Kun Fayakun

Kun Fayakun
Memiliki Seutuhnya


__ADS_3

Tidaklah Allah menciptakan masalalu yang tujuannya hanya untuk pembelajaran agar diri mampu berbenah untuk menjadi lebih baik lagi.


Zeva melepaskan pelukannya dari Kahfi. Ia bangkit dan memunguti setiap barang yang diberikan oleh Kahfi. Ia melipat dan merapikan mukenah serta sajadah, dan meletakkan Al-qur'an yang diberikan Kahfi diatas nakas yang berada di sudut sebelah lemari pakaian.


Serta sepasang tasbih yang diberikan Kahfi, juga diletakan pada nakas kecil itu. Mukenah dan sajadah ia simpan pada lemari pakaian dan akan ia pakai nantinya saat ia melaksanakan sholat.


"Sudah selesai bebenahnya?" tanya kahfi setelah dari tadi dia diam dan memperhatikan Zeva.


"Belum" ujar Zeva sembari mengeluarkan satu setelah piama beserta hijab instanya "Ze ganti baju dulu ya" ucapnya sembari melangkah masuk kedalam kamar mandi.


Setelah beberapa menit hanya duduk dan menunggu Zeva, ahirnya istrinya itu keluar juga dari kamar mandi dengan sudah mengenakan piamanya.


Zeva melangkah dan duduk kembali disamping Kahfi "Sudah mari tidur" ucapnya dengan polos.


Kahfi tidak membalas ucapan Zeva, tapi ia malah menggeser tubuhnya agar lebih dekat lagi dengan Zeva. Namun berbeda dengan Zeva. Gadis ini sangat tidak peka, ia bangkit dan ingin membenahkan selimut yang ada di ranjang itu.


Baru saja bangkit tapi Kahfi menahan tangannya "Ze" Zeva menoleh dan menatap Kahfi dengan berdiri. Kepalanya sedikit tertunduk memandang Kahfi dan menggerakan alisnya pertanda ia menjawab panggilan Kahfi.


"Ze, izinkan aku memiliki dirimu selayaknya seorang suami kepada istrinya" ucap Kahfi sambil bangkit dari duduknya dan mensejajarkan tubuhnya dihadapan Zeva.


Zeva sangat pendek dibandingkan Kahfi, jadi dengan sabarnya Kahfi sedikit menunduk agar dapat melihat Zeva. Tangan Kahfi sudah dengan setianya merengkuh pinggang ramping Zeva. Zeva hanya merespon dengan anggukan tatkala pertanyaan dari Kahfi ia dengar.


Tangan Zeva sangat dingin dikala Kahfi mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Zeva. Perlahan namun pasti bibir itu telah mendarat sempurna di bibir Zeva. Mungkin inilah yang dikatakan ciuman pertama sehingga Zeva sangat kaku. Kahfi sangat biasa mungkin dia adalah laki-laki jadi nafsunya lebih mendominasi.


Lama sekali baru Zeva membuka mulutnya dan mengizinkan Kahfi melakukan hal yang di inginkannya. Tangan Kahfi semakin erat merengkuh pinggang Zeva. Tangan kiri ia gunakan untuk memegang pinggang Zeva sedangkan yang satunya lagi mulai menyusuri satu persatu kancing piama yang Zeva kenakan.


Lepas! Dengan gerakan perlahan kini tubuh keduanya telah terbaring di atas ranjang, satu persatu pakaian yang menjadi pembungkus antara keduanya mulai berjatuhan dilantai.


Kahfi terus menciumi Zeva dan Zeva sesekali dia membalas ciuman itu dan sesekali suara desahan keluar dari bibirnya tak kala tangan Kahfi bermain di dadanya. Kahfi sangat lembut dalam memperlakukan Zeva. Sehingga ia hanya menurut alur dari permainan yang diciptakan Kahfi.


Dengan adab dan sunah-sunah yang di ajarkan Rassulullah ahirnya Zeva mampu merasakan nikmatnya surga dunia yang diciptakan oleh suaminya untuk dirinya.


"Akkhhh" ringis Zeva sambil mencengkram pinggang Kahfi. Tak bisa dipungiri rasa sakit yang ia rasakan saat ini sungguh membuat air matanya tak dapat ia bendung.


