Kun Fayakun

Kun Fayakun
Udara Dingin dan Kehangatan


__ADS_3

Teruslah berdoa tanpa henti meminta hanya kepad Allah tanpa henti.


Mengulang-ngulang doa sama seperti mengayun sepeda suat saat pasti akan sampai pada tujuan.


Pagi ini mentari tidak muncul menerangi bumi dan digantikan awan mendung. Dari jam 3dini hari hujan sudah turun dengan derasnya memgguyur bumi.


Seperti pagi ini jam menunjukkan pukul delapan pagi, tetapi cuaca diluar sangat gelap. Abi dan Aldo tidak kekantor sebab hujan lumayan deras mengguyur bumi. Sama halnya Kahfi dan Umi juga tidak ke rumah sakit untuk praktek.


Jam delapan pagi hanya dihabiskan untuk dirumah saja. Abi dan Aldo sedang memeriksa laporan perusahaan dari laptop dan mengecek email yang masuk, diruang kerja dengan ditemani dua cangkir kopi jahe yang menghangatkan tubuh mereka bekerja.


Tak jauh beda dengan Umi, dengan setianya Umi menemani Abi dan Aldo di ruang kerja. Sesekali mereka berbincang ria. Namun berbeda dengan Kahfi tadi selepas sarapan pagi ia langsung kembali lagi ke kamarnya.


"Umi, Kahfi dan Zeva dimana kok dari selesai sarapan tadi langsung gak kelihatan?" tanya Abi. Dengan perlahan Abi menutup laptop miliknya.


"Mungkin dikamar mereka Bi. Wajarlah diluar sedang hujan jadi kan gak bisa kemana-mana" jawab Umi.


Aldo yang mendengarkan jawaban Umi hanya mangguk-mangguk saja. Dengan tetap fokus memeriksa laporan kantor yang ada di laptop miliknya.


"Do udah nanti lanjutin lagi. Kan laporannya gak terlalu banyak. Abi mau rebahan, cuacanya sangat dingin dan sangat enak jika rebahan di kamar sambil ditemani istri" ucap Abi.


Abi bangkit dari duduknya dan akan beranjak pergi "Memangnya apa yang istimewah Bi?" kalimat Aldo menghentikan langkahnya.


"Menikahlah segera" jawab Abi sambil merangkul pinggang Umi yang ada disebelahnya "Abi..." keluh Umi.


Aldo hanya menautkan alisnya menanggapi ucapan Abi. Abi dan Umi berlalu dengan nampan yang berisi gelas kopi di tangan Umi.


"Hujan diluar lumayan deras. Ini adalah saatnya bermalas-malasan. Rebahan di kamar memang menyenangkan" gumam Aldo sendiri setelah Abi dan Umi keluar dari ruang kerja.


Dengan segera Aldo mematikan laptopnya dan mengemasi beberapa kertas yang ada di meja kerjanya, lalu ia keluar dan langsung menuju ke kamarnya.


Yang benar saja rumah sangat sepi. Biasanya sudah ramai aktifitas rumah tangga dilakukan tapi berbeda dengan kali ini. Hanya suara deru hujan turun yang terdengar.


Sedangkan dikamar Kahfi dan Zeva tengah duduk berdua di teras balkon. Hujan yang deras memberikan hawa dingin yang menusuk tulang mereka berdua.


"Eeee... Ze udara disini semakin dingin saja" keluh Kahfi sambil meneguk secangkir kopi yang uap panasnya masih mengudara bebas dari gelas kopi.


"Yaudah makanya ayo masuk Mas. Kan dari tadi udah Ze bilangin, disini dingin tapi Mas nya ngeyel malah ngajakin Ze buat duduk disini" jelas Zeva.


Zeva bangkit dari duduknya perlahan dia mendekati Kahfi "Sudah ayo masuk tar Mas masuk angin" ucap Zeva sambil menyentuh bahu Kahfi.


