
"Kak gimana kondisi Mbak Nur sekarang" tanya Zeva ketika ia baru sampai dirumah sakit bersama dengan Klara dan Lena.
"Mbak mu diruangannya dek. Kata dr pembukaannya belum penuh jadi sementara menunggu, tadi ia berjalan-jalan kecil di ruangannya" jelas Ahkam.
Benar saja mereka semua tengah berada di rumah sakit. Sejak tadi pagi Nur mengalami kontraksi. Tapi hanya sesekali dan hilang. Dan siang ini Nur kembali mengalami kontraksi panjang maka dari situ Ahkam langsung membawanya ke rumah sakit.
"Terus kakak ngapain disini?" tanya Klara yang mulai penasaran.
"Kaka lagi nungguin suami Zeva. Mau membicarakan jadwal pekerjaan kakak hari ini yang akan diambil alih oleh Kahfi" jelasnya.
Saat ini Ahkam tengah berada di luar ruangan Nur. Sedangkan didalam tampak Nur yang tengah berjalan kecil sambil mengatur nafasnya.
Benar saja kehamilan Nur sudah memasuki fase dimana ia akan melahirkan. Dan jika ditanya mengenai Klara ia sudah kembali dari liburannya setelah hampir satu bulan penuh dia habiskan dengan berada di Bali.
Usia pernikahannya juga sudah memasuki bulan kedua. Dimana semuanya berjalan lancar tanpa permasalahan besar. Ya meski tak dipungkiri bahwa cekcok kecil sering terjadi.
"Kak kita masuk ya, Ze mau liat kondisi Mbak Nur" ujar Zeva.
"Iya Ze" izin dari Ahkam telah didapatkan maka ketiga perempuan ini langsung masuk kedalam.
Pemandangan pertama yang mereka lihat adalah Nur dengan daster panjang serta hijab instan yang sudah basah di area atas kepala. Keringat bertahta apik di kening dan pelipis Nur. Ia terus berjalan kecil mengikuti saran dari dr agar segera menuju ke pembukaan sempurna.
"Mbak" ucap Zeva dan langsung menghampiri dimana Nur berdiri.
Lena meletakan kantong pelastik yang berisi makanan ringan serta buah-buahan di atas meja sofa "Mbak rasanya gimana?" tanya Klara.
Zeva membantu Nur untuk duduk di sofa dan diikuti oleh Lena dan Klara "MasyaAllah Kla ini ngos-ngosan. Rasa nyerinya juga suka ilang-ilang timbul gitu" jelas Nur dengan deru nafas yang menahan rasa sakit.
"Mbak udah makan? atau mbak mau makan dulu emm biar ada tenaganya nanti" tanya Lena.
"Terima kasih, tapi kata dr gak boleh makan dulu Le sampai nanti usai persalinan"
"Loh kok gitu? masa gak boleh ada-ada saja itu dr. Nanti kalau yang mau lahiran gadak tenaganya gimana kan bahaya. Bisa gawat urusannya" ucap Klara dengan beruntun.
Nur hanya menanggapi dengan gelengan kepalanya. Ingin menjelaskan tapi apa daya rasanya energi nya sudah tidak cukup untuk melakukan itu.
Mereka membawa Nur berbincang mengenai berbagai hal agar fikiran Nur menjadi rileks. Tak lama suara pintu dibuka dari luar.
"Ibunya bisa kembali berbaring? saya akan mengecek sudah pembukaan berapa?" tanya seorang suster yang baru saja masuk.
Sesuai instruksi Nur kembali merebahkan tubuhnya di branka dengan dibantu oleh Zeva, Lena dan suster.
Deru nafas dari Nur memacu semakin cepat. Keringat juga semakin banyak membasahi hijab instan berwarna biru muda itu.
"Pembukaan sudah sempurna. Ini adalah hal yang diluar dugaan perkembangannya sangat cepat. Saya akan memanggil dr agar persalinan segera dilakukan" ucap suster itu.