"Sempit Ze" ujar Kahfi dikala permainannya. Ia melihat Zeva memejam kan matanya dan terdapat cairan bening di kedua sudut matanya "Maaf sayang, jika aku terlalu kasar" sambung Kahfi.


Masih terjaga. Kehormatan yang dimiliki Zeva mampu didapatkan Kahfi. Mahkota yang telah lama ia jaga mampu diraih oleh Kahfi. Dengan susah payah ahirnya Kahfi mampu menembus dan membobol pertahanan milik istrinya itu.


Ia bahagia menjadi orang pertama yang menikmati apa yang telah lama di jaga istrinya. Namu tak bisa di pungkiri berjuta pertanyaan menggelayut dalam fikirannya. Bagaimana bisa masih terjaga dikala ia sudah pernah menikah sebelumnya? begitulah fikir Kahfi.


Rasa bahagia menyelimuti hati keduanya. Hingga keduanya terbuai dalam nikmatnya surga dunia yang mereka ciptakan. Sakit di awal tak jadi masalah ketika suaminya tersenyum kepadanya.


"Terima kasih sayang, sampai saat ini masih terjaga" ujar Kahfi diahir permainannya. Zeva hanya tersenyum menanggapi ucapan suaminya itu.

__ADS_1


Kahfi merebahkan tubuhnya disamping Zeva dan menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya. Dan keduanya larut kedalam alam mimpi masing-masing.


Jam 02.30 dini hari Zeva terjaga dari tidurnya. Ia sedikit meringis dikala menggerakkan kakinya untuk bergeser.


"Ssseee" ringisnya.


Dengan merasakan pergerakan Zeva Kahfi pun terjaga dari tidurnya "Mau ngapain Ze" tanya Kahfi sambil mengusap-uspa matanya.


"Dok ini Ze mau kekamar mandi buat bersih-bersih dan setelah itu sholat tahajut. Tapi ini, emm ini Ze rasanya sakit" keluh Zeva dari dalam selimut.


"Maaf ya sudah menyakitimu. Sini biar Mas bantu ke kamar mandi!" ucap Kahfi sambil bangun dan memunguti pakaiannya yang ada di lantai. Dengan segera ia langsung mengenakan celana miliknya.


"Dok, Ze malu. Ini juga rasanya lumayan sakit" keluh Zeva.


Tanpa menjawab keluhan Zeva, Kahfi langsung menggendongnya dengan selimut yang setia menutupi tubuhnya "Mandilah nanti jika sudah selesai panggil ya" ucap Kahfi sembari menurunkan Zeva


"Emm" Respon Zeva sambil tersenyum dengan anggukan kepalanya.


Kahfi keluar dari kamar mandi. Ia melihat beberapa pakaian Zeva masih setia berada dilantai. Dengan cepat ia memunguti pakaian itu dan memasuk kannya ke dalam keranjang pakaian kotor.


"Bercak darah" gumam Kahfi sambil tersenyum dan menarik seprai yang sudah tidak karuan itu.


Kahfi memasukkan seprai itu kedalam keranjang baju kotor dan menggantinya dengan yang baru.


"Tidak apa. Mandilah, Ze akan menunggu dan nanti kita akan sholat berjamaah" ucap Zeva sambil berjalan menuju ranjang "Kenapa diganti seprainya dok?" tanya Zeva saat melihat seprai baru yang telah rapi.


"Yang tadi kotor Ze. Baiklah aku akan mandi dulu. Nanti kita sholat berjamaah ya"


Setelah beberapa menit Kahfi keluar dengan menggunakan celana pendek dengan dada yang memamerkan otot-otot perut miliknya "Sini Ze bantu keringin rambutnya dok"


Kahfi duduk di bawah dan Zeva duduk di atas ranjang. Dengan perlahan Zeva mengeringkan rambut Kahfi "Sudah mari kita sholat dulu Ze" ajak Kahfi.


Keduanya bangkit. Mukenah sudah apik terpasang, Kahfi sudah rapi dengan sarung dan baju koko miliknya. Keduanya melakukan sholat tahajut berjamaah. Ini adalah sholat pertama setelah Kahfi memiliki Zeva seutuhnya.


Ada suasana berbeda antara dulu dan sekarang. Semakin kesini semakin mengagumi. Semakin mengenal semakin jatuh cinta.


