Kun Fayakun

Kun Fayakun
Lahiran


__ADS_3

Pagi menyapa. Mentari tampak bersinar indah, semburat cahaya terang mulai menyinari. Angin pagi tampak menggoyangkan dedaunan. Embun juga mulai mengering.


Hampir dua bulan sudah berlalu pernikahan Aldo dan Lena. Keluarga harmonis, saling bahu membahau untuk saling menolong. Keharmonisan yang mampu membuat hati nyaman untuk tetap berada dalam keluarga ini.


"Mas perut Ze sakit" keluhnya. Saat telah usai menyelesaikan shalat subuh berjamaah berdua di dalam kamar.


Pasutri ini memilih berjamaah dikamar dan tidak bergabung bersama anggota keluarga yang lain. Kahfi mengelus pelan puncak kepala istrinya. Ia membaringkan Zeva dipangkuannya. Mukenah itu masih lengkap terpasang di tubuhnya.


"Sayang mungkinkah kamu akan melahirkan?" tanya Kahfi.


"Mas kita baru USG kemarin masa iya Ze mau lahiran? Dr tidak ada bilang, ya memang usianya juga sudah mencapai 9bulan" ujar Zeva.


Kahfi masih setia mengelus puncak kepala istrinya yang tengah berbaring di pangkuannya. Ia menatap wajah sendu milik istrinya. Terlihat ia tengah menahan sakit. Lama keduanya hening. Larut dalam pikiran masing-masing.


"Sayang apa masih sakit?" Kahfi bertanya lagi. Kenapa istrinya diam tak menjawab? Kahfi menoleh menatap sang istri yang sudah memejamkan mata di pangkuannya "MasyaAllah selelah itukah kamu sayang, sampai-sampai baru rebahan udah tidur lagi" gumam Kahfi.


Kahfi beranjak, mengangkat tubuh istrinya merebahkannya diatas ranjang. Ia melakukannya dengan perlahan agar tidur sang istri tak terusik. Kahfi juga melepaskan mukenah Zeva dan menggantikannya dengan hijab instan.


Setelah itu ia memilih turun kebawah. Melihat anggota kekuarga yang lain. Hari masih pagi. Bahkan sangat pagi. Di bawah tampak Umi tengah berkutat di dapur bersama bi Nani.


Dan Abi dia tak kelihatan, begitupula Aldo dan Lena "Umi dimana yang lain?" Kahfi bertanya setelah ia menghampiri Umi.


"Abi di ruang baca nak, dan Lena mungkin di tengah membantu Aldo bersiap" jawab Umi tanpa mengalihkan pandangannya dari wajan penghoreng "Ze dimana nak?" sambung Umi.


"Umi Ze istirahat tadi setelah sholat subuh ia bilang perutnya sakit"


"Apa nak perutnya sakit?" tanya Umi berbalik, ia mendapati Kahfi tengah mengangguk "Bi lanjutin dulu ya, Umi mau ke kamar Zeva dulu" Umi menyerahkan tugas dapur sepenuhnya kepada Bi Nani.


Umi berlalu berjalan cepat naik kelantai atas meninggalkan Kahfi dan Bi Nani. Kahfi menuntaskan pekerjaannya, ia menuju ke tempat pencucian baju. Mengisi air kedalam mesin pencuci baju dan memasukan deterjen, ia memilih antara baju dan celana. Ia mencuci beberapa baju miliknya dan Zeva.


Kebiasaan yang sulit di tinggal. Zeva tidak ingin Bi Nani yang mencuci pakaiannya, sebab pekerjaan Bi Nani sudah terlalu banyak. Lagian jika hanya mencuci pakaian bukanlah hal yang sulit makanya selama ini Zeva memilih mencuci sendiri pakaiannya.


Sedangkan dikamar Zeva umi tampak panik saat masuk ia melihat menantunya tengah duduk senderan di ranjang "Sayang tadi kata Kahfi perut kamu sakit?" tanya Umi.


