
Usia sudah pasti bertampah
Tapi kedewasaan belum tentu di miliki:')
Suasana rumah sakit lumayan lengang. Ketenangan menyeruak hadir di setiap lorong yang di lalui Kahfi. Almameter putihnya baru saja ia lepas tapi masih setia menggantung di tangannya.
Kakinnya melangkah masuk ke ruangan miliknya. Ia baru saja keluar dari ruangan pasien yang operasi nya di lakukan oleh Kahfi.
Baru saja masuk kedalam, ia berniat menutup pintu ruangannya tapi kekuatan dari luar menahan pintu sehingga tak tertutup sempurna.
Kahfi melihat siapa yang menahan pintu dari luar dan ternyata tak lain dan tak bukan orang yang berada di luar adalah Nada "Ada apa dr Nada?" Ia bertanya sambil membuka kembali pintu ruangannya.
"Abi, aku mau bicara sama kamu sebentar saja. Aku mohon!" pintanya dengan nada permohonan di ahir kalimatnya.
Ada apa dengan gadis ini? mungkin begitulah fikir Kahfi. Sudah beberapa bulan terahir Nada bekerja di rumah sakit yang sama dengan Kahfi tapi keduanya juga menjaga jarak, seperti halnya Kahfi yang membatasi interaksinya kepada Nada agar tak ada kesalah pahaman nantinya.
"Masuklah" dengan memikirkan keputusan nya ahirnya Kahfi mempersilahkan Nada untuk masuk.
Pintu ruangan Kahfi juga masih terbuka. Ia mempersilahkan Nada duduk di sofa yang ada pada ruangan itu.
"Ini undangan buat kamu sama istrimu Bi" Nada menyerahkan satu undangan cantik berwarna biru langit dengan tulisan yang terukir indah.
Kahfi meraih undangan tersebut. Ia membuka dan mengeluarkannya dari dalam pelastik pembungkus "Kamu akan menikah?" tanyanya saat membaca undangan tersebut.
Nada mengangguk menjawab pertanyaan Kahfi. Tapi ada yang berbeda kenapa? kenapa gadis ini tidak kelihatan bahagia? "Selamat ya Nad. Aku turut bahagia untukmu" sambung Kahfi dengan senyuman yang tulus.
"Aku di jodohin Bi" ucapnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca "Aku dijodohin, dan terpaksa harus menerima itu semua" sambungnya lagi. Nada suaranya lirih menyiratkan kesedihan.
"Nad aku gak tau tentang keluargamu. Entah ini perjodohan atau apa, tapi aku selalu mendoakan kebahagiaanmu agar kelak pasangan mu adalah yang terbaik untuk mu" ujar Kahfi dengan tulus.
Lama keduanya terdiam. Nada juga tengah mengatur emosinya agar ia tak menangis di hadapan Kahfi. Miris bukan saat kita ingin bertahan tapi pertahanan itu roboh seketika "Yasudah Bi aku permisi" ucapnya sembari bangkit dari duduknya.
Kahfi juga bangun, ia berjalan di belakang Nada. Ketika sudah di depan pintu Nada membalik tubuhnya dengan gerakan yang cepat ia mendekap tubuh Kahfi yang berdiri di belakangnya.
Tak sempat menghindari pelukan itu Kahfi justru terpaku atas apa yang di lakukan Nada. Ia menangis sambil sugukan memeluk tubuh Kahfi "Bi gue masih mencintai kamu, sama seperti dulu. Perasaan ini masih sama tapi keadaanya saja yang berbeda" ucap Nada.
Kahfi masih diam mencerna ucapan Nada. Benar adanya dulu mereka adalah kekasih yang saling mencintai. Tapi itu dulu dan sekarang bukan.
"Nad kamu harus melupakan aku. Ya benar aku mencintaimu...."
Diluar ruangan sudah tampak Zeva dengan menggunakan baju gamis berwarna abu-abu dan hijab yang senadah tengah berdiri di luar dengan memegang rantang makanan di tanganya.
"Mas!" ucapnya memotong ucapan Kahfi.
Satuhal yang pasti saat ini hatinya tengah sakit. Bagaimana tidak suaminya di peluk oleh wanita lain. Ralat bukan wanita lain melainkan mantan calon istrinya dulu.
Di saat bersamaan ucapan Kahfi terhenti dengan panggilan Zeva. Atensi Kahfi beralih ke sosok wanitanya yang yengah berdiri diambang pintu dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
"Ze!" serunya sambil melepaskan pelukan Nada.
