
📌Yang suka silahkan Like, komen, rate5, dan love. Vote sesukanya juga boleh:')
Hidup dan Mati hanyalah Allah yang dapat menentukan. Mungkin sulit bagi mu namun tidak bagi Allah. Memintalah hanya kepadanya. Sesungguhnya tempat ternyaman untuk pulang adalah Dia.
Bertahan atau harus pergi? kembali atau tetap pergi? menunggu atau ditunggu? tanyakan kepada diri mu.
Setelah berlari meninggalkan Mang Mamat, Ahkam sampai didepan ICU. Dengan wajah ngos-ngosan dan panik ia bertanya "Papa! pa gimana bisa Ze kecelakaan?"
"Aku juga tidak tau, aku berada di kantor dan Mang Mamat yang menghubungiku"
Lama menunggu didepan ruangan. Sedangkan didalam tampak Zeva tengah berjuang. Aktifitas jantung terkontrol dalam monitor. Seakan tanda-tanda kehidupan mulai melemah. Oksigen telah terpasang apik. Dokter dengan telitinya melakukan perawatan intensif terhadap luka dikepala Zeva di bantu oleh beberapa suster.
"Bertahan lah Ze demi Bunda, Nenek dan yang lainnya" gumam Ahkam dalam hati.
Luka dikepala telah diperban cairan merah tampak mulai mengering menyisakan tanda pada perban. Selang infus tampak menggantung apik.
...
Dirumah sakit yang sama namun diruangan yang berbeda tampak Citra mulai membuka matanya.
"Ughhh" ringis Citra megangi perutnya.
"Saya kamu sudah sadar?" ucap Daniel saat melihat istrinya mulai sadar.
"Mas! perut ku, perutku kok rasanya nyeri? dan.. dan tadi.. tadi Ze hiks.. hiks" seakan tak dapat menyelesaikan kalimatnya Citra menangis.
"Sayang tenanglah" Ahkam memeluk Citra.
"Mas bagaimana keadaan Zeva? tadi dia udah nyelamatin aku dan ini kenapa perutku rasanya sedikit sakit?"
"Sayang sabarlah dan tenang jangan banyak bergerak. Kamu keguguran dan kita kehilangan bayi kita" ucap Daniel dan kembali memeluk Citra.
"Mas kamu jangan bercanda ini tuh gak lucu! Dan anak kita? anak kita baik-baik saja kan? iya kan Mas?" histeris itulah yang dialami Citra.
"Masss hiks..hikss" Citra terus menangis. Bayangan saat keluarganya bahagia mengetahui bahwa dia tengah hamil seakan berputar dalam memori ingatannya.
__ADS_1
Sedangkan Ahkam didepan ICU tengah menghubungi istri dan Bundanya yang tengah berada di Singapura.
___Percakapan Ahkam dan Papa Malik di telfon___
"Assalammualaikum Pa. Pa, saat ini Papa lagi di kantor atau di rumah?" Ahkam sengaja menghubungi Papa Malik, agar tak membuat Bundanya semakin cemas.
"Ahkam Papa di Kantor. Memangnya ada apa? kenapa suaramu seperti sedang cemas begitu?" dari seberang sana Papa Malik bertanya.
"Pa. Ahkam mohon Papa dan Bunda bisa kan ke Indonesia secepatnya? Pa, Zeva mengalami kecelakaan" ucap Ahkam dengan nada serak menahan tangis.
"Innalillahi. Ahkam bagaimana bisa? baiklah Papa akan mengajak Bundamu untuk terbang ke Indonesia saat ini juga"
"Tapi Pa! Ahkam mohon sebelum Papa dan Bunda sampai di Indonesia jangan beritahu Bunda dahulu. Ahkam takut Bunda akan cemas dan nanti malah merepotkan Papa"
"Baiklah Nak, kamu tenag saja. Terus hubungi Papa mengenai perkembangan keadaan Adikmu ya"
"Baiklah Pa. Papa dan Bunda juga nanti kalau sudah sampai Indonesia langsung ke rumah Ahkam. Dan nanti ke rumah sakit bareng sama Nur"
Percakapan pun berahir di saat bersamaan Dokter keluar dari ruangan Zeva.
Ahkam dan Ny Veronika langsung berdiri disamping Tn Mahendra menghadap ke Dokter.