Baru saja ingin beranjak masuk tapi Kahfi menghentikan pergerakan tubuh Zeva "Kalau gini baru hangat" ucapnya sambil memeluk tubuh Zeva dari belakang. Ia meletakkan kepalanya di pundak Zeva dengan sedikit membungkuk "Hangat Ze" sambungnya lagi dengan memeluk erat tubuh Zeva.

__ADS_1


"Mas is kan peluk-peluk tapi ini tangannya kemana-mana" keluh Zeva. Dia mulai jengah dengan perlakuan Kahfi "Ayo masuk nanti masuk angin lo" ujar Zeva sambil melepaskan tangan Kahfi dari tubuhnya.


Kahfi mengikuti langkah Zeva masuk kedalam kamarnya. Sebelum itu dia menutup kaca yang menjadi pembatas antara balkon dan kamar. Cangkir kopi yang tadi ditinggalkan di meja yang ada di balkon dengan uap panas yang masih mengudara.


Zeva duduk dipinggir kasur. Tangannya meraih remot Ac dan mematikan ac yang ada dikamarnya. Lumayan membosankan hari ini, tapi ia beruntung masih bisa menikmati kebersamaan dengan tetap dirumah.


"Mas dari selesai sarapan tadi kita belum turun lagi lo. Mungkin Umi nyariin" ucap Zeva.


"Umi paham Ze. Ini hujan dan udaranya dingin paling Umi mikirnya kita dikamar rebahan" jawab Kahfi "Ze jilbabnya di buka aja kan cuma ada Mas disini" tambah Kahfi sambil duduk disamping Zeva "Sini biar Mas yang buka'in ya" tanpa menunggu jawaban Zeva tangan Kahfi sudah terulur membuka hijab Zeva.


Dengan perlahan hijab itu terlepas. Satu persatu jarum pentul diletakkan diatas meja oleh Kahfi lalu ia kembali duduk di sambing Zeva. Saat ini Zeva masih diam menuruti semua perlakuan Kahfi. Hingga tangan Kahfi mulai merengkuh pinggangnya.


"Mau ngapain Mas?" tanya Zeva. Dia memperhatikan wajah Kahfi dengan senyuman manisnya.


"Boleh kan" ucap Kahfi sambil mendekatkan wajahnya. Tangan kananya terulur untuk membelai wajah istrinya sedangkan tangan kirinya merengkuh pinggangnya. Perlahan tapi pasti bibirnya telah mendarat sempurna di bibir Zeva.


Zeva juga membalas ciuman suaminya itu. Dengan pelan tapi tubuh Kahfi semakin menuntut lebih. Tangannya mulai bermain di dada istrinya. Dengan membuka zeper depan gamis Zeva tangannya bermain. Ciumannya semakin menuntut lebih. Tanda jejak merha juga sudah tercetak sempurna di leher putih Zeva.


Saat tindakan Kahfi semakin menuntut lebih "Mas Ze lagi hait" ucap Zeva.


Duarrrrr.....


Seakan dunianya runtuh dengan lunglai Kahfi menghentikan aksinya. Semangat yang sudah membara tiba-tiba hilang saat kata yang tak ingin ia dengar lolos dari bibir istrinya. Kenapa tidak bilang dari awal? tau begini dirinya yang paling repot? begitulah keluh hati Kahfi.


"Gimana mau bilang dari tadi? Mas cium Zeva ters sampai Ze gak sempat buat bicara" sangkal Zeva. Dengan perlahan ia merapikan kembali gamisnya dan mengikat kembali rambut panjang yang telah tergerai karena ulah suaminya.


"Ya Allah Ze. Untung istri kalau enggak..."


"Kalau enggak apa Mas? Mas mo tonjok Ze? Mau hajar Ze? Mau..."


"Ya enggaklah sayang. Untung istri kalau gak mungkin udah bablas ini" potong Kahfi sambil memeluk gemas tubuh Zeva "Dari kapan Ze?" sambungnya lagi.


"Apanya Mas?"


"Dari kapan tamu bulanannya datang?"


"Baru dua hari yang lalu Mas"


"MasyaAllah jadi Mas harus nunggu berapa hari lagi?"