__ADS_1
Kahfi mendorong tubuh Nada agar menjauh darinya. Baru saja melangkah dengan niatan mengejar Zeva yang sudah pergi meninggalkan ruangan itu, tapi sayang langkah Kahfi terhenti oleh Nada yang tengah menahan tangannya.
"Bi. Sebentar! kamu, kamu belum menyelesaikan ucapanmu" ucap Nada masih dengan sesugukan.
Kahfi beralih menatap nada kembali. Sejenak ia berfikir harus menyelesaikan ucapanya terdahulu tapi di sisi lain istrinya sudah salah paham dan pergi tanpa mendengarkan penjelasannya.
"Nad perlu kamu tahu aku juga sama halnya. Sama sama mencintaimu seperti kamu mencintaiku bahkan jauh lebih darimu..." ucap Kahfi sambil memegang pundak Nada.
Pancaran kebahagiaan terukir di raut wajah Nada. Seketika harapan hadir di hatinya bersamaan dengan senyuman yang terbit "Tapi itu dulu Nad, dan sekarang tidak!" sambung Kahfi dengan menatap lekat wajah Nada.
Duk.. hancur sudah. Hati yang terpahat sempurna serasa luluh lantah terporak poranda oleh ucapan Kahfi yang sempat membuatnya melayang tinggi, tapi kali ini kembali terhempas kedasar bumi. Seolah samudra tak cukup menampung rasa kecewanya. Seakan expresso yang rasanya pahit kalah dengan kenyataan yang Nada hadapi.
"Aku mohon lupakan aku. Lupakan masalalu kita. Lupakan kisah cinta kita yang lalu. Mungkin ini yang dinamakann bukan jodoh. Jadi aku mohon terimalah calon imamu kelak. Ingatlah Nad pilihan orang tua adalah hal yang jauh lebih baik daripada pilihan kita. Cinta tidak bisa di paksakan apalagi ini hanyalah sebuah obsesi semata. Lupakan aku dan berbahagialah Nad" Kahfi berujar dengan tulus.
Luluh lantah hati Nada seakan hancur namun menghangat bersamaan saat ucapan Kahfi terdengar sangat tulus. Mungkin benar yang di katakan Kahfi ini yang namanya bukan jodoh.
"Nad aku permisi. Assalammualaikum" ujar Kahfi sambil berlalu pergi meninggalkan Nada.
Nada hanya menatap kepergian pemudanya. Mungkin ini adalah titik ahir dari harapannya sekaligus titik awal dari kisah cinta perjodohannya.
Sedangkan di luar tadi setelah berlalu pergi Zeva memilih pergi ke taman rumah sakit. Walaupun hatinya tengah luka dengan tangisannya ia tetap memilih taman rumah sakit yang menjadi tempat tujuannya.
Dalam hatinya ia mencoba meyakinkan mungkin ia tengah salah paham dengan situasi ini. Mungkin suaminya ingin berkata lain tapi di keburu pergi mengikuti emosinya.
"Suster Nana" panggil Kahfi kepada suster berjilbab yang baru saja melintas di hadapannya "Sus, kamu lihat istri saya tadi pergi dari sini?"
"Mbak Ze dok? Mbak Ze tadi kelihatannya nangis terus ke taman mungkin? soalnya tadi dia berjalan arah ke taman" jelas suster Nana.
Benar saja baru saja sampai di taman dia melihat istrinya tengah duduk di kursi panjang sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Mungkin saat ini dia tengah menangis.
"Ze, sayang mas bisa..."
"Apa lagi mas?" tanya Zeva memotong ucapan suaminya. ia mengusap wajahnya lalu menatap suaminya yang tengah berdiri di hadapannya.
"Kamu salah paham Ze!"
"Salah paham atau bukan Ze gak tau. Jadi mas disini mau ngapain?" tanyanya dengan nada ketus. Suaranya serak sehabis menangis.
"Mas mau jelasin sama kamu semuanya Ze. Tadi Nada ke ruangan mas. Niatnya memberikan undangan pernikahannya, lalu kita sempat mengobrol sebentar"
"Dan tadi itu apa? kenapa Dia peluk mas? kenapa mas bilang kalau mas juga mencintainya?" Zeva memotong ucapan suaminya.
"Kamu belum dengar semuanya tapi kamu malah langsung pergi. Kan Jadi salah paham gini Ze" Kahfi memegang bahu istrinya.
