
" Serangan Seribu tapak air!"
Swosh...
Swosh...
Banyak energi spiritual elemen air dengan bentuk telapak tangan tercipta diudara kosong, terutama disekitar Jean.
Jean melambaikan tangan kananya, sehingga seribu tapak air itu melesat kearah para kerumunan yang menjadi lawannya.
Duarr... Duaar!!!
Ledakan pun terjadi saat serangan dari jean mengenai targetnya. Dari serangan itu ia berhasil membunuh sekitar 500 orang sekaligus serta 250 orang terluka cukup parah.
"Ohoho..., Untuk ukuran mahluk yang berasal dari benua terendah, dia cukup hebat yah!" Ucap seseorang yang mengenakan topeng merah darah. Ia adalah Brock salah satu dari 3 petinggi faksi darah.
Brock yang ditemani oleh 2 petinggi faksi 3/faksi Darah yaitu Aoi dan Bram. Mereka terlihat melayang diatas langit mengamati situasi pertempuran.
Untuk saat ini mereka belum mengeluarkan pasukan terlatih mereka, karena menurut mereka pasukan biasa sudah cukup untuk memporak-porandakan orang-orang dari benua hijau. Dan semua hal itu terbukti juga terlihat sekarang, bagaimana orang-orang dari benua hijau kewalahan akan serangan dadakan yang mereka lakukan.
Orang-orang yqng mereka sebut pasukan biasa itu masing-masingnya memiliki ranah Diamond God level ahli, bahkan ada juga beberapa yang telah menyentuh ranah Supreme Platinum God level Ahli.
Orang-orang dari faksi 3/ faksi darah, membawa pasukan biasa sebanyak 500.000 orang pasukan. Tentu semua pasukan itu hanya sebagian kecilnya saja dari keseluruhan pasukan utama Asosiasi Pembunuh yang sebenarnya.
"Apakah kita harus turun tangan untuk melawannya?" tanya Aoi yang terlihat sudah tak sabar untuk melakukan pertarungan.
"Tidak perlu kita hanya perlu menurunkan salah satu dari pasukan terlatih dari faksi kita saja." Ucap Bram yang menyanggah dan mengetahui apa keinginan Aoi.
"Hu'uh, baiklah-baiklah, aku akan menurut untuk saat ini. Namun jika ada sesuatu hal yang menarik minatku nanti, maka jangan halangi aku." Ucap Aoi disertai tatapan mata yang tajam juga serius.
Baik bram maupun Brock yang mendengar itu pun hanya mendenguskan nafasnya.
"Cih, sialan! Aku tak dapat melihat kultivasi mereka bertiga." Ungkap Jean menatap kearah ketiga orang yang sedang melayang diatas langit.
Sementara itu Sezu dan Suzu terlihat sedang melakukan pertukaran dengan beberapa orang yang di depannya.
"Teknik elemen Api: Semburan Bola Api!"
Sezu menyemburkan api merah dari mulutnya, lalu dibelakangya diikuti oleh Suzu dengan Teknik Elemen Api nya.
"Teknik Elemen Api : Ledakan Magma!"
Bukk...
Swushh...!!!
Duarr..!!!
Suzu telihat memukulkan tangan kanan yang telah dilapisi energi spiritual kearah tanah yang ia pijak, sehingga tak lama tanah yang ia tinju retak serta muncul gumpalan api dari bawah tanah.
Sesaat kemudian gumpalan api yng telah menyatu dengan tanah itu meledak, hasil dari ledakan itu menyebar kearah setiap musuh yang ia targetkan.
__ADS_1
Banyak musuh yang menerima dari dampak tersebut, sehingga banyak mayat gosong terkapar diatas tanah.
Kedua perempuan bersaudara itu saling melirik lalu meanjutkan gempuran serangan tersebut. Walau mereka kewalahan akan musuh yang mereka hadapi itu begitu banyak, namun mereka tetap berjuang hingga titik darah penghabiskan.
Entah sudah berapa banyak mereka mengonsumsi pill pemulih energi dan pemulih tubuh. Meski tahu kalau itu akan membebani bahkan merusak tubuh mereka suatu saat nanti, tetapi bagaimana lagi mereka tak memiliki pilihan lain.
Leo, Jai, Ah'Su dan Ah' Tai juga melakukan pertempuran. Mereka memang sering melakukan peran sebagai asassin namun pada saat seperti ini mereka melakukan pertempuran layaknya para kultivator biasa.
Keempat orang itu terlihat saling bekerja sama satu sama lain.
"Teknik Pusaran Api!"
"Hembusan Dingin kematian!"
Ungkap Leo dan Jai menggunakan tekniknya secara bersamaan, lalu disusul dengan teknik keterampilan dari Ah'Tai dan Ah'Su.
"Teknik Formasi Ilusi 2 Elemen!"
"Tusukan Guntur Hitam!"
Swosh...!!!
Duarrr...Duarr!!
Booom..bomm!!
Serangan dari empat orang itu membius para musuhnya, apalagi disertakan dengan teknik formasi ilusi milik Ah'Tai, semakin memperkuat keberhasilan pertempuran mereka.
