
Hari-hari pun terus berlalu meninggalkan cerita lama yang akan menjadi kenangan. Sudah sepantasnya hati yang kosong mencari tempat untuk berlabuh.
Mencari sosok pendamping yang siap menerima mu apa adanya, bukan ada apanya. Kekosongan tak akan pernah hilang jika bukan kita sendiri yang menghilangkannya.
Hari ini adalah jadwal Ny Karina melakukan cek up ke rumah sakit. Nanti selepas sholat Zuhur ia akan pergi ke rumah sakit bersama Zeva. Bukan hal baru lagi jika Zeva harus bolak-balik ke rumah sakit.
Dulu di suka mengeluh jika di ajak pergi ke rumah sakit. Katanya aroma khas dari rumah sakit sangat mengganggu. Aroma obat-obatan menyeruak memenuhi indra penciuman. Namun kali ini dia sudah terbiasa dengan itu semua.
"Yasudah. Apa nenek sudah selesai? Kita akan pergi sebentar lagi ya" ucap Zeva.
"Iya-iya. Nenek ganti baju sebentar ya" Ny Karina pun berlalu kembali ke kamarnya untuk mengganti pakaian nya.
Beberapa menit ahirnya Ny Karina sudah selesai dan keluar dari kamarnya. Mereka berdua pun pergi ke rumah sakit diantar oleh Mang Mamat.
Setelah hampir 20menit mobil mereka sampai di area parkir rumah sakit.
"Mang, tunggu disini sebentar ya. Atau Mamang ingin ke mana, silah kan. Tapi nanti kembali lagi kesini" ujar Ny Karina.
"Tidak Nya saya di sini saja"
"Mang kalau Mamang mau beli makanan ini uang nya. Biar gak bosen nungguin Ze ama nenek" Zeva menyodorkan beberapa lembar uang pecahan lima puluh ribu.
"Aduh Mbak Ze gak usah toh. Mamang juga gak papa kalau nunggu, kan udah tugasnya Mamang" Mang Mamat menolak pemberian Zeva dengan nada lembut.
"Mang. Udah gak masalah. Lagian nanti kalau agak lama Mamang bakalan laper dan bosan. Jadi ini Ze beri uang hitung-hitung buat beli kopi"
"Adu Mbak beli kopi sebanyak ini uangnya?" Mang Mamat melihat tiga lembar uang berwarna biru yang disodorkan Zeva.
"Udah gak papa Mang" Zeva memegang tangan Mang Mamat dan memberikan uang itu dengan sopan "Mamang tunggu di sini ya. Assalammualaikum" Lanjutnya lagi lalu berlalu pergi masuk kedalam rumah sakit.
Di dalam mereka menemui resepsionis, sebelummnya mereka memang sudah membuat janji pada dokter yang menangani nenek Zeva jadi tidak perlu lama untuk bisa menemui dokter.
__ADS_1
Ny Karina masuk kedalam untuk melakukan kemoterapinya. Di dalam dokter menjelaskan jika kemoterapi yang dilakukan selama ini perkembangannya sangat lama. Jadi keputusan yang akan di lakukan adalah kemoterapi dengan cara kemoterapi agresif.
Yaitu dalam kemoterapi ini dokter akan memberikan infus obat kedalam pembulu darah. Jadi Nya Karina akan memulai kemoterapi nya.
"Sus siapkan ruang perawatan untuk pasien kemoterapi kanker darah" perintah dokter.
Tak butuh waktu lama kini Ny Karina sudah terbaring di branka rumah sakit dan sudah mengenakan pakaian rumah sakit. Lengkap dengan infus yang menggantung.
"Ze ahir-ahir ini kondisi nenek memeng semakin menurun. Jika nanti sudah tidak ada harapan lagi apa kau mau mengabulkan permintaan nenek?" ucap Nya Karina sesaat setelah Dokter keluar dari ruangannya.
"Nenek bicara apa? sudah nenek pasti sembuh ya. Jadi jangan bicara yang aneh-aneh lagi" ujar Zeva. Wajah paniknya mulai terlihat namun ia berusaha tetap kuat.
