Kun Fayakun

Kun Fayakun
Akan Ada Kabar Baik?


__ADS_3

Akan ada saatnya kamu merasakan manisnya buah dari kesabaran. Indahnya hadiah dari hasil penantian. Tetap istikhomah di jalan Rabbmu meminta hanya kepada-Nya dan niscaya semua akan ia berikan walau dalam waktu yang tak dapat di tentukan kapan?


Fajar mulai tampak, menaiki tahta tertinggi dari makhluk bumi. Ia bertugas sebagai pemberi sinar cahaya untuk setiap makhluk. Burung-burung mulai berkicau ria seakan tengah bernyanyi dengan merdunya.


Embun di taman rumah sakit mulai menetes satu persatu jatuh ketanah dan mengering. Seakan semua telah siap menyambut kabar gembira apa pun itu.


"Assalammualaikum pasien ku" ucap dokter muda itu di kala ia membuka pintu dan masuk untuk memeriksa kondisi pasiennya.


Tidak ada jawaban, tapi senyuman memgembang di bibir pemuda yang menjadi dokter itu. Melangkah semakin mendekat, pasiennya itu masih setia menutup matanya. Hal yang membuatnya tersenyum adalah pasiennya itu sangat cantik di kala memakai hijab jingga yang ia berikan kemarin malam.


Tanpa sadar sudah memasuki hari ke lima Zeva dirawat, sudah empat hari Zeva di vonis mengalami koma. Dengan sabar keluarganya bergantian menjaganya. Tak jarang jika Bunda dan nenek sering betcerita panjang lebar ketika menjaga Zeva.


Begitupula dengan Aldi, sekarang dia telah bertunangan dengan Klara dan dengan antusias pula dia sering mengunjungi Zeva.


"Sus keadaan pasien mulai ada perkembangan, kondisinya sudah sangat stabil! hanya menunggu kapan ia akan sadar saja" ucap dokter muda itu.


"Dok jari pasien bergerak!" seru suster wanita.


MasyaAllah. Dengan cepatnya Ze merespon. Dua jarinya bergerak? itu saja sudah cukup menjadi kabar bahagia.


...


Dirumah Ahkam tampak Bunda sedang memasak di dapur bersama Nur menantunya. Wajahnya menyiratkan kebahagiaan. Entah kebahagiaan apa tapi yang pasti ia sedang bahagia.


"Mas Malik, Ahkam! ayo sarapan! ini sudah siap" Bunda memanggil dua lelaki hebat yang ada di rumah itu.


"Iya Bun, jangan teriak-teriak! Ahkam dengar"


"Sayang! ada apa kenapa kelihatanya bahagia sekali hari ini?" tanya Papa Malik.


"Tidak biasa saja! hari ini kita semua akan mengunjungi Ze lagi. Perasaan Bunda akan ada hal baik yang akan terjadi" ucap Bunda sambil mengambilkan nasi untuk suaminya.


Semua tersenyum mendengar penuturan Bunda. "Semoga ya Bun" ucap Nur. Nur juga menuangkan air minum ke dalam gelas.


Ditengah suasana sarapan yang hening, bel rumah Ahkam berbunyi. Entah siapa yang bertamu sepagi ini? yang jelas tamu itu kerajina! entah niatnya bertamu atau hanya ingin numpang sarapan?


"Biar Ahkam yang buka! mungkin tamunya kerajinan" ucap Ahkam lalu meneguk air putih dan sesudah itu berjalan menuju pintu utama.

__ADS_1


krekk...


Ketika pintu terbuka menampilkan sosok dua gadis yang selalu heboh ketika berkumpul.


"Assalammualaikum Kak" ucap kedua gadis itu.


"Waalaikumussalam. Kalian? ini masih pagi lo, sudah bertamu saja? atau jangan-jangan mau numpang sarapan ya? hahaha apa di rumah kalian tidak masak" Ahkam mengucapkan itu hanya untuk bercanda bukan menghina.


"Ngadi-ngadi ni Kak Ahkam. Kita kemari mau ikut ke rumah sakit buat jenguk Zeva" sarkas Klara sambil menoel lengan Ahkam yang diangguki oleh Lena.


"Idih ni bocah. Yaudah ayo masuk kita lagi sarapan. Kalian tumben banget pagi-pagi udah kemari aja"


Ketiganya melangkah mendekati meja makan "Assalammualaikum Bun, Om, Mbak" ucap kedua gadis itu dan menyalimi tangan Bunda, Papa Malik, dan Mbk Nur.


"Waalaikumussalam nak. Ayo duduk dan sarapan dulu. Loh kok tumben pagi-pagi udah kemari?" heran Bunda.


