
**Dear Hati
Tenanglah!
Allah tak akan menghianatimu, apa lagi mengecewakan mu. Sebab Ia bukan manusia yang bisa melakukan itu. Semua jerih payah, pengorbanan, kesabaran, perjuangan dan penantianmu tidak akan sia-sia.
Jangan bersedih!
Hanya karna Allah belum mengabulkan doa-doamu, kamu tak perlu putus asa. Teruslah berdoa. Suatu saat pasti akan terwujud meski dalam waktu yang tak dapat di tentukan**.
Ze sadar. Semua tampak bahagia seolah mentari yang telah lama tertutup awan mendung kini telah kembali bersinar.
Berjuta rasa syukur tak dapat di lontarkan dengan kata-kata. Semua yang ada di ruangan kembali mendekat kepada Zeva. Walau sudah sadar tapi ia belum bisa bangun sepenuhnya.
"Badan Ze sakit semua" itulah keluhan Zeva ketika ditanya ada yang sakit atau tidak?
Dokter tersenyum, namun tidak dengan yang lain. Semua cemas dan menatap dokter yang tersenyum dengan berjuta tanya.
"Tidak apa itu wajar-wajar saja. Selama lima hari Ze tidur dan tidak pernah sadar jadi wajar jika tubuhnya kaku. Nanti juga akan kembali normal" begitulah ucap dokter paruh baya yang sangat ramah itu.
Semua tersenyum. Lega? itu pasti. Tak lama dari situ Nenek dan Tn Mahendra juga datang. Nenek tampak heboh dengan hati yang bahagia dia langsung menuju ke branka Zeva. Wanita tua itu ingin sekali memeluk cucu tersayangnya itu. Namun ketika melihat Ze masih terbaring niatnya di urungkannya.
"Sayang cepat sembuh ya" Nenek berucap sambil mencium dahi Zeva yang terbalut perban.
Dokter yang melihat kehangatan keluarga itu pun langsung kekuar. Ia ingin memberikan ruang tersendiri untuk keluarga itu mencurahkan segala uneg-uneknya disaat menanti Zeva sadar.
"Ze banyak yang akan kami bicarakan padamu. Tapi nanti! kau harus sembuh dulu ya. Kalau kau sembuh nanti kita bakalan ngobrol panjang lebar" ujar Klara dengan hebohnya. Zeva hanya menanggapi dengan senyuman.
"Kenapa tidak bicara hari ini?"
"Jangan gila Ze! kau baru sadar dan harus banyak istirahat untuk pemulihan. Lagi pula satu hari tidak cukup untuk bercerita" Bantah Lena menanggapi ucapan Zeva.
"Baiklah, baik aku nurut"
"Yasudah kalau gitu kita pamit pulang duluan ya. Soalnya kita ada urusan" Seulas senyuman terbit di kedua wajah sahabat Zeva.
"Tenang nanti kita bakalan sering jengukin kamu kok"
"Baiklah kalian hati-hati ya" ucap Zeva.
__ADS_1
Kedua gadis itu ahirnya pergi setelah berpamitan kepada semua orang.
"Mbak Nur, Kak Ahkam mana?" Dengan mengedarkan pandangannya Ze bertanya. Sedari tadi semua sudah di lihat dan menyapanya. Namun Kakanya itu tak kunjung terlihat.
"Dia masih ada tugas operasi Ze. Nanti dia akan kemari" Nur mengelus kepala Zeva sambil berujar.
"Mbak, gimana dede baby nya sehat kan?" Zeva mengelus perut Nur yang membesar itu dengan tangan yang tertatih lemah.
"Alhamdulillah dia sehat. Mungkin dia merindukan bibinya. Sudah lama bibinya tidak menyapanya dipagi hari" seulas senyum terbit di wajah Nur dan Zeva.
Semenjak tinggal di Indonesia dan Zeva tinggal di rumah Ahkam dia memang sering mengelus perut Nur di pagi hari. Dan semenjak Zeva kembali lagi kerumah utama hal itu sudah tak dilakukan lagi sebab ia pun mengalami kecelakaan teragis itu.
...
Sudah tiga hari berlalu semenjak Zeva sadar. Semua orang dengan setia menjenguknya. Mulai dari keluarga, sahabat, teman, dan para karyawan caffe juga silih berganti menjenguknya.
Namun berbeda dengan hari ini. Mungkin karena hari ini hari senin jadi semuanya pada sibuk dengan urusan masing-masing. Pagi ini Bunda, Papa Malik dan Neneknya belum berkunjung. Mungkin lagi banyak kerjaan itulah pikirnya.
krekkk...
Ditengah kebosanan Zeva pintunya terbuka dan memperlihatkan sosok lelaki yang sangat menyayanginya.
Tempo hari Ahkam dan Kafi mengunjungi Zeva. Kahfi banyak bercerita dan mungkin saat ini mereka sedang menjalani pendekatan.
