Legenda Pendekar Peniru {The Impersonator}

Legenda Pendekar Peniru {The Impersonator}
Episode 59 : Penyelidikan


__ADS_3

Wush...


wush....


Terlihat disebuah hutan yang cukup lebat, beberapa orang berpakaian hitam serta menutupi seluruh tubuh dan wajah nya kecuali pada bagian wajah layaknya pakaian assassin. Orang-orang tersebut nampak terus bergerak dalam kegelapan hutan, meski didalam hutan tersebut yang konon katanya banyak binatang yang memiliki tingkatan yang tinggi namun anehnya para binatang ataupun para siluman tersebut seolah menghindari orang-orang yang berpakaian layaknya assassin tersebut, serta ada 1 orang yang berbeda dari kelompok orang-orang itu, yaitu satu orang mengenakan topeng perak dengan bertuliskan nomor 20 di dahi topengnya.


Para orang orang tersebut nampaknya berjumlah 15+1\=16 dengan orang yang mengenakan topeng bernomor 20 yang nampaknya merupakan pemimpin dari kelompok tersebut. Di setiap per orang kelompok tersebut membawa 1 orang remaja baik perempuan ataupun laki-laki, walau begitu tetap tidak menghalangi daya gerak dan kecepatan kelompok tersebut.


Dari orang-orang tersebut satu diantaranya yang memakai topeng bernomor 20, memiliki ranah Petapa Platinum tingkat Dasar level 1, lima orang memiliki ranah Supreme Platinum God tingkat ahli, seta sepuluh yang tersisa adalah ranah Diamond dan Diamond God tingkat ahli dan mahir. Ya, Kelompok orang-orang itu adalah dalang dari kasus menghilangnya para remaja, Seandainya Zoan dan para rekannya bertemu dengan orang-orang tersebut pastinya akan terjadi pertarungan yang cukup menggemparkan tanah serta menimbulkan kerusakan hutan. Bagaimana tidak kekuatan tersebut sudah cukup untuk menghancurkan sekte menengah dan kecil hanya dalam waktu kurang dari dua hari, apalagi dengan adanya ranah Petapa yang memiliki kekuatan yang terlampau cukup jauh dengan orang yang berada diranah Supreme Platinum God.


"Pemimpin Elit sampai kapan kita akan terus menculik para remaja ini?!" ucap salah satu orang yang memiliki ranah Supreme Platinum God sambil terus melesat.


" entah lah, namun yang pasti sampai pemimpin tertinggi memerintahkan selesai dan tidak lagi memerintahkan untuk menculik para remaja lagi" ucap sosok bertopeng yang juga terus melesat menuju kedalam bagian terdalam hutan, topeng yang dikenakan adalah topeng khusus berwarna perak.


Setelah mendengar jawaban dari pemimpin kelompok, orang yang bertanya itupun diam dan menganggukkan kepala sambil terus fokus serta mempertahankan kecepatannya yang ia miliki agar tidak tertinggal oleh rekan-rekannya.


...****************...


Zoan dan para rekannya saat ini sedang berjalan menuju keluar gerbang desa Saidan, sambil menikmati perjalanan keluar gerbang desa, mereka sedikit berbincang bincang mengenai sebuah informasi yang telah mereka dapat, tentunya mereka berbincang-bincang lewat teknik telepati. Awalnya Amelia terkejut akan hal itu namun setelah dijelaskan Amelia perlahan menerimanya dan membiasakannya, walau untuk saat ini ia hanya banyak mendengarkan saja karena ia belum memahami apa dan siapa yang dibahas oleh Zoan dan rekan-rekannya. Namun yang pasti menurut analisa nya sesaat sesudah mendengarkan, Amelia menyimpulkan bahwa zoan dan rekan-rekannya mencurigai kelompok Asosiasi pembunuh.


" nampaknya untuk saat ini lebih baik kita melakukan penyelidikan serta mengunjungi tempat-tempat yang memungkinkan terjadinya penculikan dan markas mereka!" ucap Jean sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal


"ah, kamu benar saudara ku, mari kita melakukan penyelidikan dan mengunjungi beberapa tempat. Semoga saja kita bisa cepat menyelesaikan kasus ini" ucap zoan mengambil keputusan, dan nampaknya semua rekannya juga menyetujui akan hal itu.


Zoan dan rekannya terus berjalan hingga akhirnya mereka berhasil keluar dari gerbang desa Saidan, Tak lupa juga sebelum benar-benar keluar gerbang mereka mampir ke toko pak Ija untuk pamit lagi pula toko pak Ija memang tidak terlalu jauh dari gerbang menurut mereka.


Terlihat zoan dan para rekannya terus berjalan lurus, beberapa waktu terlewati terlihat saat ini mereka sedang beristirahat didekat sebuah mata air dan mengeluarkan beberapa makanan guna mengisi perut. Sepanjang perjalanan hari ini, mereka tak menemukan masalah yang merepotkan.

__ADS_1


"Anu- em.... apa kita akan bermalam disini ?" tanya Amelia sedikit gugup, pasalnya ini baru pertama kali baginya.


