
Setelah lumayan lama berjuang di dalam ruang persalinan ahirnya hal yang di tunggu-tunggu pun hadir. Bayi mungil lahir dengan selamat.
"Alhamdulillah bayi laki-laki, sangat tampan seperti papanya" ujar Dr Ana. Ia menggendong bayi yang masih berwarna merah akibat darah.
Seketika wajah lega dari Kahfi hadir, dalam hati ia melafaskan rasa syukur teramat. Malaikat kecil yang sangat di nantikan telah hadir dalam hidup mereka. Kahfi mendaratkan ciuman di kening sang istri.
Zeva pingsan? mungkin ia lelah. Tenaganya terkuras. Bayi yang ia lahirkan sehat dengan berat badan 3,9 kg dan panjang 48cm. Bayi mungil. Pipinya tak kalah gembul dari Ahzam dan Naufal.
Rambut nya hitam pekat, lurus mungkin jika dalam hal ini ia mewarisi gen ibu yang dominan, memiliki rambut hitam pekat dan lurus. Bayi itu menangis dan menggeliat ringan kala suster membersihkannya.
Setelah usai suster membedong tubuh bayi mungil itu, Dr Ana langsung menyerahkan nya kepada Kahfi agar segera di adzankan. Sementara Kahfi mengadzankan ankanya Dr Ana membereskan semua alat dan seprai yang kotor bekas lahiran tadi.
Kini Zeva sudah berada di ruang perawatan, untuk saat ini Dr menyarankan untuk Zeva dirawat sementara di rumah sakit. Selang infus terpasang rapi.
Semua keluarga sudah tampak berkumpul. Papa, Mama Veronika, Umi, Abi, Lena, Aldi, Ahkam dan Nur juga tak lupa batita gembul yang semakin lincah Ahzam tentunya.
Umi sangat bahagia cucu pertama di keluarganya lahir. Ia tak menyangka bakal mendapatkan cucu laki-laki dari Kahfi dan Zeva. Dan Tn Mahendra juga tak kalah bahagia, kini cucu nya bertambah lagi.
"Nak istrimu sudah sadar?" tanya Umi kepada Kahfi.
Kahfi tampak bahagia. Namun tak dapat di pungkiri raut kecemasan juga menggelayutinya. Istrinya sempat pingsan saat setelah melahirkan.
"Belum umi. Umi masuklah kedalam, Kahfi harus menemui Dr Ana dulu" ujar Kahfi.
Tanpa di perintah kan dua kali Umi masuk kedalam, tampak menantunya tengah terbaring lemah dengan selang infus. Sedangkan di luar tampak anggota keluarga yang lain tengah menunggu.
Sementara itu Kahfi tampak ke ruangan Dr Ana "Dr kenapa istri saya belum sadarkan juga? apa ada hal yang serius sampai-sampai Dr memanggil saya?" tanya Kahfi setelah sampai di ruangan Dr Ana.
"Duduklah dulu. Kamu tidak usah khawatir, tenaga istrimu terkuras. Tubuhnya mungil dan ia harus mengeluarkan bayi yang berat badannya lumayan besar jadi wajar jika tenaganya terkuras" ujar Dr Ana.
"Jadi kenapa Dr memanggil saya? apa ada hal yang serius?" tanya Kahfi.
"Tidak ada yang serius Kahfi. Kamu ini terlalu berlebihan. Saya cuma mau bilang sama kamu, saya sarankan setelah ini istri kamu tidak usah hamil lagi"
Wajah Kahfi menjadi serius. Ia menatap lekat Dr Ana "Kenapa dok?"
"Kandungan istri kamu lemah. Saya takut kehamilannya hanya akan membahayakan dirinya. Makanya saya sarankan ini kepada kamu"
Hufff... Kahfi bingung ia harus bahagia atau bersedih. Tapi ya sudahlah ini juga demi kebaikan istrinya. Toh ia juga sudah memiliki anak, tak apa jika hanya satu.
Lama Kahfi dan Dr Ana berbincang, lalu setelahnya ia memilih kembali ke ruangan istrinya. Saat ia membuka pintu ternyata di dalam ruangan sudah tampak ramai dan istrinya juga sudah sadar.