"Ze waktu nenek sudah tidak banyak. Saatnya kamu bahagia Ze. Bila nanti nenek sudah tiada setidaknya nenek yakin ada yang akan menjaga dan menyayangimu mengganti kan nenek" Ny Karina memegang tangan Zeva berusah memberikan pengertian untuknya.
Benar hidup dan mati bukanlah kita yang menentu kan. Tetapi setidaknya jika masih memiliki waktu sudah sepantasnya kita mengubah kehidupan agar lebih baik lagi.
"Sudah ya Ze gak mau bahas itu lagi. Nenek pasti sembuh. Yasudah Ze akan memberitahu Mang Mamat dulu. Agar dia pulang duluan saja" ujar Zeva. Belum selesai di jawab oleh Ny Karina dia langsung pergi keluar.
Ze menangis? tentu saja. Setelah keluar dari ruangan Nya Karina dia menumpahkan air matanya di depan ruang rawat Ny Karina. Menangis sesugukan adalah caranya meyakin kan diri sendiri bahwa neneknya pasti akan sembuh.
Suara pemuda itu membuyarkan tangisan Zeva. Dengan segera ia mengangkat wajahnya untuk melihat orang yang menyebut namanya.
"Kak" ucapnya. Tanpa aba-aba dia langsung memeluk Kakanya.
"Hei kenapa? kenapa kamu menangis di sini? Siapa yang sakit Ze? Ayo tenang lah jangan menangis lagi. Sini duduk dulu Ze" Ahkam menuntun Zeva agar duduk.
"Ayo ceritakan semua. Hei jangan nagis" Ahkam mengusap air mata Zeva.
"Kak di dalam Nenek sedang dirawat. Awalnya tadi kita kesini buat kemoterapi nya nenek. Tapi kata Dokter perkembangannya sangat lama. Dan kondisi nenek juga mulai drob jadi dokter memutuskan untuk menginfus cairan kedalam pembulu darah. Dan nenek pun ahirnya mengalami perawatan disini" Zeva menceritakan semua nya.
Termasuk alasan kenapa dia menangis. Ahkam tertegun mendengarnya. Yang benar saja? Memang permintaan nenek nya itu ada-ada saja.
__ADS_1
"Sudah-sudah jangan nagis lagi. Nanti kakak akan bicara kepada nenek ya" Ahkam kembali mengusap pipi Zeva yang basah.
"Kaka kok bisa disini?"
"Kamu lupa? ini tempat kakak bekerja Ze, ya udah pastilah kakak disini. Masa iya dokter kerjanya di bengkel kan gak mungkin" ujar Ahkam.
"Ih kan orang serius juga. Malah bercanda jawabnya"
"Kebetulan lewat, mau ke ruangan Kahfi. Eh liat kamu nangis ya kakak samperin. Tadinya kakak ragu yang nangis kamu atau bukan. Jadi yaudah kakak pasti in dan ternyata kamu yang nangis"
"Emmm Kak? Nanti kakak bicara ya sama nenek. Tadi nenek belum sempat cerita mengenai keinginan nya untuk Ze"
"Iya kamu tenang aja. Yaudah kamu mau kemana lagi?"
"Astaufirullah kan lupa. Harusnya Ze menemui Mang Mamat dan bilang suruh pulang duluan aja"
"Yaudah di telfon aja gih"
"Emm yaudah bentar ya Kak" Zeva mengeluarkan ponselnya dan melakukan panggilan telfon.
"Ok Mang terima kasih ya" ucapnya di ahir panggilannya.
"Yasudah Ze. Kakak tinggal dulu ya, tadi Kaka mau nemui Kahfi, eh taunya malah ketemu kamu"
"Iya kak. Yaudah nanti kalau sudah selesai urusan kakak, temui nenek ya" ucapan Zeva dibalas anggukan oleh Ahkam.
"Yaudah Assalammualaikum" ucap Ahkam dan pergi meninggalkan Zeva
"Waalaikumussalam kak" seulas senyum terbit setelah Zeva menjawab salam kakanya.
.
__ADS_1
.
.