"iya, nona Amelia kita akan bermalam disini. Lagi pula hari mulai sore, santai saja. Bukan kah begitu saudaraku?!" ujar Jean sambil melirik zoan yang saat ini tengah memakan sebuah daging kering.


"iya, nona Amelia tenang saja tak usah buru-buru dan juga ini kesempatan kamu untuk memperdalam pemahaman elemen mu serta meningkatkan kemampuan bertarung mu." ucap zoan setelah menelan daging kering dalam mulutnya.


"Intan coba kamu latih Amelia, jangan lupa juga ajari dia cara mengendalikan elemennya" lanjut zoan lalu disambut anggukan oleh intan yang kebetulan ada disampingnya.


"baiklah, mari Amelia kita berlatih disebelah sana!" ucap intan sambil menunjuk ke sebuah tanah datar.


"iya mari terimakasih, dan juga boleh saya meminta sesuatu ?" ucap Amelia dengan sedikit gugup


"ya silahkan" ucap Zoan.


"Em-mm boleh kalian memanggil namaku dengan Lia saja" pinta Amelia dengan sedikit ragu.


"Mari Lia, kita berlatih" ucap intan sekali lagi,


"emm..." ucap Lia mengangguk, lalu ia dan intan berjalan menjauh.


Malam pun tiba, Zoan, Jean Cause Zuab dan Jenita terlihat sedang duduk mengelilingi api unggun serta menikmati ikan bakar yang sudah matang. Beberapa waktu sebelum malam tiba Zoan, Jean dan Cause pergi berburu tepatnya menangkap beberapa ikan yang lumayan banyak serta besar. Tentu saja intan dan Amelia juga ikut, sesaat zoan menyuruh mereka untuk mengakhiri pelatihan hari ini.


"Lia, bagaimana latihan mu?" tanya Zoan.


"Ehm, itu... masih belum menguasai kedua elemen ku. Maaf !" ucap Amelia sambil menunduk.


"tak masalah tenang saja,teruslah berlatih, berusaha dan jangan terlalu terbebani " ucap Zoan sambil menggigit ikan bakar.

__ADS_1


"iya, saudari Lia. Tenang saja tak usah terburu-buru" usap Jenita memegang tangan Amelia,kebetulan Jenita yang berada disamping Amelia.


"em, terimakasih" ucap Amelia.


"ya, sama-sama" ucap Jenita.


Beberapa saat kemudian mereka telah selesai menghabiskan ikan bakar tersebut, tersisa saat ini api unggun yang terus menyala menerangi gelapnya malam. Intan dan Amelia pun kembali berlatih, awalnya Zoan tak mengizinkan hal tersebut namun sesaat melihat tekad Amelia yang meminta untuk diperbolehkan latihan, mau tak mau zoan pun mengijinkannya.


trangg.... trangg... Trang....


Benturan antara tombak Amelia dengan sabit milik intan terus terdengar ditengah malam yang sunyi. Zoan melihat hal itu bergumam, " benar-benar tekad yang kuat." sambil terus mengamati pergerakan Amelia yang sedang melawan intan.


"jangan terburu-buru menyerang, serta terus fokus agar pertahanan mu tidak terbuka!" ucap intan disela-sela pertarungan.


"baik, saudari !" ucap Amelia semangat dan terus memberikan serangan kearah intan.


"haih... mereka semua sangat semangat dan selalu giat berlatih" ucap zoan sambil menghela napas sesaat melihat rekan-rekannya yang sedang berkultivasi, bahkan Jenita pun ikut berkultivasi. Saat ini hanya Zoan yang terlihat sedang bersantai didepan api unggun.


Dinginnya malam berlalu dengan hangatnya mentari pagi, pada akhirnya zoan dan lainnya pada malam itu tidak ada yang tidur. Zoan sendiri tetap mengawasi sekitar semalaman sendiri, sementara rekan-rekannya yang lain fokus berlatih. Selama semalaman itu Zoan bagaikan penjaga yang sangat patuh pada tuannya, meski begitu zoan tak mempermasalahkannya malahan ia senang karena teman-teman nya memiliki tekad dan semangat yang tinggi untuk menjadi kuat.


"Mari kita lanjutkan perjalanan !" ungkap zoan sesaat semua sudah bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan. Mereka pun melompat dari pohon ke pohon, dengan cepat.


" saudaraku, apakah kita akan mengunjungi Desa Feiz?" tanya Jean sambil terus melompat dari pohon ke pohon begitu juga lainnya.


"ya kamu benar, mari kita percepat.", ungkap Zoan.


Desa Feiz adalah desa yang dihuni oleh klan Feiz, klan itu merupakan klan pengguna energi spiritual elemen Api dan Kayu. Banyak orang yang memberi julukan sebagai desa Alkemis(Desa obat), alasan mengapa desa tersebut mendapat julukan itu salah satunya karena kebanyakan orang-orang desa tersebut berprofesi sebagai pembuat obat, tabib ataupun hal-hal yang berhubungan pengobatan.

__ADS_1


__ADS_2