__ADS_1
Senyuman mengembang di bibir Nur, tapi tak bisa dipungkiri ia juga merintih dikala rasa nyeri itu hadir menyerangnya "Mbak yang semangat ya. Sebentar lagi keponakan kita bakalan lahir" ucap Zeva dan Lena menyemangati Begitu pula Klara.
"Permisi yang lain silahkan saya mohon untuk keluar dahulu. Persalinan akan dilaksanakan" ucap seorang dr wanita paruh baya dengan senyum ramah nya, yang baru saja masuk kedalam bersama dengan suster di belakangnya.
"Mbak Nur semangat" ucap Klara sebelum keluar dari ruangan.
Setelah ketiga wanita itu keluar, Ahkam masuk kedalam mengikuti arahan dari dr "Kaka masuk duluan ya" ucapnya.
Didepan ruang persalinan Zeva, Klara, Lena dan Kahfi sudah menunggu dengan duduk di kursi "Mas sudah makan?" tanya Zeva.
"Sudah kok Ze. Kamu sendiri gimana sudah makan?"
"Sudah kok. Tadi sebelum kemari Ze sempat makan siang bersama Klara dan Lena"
Suara arahan dari dr terdengar keluar dari ruangan. Sesekali suara teriakan kecil dari ejanan Nur terdengar. Suara Nur mengatur deru nafasnya juga terdengar sayup.
"Aaa Ze mendengar suara Mbak Nur saat melahirkan saja sepertinya mengerikan. Pasti sakit, eee jadi takut aku kalau nanti hamil lalu melahirkan" ucap Klara sambil bergidik membayangkan hal yang difikirkannya.
"Gila lo ya Kla, jangan lebay belum juga ngalamin udah segininya gimana nanti kalau lo beneran mau lahiran. Mungkin tuh si Aldi bisa mati nanganin lo saat kontraksi. Ahhh aku gak bisa bayangin kalau kamu lagi kontraksi ributnya kayak apa. Bisa-bisa seperti kampung yang tengah ribut akibat kehilangan ayam" ucap Lena yang berada disamping Klara.
"Le, kamu kok tega. Nanti kalau kamu menikah pasti kamu bakalan ngerasain pengalaman sakitnya sebelum melahirkan. Yaitu sakit saat Mp, eee sakit banget Le. Tapi pas udah jebol gak sakit lagi kok. Yakan Ze" ucap Klara menanggapi omongan Lena sambi melihat ke Zeva.
Bukan menjawab ucapan Klara tapi Zeva malah tersenyum menatap Kahfi. Lalu Kahfi jangan ditanya ia merasa djavu disaat berada di posisi seperti ini. Dia hanya diam kala mendengar omongan sahabat istrinya itu.
Gila ni Klara. Bisa-bisa nya membahas masalah Mp disaat yang lain tengah ikutan tegang menanti Nur melahirkan anaknya.
"Hehhhee maaf kebablasan. Tapi memang bener yang aku katakan, yakan Ze" ucapnya dengan cengiran khas miliknya.
"Iya udah tau gak usah dibahas malu ada suami Zeva itu. Bisa-bisa dia mikir macam-macam nanti" suara Lena sedikit pelan menangapi ucapan Klara dengan rasa canggung melanda hati dikala ia melihat suami Zeva yang hanya diam dengan ekspresi wajah datarnya.
"Maaf ya dok, Klara kelepasan bicaranya suka gak difilter" sambung Lena. Kahfi hanya tersenyum menanggapi ucapan Lena.
Memang jika dibilang Klara adalah tipe orang yang apa adanya. Kalau ngomong suka gak ngefilter dan gak liat-liat kondisinya gimana. Terkadang suka membuat Zeva dan Lena malu, tapi itulah sahabat hanya sebatas merasa malu tapi tak pernah benar-benar marah selagi masih dalam batas kewajaran.
"ahhhhhh"..... Erangan dari dalam ruangan yang hadir berbarengan dengan suara tangisan dari seorang bayi.
owek... oweekkk...
" Alhamdulillah bayinya sudah lahir" seru Zeva dan lainnya kala mendengar suara tangisan bayi.
