Kun Fayakun

Kun Fayakun
Kemarahan Ahkam


__ADS_3

🌜Bersedihlah semaumu tapi ingat sesedih apa pun dirimu jangan lupa kau punya Allah sebagai tempat bersandar, curahkan keluh kesahmu kepada Rabbmu memohonlah kebahagiaan kepadanya🌛


Semalaman suntuk Zeva menangis hingga ia baru bisa tidur saat sudah dekat subuh. Baru saja gadis ini terlelab dan suara azan subuhpun berkumandang dengan merdunya membangunkan Zeva.


Dengan mata sembabnya Zeva bangit dan membersihkan diri untuk melakukan sholat subuh. Biar bagaimana pun ia tak ingin meninggal kan sholatnya.


Dengan mata sembab ia bersimpuh diatas sajadah memohon ampun atas dosa-dosanya. Sedih tentu saja manusia manapun pasti akan sedih saat berada diposisi seperti ini namun sesedih apapun dirimu tetap jangan lupa akan kewajibanmu untuk melakukan ibadah yang telah Rabbmu perintahkan.


**


Siang harinya Daniel baru kembali kerumah setelah tadi malam ia pergi meninggalkan Zeva di kamar nya. Entah darimana saja pemuda ini hingga baru kembali saat siang harinya.


Tanpa diduga baru saja Daniel ingin melangkah kan kakinya masuk namun suara seorang pemuda berhasil menghentikan langkahnya.


"Daniel" ucap pemuda itu.


Dengan perlahan Daniel pun membalik badanya guna mencari sumber suara yang menyebutkan namanya.


"Kak Ahkam"ucap Daniel.


Ya pemuda itu adalah Ahkam, setelah ia sampai dibandara Indonesi ia langsung memesan taxi untuk menuju ke rumah keluarga Hijaya.


" Ternyata kau masih mengingatku" ucap Ahkam dengan sudut bibir yang terangkat sebelah.


Ahkam langsung menghampiri Daniel dan bukk dengan kemarahan pada dirinya Ahkam melayangkan tinjunya kewajah mulus Daniel.


"Apa yang kau lakukan kak?" ucap Daniel.


"Masih bertanya? dasar laki-laki berengs*k beraninya kau menyakiti adiku. Apa kau lupa jika kau menyakitinya maka aku akan turun langsung untuk menghancurkanmu!" ucap Ahkam.


Tak hanya sekali namun berkali-kali Ahkam melayangkan tinjunya ke Daniel.


"Tapi ini yang terbaik untuknya Kak. Aku menceraikannya karena aku tidak ingin tambah menyakitinya" ucap Daniel dengan mengusap sudut bibirnya yang berdarah.


Suara ribut-ribut dihalaman rumah keluarga Daniel kedengaran hingga kekamar Daniel yang ditempati Zeva. Para Art dan juga supir keluarga Hijaya tak ada satupun yang berani menghentikan Ahkam yang tengah memukuli Daniel.


"Kau bilang tidak ingin menyakitinya namun apa kau tau! saat ini kau sudah membuatnya menangis! dan itu tandanya kau telah menyakitinya!" ucap Ahkam dengan amarahnya.


Ahkam mengangkat tangannya dan ingin memukul Daniel namun suara Zeva menghentikannya.


"Stop kak" ucap Zeva dengan suara kerasnya. Ia langsung turun saat mendengar keributan di halaman rumah dan tak disangka ia melihat Kakanya tengah menghajar Daniel mantan suaminya.

__ADS_1


"Ze" ucap Ahkam Daniel.


"Apa-apaan ini kak?" tanyaa Zeva saat melihat Daniel yang wajahnya bonyok-bonyok akibat tinju yang dilayangkan Ahkam.


Dengan perlahan Zeva membantu Daniel bangun dan menuntunnya masuk kedalam. Ia mendudukan Daniel disoffa ruang tamu.


"Bik tolong obati luka-lukanya" ucap Zeva.


"Baik non" Dan dengan cepat Bik ijah mengambilkan kotak obat.


Sedangkan Zeva ia pergi menghampiri Ahkam kaknya. "Apa semua ini Kak?" ucapnya kepada Ahkam.


"Ze dia pantas untuk itu Ze, bahkan lebih dari itu. Dia sudah menyakitimu Ze" ucap Ahkam.


