi membasuh tangannya pada keran dan menyapukan tangan yang basah pada wajah istrinya.


"Ayo mas bantu" ucap Kahfi meraih tubuh lemah Zeva kedalam gendongannya.


Kahfi membawa tubuh Zeva untuk di baringkan di ranjang. Rambut panjang Zeva kini mengurai bebas setelah ikatannya di lepas oleh Kahfi.


"Kamu masuk angin Ze" ucap Kahfi sambil memeriksa kondisi Zeva.


Zeva tak merespon pertanyaan suaminya. Matanya juga sudah sayup mulai melemah "Mas panggil Umi bentar ya. Biar Umi yang periksa kamu" ucap Kahfi lalu pergi kebawah dengan terburu-buru.


Jika ditanya kenapa bukan Kahfi saja yang memeriksa? tentu saja jawabannya Kahfi tidak bakalan tau apa yang tengah terjadi sebab dia adalah dr bedah.


"Umi, tolong periksa Ze dulu ayo" ajak Kahfi sambil meraih tangan Umi dengan cepat.


Umi yang merasa keheranan langsung menatap putranya dan mengikuti langkah Kahfi saat anaknya itu menarik tangannya mengajaknya untuk berjalan.


"Fi pelan pelan nak" tegur Umi.


Kenapa anaknya ini sangat terburu-buru begini. Memangnya apa yang terjadi dengan menantunya sehingga membuat kepanikan di wajah putra bungsunya ini. Begitulah fikir umi.

__ADS_1


Saat membuka pintu kamar Umi dapat melihat Zeva yang tengah berbaring tanpa mengenakan hijabnya "Fi kenapa istrimu nak?" umi juga mulai panik.


Dengan segera ia menghampiri menantunya itu dan mulai memeriksa kondisinya. Setelah beberapa menit Umi menyudahi pekerjaannya.


"Ze kenapa Mi?" tanya Kahfi.


"Istri kamu gak papa Nak mungkin dia kelelahan sehingga membuatnya begini" jelas umi.


Namin bukan Kahfi namanya yang langsung puas dengan hanya jawaban seperti itu dari uminya. Terlebih Umi memberikan senyuman disaat kondisi istrinya sedang begini.


"Kamu keluar saja dulu ambilkan air hangat di dapur" perintah Umi.


Dengan tanpa membantah Kahfi melakukan apa yang disuruh Umi.


Kondisi Zeva sudah agak mendingan. Umi memijat pelan tengkuk Zeva agar mengurangi sakit kepalanya yang menyebabkan lehernya terasa berat.


"Sayang kapan terahir kamu haid nak?" tanya Umi masih dengan menijat pelan kepala menantunya.


"Ze gak ingat Umi"


"Besok kalau sudah mendingan Ze ikut Umi ya. Temani Umi kerumah sakit ya" pinta Umi dengan nada lembutnya.


"Umi sakit?" yang dibalas gelengan kepala oleh Umi "Lalu?"


"Ikut saja ya. Kamu istirahat saja hari ini. Nanti kalau butuh apapun panggil Umi atau Bi Nani ya" pinta Umi.


Tak ingin berbicara lagi Zeva menuruti perintah Umi. Zeva kembali merebahkan tubuhnya di ranjang dengan Umi yang masih setia memijat pelipisnya agar dapat mengurangi rasa sakitnya.


"Fi lama sekali cuma ngambil air hangat saja?" tanya Umi yang baru melihat Kahfi kembali.


"Tadi diajakin bicara sama Kak Aldo mi makanya lama. Ini airnya" sambil menyodorkan segelas air yang ia bawa Kahfi berujar.


"Istri kamu sudah tidur" ucap Umi sambil memberi isyarat agar Kahfi melihatnya "Kamu jaga istri kamu, nanti kalau dia sudah bangun panggil Umi ya. Umi mau nemuin Abi dulu"


"Iya Mi" jawab Kahfi.


Umi berlalu meninggalkan Kahfi yang masih larut dalam pikirannya. Berjuta pertanyaan menggelayut di benaknya.


Istrinya tengah sakit tapi Umi malah tersenyum. Ketika ditanya istrinya kenapa? umi jawab tidak apa-apa. Seolah menjadi orang bodoh saja pikir Kahfi.


..

__ADS_1


Mampir juga dikarya baru Author "SENJA SOREA"


__ADS_2