
Jangan marah, apa lagi sampai mengacuhkan pasanganmu. Sebab itu hanya akan membuat mu semakin merindukan kehadiran nya:')
Malam ini pukul delapan setelah menyelesaikan ibadah sholat isa dan makan malam Zeva tampak tengah duduk di ruang keluarga. Duduk lesehan dengan karpen lembut yang menjadi alasnya. Acara tv yang dia tonton seolah menjadi pemecah ruangan yang sunyi.
Dengan satu porsi martabak yang di beli tadi sore dia duduk anteng dengan teh hangat sebagai pelengkap. Jika ditanya Abi kemana maka jawabannya ruang baca. Dan jika di tanya Umi dimana? pastinya menemani Abi yang berada di ruang baca.
Dan jika bertanya Aldo dimana? yang pasti sejak tadi ia belum pulang. Mungkin urusan kantornya sedang banyak makanya dia lembur.
"Sayang kok sendiri?" suara Kahfi memecah pandangan Zeva dari acara tv yang dia tonton.
Suara suaminya yang baru saja muncul sehabis dari kamar mandi. Mungkin panggilan alamnya sudah selesai makanya dia sudah berada disini.
"Kan berdua sama mas" Dengan menatap Kahfi yang masih setia berdiri.
Tubuh Kahfi sangat tinggi. Jika ditatap dari bawah dengan posisi Zeva yang tengah duduk suaminya ini sudah seperti genter berjalan saja.
"Duduk mas" sambil menepuk sisi yang ada di sebelahnya. Kahfi langsung menduduk kan tubuh nya tepat di samping istrinya itu.
Baru saja duduk tapi tangan Kahfi sudah tak terkondisikan. Ia langsung mencomot teh milik Zeva dengan sekali tegukan berhasil membuatnya berdecak sebal "Aaahhh panas banget tehnya!" serunya dengan tangan yang langsung mengibas ngibas mulutnya. Sudah seperti orang kepedasan saja.
"Ayo kan makanya tanya dulu jangan asal comot aja. Jadi kenak azab kan" keluh Zeva.
Dia tidak marah karena suaminya asal meminum teh miliknya tapi dia marah akan kelalaian suaminya "Ayo mas minum dulu biar gak panas lagi" ucapnya sambil menyodorkan segelas air putih.
Kahfi menerima dan langsung meneguk air nya hingga menyisakan setengah lagi "Ahh tehnya panas banget Ze" keluhnya setelah meneguk air.
"Yaiya orang baru sebentar juga Ze buat. Ze nunggu agak dingin baru diminum makanya Ze biarkan dulu" sambil menerima air yang disodorkan suaminya dan meletakkan nya kembali di sampingnya.
Cup.... "Kenapa gak bilang" ucap Kahfi setelah mendaratkan ciuman di pipi Zeva "Pipi kamu kok makin gembul yang?" sambungnya sambil memegang kedua pipi Zeva.
"Kenapa mas gak suka pipi Ze gembul?"
"Bukan. Bukan gitu mas cuma tanya jangan marah marah dong tar mas gigit nih" ucap Kahfi dengan semangkin mendekatkan istrinya itu.
Tangannya sudah merengkuh pinggang Zeva "Mas suka pipinya gembul. Kamu tuh imut banget, rasanya pengen mas makan" ucap Kahfi sambil mendekatkan wajahnya.
Wajahnya semakin dekat dengan niatan ingin mencium bibir mungil istrinya. Jarak antara keduanya tinggal sedikit lagi. Sedangkan disisi lain tangan Zeva tengah sibuk meraba. Meraba dimana ia meletakkan kotak yang berisi martabak.
Tep! pas tepat sasaran. Kotak martabak berhasil diraih Zeva. Lalu ia mengambil sepotong tanpa melihat dan saat bibir suaminya sudah hampir mendarat ia langsung meletakkan martabak tadi ke mulut suaminya.
Dan cuppp!! tepat sasaran yang dicium bukan bibir istrinya tapi martabak manis dengan selali lumer di mulut "Kok ini sih" keluh Kahfi sambil meraih martabak yang masih di pegang oleh istrinya.
"Mas ini sembarangan tar kalau di lihat Abi, Umi atau yang lain gimana? mendingan mas makan ini martabaknya manis!" ucap Zeva sambil memberikan sepotong martabak ke mulut suaminya.
__ADS_1
Dengan sigab Kahfi menurut dan mulai menggigit martabak itu. Wajanya manyun tapi tetap saja menikmati martabak "Kenapa kok manyun? martabaknya gak manis ya? atau kurang manis?" tanya Zeva sambil memperhatikan wajah suaminya.
"Bukan martabak nya tapi kamunya yang gak manis" Kahfi melongos pergi saat mendengar bel rumah berbunyi.
Zeva hanya tertawa mendengar perkataan suaminya. Guratan kebahagiaan terpancar jelas di wajahnya saat dia berhasil menjahili suaminya. Ibarat kata senjata makan tuan. Itulah yang Kahfi dapatkan.
"Kak lembur lagi kantor?" tanya Kahfi setelah membuka pintu dan mendapati kakanya yang baru saja kembali
"Enggak Fi. Tadi makan malam sebentar dengan keluarga Lena makanya kakak lama pulang" jelas Aldo.
Kedua pemuda ini berjalan sambil bercerita "Loh mendadak kak?"
"Iya makanya kakak gak sempat bilang sama orang rumah" ujar Aldo sambil meletakkan sepatunya pada rak sepatu yang berada di dalam "Fi kakak duluanya. Bersih-bersih tadi belum sempat sholat isa" ucapnya yang diangguki oleh Kahfi.