Setiap doa dan rasa syukur di panjatkan oleh kedua insan ini. Keduanya kembali bermunajab dihadapan Allah. Dikala orang lain tengah tertidur pulas namun setiap pejuang disepertiga malam malah dengan khusuknya melangitkan sejuta doa dengan beribu harapan.


"Kemarilah Ze" ucap Kahfi ketika keduanya telah selesai memanjatkan doa.


Kahfi meminta agar Zeva mendekat ke arahnya. Dengan masih menggunakan sarung dan baju koko ia duduk dengan kaki bersila meminta Zeva agar mendekatinya "Masih sakit? tanyanya tatkala Zeva telah berada dekat dengannya.


" Sudah tidak begitu sakit dok" jawabnya sambil menunduk.

__ADS_1


"Kemarilah" Dengan meraih tubuh Zeva agar lebih dekat denganya Kahfi berucap.


Kini Zeva telah menyandarkan kepalanya di dada bidang milik Kahfi. Tangannya terulur ketika Kahfi merengkuhnya.


"Bagaimana bisa masih terjaga Ze? bukankan kamu sudah pernah menikah? apakah mantan suamimu tak pernah meminta haknya?" tanya Kahfi lembut sambil mengusap pelan kepala Zeva.


"Dok" sambil menatap wajah Kahfi.


"Hemm" Kahfi membalas tatapan Zeva.


"Apa dokter bahagia memiliki Ze?"


"Kenapa bertanya seperti itu? tentu saja aku bahagia Ze"


"Sebab dulu Ze sempat berfikir apakah Ze layak untuk seseorang? dan jika dokter tanya masalah masih terjaganya kesucian Ze. Ze akan ceritai semuanya.


Bahkan dulu mantan suami Ze sama sekali tak pernah memandang keberadaan Ze. Ia berfikir bahwa pernikahan kita hanyalah setatus semata jadi Ze tidak boleh berharap lebih.


Ze pernah menawarkan diri, untuk melakukan dan memenuhi kewajiban Ze untuk melayaninya selayaknya suami istri tapi ia bahkan menolak dengan alasan dia tidak berhak untuk itu. Dari situ Ze berfikir sebegitu bencinya kah dia dan sebegitu rendahnya kah hubungan pernikahan ini?


Bahkan dia dulu hanya memberikan nafkah berupa materi saja, namun tidak dengan nafkah batin" jelas Zeva dengan airmata yang sudah menganak sungai.


"Ze sudah jangan diterusin lagi ya. Bahkan lelaki yang pernah menolakmu adalah lelaki bodoh. Dan kau tau Ze? Allah itu Maha Adil. Ia memberikan cinta kepada orang yang tepat dan kamu harus bersyukur karena tidak menyerahkan kesucianmu kepada orang yang salah


Dan kamu tau aku bahagia sebab aku adalah laki-laki pertama yang merasakannya dan semoga aku juga laki-laki terahir yang menikmatinya. Satu untuk selamanya. Bahkan sekalipun kamu sudah tidak perawan aku juga akan tetap bahagia.


Meski bukan orang yang pertama tapi aku akan meminta kepada Allah agar menjadikan ku orang terahir yang akan menemanimu Ze" Jelas Kahfi sambil mengeratkan pelukannya pada Zeva.


"Jangan menangis. Allah masih sayang kepadamu makanya ia masih menjaga kehormatanmu. Jangan pernah menyesali kejadian di masa lalu, sebab itu bukanlah kejadian buruk" ucap Kahfi lagi.


Zeva semakin mengeratkan pelukannya kepada Kahfi. Sesekali Kahfi menciumi puncak kepala Zeva. Tangisan Zeva masih terdengar hingga Kahfi melantunkan surah Al-Mulk untuk menenangkan Zeva.


..


..


..


Maaf jika part ini gak sesuai hayalan para pembaca:')


Maklum Author masih di bawah umur. Jadi cmn bisa cerita semampunya:')


Buat para reders setia pendukung Zeva dan Kahfi cobak sesekali komen yang uwuwww.... buat ngungkapi perasaan kalian.....

__ADS_1


Author gak mau maksain buat Vot tapi ayolah komen curhatan tentang Cerita ini biar buat Author semangat buat nge halunya.....


__ADS_2