Senyuman hangat hadir mendarat sempurna di sudut bibir semua orang. Seolah semesta memihak dan merasakan bahagia. Sore ini angin berhembus kencang memberikan udara yang menenangkan untuk semua orang yang menikmatinya.
Setelah beberapa waktu, para pembesuk sudah diperbolehkan masuk untuk melihat bayi dan juga ibunya.
"Kak anaknya imut banget. Ze boleh gendong?" tanya Zeva kepada Ahkam yang tengah menggendong anaknya.
__ADS_1
Sesaat tadi setelah dr membersihkan baby laki-laki itu, dr langsung mempersilahkan Ahkam untuk mengazankan baby nya.
"Ini hati-hati Ze" Ahkam menyerahkan baby itu kepada Zeva.
Baby mungil tidur dengan tenangnya digendongan Zeva. Baby laki-laki dengan wajah sangat mirip dengan Ahkam. Alis yang dari baby sudah tebal dengan hidung mancung dan bibir mungil. Jika dilihat sekilas baby laki-laki itu mirip dengan Zeva.
Zeva terus menimang baby mungil yang tidur dengan anteng dalam balutan kain bedong berwarna putih "Kak Klara bawa balik ya" guyon Klara sambil memainkan pipi gembul baby itu.
"Enak aja, buat Kla buat" tukas Lena "Ih anaknya mirip banget ama bapaknya" ucap Lena sambil mencium gemas pipi gembul baby Ahkam kecil.
"Kak namanya siapa? ih anteng bangat baby kecil" ucap Zeva.
"Emm namanya nanti saja Ze kalau rambutnya sudah digundul baru kakak kasih tau"
"Mas ayo sini. Mas gak mau gendong?"
Zeva menghampiri Kahfi yang tengah berdiri disamping Ahkam. Dengan senyuman Kahfi melihat baby mungil yang tengah anteng nya tertidur.
"Mbak gimana perasaan mbak setelah lahiran?" tanya Lena.
"Lega Le" dengan senyuman yang mengembang "Ya walaupun sakit tapi rasa sakitnya tidak sebesar kebahagian setelah baby nya lahir" jelas Nur.
Zeva sibuk bermain dengan baby mungil bersama Klara. Sedangkan Lena memilih berbincang dengan Nur.
Suara gelak tawa dari Zeva dan Klara memenuhi ruangan dikala mereka melihat baby kecil itu menggeliat saat mereka memainkan pipi gembulnya.
"Buruan Fi. Bahagia banget tuh Ze kalau sama baby" ucap Ahkam.
"Hahah doain kak" balas Kahfi.
Tak lama mereka berbincang pintu terbuka menampilkan sosok Papa Mahendra dan Mama Veronika. Benar saja tadi mereka sudah dikabari oleh Zeva jika Nur akan melahirkan makanya mereka datang.
Tak lama dari kedatangan mereka Aldo dan Umi datang dengan membawa parsel buah dan juga kantong berisi hadiah untuk baby kecil Ahkam.
Jika ditanya Bunda dan Papa Malik maka jawabannya mereka belum sampai di sini. Ya meski sudah dikabari. Mungkin mereka sedang dalam perjalanan atau masih penerbangan kesini.
Kebahagiaan serasa lengkap dikala baby kecil itu menangis disaat Aldo menggendongnya. Semua yang melihat itu mengeluarkan tawanya dengan sesekali guyonan terlontarkan.
"Do mungkin baby gak mau sama kamu karna kamu jomblo" ledek Ahkam.
"Dia bahkan belum mengenal pamannya ini. Lalu bagaimana bisa dia tahu jika aku jomblo?" tukas Ahkam.
"Tuh kan dia nangis, Aldo berikan ke ibunya mungkin dia haus" perintah Umi.
Baby mungil itu semangkin menggemaskan dikala ia menangis. Hidung mancung dengan pipi gembul seolah memancarkan ketampanan sejak bayi.
__ADS_1
Kebahagiaan serasa lengkap malaikat kecil hadir ditengah-tengah keluarga bahagia yang sanagt kompak itu. Kebahagiaan bukan hanya dirasakan oleh Ahkam dan Nur melainkan semua orang.