Aldo dan Kahfi berjalan sampai di ruang keluarga ia menegur adik iparnya "Ze. Makan apa kok seru banget kaka liat?"
"Martabak. Kakak lembur makanya baru pulang?" tanya Zeva.
Ado sempat menghampiri Zeva "Enggak tadi habis makan malam sama sahabat kamu makanya pulang telat. Kakak keatas duluan ya mau bersih-bersih"
"Oo iya kak"
Aldo berlalu dengan jas ditangan serta tas kerja yang masih setia di pegangnya meninggalkan Kahfi dan Zeva.
"Jangan tanyain mas, mas gak tau" ucap Kahfi ketus dengan terus menatap layar televisi.
"Kan mass" rengek Zeva sambil mendekati suaminya "Mas marah?" tanya nya sambil menatap wajah suaminya.
Pertanyaan Zeva tak mendapat respon dari Kahfi, ia hanya terus menatap layar televisi yang tengah menyugukan acara yang di bilang lumayan menarik.
"Mass" Zeva sudah mulai menepuk pelan paha suaminya agar dia mau bicara dan mengalihkan pandangannya dari acara tv.
"Iya kenapa Ze?" Ahirnya Kahfi menyahuti ucapan istrinya yang sedari tadi terus menerus memangilnya.
"Mas marah?" sambil mendongakkan kepalanya agar bisa menatap wajah suaminya.
"Mas gak marah"
"Terus kok Ze tanyai'in mas jawab gitu?"
"Iya mas gak tau kapan kak Aldo mau ngelamar Lena. Terus salahnya dimana? mas kan udah jujur"
"Oo yasudah" balas Zeva.
__ADS_1
Dengan beralih dari Kahfi ia memunguti kotak martabak serta tehnya yang masih tersisa lalu berjalan menuju dapur dan meletakbkan semuanya di meja makan dengan rapi. Setelah ia rasa cukup rapi Zeva langsung pergi naik ke lantai atas menuju ke kamarnya.
Kahfi masih belum menyadari jika istrinya langsung masuk ke kamar. Dia fikir hanya kedapur saja dan nanti akan kembali. Cukup lumayan lama Kahfi menonton sendiri. Acara tv juga menampilkan seputar bola jadi dia larut dan melupakan Zeva.
"Fi istri kamu mana?" tanya Aldo yang celingak celinguk mencari adik iparnya.
Tadi setelah selesai sholat dia langsung turun. Niatnya ingin mengobrol ringan dengan adik dan adik iparnya tapi setelah di ruang keluarga dia hanya mendapati Kahfi
"Di dapur kak" jawab Kahfi dengan tetap menantap tv di hadapannya.
"Lah gak ada fi" jawab Aldo setelah mengedarkan pandangannya ke seluruh dapur.
"Mungkin naik duluan ke kamar kak" dengan enteng dan belum menyadari kesalahanya Kahfi berujar.
Dasar laki-laki. Gak peka banget. Udah tau perempuan kalau pergi gak bilang apalagi gak pamit itu tandanya ia ingin di kejar bukan di biarin:v
"Oo" Aldo hanya ber'o' ria menanggapi ucapan adiknya. Ia juga duduk dan menikmati acara tv yang tengah menyiarkan permainan sepak bola.
"Kak di meja makan ada martabak" ucap Kahfi.
Tanpa menjawab Aldo langsung berjalan menuju meja makan. Disana ia mendapati dua porsi martabak yang masih utuh. Aldo mengambil satu porsi lalu membuka kulkas dan mengambil satu botol air dingin, serta tak lupa segelas jus jeruk dingin yang baru saja di tuangkannya.
"Fi enak banget ini martabaknya" ucap Aldo setelah ia menikmati martabak manis dengan terus menonton tv.
Sementara Kahfi dan Aldo larut dengan acara bola yang mereka tonton, Zeva saat ini tengah dongkol dengan suaminya.
Semenjak ia berlalu masuk ke kamarnya, dia berharap Kahfi juga menyusul tapi nyatanya tidak. Dia berusaha mengalihkan fikirannya dengan merebahkan tubuhnya di ranjang. Beberapa kali membolak balik tubuhnya mencari posisi ternyaman, tapi hasilnya nihil.
"Ya Allah, kok gak bisa tidur gini sih" gumamnya sambil menarik selimut agar menutupi wajahnya.
Lama ia tidak bisa tidur. Jam di dinding juga sudah menunjuk kan pukul sebelas malam, tapi tetap saja mata Zeva masih enggan untuk terpejam.
Hingga sekian lama pintu kamarnya terbuka menampilkan sosok pemuda yang tengah ia fikirkan. Saat Kahfi masuk Zeva memilih memejamkan mata, berpura-pura tidur.
Lama menunggu Kahfi dari kamar mandi hingga tubuh kekar Kahfi mendarat sempurna di ranjang "Selamat malam Ze" ucap Kahfi sambil mendaratkan ciuman di kening Zeva dengan ringan.
"Malam mas"
"Loh belum tidur?" Zeva hanya menggelengkan kepalanya menanggapi pertanyaan suaminya.
Sekali rengkuhan tubuh Zeva sudah bersandar sempurna di samping suaminya. Tangan Zeva terulur memeluk pinggang kekar suaminya. Begitupula Kahfi dengan sayang ia membalas pelukan istrinya.
Keduanya larut dalam dunia mimpi masing-masing. Menanti kehadiran fajar di esok hari.
__ADS_1
..