
Yang namanya masa lalu akan tetap menjadi masalalu dan tak mungkin menjadi masa kini atapun masa depan.
••••
Zeva dan Citra larut dalam perbincangan antara sesama wanita. Tanpa menunjukkan keunggulan masing-masing keduanya saling berbaur. Hingga suara Daniel memecah percakapan keduanya.
"Hai Ze" ucapnya sambil berdiri disamping Citra. Zeva menoleh dan mendaratkna senyuman manisnya.
Daniel ikut bergabung larut dalam perbincangan. Seolah masalalu bukanlah suatu masalah yang pernah ada sehingga ketiganya mampu tertawa bersama.
Sumpah demi apa tapi berada diposisi seperti ini membuat Zeva sangat nyaman. Coba saja dari dulu Daniel mampu sehangat sekarang mungkin dia tidak akan menahan rasa sakit terlebih dahulu.
"Ze ketawa mulu dari tadi Mas perhatiin" suara Kahfi memecah hangat nya tawa ketiga orang itu.
"Iya Mas. Ini Mas Daniel suka becanda" ujar Zeva.
Jangan ditanya tamu undangan. Sudah pasti semakin ramai saja. Berhubung kedua belah pihak keluarga berprofesi sebagai pebisnis jadi wajar-wajar saja jika tamu undangan yang hadir kebanyakan dari kalangan dan relasi-relasi bisnis.
Kahfi adalah laki-laki yang mudah bergaul sehingga tak sulit membuat dirinya ikit larut dalam perbincangan. Bergabung bersama Citra dan Daniel seolah memberi rasa baru dan pengalaman baru. Baru kali ini ada mantan yang bisa seakrap Kahfi dan Daniel.
"Abidzar Al-Kafi kan?" suara seorang wanita yang tiba-tiba memecah perbincangan keempat orang tersebut.
"Aih iya Mbak" jawab Kahfi dengan hanya menoleh sebentar.
Hal itu membuat Daniel dan Citra memilih meninggalkan Zeva, Kahfi dan wanita itu. Sebab mereka ingin memberikan ruang kepada mereka untuk bicara.
"Abi lo udah lupa sama gue?" tanya gadis itu lagi.
Kahfi dan Zeva saling pandang namun tak berucap. Kahfi menilik dan memandang perempuan yang ada di depannya itu. Persekian detik dia baru sadar "Nada?" tebaknya.
Yups gadis itu mengangguk dengan senyuman. Tanpa menunggu aba-aba ia langsung masuk kedalam pelukan Kahfi "Gue kangen udah lama banget gak ketemu" katanya.
Zeva yang berdiri disamping Kahfi hanya diam dan memperhatikan interaksi keduanya. Jika ingin berucap bahwa dia tidak suka ada perempuan lain yang memeluk suaminya dia terlalu takut dan memilih diam.
"Nada lepasin kita bukan muhrim" ucap Kahfi sambil melerai pelukan Nada dari tubuhnya.
Gadis berperawakan lebih tinggi dari Zeva dengan kulit putih dan rambut yang dibuat bergelombang dengan sedikit sentuhan cat rambut di ujungnya dan gadis yang mengenakan dress diatas lutut itu langsung melepas pelukannya dan berdiri didepan Kahfi.
Beberapa menit mereka diam tanpa ucapan. Zeva hanya menunduk dikala matanya menatap mata milik Nada yang tengah melihatnya "Fi adek lo?" ucap gadis itu dengan arah pandangan menatap Zeva.
__ADS_1
"Em bukan Nad dia istri saya. Vania Zhalia Zevanka namanya" jawab Kahfi sambil merangkul Zeva.
"Panggil saja Zeva Mbak" ujar Zeva sambil mengulurkan tangannya guna untuk berjabat tangan "Nada" ucap gadis itu menerima uluran tangan Zeva.
"Oh istri, gue kira adek sepupu lo Bi. Gak nyangka ya secepat itu kamu move on dari aku" sambung Nada sambil memegang lengan Kahfi.
"Mas Ze kesana dulu ya" ujar Zeva. Suaranya lembut seolah menyiratkan kekecewaan.
Tanpa menunggu jawaban dari Kahfi dia memilih menghampiri Ahkam yang tengah duduk bersama Nur dan Lena. Ditengah keramaian tamu undangan Zeva meninggalkan suaminya berbicara dengan wanita lain.
"Kamu beneran move on Bi dari aku? memangnya segitunya ya kesalahan ku sampai kamu memilih meninggalkan dan tak memaafkan aku. Bahkan parahnya kamu memilih menikah?" ucap Nada setelah mereka berbincang berdua.
"Yang namanya masa lalu akan tetap menjadi masa lalu. Gak ada yang namanya masalalu menjadi masa depan. Apa lagi masalalunya kamu" jawab Kahfi ketus.
Ada apa? ada apa dengan Kahfi? lelaki hangat dan lembut ini ternyata sangat ketus jika berbicara dengan gadis yang ada dihadapan nya.
