Kun Fayakun

Kun Fayakun
Pertemuan Tanpa Sengaja


__ADS_3

Hubungan yang dibangun dengan rasa cemburu akan sangat bagus jika tingkat kecemburuan itu masih dalam batas wajar. Posesif itu penting selama tidak mengekang kebebasan pasangan.


Hari minggu adalah hari yang sangat di nantikan banyak orang, sebab hanya di hari ini sajalah mereka terlepas dari segala urusan kantor, pekerjaan, sekolah dan yang lainnya.


Seperti hari ini, siang ini mentari sangat menyengat dengan gagahnya menyinari bumi pertiwi. Abi tengah bersantai ria bersama Umi di gazebo belakang rumah dengan ditemani dua buah cangkir teh dan sepiring kudapan ringan yaitu donat.


Umi dengan setianya menemani Abi duduk dengan sesekali mereka bercerita. Tak hanya mereka saja Bi Nani juga tengah disibukkan dengan urusannya begitu pula Mang Umar.


Jangan ditanya mengenai Aldo. Sejak pagi entah kemana perginya pemuda yang satu ini. Jika dilihat mobil miliknya masih terparkir apik di garasi, tapi jika dilihat motor sport nya entah kemana hilangnya bersama sang pemiliknya.


Siang ini Zeva dan Kahfi sudah sangat rapi dengan pakaian formal masing-masing. Rencananya mereka akan pergi keluar hari ini, berdua saja. Hitung-hitung waktu berpacaran.


"Umi, Abi kita pamit ya, hari ini mau ketemuan sama Klara dan Lena katanya ada yang mau di bicarain" pamit Zeva sambil mencium tangan kedua mertuanya itu.


"Iya, hati-hati nak" ucap Abi dan Umi.


Pasutri ini pun pergi menuju garasi dan dengan mengendarai motor sport keduanya pergi meninggalkan halaman rumah. Jangan ditanya hobi mereka sama yaitu sama-sama lebih suka mengendarai motor dari pada mobil.


Pernikahan mereka sudah berjalan selama hampir satu bulan. Abi dan Umi ingin menggelar acara resepsi untuk pernikahan mereka tapi keduanya menolak dengan alasan pernikahan mereka juga sudah lama, jadi tidak usah saja. Lagian mereka juga sangat sibuk untuk hal itu.


Pernikahan mereka juga sudah terdaftar di negara. Jadi pernikahan mereka sudah sah secara hukum dan agama. Berkas-berkas bukti pernikahan mereka juga sudah ditangan, jadi tidak dikhawatirkan akan ada masalah di kedepan harinya.


Setelah dua puluh menit mengendarai motor sport, kini keduanya telah sampai di tempat mereka akan bertemu dengan Klara dan Lena. Mereka bertemu di caffe milik Zeva.


"Assalammualaikum Kla, Le" ucap Zeva sembari masuk kedalam ruangannya di mana kedua sahabatnya telah menunggunya.


"Waalaikumussalam Ze. Is udah lama kita gak jumpa kan. Ayo, ayo pasutri sini duduk dulu" ucap Klara dengan hebohnya.


"Oiya Ze, kamu gak lupa kan seminggu lagi pernikahan ku dan Aldi akan di gelar" tanya Klara.


"Enggak Kla, Ze ingat kok. Cuman baru sempat aja kita ngumpul kaya gini lagi"


"Bagus, bagus. Ze ini aku kesini mau bahas mengenai baju kalian nantinya. Ini aku ada bawa beberapa rancangan baju untuk para keluarga jadi kamu dan Lena pilih ya" ucap Klara dengan semangatnya, sembari menunjukkan beberapa gambar rancangan pakaian untuk dikenakan oleh para keluarga di acara pernikahannya.


"Loh Kla, kita juga dikasih baju samaan dengan keluarga kedua mempelai?" tanya Zeva heran.


"Iya dong, kalian kan sahabat. Jadi ayo cepat kalian berdua pilihlah dulu"


"Tapi ini tinggal seminggu lagi lo waktunya, memangnya keburu?" tanya Lena.