Pemuda itu tersenyum dan mendekat ke tempat adiknya terbaring. Dengan perlahan ia membantu agar adiknya duduk dan bersandar pada bantal di belakangnya.
"Ze dimana jilbabmu? kenapa tidak di pakai?"
"Rambut Ze belum dirapiin. Bunda ataupun Nenek dan yang lainnya belum ada yang datang kemari. Baru kakak yang datang. Jadi tidak ada yang membantu Ze menyisir rambut panjang ini" keluh Zeva.
"Ehhh adik kecil kakak. Yasudah dimana sisirnya? biar kakak yang merapikannya" Ahkam menengadahkan tangan meminta sisir pada Zeva.
"Ini sisirnya" Zeva menyodorkan sisir di atas telapak tangan Ahkam "Tapi apa kakak bisa? Rambut Ze ini panjang nanti kakak repot" lanjutnya lagi.
"Itu mudah dan tidak akan merepotkan. Kau itu adik ku dan apapun untukmu. Segeralah sembuh ada yang menanti mu untuk menuju bajagia selanjutnya" ujar Ahkam.
"Ada-ada saja kak. Selama ini aku juga selalu bahagia. Jadi mau menuju kebahagiaan yang mana lagi?"
"Sudah cepat sembuh saja. Nanti kamu juga tau" Ahkam dengan telaten dan pelan ia menyisir rambut adiknya itu.
__ADS_1
Pemandangan yang terlihat adalah seperti saat seorang ayah tengah tertawa bahagia sambil menguncir rambut putri kecilnya.
Ahkam dan Zeva saling berbincang dan tertawa. Sesekali ahkam menjahili Zeva dengan mengutak atik rambutnya sehingga berubah menjadi bentuk yang lucu.
"Rambutmu sangat panjang, jika dikuncir dua dan diberi sedikit poni diatas alis dan diberi jepitan kelinci berwarna pink kau persis seperti anak TK. Hahahha" Gelak tawa Ahkam pecah saat membayangkannya.
Imajinasinya liar. Memandang Zeva seolah seperti memandang bocah TK, begitulah pikirnya.
"Aku sangat gemas melihatmu. Dulu ini pipi seperti bapau, gembul seperti ini" Ahkam memberikan expresi imut saat menggembungkan pipinya dan kembali tertawa.
"Kakak sudah, dari tadi kau terus saja mengejekku. Nanti aku doakan jika anakmu perempuan maka dia akan seperti ku. Mempunyai pipi cuby dan gembul seperti ini" Zeva tak mau kalah dia juga menunjukkan ekspresinya saat menggembungkan pipinya.
"Hahahha. Pipimu masih gembul dari kecil juga begini. Tapi semenjak kau sakit ini pipi jadi tirus" ucap Ahkam dia menangkup pipi Zeva dan mendaratkan ciuman disana.
"Aku sudah besar jangan menciumku di pipi. Kakak hanya boleh menciumku di sini" Zeva memegang puncak kepalanya "Dan itupun jika aku belum memiliki suami. Dan nanti jika sudah punya suami kau tak boleh menciumku" Tambah Zeva lagi.
"Kau tetap gadis kecil ku. Menggemaskan. Sudah ini pakai hijabnya" Ahkam mnyodorkan hijab instan berwarna marun dan membantu Zeva memakainya "Cepat sembuh" Ahkam mengusap kepala Zeva lembut.
Pemandangan yang mendamaikan di dalam ruangan itu tak luput dari perhatian lelaki paruh baya yang tengah berada di luar pintu ruangan Zeva.
Bahagia? itulah yang dirasakannya. Namu ada juga secarik penyesalan yang tersimpan di hati. Menyesal kenapa dulu sewaktu kecil mereka di pisahkan? Jika saja dulu tidak di pisahkan pasti dia akan dapat melihat perkembangan kedua anaknya saat masih kecil.
"Assalammualaikum" ucap lelaki paruh baya itu membuka pintu.
"Waalaikumussalam. Papa!" Seru Ahkam dan Zeva saat melihat Papa kandung mereka tengah berdiri di ambang pintu dan melangkah masuk.
"Bagaimana keadaanmu sayang?" Tn Mahendra bertanya sambil mengusap lembut kepala Zeva.
"Alhamdulillah pa, sudah semakin baik"
"Syukurlah"
Seulas senyuman terbit di wajahnya saat berucap itu. Belakangan ini semenjak Zeva kecelakaan dan di rawat Tn Mahendra lebih sering memperdulikan Zeva dan perlahan berubah menjadi lebih hangat saat bersama keluarga.
Itu adalah perubahan yang baik. Ada kemajuan pesat didalamnya. Perubahan itu juga merupakan hasil dari pengorbanan seseorang.
.
.
__ADS_1
.
Next..