Walau begitu setelah melakukan teknik tersebut, mereka terlihat kehabisan energi apalagi sebelumnya telah kelelahan akibat terus melakukan pertarungan tanpa istirahat.
Di Benua Hijau kini memang telah mengalami kemajuan serta ada cukup banyak yang telah mencapai ranah Petapa terutama dari masing-masing petinggi dan pemimpin dari sebuah sekte atau organisasi.
Namun pada akhirnya seperti pepatah kuno yang mengatakan, Setiap diatas langit masih ada Langit begitu pun sebaliknya Setiap dibawah tanah Pasti ada tanah.
"Ahaha... Teryata cukup menyenangkan juga bertarung dengan orang-orang yang berasal dari benua terendah ini." Ucap salah satu orang yang dari kubu yang menyerang benua hijau.
Terlihat orang tersebut sangat menikmati pertarungan, Walau yang ia hadapi itu adalah orang yang telah menginjak ranah petapa.
" Teknik pedang Kombinasi : Aura Tebasan Api Pembunuh!"
Orang itu menebaskan pedang yang ia pegang kearah Siun Alvous(sang Raja Api) yang merupakan salah satu dari 6 pilar kerajaan Alvous.
"Heh, masih terlalu dini untuk menyentuhku, sialan!" Ungkap Siun Alvous kesal karena ia dipaksa terus bertarung sementara energi spiritual hampir habis, selain itu ia melihat bahwa lawanya itu tidak takut mati dan masih terus bermunculan.
Entah sudah berapa banyak nyawa yang berhasil ia bunuh dari pihak musuh, namun tetap saja mereka tak gentar atau pun takut akan kematian.
"Teknik Api : Kehancuran Dunia Api!"
Swush...
Swuahh....
__ADS_1
Api berkobar disekitar Siun Alvous guna memberikan perlawanan terhadap serangan yang dilancarkan oleh lawan di depannya itu.
Dua kekuatan dengan elemen yang sama itu berbenturan, Aura panas yang mengerikan akibat dari benturan itu menyebar kesegala arah sehingga menghentikan pertarungan lain secara sejenak.
Bruakk...
"Oeekk...!!"
Orang yang menjadi lawan Siun Alvous termundur ke belakang serta mengeluarkan darah dari mulutnya karena tak kuasa menahan serangan Siun Alvous.
Melihat kesempatan itu, Siun Alvous tak membiarkannya lolos, ia dengan cepat melesat dengan kepalan tangan yang telah berlapiskan api.
Bush!!!
Ia meninju tepat pada bagian dada kiri lawannya itu, sehingga berlubang. Perlahan namun pasti Api membakar tubuh lawanya setelah Siun Alvous meninjunya dengan telak.
"Huh, akhirnya kau mati juga keparat sialan...!"
Siun Alvous menghela nafas serta kembali menatap kearah lainnya. Ia bersiap kembali untuk melakukan pertarungan lagi.
Kini beralih kearah pertarungan Blizz Alvous(Sang Raja Petir), salah satu dari 6 pilar. Terlihat Ia dan Cesa Alvous(Sang Raja Air) saling bekerja sama.
"Serangan Sinkronisasi : Ombak Pemusnah Masal !"
Swurrrs....Swuurrs..!!
Byurrr...
Swushh....
Sebuah air yang telah bercampur petir tiba-tiba muncul entah dari mana, serta membentuk sebuah gulungan ombak yang tingginya mencapai 10 meter.
Dalam waktu singkat gulungan ombak itu menghantam musuh-musuh yang mereka hadapi.
Tak terbayang arus air bercampur petir yang begitu dahsyat, menghantam serta menenggelamkan korbannya.
Dalam waktu singkat lebih dari 1.000 jiwa dari pasukan biasa yang diutus oleh faksi3/faksi Darah dari assosiasi pembunuh mati mengenaskan.
Blizz Alvous(Sng raja Petir) dan Cesa Alvous(Sang Raja Air) terlihat terengah-engah setelah mengeksekusi teknik tersebut.
"Nampaknya kita harus kembali menelan pil pemulih energi lagi" Ungkap Cesa Alvous sambil menghela nafas.
Blizz Alvous yang mendengar itu menganggukkan kepala dan mulai mengeluarkan pil pemulih energi dari cincin ruangnya serta langsung menelannya.
Di lain pihak Ketiga pilar yang tersisa sedang berusaha untuk melindungi para warga biasa yang sedang dievakuasi ketempat yang aman.
Ketiga pilar yang tersisa itu adalah Lian Alvous (Sang raja Kegelapan), Noun Alvous (Sang Raja Angin), lalu Zoun Alvous (Sang Raja Bumi/Tanah).
Ketiga orang itu mengerahkan kekuatan guna meminimalisir korban terutama manusia fana yang tidak berkultivasi.
>>>>
__ADS_1
**Jangan lupa apresiasinya yaitu Like, komen and Subcribe !!!
^^^Salam Persaudaraan**^^^