"Assalammualaikum" ucapnya dan berjalan masuk. Seluruh orang yang ada di ruangan pun menjawab salamnya. Kahfi berjalan menghampiri istrinyayang sudah sadar dan kini tengah berbaring bersama bayi mereka di sebelahnya "Sayang" ucapnya sambil tersenyum. Ia mencium puncak kepala istrinya.
"Mas putra kita. Putra kita sudah lahir dia sangat mirip denganmu" ujar Zeva. Ia terharu, tak menyangka jika ia bakalan di beri kesempatan menjadi ibu setelah usahanya gagal.
__ADS_1
Benar. Rencana Allah jauh lebih baik. Hanya saja kita perlu bersabar untuk mendapatkannya. Tidak perlu terburu-buru. Asal jangan lupa berdoa saja, niscaya takdir Allah itu indah.
"Iya sayang, rambutnya hitam legam mewarisimu dan bibirnya juga sangat mungil" ucap Kahfi. Ia juga bahagia.
Semua keluarga yang ada di dalam ruangan itu tampak tersenyum. Haru itu pasti. Kini lengkap sudah kebahagiaan mereka. Papa Mahendra mengucapkan selamat. Ia sempat menggendong cucunya. Raut bahagianya tak bisa di pungkiri.
"Mimi Zeze,, dedee zamm" celoteh Ahzam. Mungkin ia ingin bilang 'Umi Ze ini dede Ahzam' batita itu anteng di gendongan papanya.
Zeva tersenyum meraih tangan mungil Ahzam "Sayang ini dedek baru Ahzam ya. Ahzam jangan nakal, cepat besar biar bisa jagain dedek" ucap Zeva.
Ia sangat sayang dengan Ahzam. Sebelum meiliki bayi sendiri Zeva sangat dekat dengan Ahzam. Lena dan Aldo juga menghampiri Zeva. Ia mengucapkan selamat.
Kini Aldo tengah menggendong bayi Zeva dan Kahfi. Bayi itu anteng benar-benar mewarisi sifat ayah dan ibunya yang selalu tenang.
"Yah Ze aku kira anak kamu cewe. Padahal aku niat banget buat ngejodohin dia sama baby boy Naufal" keluh Klara. Ia menggendong Naufal yang tampak mulai lincah.
"Hahah Kla makanya jangan niat banget tuh gak kesampaian kan" ucap Lena yang berdiri disamping Aldo. Ia tampak senang menoel-noel pipi bayi Zeva yang tengah di gendong suaminya.
"Belum rezeki Kla. Gak jadi besanan kan anak kita masih bisa jadi sahabat kaya kita" ucap Zeva.
Kahfi tersenyum. Ada-ada saja Klara fikirnya. Anak anaknya masih kecil malah ngebet pengen di jodohin.
"Yaudah gak papa, mungkin gak sama Zeva besanannya kan masih ada Lena. Le cepetan hamil dan nanti kalau anak kamu perempuan kita jodohin" ucap Klara.
Umi tersenyum, bahagia tentunya. Abi juga bahkan saat ini ia tengah berebut ingin menggendong cucunya itu bersama Papa Mahendra.
"Abi sudah ya, Abi ngalah sama papa nya Ze. Nantikan bayinya akan tinggal di rumah kita. Kita bakal sering ajakin main" ucap Aldo.
Aldo memberikan bayi itu agar digendong oleh Tn Mahendra. Senyumnya mengembang kala ia menggendong cucunya itu. Belakangan ini Ahzam juga sangat dekat dengan Tn Mahendra.
"Kak Bunda kok gak datang?" tanya Zeva. Ia menanti kehadiran sang ibu.
"Tadi pagi kata Bunda dia dan papa Malik sudah akan terbang ke sini kalau tidak ada halangan" ujar Ajkam.
Ia paham mungkin Zeva merindukan Bunda. Kebahagian meliputi seakan ruang rawat Zeva menjadi ramai. Gelak tawa dari Abi, Aldo dan Papa Mahendra terdengar. Umi dengan sayang merawat Zeva. Lena dan Klara tengah sibuk mengawal Ahzam dan Naufal. Azam tampak mulai berjalan dengan lincah nya.