"Segitunya Bi. Lo bahkan gak ngasih kesempatan buat gue memperbaiki segalanya" ujar Nanda lagi. Gadis itu tampak kekeh mempertahankan argumennya.
"Sudah lupakan lah. Biar bagaimana pun kamu adalah masa lalu saya dan istri saya adalah masa kini dan masa depan saya" tukas Kahfi.
"Kamu bahkan menikah tanpa memberikan undangan atau apalah. Bahkan aku tidak tau kapan kamu menikah Bi"
"Bi!" ucap Nanda tapi keburu Kahfi telah melangkah dan memilih menghampiri istrinya.
Jika ditanya Nada siapa maka jawabannya adalah ia merupakan bagian dari masalalu Kahfi. Dan jika kalian heran mengapa dia bisa menjadi seketus itu kalian pasti paham alasannya.
Aldo yang dari kejauhan memperhatikan Kahfi dan Nada yang sempat berbincang mengembuskan nafasnya dengan kasar "Jangan sampai dia buat masalah. Cukup dimasa lalu saja" gumamnya pelan.
"Kak kita pulang ya. Ze capek" keluh Zeva kepada Ahkam.
"Kamu gak nunggu sampai acara Klara dan Aldi selesai Ze?" tanya Lena.
"Enggak deh Le. Rasanya melelahkan hari ini, kepala Ze juga sedikit pusing" ungkapnya.
"Yasudah kita pulang bareng. Ini Mbak Nur juga kayanya udah kecapean sedari pagi sebelum akad sudah disini" jawab Ahkam.
Tak ada kata yang diucapkan Kahfi untuk Zeva ataupun sebaliknya. Keduanya hanya diam. Zeva seolah acuh tanpa berniat untuk bertanya kepada Kahfi.
"Kamu gak ikut kita pulang Le?" tanya Ahkam sebelum mereka bangkit dan berpamitan kepada pemilik acara.
__ADS_1
"Le mungkin sebentar lagi kak, Kaka duluan saja gak papa" ucap Lena.
"Yaudah, kita duluan ya Le. Assalammualaikum" pamit mereka semua.
Zeva berjalan beriringan dengan Nur. Dengan menggandeng Nur, Zeva menikmati dan berbincang bersama Nur. Sepanjang perjalanan Kahfi hanya diam larut dalam pikirannya.
Setelah berpamitan dengan keluarga pemilik acara mereka langsung melajukan mobil menuju kembali. Tentu saja Aldo sebagai supir ditemani Kahfi duduk di sebelahnya.
Sedangkan Ahkam duduk bersama Nur dan Zeva. Zeva larut dalam pembicaraannya bersama Nur. Sesekali ia mengusap perut Nur.
"Jika nanti anaknya perempuan Ze mau dipanggil Umi ya. Emm kalau laki-laki Ze mau dipanggi Bunda saja" ungkap Zeva.
"Ze kamu itu tantenya bukan ibunya jadi kamu harus dipanggil tante atau enggak bibik atau ada panggilan yang lain yang menyatakan bahwa kamu bibinya?" keluh Ahkam.
"Kakak Ze gak mau dipanggil tante. Ze masih muda dan Ze bukan tante-tante sosialita yang suka dipanggil tante" perotes Zeva "Pokonya Ze cuma mau dipanggil Umi atau Bunda"
"Ehh adek ipar yang kecil tapi lucu, ngegemesin buat sendiri napa" ungkap Aldo sambil memandang kebelakang dari kaca yanga da di dalam mobil.
"Is kan, Ze gak kecil ya Kakak Ipar yang nyebelin. Kak Aldo kaka mau tau sebuah rahasia?" tanya Zeva
"Hem hem apa?" tanya Aldo sambil menaik turunkan alisnya.
"Dulu tuh ya Ze itu takut banget sama Kakak, emm soalnya mukanya ganas amat. Terus Lena sma Klara juga bilang muka kak Aldo tuh udah kaya teriplek kering, datar dan auranya juga dingin mencekam" ungkap Zeva.
"Itu bukan rahasia Ze! Itu mah memang kenyataan. Si Aldo emang suka gitu kalau sama orang yang baru. Tapi kalau sama orang lama dia itu rada gilak" ungkap Ahkam.
"Mas kalau ngomong difilter" tukas Nur.
"Ya kan memang kenyataan sayang" balas Ahkam sambil memegang pipi Nur.
Siapa yang tak mengenal Aldo. Peria gagah nan pintar berwajah datar dengan aura dingin. Selama ngampus Aldo, Ahkam dan Nur adalah teman baik jadi mereka tau seluk beluk mengenai sifat dari masing-masing.
Sepanjang perjalanan Zeva mengoceh mengenai anak Nur dan Ahkam nantinya. Tapi ia tak betbicara dengan Kahfi dan sebaliknya Kahfi hanya menjadi pendengar yang baik, dimana ia hanya akan tertawa untuk sesekali jika ada yang lucu.
.
.
.
__ADS_1