"Kurang lebih empat atau lima hari lagi"

__ADS_1


"Ya Allah puasa selama itu. Bisa-bisa gak tahan ini Mas. Kamu gak kasihan Ze liat mas? ini udah di ubun-ubun lo. Berat rasanya jika hasrat harus ditahan bisa bahaya jika gak segera dituntaskan" keluh Kahfi.


"Ya mau gimana lagi Mas. Ze kan juga gak bisa nolak kalau tamu bulannanya datang, masa iya Ze suruh pulang ya gak bisa kan"


"Bahaya,, Yaudah sini Ze Mas peluk" Kahfi menarik tubuh Zeva kedalam pelukannya.


Perlahan deru nafasnya mulai teratur. Hari ini ia harus berjuang melawan nafsunya yang sudah di ubun-ubun yang meminta untuk segera dituntaskan. Sulit? benar-benar sulit, udara dingin di luar membuat setiap orang membutuhkan kehangatan dan kehangatan yang paling nikmat adalah kebersamaan dengan pasangan halal.


Lama keduanya diam larut dalam rengkuhan hangat. Beruntung Kahfi adalah suami yang pengertian. Tidak memaksakan kehendak dan selalu mengalah.


"Maaf ya Mas?" ucap Zeva ditengah rengkuhan hangat. Telinganya menempel pada dada Kahfi dan seecara otomatis dia dapat mendengar jelas suara detak jantung Kahfi yang berpacu cepat.


Deru nafas yang tadinya tak teratur kini mulai stabil bersamaan dengan detak jantung yang mulai berdegub normal "Tidak masalah Ze. Nanti kalau sudah selesai bilang ya" ujar Kahfi dengan senyumannya.


Ia meraih wajah Zeva dan menatapnya hangat "Mas mencintaimu" ucapnya sambil mencium kening Zeva.


"Ze juga mencintai Mas" jawab Zeva. Kahfi kembali membenamkan Zeva dalam pelukannya. Nyaman? itu adalah hal yang pasti.


"Mas, Kalau Ze hamil Mas sudah siap buat mempunyai anak?" tanya Zeva dalam pelukannya.


"Sudah pasti Mas siap Ze. Memangnya kenapa? kamu belum siap kita punya anak sekarang?"


"Emm, Ze siap-siap saja Mas. Malahan Ze mikir Mas Kahfi yang belum siap buat punya anak lebih cepat. Tapi kan Mas udah dua bulan lebih kita menikah tapi Ze belum hamil juga?" ucap Zeva sambil melepas pelukannya.


"Ze mungkin belum saatnya Allah titipkan janin dirahim kamu. Kita hanya perlu berusaha dan berdoa. Kita harus tetap optimis lagian ini kan baru dua bulan kita menikah jadi gak masalah kalau kamu belum hamil" jawab Kahfi.


"Tapi Ze malu sama Umi. Ze kaya merasa bersalah, pasti Umi dan Abi juga kepengen cepat-cepat memiliki cucu"


"Tidak masalah Ze, Abi dan Umi pasti paham kok lagian pernikahan kita masih dibilang baru jadi kan wajar saja kalau kamu belum hami. Umi pasti memakluminya. Tapi kamu gak minum obat penunda kehamilan kan?"


"Enggak Mas" jawab Zeva sambil memegang tangan Kahfi "Ze gak berani minum obat itu tanpa izin suami Ze" sambungnya lagi.


"Yasudah mungkin belum rezeki kita buat punya anak saat ini. Intinya kita pasrahkan semua kepada Allah ya. Rencana Allah jauh lebih baik dari kita yang hanya Manusia"


Benar adanya yakinlah kepada ketetapan Allah. Mungkin belum saatnya dan kita harus tetab bertawakal kepada Allah.


Terus berdoa dan berusaha. Optimis kunci keberhasilan. Berusaha keras dan di barengin dengan doa maka hasilnya akan seimbang.


.


.

__ADS_1


.


follow me:')


__ADS_2