"Tenang Le, tiga hari dari sekarang ni baju bakalan siap. Udah ayo cepetan pilih rancangannya"


Zeva dan Lena pun memilih rancangan pakaian yang akan mereka kenakan. Sementara Kahfi jangan ditanya dia hanya duduk diam memperhatikan ketiga sahabat itu tengah berbincang ria.


"Na, Kla kita putusin yang ini aja. Kelihatan simpel dengan warna marun. Tapi dibuat dengan model gamis yang tetap ada ciri has ala-ala kebayanya ya" ucap Lena sembari menunjukkan pilihannya dan Zeva kepada Klara.


"Ok aman. Jadi ini bajunya buat Zeva dan suami, Lalu Lena, Kak Ahkam dan Mbak Nur. Emm Le kamu sendiri lo ini gadak pasangannya" ujar Klara.


"Udah gak papa, aku mah aman-aman aja. Solo juga gak masalah"

__ADS_1


"Oh yaudah, sepakat yang model ini. Nanti aku akan kirim orang buat ukur badan masing-masing ya" ucap Klara.


"Terserah Kla. Oiya harusnya kamu itu dipingit lo. Ini kok malah keluyuran?" tanya Zeva.


"Ah kamu Ze kaya gak tau ni bocah. Auto kabur dia kalau dikurung" ujar Lena.


Hampir satu jam mereka berbincang dan tak lama dari itu Klara dan Lena berpaitan untuk segera kebutik agar pihak butik segera mebuatkan baju pilihan mereka.


"Maaf Mas, nungginnya lama". ucap Zeva.


Akhirnya dia sadar bahwa sedari tadi suaminya menunggu dia tanpa berbicara apapun. Zeva melihat raut wajah Kahfi yang menggambarkan sedikit kekesalan.


" Mas ih, jangan marah ya. Maaf Ze kalau udah bicara ama mereka suka kelupaan kalau ada Mas disini" Zeva menggelayut manja di lengan Kahfi berharap agar suaminya berbicara.


"Iya udah gak papa Mas paham" ujar Kahfi.


"Isskan senyum dong. Masa kaya gak iklas gitu mukanya ditekuk tar pak dokter gantengnya hilang lo" ucap Zeva. Tangannya sudah tidak bisa diam dengan gelendotan di samping Kahfi ia memegang dan menarik pelan kedua pipi Kahfi agar membentuk senyuman.


"Iya, iya Ze. Ini Mas udah senyum lo. Yaudah kamu mau kemana lagi biar Mas anterin?" tanya Kahfi.


"Terserah Mas aja, Ze ngikut" ujar Zeva dengan mengembangkan senyuman.


Keduanya bangkit dari duduknya dan keluar dari ruangan Zeva. Sebelumnya Zeva sempat menyapa Mbak Arum yang saat ini ditugaskan mengawasi caffe milik Zeva dan beberapa pegawai lainnya.


"Kita mau kemana Mas?"


"Gak tau. Jalan-jalan aja hitung-hitung menikmati masa pacaran. Berjalan sambil gandengan tangan kan lebih romantis" ucap Kahfi.


Brukkk....


Tanpa sengaja seorang laki-laki menabrak tubuh Zeva. Sehingga dia sedikit terhuyun kebelakang.


"Astaufirullah Ze" dengan segera Kahfi memegang tangan Zeva erat agar tak terjatuh kererumputan "Alhamdulillah untung gak sampai jatuh kan" ujar Kahfi.


"Maaf Mbak, saya minta maaf gak sengaja" ucap pemuda itu.


"Iya gak pap..." ucapan Zeva terhenti ketika melihat pemuda yang ada dihadapannya "Mas Daniel?" kagetnya.


"Ze. Maaf Ze aku tadi gak sengaja"


"Iya, Mas gak papa. Ze juga gak sampai jatuh kok" ucap Zeva "Mas kenalin ini suami Ze Mas Kahfi" lanjut Zeva sembari memegang tangan Kahfi "Dan Mas ini Mas Daniel teman Ze" sambungnya lagi sembari menatap suaminya.