"Iya Bun terima kasih kita udah sarapan kok. Dan kita pagi-pagi udah disini karna kita mau ikut ke rumah sakit bareng Bunda"


"Oo yaudah, nanti pukul 08kurang kita berangkat ya" Kedua gadis itu langsung mengangguk mendengar penuturan Bunda.


Berbeda dengan Ahkam dia langsung ke ruangannya untuk melihat jadwal pekerjaanya hari ini.


"Assalammualaikum gadis kecil Bunda" Ucap Bunda sambil mengelus pipi Zeva.


"Ze kapan kamu akan sadar? Kamu tau Klara dan Aldi sudah bertunangan dan kamu tau jika mereka tunangan tugas kita jadi bertambah. Kita harus semakin sering menemani mereka berkencan. Kita akan menjadi nyamuk Ze! nyamuk!" Lena bercerita panjang lebar sambil duduk di samping Zeva.


"Ze. Janji deh nanti kalau kamu sembuh aku bakalan teraktir kalian lebih banyak lagi kalau nemenin aku kencan. Hehehe Ze semjak kamu sakit Lena gak mau nemenin aku pergi bersama Aldi. Ya mau gak mau aku juga gak pergi deh. Ze, Lena ini sangat payah" Klara seolah membisikan kalimat itu kepada Zeva "Dan apa kau tau Ze? Lena punya pacar Ze! pacar!" ucapnya Lagi.


"Jangan dengarkan dia ya Ze. Dia itu rada somplak" tukas Lena.


"Enak aja cantik-cantik gini malah di bilang somplak"


Bunda yang mendengar itu seakan haru, banyak pihak yang menyayangi putrinya. Semuanya berperan penting dalam menjaga dan membahagia kan putrinya ini.


"Ze kamu cepat sadar ya. Nanti kita jalan-jalan lagi deh, kemana pun. Atau kita nongkrong di warung bakso pinggir jalan atau jajan gula-gula, atau kamu mau makan kerak telor yang di pinggir jalan itu? terserah deh Ze. Yang penting kamu sadar ya" Kedua gadis itu terus berceloteh tanpa letih layaknya Zeva hanya menjadi pendengar.


Ditengah cerita itu tangan Zeva menunjukkan respon positif dengan beberapa jari yang bergerak "Jari, jari, jari....." seolah kehabisan oksigen dengan gencarnya Klara berucap dan mengundang perhatian Bunda, Papa Malik, Nur dan Lena.

__ADS_1


"Bun jari Zeva bergerak" ucap Lena dikala dia melihat tangan Zeva. Dengan segera Bunda mendekat.


"Ze..... Ayo sadar ya sayang! Bunda sayang banget ama Ze. Bunda kangen ama Ze. Ze sadar ya sayang" tanpa terasa setetes air mata Bunda jatuh mengenai tangan Zeva.


"B...bb...uunnn" suara pelan dan terbata terdengar.


"Ze! sayang kamu udah sadar nak? Ze buka mata ya sayang" Bunda terus mengusap puncak kepala Zeva.


"Bbb...Uuunnnn, Zeee.... Bunn maaatttaa Zee beerrat bun" Begitulah respon Zeva. Ia bicara? tapi matanya masih terpejam.


"Heee, Mas panggil dokter mas. Dokter!" ujar Bunda.


"Dengan segera Papa Malik menekan tombol dan tak lama muncul dokter wanita paruh baya yang akan memeriksa Zeva.


" Mohon menjauh sebentar. Saya akan memeriksa pasien" Mendengar itu semua langsung bergeser sedikit menjauh.


"Sayang buka pelan-pelan matanya. Jangan dipaksain ya pelan-pelan saja" ucap dokter itu dengan lembut setelah memeriksa kondisi detak jantung Zeva.


Dokter yang bernama Nyimas Adinda itu sangan lembut. Dokter wanita yang berusia sudah 40an atau bahkan lebih.


Dengan perlahan kelopak mata itu mulai terbuka. Dengan perlahan dan mengerjab berulang-ulang untuk menyesuaikan cahaya yang dilihatnya kini mata itu terbuka sempurna.


"Alhamdulillah. Ada yang sakit? atau bagian mana yang sakit sayang?" tanya Dokter itu saat melihat Zeva telah sadar.


Semua mendekat dan mengucapkan hamdalah. Puji syukur atas rahmat yang senantiasa Allah berikan.


Tak sia-sia selama beberapa hari ini menanti. Dan penantian itu kini berbuah manis, Zeva telah sadar dan semua kesedihan perlahan hilang.


.


.


.


.


Tbc...

__ADS_1


__ADS_2