"Tapi tidak begini caranya Kak. Tidak ada gunanya kau menghajarnya malah ini akan menyakiti kalian berdua, dengan kalian berantam begini maka akan akan menyakiti kalian lagian ini tidak akan menyelesaikan masalah kak" ucap Zeva.


Entahlah namun kini air mata gadis itu jatuh dari pelupuk matanya membasahi wajahnya. Ia kecewa kepada Kakanya, buat apa Ahkam menghajar Daniel? bukankah ini tidak akan menyelesaikan masalahnya? yang ada ini akan membuat semuanya semakin rumit.


"Ze jangan menangis, maafkan Kakak! Kakak melakukan ini karena aku menyayangimu, aku khawatir kepada mu" Ahkam pun langsung memeluk Zeva.


Gadis kecil ini pun semangkin menangis kala saat Kakanya memeluk tubuh mungilnya. Pelukan ini adalah tempat yang paling nyaman bagi Zeva. Dalam dekapan Kakanya Zeva merasa aman.


"Iya Kakak janji, dan Kakak juga minta maaf" ucap Ahkam tulus.


"Sudah jangan menangis lagi aku sudah disini, aku akan membawamu pulang dan jika nanti Papa menolakmu maka aku akan membawamu ke Singapura"


Ahkam masuk kedalam bersama Zeva, didalam tampak Daniel yang tengah diobati oleh bi Ijah.


"Ze kamu kemasi barang-barang mu, Kakak akan bicara kepadanya" ucap Ahkam.


Dan dengan perlahan Zeva menaiki tangga menuju ke kamar mengambil barang-barangnya.


"Kau akan menyesal telah menyakitinya. Aku akan membawanya pergi dan suatu saat kau ingin kembali kepadanya maka Akulah orang pertama yang akan menolak hal itu" ucap Ahkam dengan nada ketusnya.


"Maaf kan aku Kak, tapi ini yang terbaik untuk Ku dan juga Zeva. Aku tidak marah karna kau telah menghajarku" balas Daniel.


Zeva pun turun dengan menginting 1buah koper yang berisi barang-barangnya. "Kak" ucap Zeva.


"Ayo" ucap Ahkam dan memgambil alih koper Zeva.


"Aku pamit Mas, Bik Assalammualaikum"

__ADS_1


"Waalaikumussalam" ucap Ahkam dan bik Ijah.


Begitu tegar gadis ini, namun mata sembabnya tak mampu menyembunyikan kerapuhannya. Begitu pandai ia menyembunyikan kekecewaanya sehingga masih sempatnya ia membantu Daniel tadi.


"Kau kuat Ze" ucap Ahkam dan merengkuh tubuh Zeva.


Kini mereka sudah berada didalam taxi untuk menuju kerumah Papa Mahendra.


"Entah apa yang akan dikatakan Papa, pasti ia sangat kecewa" isak tangis Zeva.


"Nanti aku yang akan menjelaskan semuanya, jangan menangis aku tidak tega melihatmu seperti ini Ze" ucap Ahkam.


Taxi yang ditumpangi Ahkam dan Zeva terus melaju melewati jalan raya yang dipadati oleh kendaraan. Setelah kurang lebih 20menit kini mereka telah sampai di rumah keluarga Mahendra.


Dengan segera Ahkam dan Zeva turun lalu Ahkam membayar taxi dan setelah itu mereka melangkahkan kaki masuk ke kediaman keluarga Mahendra.


Ting...Tong...


suara bel rumah dikala Ahkam menekannya.


Entah kebetulan atau apa tapi pintu langsung dibuka dan yang paling mengejutkan yang membuka pintu langsung Papa Mahendra.


"Ahkam, Ze!" ucap Tn Mahendra.


Ny Karina pun langsung menuju pintu utama disaat tadi bel rumah berbunyi.


"Siap.." ucapan Ny Karina langsung terhenti saat Zeva langsung berlari memeluknya.


"Nek hiks hiks"


"Apa ini? Kenapa kau menangis cucuku?"


"Ada apa ini? Dan Ahkam kamu sejak kapan berada di Indonesia?" tanya Tn Mahendra.


.


.


.


Tbc....

__ADS_1


__ADS_2