Kun Fayakun

Kun Fayakun
Kenapa Mas Cerita?


__ADS_3

Kamu pasangan ku jadi aku harus menjelaskan segalanya agar tak ada kesalah pahaman diantara kita.


Malam hari selepas sholat magrib, Zeva membantu Umi untuk membuat makan malam bersama dengan bi Nani didapur. Selesai membuat makan malam dan semua keluarga telah berkumpul Zeva langsung menyendokkan nasi kedalam piring Kahfi. Selain itu ia juga menuangkan air putih kegelas.


Makan malam hanya hening dan hanya dentingan sendok yang terdengar. Tidak ada perbincangan apapun selama menikmati makan malam.


Benar-benar demi apapun dalam hati Zeva masih dongkol, pasalnya Kahfi adalah spesies suami yang tidak peka atau pura-pura tidak peka? udah tau istri gak ngajakin bicara eh dia juga malah ikutan diem.


..


Saat berada dikamar selesai sholat isa Zeva berniat langsung tidur. Ia merebahkan tubuhnya pada ranjang dan menarik selimut. Saat pintu kamar terbuka ia langsung memejamkan matanya berharap Kahfi tidak tau jika dia tengah berpura pura tidur.


Zeva memerengkan badannya agar tak menghadap Kahfi. Sebab jika dia menghadap Kahfi maka bisa-bisa rencana pura pura tidurnya ketahuan.


"Ze kamu beneran tidur?" tanya Kahfi saat ia telah merebahkan tubuhnya disamping Zeva.


Tidak ada respon dari Zeva. Kahfi memilih memeluk tubuh istrinya dari belakang dan meletakkan kepalanya tepat di samping leher Zeva "Kamu marah masalah tadi Ze" ucapnya dengan berbisik.


Hembusan nafasnya mengalun mengenai telinga Zeva. Hembusan itu membuat bulu kuduk Zeva merinding akibat efek geli yang dirasakannya. Masih santai tidak merespon dan tetap memejamkan matanya.


"Ze, sayang kamu marah gara-gara yang tadi?" ucap Kahfi lagi. Namun kali ini ia semakin kencang memeluk Zeva. Tak hanya itu ia juga lebih gencar membisikan pertanyaanya ditelinga Zeva.


Masih aman. Zeva belum merespon meski kakinya yang berada dibawah selimut sudah berontak meminta digerakkan "Mas jelasin biar kamu gak marah lagi ya?" ucap Kahfi lagi.


Semua kalimat Kahfi sia-sia tidak ada respon dari Zeva. Sebenarnya Kahfi tau istrinya tidak benar-benar tertidur kelihatan dari kelopak mata dan raut wajahnya yang seperti tengah menahan sesuatu.


"Ze, Mas tau kamu belum tidur. Mas jelasin ya kita ngobrol" ujar Kahfi lagi. Ia mengangkat kepalanya agar dapat melihat wajah Zeva.


Beberapa kali percobaan gagal tidak direspon oleh istrinya hingga terlintas cara jitu dibenaknya untuk melakukan sesuatu agar istrinya bangun.


Hening tanpa pembicaraan ataupun kata. Tapi tangan Kahfi terus beraksi. Ia memasukkan tangannya kedalam piama istrinya, perlahan ia hanya mengelus perut rata istrinya namun usahanya tak ada respon. Lalu tangannya semakin naik bermain di area dada Zeva.


Awalnya tubuh Zeva tidak merespon tapi semakin lama keluar lengkuhan dari Zeva dan itu berhasil membuat senyuman terukir di bibir Kahfi. Dia tau jika istrinya sangat sensitif oleh sentuhan yang membuatnya geli.


"Ahh Mas curang" keluh Zeva sambil memegang tangan suaminya. Dia menarik tangan itu gara keluar dari piama yang dikenakannya.


Saat membalikkan badan menghadap Kahfi siempunya malah tersenyum. Senyum kemenangan yang berhasil meruntuhkan pertahanan istrinya.

__ADS_1


"Hahaha cuma cara ini yang ampuh" wajah Zeva sudah tak bersahabat ia memanyunkan bibirnya dan cupp Kahfi mencium nya sekilas.


"Kamu marah?" tanya Kahfi sambil menarik pinggang Zeva agar lebih dekat ke dia.


"Enggak"


"Enggak ko diem?"


"Mas dia siapa sih? kok main peluk-peluk aja suami orang? mana kayanya kalian akrab banget sampai dia panggil nama Mas Abi. Ze aja manggilnya Kahfi trus dia manggilnya Abi"


"Hehehehh kamu cemburu?"


"Enggak biasa aja" jawabya ketus. Bukannya menjawab perkataan Zeva Kahfi justru mendaratkan sebuah ciuman di kening Zeva "Dia mantan Mas!" ucapnya lembut.


Zeva membulatkan matanya mendengar jawaban Kahfi "Dulu kita pacaran pas masih kuliah emm dua tahun yang lalu kita sempat berencana untuk menikah" Zeva menyimak penjelasan Kahfi.


"Tapi batal!" ada raur kesedihan sepintas terlihat saat setelah Kahfi menyelesaikan ucapannya.


"Kok bisa batal?" tanya Zeva penasaran.


"Dia pergi ke Amerika dengan alasan mau ngelanjutin study S2 nya jadi dia bilang pernikahannya ditunda dulu"


Ia pergi dan saat keesokan harinya di mana acara akad akan dimulai ia menghubungi dan mengatakan bahwa dia saat ini sudah berada di Amerika untuk melanjutkan study S2 nya. Ia mengatakan alasannya yang tidak tepat.