"Umi. Ini Ze gak tau perut Ze sakit banget mi, kaya mules mules gimana" keluh Zeva.

__ADS_1


"MasyaAllah nak!" Umi melihat seprai berwarna biru di ranjang Zeva sudah basah "Kamu mau lahiran? ini air ketubannya sudah keluar nak" ucap Umi. Wajah Umi seketika seperti orang panik.


Sementara Zeva ia juga tengah menahan perutnya yang mulai sakit "Fi.... Kahfi Aldoo nak siapin mobil kita kerumah sakit ayo cepat" suara Umi terdengar nyaring. Dari lantai atas ia memamnggil anak nya.


Aldo tampak keluar dari kamar dengan terburu-buru disampingnya tampak Lena yang tak kalah cemas. Kahfi sudah menghampiri umi naik kelantai atas. Dan Abi tentunya ia langsung keluar dari ruang baca saat mendengar istrinya berteriak.


"Fi istri kamu mau lahiran, Aldo kamu siapin mobil ya kita kerumah sakit sekarang. Mang Umar kayanya belum datang" perintah Umi.


Hari masih sangat pagi. Masih pukul enam. Kahfi langsung melihat istrinya yang tengah meringis akibat sakit pada perutnya.


"Fi ayo cepat nak" perinta Umi.


Dengan segera Kahfi menggendong tubuh istrinya. Dirasa gamis Zeva sedikit basah "Mas perut Ze semakin sakit" keluh Zeva saat suaminya menggendong tubuhnya.


Umi dengan segera mengambilkan jarik dan mengikuti langkah Kahfi. Satu persatu anak tangga di pijaki. Abi tampak guratan kecemasan di wajahnya, namun ia berusaha tenang.


"Abi, Umi kerumah sakit duluan ya. Le nanti kamu nyusul sama Abi setelah Mang Umar datang ya nak. Jangan lupa Abi sarapan dulu" perintah Umi "Dan Bi Nani nanti tolong bawain perlengkapan Ze ya" pinta Umi.


Lena menurut, wajahnya tak kala panik dan cemas. Apa lagi disaat dia melihat wajah Zeva yang pucat menahan rasa sakit.


"Mas perut Ze sakit" rintih Zeva. Seakan tenaganya terkuras tubuhnya lemah dengan kepala yang bersender di dada bidang suaminya.


"Sayang tahanlah sebentar lagi kita sampai. Istifar" Kahfi cemas? tentu saja. Namun dia berusa bersikap senetral mungkin.


Kahfi terus menngusap puncak kepala istrinya dengan tangan yang satunya memegang erat tangan sang istri. Tangan kanan Zeva tampak meremas gamis longgar yang dia kenakan. Hijab instannya mulai basah oleh keringat.


"Sayang yang sabar ya, sebentar lagi kita sampai" ujar Umi.


Umi mengelus pelan perut Zeva. Jika dilihat kondisi Zeva sangat kasihan. Mungkin inilah penanggungan seorang ibu yang akan melahirkan. Menahan rasa sakit, belum lagi nanti harus berjuang untuk mengeluarkan anak dalam kandungannya.


Mobil sampai di depan rumah sakit. Kahfi langsung menggendong tubuh istrinya turun dari mobil. Diikuti oleh Umi disampingnya. Dr Ana sudah menunggu di depan rumah sakit. Beruntung tadi Kahfi sempat menghubungi Dr Ana.


Hari masih pagi. Namun dengan segera mungkin Dr Ana langsung bersiap dan bergegas ke rumah sakit saat mendapat telfon dari Kahfi jika istrinya akan melahirkan.


Brankar itu didorong masuk kedalam ruang persalinan. Didalam sudah terlihat suster yang menunggu. Dokter Ana langsung memeriksa Zeva. Ia akan melahirkan secara normal tanpa harus operasi.