"Kondisi pasien tadi sempat mengalami keritis tapi sekarang Alhamdulillah kondisinya mulai membaik. Tapi kita lihat nanti perkembangan selanjutnya. Akibat benturan pada kepalanya yang cukup keras itu bisa menyebabkan pasien koma untuk beberapa saat. Namun semua kita serahkan kepada Yang Maha Kuasa.
Semoga pasien tidak sampai mengalami hal itu. Dan nanti jika kondisi pasien benar-benar mengalami koma, maka jalan satu-satunya agar pasien bisa segera sadar kita harus melakukan operasi....." Dokter terus menjelaskan secara detail mengenai kondisi Zeva.
"Baiklah Tuan saya permisi dulu. Kita lihat saja perkembangan pasien selanjutnya" Dokter paruh baya itu pun pergi berlalu meninggalkan Tn Mahendra yang tengah nampak sedih.
"Ahkam lakukan yang terbaik untuk adikmu. Aku adalah Papanya dan memang aku tak begitu dekat dengannya, namun perlu kau tau Aku juga sangan menyayanginya sama seperti mu" Tn Mahendra berbicara sambil memegang pundak Ahkam.
Baru kali ini ia terlihat sangat rapuh. Air mata yang semula tak pernah jatuh namun kali ini lolos begitu saja dari pelupuk matanya.
"Pa..." Ahkam tak mampu berucap. Ia langsung memeluk tubuh kekar sang Papa yang telah lama tak pernah ia peluk lagi. Rengkuhan itu begitu hangat terdapat ketenangan didalammnya.
Memang benar. Sebesar apapun seorang anak namun bagi seorang ayah ia tetaplah putra kecilnya, putra yang salu ia jaga. Namun berbeda dengan Ahkam, ia besar bersama Bundanya dan terpisah dari Papa kandungnya. Samahalnya Zeva, ia juga besar jauh dari Ibu kandungnya.
__ADS_1
...
Bandara Singapura telah tampak sepasang suami istri yang tengah berjalan menuju pesawat yang akan mereka tumpangi.
"Mas kenapa tiba-tiba kau mengajak ku ke Indonesia? Apa ada masalah? sedari tadi aku bertanya loh" ucap Bunda.
"Tidak sayang. Aku hanya merindukan Ahkam saja" Alibi Papa Malik.
"Aku merasa ada yang sedang kamu sembunyikan Mas? dan perasaanku sedari tadi tak tenang. Entah mengapa aku kepikiran Zeva" ucap Bunda Laura menatap suaminya.
"Mungkin itu hanya perasaan mu saja dan jangan terlalu cemas. Doakan saja semoga semuanya baik-baik saja" Papa Malik merangkul pundak istrinya sembari memberikan ciuman pada puncak kepalanya.
"Kita pergi terburu-buru meninggalkan Hafiza di rumah. Kenapa dia tidak ikut saja Mas?"
"Dia harus menyelesaikan pendidikan nya. Dan nanti jika ia ingin melanjutkan sekolah di Indonesia maka aku akan mengizinkan itu. Sudah kamu yang tenang ya. Hafiza aman di Singapura"
Pesawat mulai mengudara meninggalkan bandara Singapura. Mengudara di langit Singapura.
Akan ada pertemuan yang indah. Namun perpisahan yang paling menyakitkan juga akan hadir. Seperti halnya kita di lahirkan ke bumi untuk suatu alasan. Dan kita pergi meninggalkan bumi juga demi suatu alasan. Alasan yang tak lain adalah sebagai pelengkap kehidupan.
Ada yang datang membawa sejuta cinta. Hidup lebih berwarna dan seakan memiliki alasan. Namun ketika orang yang datang dengan penuh cinta itu pergi maka ia akan menyisakan luka. Jadi tugas kita selanjutnya adalah mengikhlaskan.
Biarkan dia yang ingin pergi. Jangan paksa dia untuk bertahan. Mungkin tugasnya sudah selesai. Meski tak bertahan selamanya bersamamu namun setidak nya ia sudah pernah menjadi bagian dari ceritamu.
..
..
..
Bersambung..
Terima kasih buat yang senantiasa mampir buat like,Rate5, love, dan vote🍁
follow me🌻
__ADS_1