Dan Nur, ia tengah sibuk membawakan makanan yang bisa di nikmati untuk semua orang. Meski rumah sakit namun mereka tetap bisa bebas, Zeva ditempatkan di ruangan tetbaik dengan luas yang cukup.
..
Hari mulai sore, Papa Mahendra dan Mama Veronika sudah pulang, Begitu pula Klara. Aldo dan Lena juga baru saja berpamitan pulang bersama dengan Abi.
Akham juga sedang praktek, dan Nur ia sudah diantar pulang bersama Ahzam. Kini tinggal Umi dan Kahfi yang menjaga Zeva.
Bayi mereka tampak anteng. Meski tadi sempat rewel namun kini anteng kembali setelah mendapat asi dari Zeva. Meski asinya belum banyak namun cukuplah, yang penting bayi mereka tak menangis.
__ADS_1
"Assalammualaikum Ze, Ini bunda dek" ujar Ahkam yang baru saja masuk kedalam. Ia masih mengenakan almameter putihnya.
"Waalaikumussalam" umi, Kahfi dan Zeva menjawab. Mereka menoleh dan mendapati Ahkam bersama Bunda dan di belakangnya ada Papa Malik.
"Bunda, Papa Malik" ujar Zeva.
Bunda tersenyum langsung menghampiri putrinya "Assalammualaikum Umi" Bunda menyapa Umi yang tengah tersenyum, begitu pula sebaliknya.
"Bun" Kahfi mencium tangan Bunda dan beralih ke papa Malik. Papa Malik memeluk dan memberikan ucapan selamat kepada mantunya itu.
"Bunda baru sampai?" tanya Zeva.
"Iya nak, dan Bunda langsung kemari" ucap Bunda. Ia memeluk dan mencium putrinya. Beralih ia menatap cucunya, cucu laki-laki yang anteng tertidur.
"Pa" ujar Zeva. Papa Malik mendekat. Ia memeluk Zeva, begitu pula sebaliknya.
Mereka saling bercengkrama. Kehangatan meliputi keluarga ini. Lengkap sudah, kebahagiaan selalu menyertai.
Sudah, tanpa masalah. Semua berahir indah. Sempat tak lercaya diri akan memiliki bayi sendiri setelah usaha mereka gagal. Naum nyatanya Allah maha adil, Allah tahu kapan waktu yang tepat untuk hal yang terbaik.
..
Sempat terpuruk akibat cinta tak terbalaskan. Rasa sedih kala diacuhkan. Saat ia telah menikah namun suaminya menjalin hubungan dengan wanita lain.
Sempat terpuruk kala perceraian, pernikahan yang gagal. Namu siapa sangka Allah hadirkan hal yang indah saat-saat terahir.
Sempat kecelakaan dan koma tak membuatnya putus asa. Bahkan hadiah dari kesempuhannya adalah berita sakitnya sang nenek dan hikmah dari itu semua adalah sosok laki-laki sejati.
Allah hadirkan Kahfi dalam hidupnya disaat bersamaan kala sang nenek menghembuskan nafas terahirnya.
Sedih kala sang nenek orang satu-satunya yang paling dekat dengannya setelah Ahkam kakanya, malah meninggal dunia dan pergi menyisa kan kenangan.
Namun dibalik semua cobaan itu Allah hadirkan sosok laki-laki baik yang sekarang menjadi imanya. Keluarga harmonis dengan mertu yang baik, sahabat baik yang menemani kala susah dan senag.
Hingga pada ahirnya Allah juga hadirkan sang buah hati. Buah dari cinta mereka yang akan di jaga sampai kapanpun. Amanah terbesar serta anugrah terindah.
END....
Terima kasih sudah setia nemani perjalanan novel ini sampai sekarang. Terima kasih buat like, komen, Rate5 dan Vote nya:')
Salam sayang dari Author, novelnya cukup sampai disini ya dan jangan lupa support juga karya Author SENJA SOREA
Salam kenal buat semua reder's setia. Yg ingin masuk gc silahkan ya:)
Mohon maaf jika banyak kekurangan disana sini. Author hanya manusia biasa yang jauh dari kata sempurna:')
__ADS_1