Hingga setelah satu tahun mereka tetap mempertahankan hubungan mereka meski keluarga Kahfi sudah dipermalukan dengan pernikahan yang dibatalkan secara sepihak.


Tapi itulah takdir dimana ia menentukan dan menjadi garis nasib bagi setiap hamba. Takdir memisahkan mereka secara perlahan. Dimana mereka jarang berhubungan dan sekali komunikasi yang ada hanya perdebatan.


Hingga hubungan itu kandas di jalan dengan Nada yang memutuskan hubungannya dengan Kahfi duluan.


Terpuruk? itu pasti! meskipun lelaki Kahfi tetap merasakan sakit dan terpuruk hingga tanpa sengaja ia bertemu Zeva. Dimana gadis itu tidak sengaja bertabrakan di depan cafe.


Hingga perlahan mereka dekat dan Kahfi juga lumayan sering menghibur Zeva dikala ia kecewa atas perlakuan Daniel dulu kepadanya.


"Mas" Zeva memeluk tubuh Kahfi. Kisah cinta Kahfi sangat teragis menurut Zeva. Masalahnya bagaimana bisa dua orang yang saling mencintai bisa merasa bosan dikala menjalin hubungan dengan LDR?


"Kenapa Mas cerita?" tanya Zeva sambil sedikit mendongakkan kepalanya agar bisa menatap suaminya.

__ADS_1


"Karena kamu istri Mas dan Mas juga mencintaimu. Jadi dalam suatu hubungan tak harusnya ada keraguan diantara kita makanya Mas cerita ke kamu"


"Jadi perasaan Mas gimana sekarang? emm maksud Ze perasaan Mas untuk Mbak Nada?"


"Biasa saja. Karna yang luar biasa telah Mas daptkan dan Mas miliki seutuhny" jawab Kahfi sambil merengkuh erat pinggang Zeva "Oya sebentar" Kahfi melepaskan pelukannya dan bangkit menuju ke lemari pakaian.


Ia membuka lemari dan mengambil kotak kecil berwarna hitam lalu membawanya menuju ke tempat Zeva berbaring. Dengan penasaran Zeva menarik badannya agar duduk diranjang.


"Kamu ingat ini Ze?" tanya Kahfi sambil mengeluarkan sebuah gelang berwarna putih emm mas putih dengan aksen mutiara kecil cantik yang menghiasai.


"Kayak gelang Ze? tapi gelang Ze udah lama hilang" ucapnya sambil menyentuh gelang itu.


"Ini gelang kamu Ze. Mas menemukannya di kancing kemeja yang Mas pakai saat kita gak sengaja bertabrakan di depan caffe kamu. Emm kamu ingat tidak?"


Zeva tampak berfikir sejenak. Ya benar dia pernah bertabrakan dengan Kahfi tapi saat itu dia belum menyadari jika gelang miliknya hilang. Dan dua hari setelah kejadian itu ia baru sadar bahwa gelangnya hilang. Itupun karena nenek yang menanyakannya, sebab itu gelang yang ia berikan untuk Zeva.


"Mas ini tuh pemberian nenek. Ze sempat sedih pas ini hilang bahkan Ze cariin tapi gak ketemu eh taunya sama Mas"


"Mas niat mau ngebalikin tapi Mas selalu lupa jadi mas memilih menyimpannya dan akan memberikannya bila mas ingat dan sekarang lah saatnya" Kahfi meraih tangan kanan Zeva dan memasangkannya "Jangan lupa dijaga" ucapnya sambil mencium tangan Zeva.


"Terima kasih ya Mas. Ini itu kenangan terindah dari nenek yang Ze dapatkan saat usia 17tahun" ucapnya sambil memutar gelang itu.


Ia tersenyum kala kenangan disaat ia mendapatkan gelang itu. Bukan masalah harga yang mahal atau seberapa bagus tapi itu adalah pemberian dari orang yang dia sayang apalagi kini orang itu telah tiada.


"Jangan sedih Ze" ucap Kahfi sambil meraih tubuh Zeva kedalam pelukannya "Memangnya sekarang usiamu berapa?" lanjutnya lagi.


"Dua puluh, kenapa Mas?"


"Gak papa kamutuh kecil banget, imut dan ngegemesin rasanya Mas pengen gigit" dengan tawanya yang mengalun hangat.


"Emangnya usia Mas berapa?"


"Hampir duapuluh tiga"


"Hanya beda dua tahun lebih dong dengan Kah Ahkam?"


"Iya Kak Aldo juga. Sudah sini tidur" Kahfi mulai merebahkan tubuhnya ke kasur "Atau mau begadang?" tanyanya saat Zeva ikut membaringkan badanya "Kamu sudah selesai Pms Ze?" sejurus kemudian Zeva hanya mengangguk.

__ADS_1


"Cepet katanya lima hari lagi? kalau gitu boleh gak?" tanya Kahfi dengan tangan yang sudah siap bermain. Zeva hanya mengangguk dan langsung membuat Kahfi melakukan aksinya.


Pergulatan terjadi antara keduanya. Sempat marah diawal hanya karena masa lalu tapi kini telah akur kembali. Memang sudah sepantasnya kita tak perlu berdebat hanya masalah kecil.


__ADS_2