"Kahfi"


"Daniel" ujar keduanya sambil berjabat tangan.


"Oya Ze turut berduka cita ya atas meninggalnya almarhumah nenek, maaf saya gak sempat datang waktu itu"


"Iya gak papa kok Mas"

__ADS_1


"Dan selamat buat pernikahan kalian" dengan seulas senyuman Daniel berujar.


"Iya terima kasih Mas" ucap Zeva dan Kahfi bersamaan.


"Oya gimana keadaan Mbak Citra, Mama dan Papa Hijaya? mereka sehat kan?"


"Alhamdulillah Mama dan Citra sehat. Hanya saja kondisi Papa yang kurang sehat Ze. Kemarin penyakit jantung Papa kambuh tapi beruntung gak sampai di rawat dirumah sakit kok"


"Begitu ya Mas"


"Oya Ze nanti kalau ada waktu sesekali datanglah kerumah. Mama juga sempat nanyain kamu"


"Iya Mas nanti kalau ada waktu Ze kerumah" ujar Zeva.


Mereka bertiga larut dalam percakapan yang tak disengaja. Sudah lama semenjak Zeva koma baru saat ini lagi Daniel melihatnya. Ada guratan kebahagiaan di wajah Zeva yang ia lihat. Mungkin suaminya lebih baik dari dirinya, begitulah fikir Daniel.


Tapi apa pun itu Daniel turut bahagia. Ahirnya wanita yang pernah menjadi istrinya itu kini sudah bahagia dengan laki-laki yang tepat. Seolah takdir ingin memisahkan mereka tapi keduanya dipertemukan kembali.


Mungkin kehendak takdir adalah agar mereka tetap bersatu tapi bersatu dalam artian sebagai teman atau bahkan sebagai sahabat. Tidak ada salahnya jika kita memiliki hubungan baik dengan mantan.


Biarpun mantan bukanlah masa depan kita tapi setidaknya ia adalah orang yang pernah membuat kita bahagia walau hanya sesaat.


Berbeda dengan Zeva. Walaupun mantan suaminya ini hanya memberikan cinta yang tak terbalas dan luka secara bersamaan tapi tidak ada salahnya jika mereka berteman.


"Yasudah Mas, kita berdua pamit duluan" ucap Zeva diahir perbincangan mereka "salam buat Mama dan Papa Hijaya semoga cepat sembuh ya Assalammualaikum"


"Iya Ze. Waalaikumussalam"


Zeva berlalu berjalan terus bersama Kahfi "Siapa Ze?" tanya Kahfi.


"Mas Daniel. Mantan suami Ze dulu Mas"


"Oo. Kamu akrab juga dengannya!"


"Mas cemburu?" tanya Zeva sambil menghentikan langkahnya dan menatap Kahfi.


"Tidak perlu cemburu. Dia hanyalah masalalu yang Allah titipkan kepad Ze dan hanya sebagai pelengkap dari separuh cerita hidup Ze" ujar Zeva dengan mengangkat kepalanya agar dapat melihat wajah Kahfi.


"Cemburu itu pasti. Tapi Mas bahagia dan bangga memiliki istri seperti Ze. Eemm Ze cukup dewasa dalam hal ini. Maksud Mas walaupun Ze pernah kecewa kepadanya tapi Ze tetap membuka diri untuknya. Ze tetap berhubungan baik dengannya bahkan Ze tidak membencinya" ucap Kahfi.


Ia menunduk untuk membalas tatapan istrinya itu. Sembari merangkul mesra pinggang istrinya "Sudah ayo kita pulang" ucapnya dan diangguki oleh Zeva.


Keduanya berlalu kembali ke caffe untuk mengambil motor sport yang terparkir apik di parkiran cafe.


.


.


.

__ADS_1


Maaf upnya lumayan lama.


semalam sudah up dan ada visualnya juga. tp sampa sekarang masih revisi mulu. jadi aku batalin up pakai visual biar cepat.


__ADS_2