Kahfi masih berdiri, Zeva dengan setianya duduk di hadapan nya "Salah paham gimana? Gak ada yang namanya orang pelukan terus bilang cinta satu sama lain lalu...."
"Lalu kamu salah paham Ze!" Kahfi beralih duduk di samping Zeva.
Beruntung keduanya adalah peribadi yang tenang, begitupula Zeva. Meski di tengah kecewa atas apa yang dilihatnya tapi itu tak membuat kekalutan pada dirinya membuatnya emosi.
__ADS_1
"Mas memang mencintainya tapi di masalalu dan bukan sekarang. Sekarang mas cuma mencintai Ze istri mas"
"Kalau Ze bukan istri mas pasti gak cinta kan?"
"Cinta Ze. Cinta itu bukan hanya sebatas kata cinta yang di ucapkan melainkan suatu perilaku kita dalam menunjukkan rasa cinta itu" Jelas Kahfi.
Zeva mengalah. Mau bagaimana lagi? jika dia bicara dengan Kahfi selau saja begini. Dia selalu kalah dan langsung diam tanpa berdebat lagi.
"Mas serius kan?" tanya Zeva beralih menatap Kahfi mencari kebenaran di dalam tatapannya.
"Dua rius Ze" sambil mengacungkan dua jari di udara Kahfi berucap sambil tersenyum.
"Tuh kan boongan!"
"Ini serius lo. Jangan marah Ze. Jangan pergi sebelum mendengarkan penjelasan mengenai yang sebenarnya. Jangan menangis hanya karena kamu mendengar hal yang bukan merupakan kebenaran dari suatu masalah...
" Jika ada masalah di antara kita maka kita bicarakan dengan baik. Jangan biarkan kekalutan serta amarah menguasai dirimu" Kahfi memeluk Zeva kedalam pelukannya.
Ia mengucapkan apa yang di rasakannya. Semua tulus dari hati seolah cinta yang tersirat pada kalimatnya begitu dalam.
Usia mingkin saja bertambah, tapi kedewasaan belum tentu! Jika usia masih muda namun pemikiran kita sangat dewasa maka cobalah menyelesaikan suatu masalah dengan cara dewasa.
Masalah ada untuk di hadapi bukan di hindati. Saat begini maka dewasalah. Bicarakan semuanya jangan hanya pergi menuruti ego dan lainnya.
"Emmm uehhe..." Zeva menahan rasa mual pada dirinya "Mas ini farfum Mbak Nada ya? baunya menyengat sekali? Ze mau muntah" keluhnya sambil melepas pelukan Kahfi.
Benar saja Kahfi langsung mengendus bau badannya dan ia dapat mencium aroma parfum Nada yang tersisa di kemejanya "Sayang kamu gak papa kan?" tanyanya sambil memegang bahu Zeva.
"Mas ihh itu farfunya gak enak banget! Rasanya perut Ze kaya di aduk aduk, Ze mau mun...." Zeva tak dapat menyelesaikan kalimatnya ia langsung menunduk ke bawah.
Berniat ingin memuntahkan isi perutnya tapi hasilnya nihil. Hanya rasa mual saja yang tersisa. Isi perut tak keluar satupun "Sayang kita periksa ya. Akhir akhir ini kamu sering banget kaya gini. Mas takut kamu masuk angin atau lambung kamu bermasalah" ucap Kahfi.
"Mas kepala Ze pusing ini" Zeva memijat pelan alisnya ia berharap rasa sakitnya dapat berkurang tapi kenyatannya tidak sama sekali.
"Ze!" seru Kahfi saat tubuh Zeva mendarat sempurna di bahu kekarnya.
Dengan cepat Kahfi langsung membawa istrinya ke dalam rumah sakit. Beruntung suasana rumah sakit masih lengang dengan suster yang berlalu lalang sehingga Zeva dengan cepat di tangani.
Branka di dorong menuju ke ruang pemeriksaan. Kahfi berharap Zeva hanya pingsan saja. Tanpa ada keluhan penyakit lainnya.
Tadinya ke rumah sakit hanya untuk membawakan makan siang suaminya tapi malah mendapati kesalah pahaman. Setelah salah paham usai malah begini, agenda Zeva bertambah. Entah sebentar atau lama dia pasti akan menginap di rumah sakit ini sebagai pasien.
.
.
.
Mohon berkomentar yang uwuwww meski ceritanya gak uwuwww:v
__ADS_1
Mohon berkomentar, mohon berkomentar, vote juga boleh wkwkkw:')