__ADS_1


"Siapa yang akan ikut masuk kedalam?" tanya Dr Ana kepada Kahfi, Umi dan Aldo yang tengah berdiri di depan ruang persalinan "Dr Kahfi istri kamu akan melahirkan secara normal jadi tidak perlu di operasi dan Umi ata kamu sendiri yang akan ikut masuk kedalam?" jelas Dr Ana.


Umi dan Kahfi saling pandang "Masuklah nak, Umi tunggu di sini bersama Aldo" Seulas senyuman terbit di wajah Umi. Menandakan agar Kahfi harus kuat.


Kahfi mengangguk ia akan masuk menemani persalinan istrinya "Umi duduk dulu, nanti Abi akan kemari bersama Lena. Aldo akan pinta Lena buat bawain sarapan untuk umi, pasti belum sempat sarapan kan?" ujar Aldo


Umi dan Aldo duduk di kursi tunggu depan ruang persalinan. Aldo dengan segera menghubungi Lena agar jika nanti dia kemari jangan lupa membawakan sarapan untuk Umi dan dia tentunya.


Di dalam ruang persalinan tampak Zeva yang tengah mengejan sekuat tenaga. Mungkin ia lelah akibat menahan rasa sakit pada perutnya. Tenaganya terkuras keringat membanjiri kening dan pelipisnya.


"Ayo Ze tarik nafas dan mengejan yang kuat, kamu pasti bisa" perintah Dr Ana.


Nafas Zeva terlihat naik turun, dadanya berdegup dengan cepat. Bahkan detak jantungnya berdetak tak seperti biasa. Kahfi dengan setia menemani Zeva. Cengkraman dari tangan istrinya di tangannya menandakan jika peroses persalinan ini sangat menyakitkan.


"Hufffff... husfff.... eeee... aahhhhh, mas sakit" keluh Zeva. Nafasnya tak beraturan.


"Ayo Ze kamu pasti bisa. Atur nafas dan mulai mengejan kembali" intruksi Dr Ana. Ia terus menyemangati pasien nya ini.


"Sayang kamu pasti kuat, kamu boleh cakar tangan mas, pegang yang erat lampiasin rasa sakit kamu, yang penting kamu kuat" Kahfi berucap di telinga istrinya. Sesekali ia menciumi puncak kepala istrinya yang sudah bermandikan keringat.


Bukan hanya Zeva yang menahan sakit. Kahfi juga. Tangannya habis terkena cakaran dari genggaman tangan Zeva. Beruntung kuku istrinya tidak panjang kalau tidak mungkin sudah luka tanganya.


Sedangkan di rumah Umi, Lena tengah sibuk memasukkan bekal ke kotak makan untuk dibawa ke rumah sakit. Umi dan suaminya belum sarapan, begitu pula adik iparnya.


"Abi Le telfon Om Mahendra dulu ya, sekalian kak Ahkam juga" pinta Lena.


"Dan Bunda Zeva jangan lupa nak" ucap Abi "Atau biar Abi yang telfon papa Ze dan kamu hubungi Bunda nya" pinta Abi.


Lena mengangguk menuruti ucapan Abi mertuanya. Dengan segera Abi meraih ponsel dan menghubungi papa Zeva.


Begitupula Lena ia menghubungi Ahkam dan Bunda Laura "Assalammualaikum Bun, Bun Zeva sekarang di rumah sakit dia mau melahirkan" ucap Lena dari ponsel.


Dan diseberang Bunda dapat mendengar ucapan Lena. Ia bahagia sangat bahagia, namun sayang ia jauh dari putrinya. Setelah panggilan telfon terputus ia langsung meminta kepada suaminya untuk segera ke Indonesia menemui putrinya.


Dan Ahkam dia juga tak kalah bahagia, setelah mendapat kabar dari Lena ia langsung mengajak Nur istrinya agar segera ke rumah sakit. Tak hanya Ahkam, Klara juga di beri tahu.

__ADS_1


..


__ADS_2