Legenda Pendekar Peniru {The Impersonator}

Legenda Pendekar Peniru {The Impersonator}
Episode 86 : Bocah !!


__ADS_3

wush..


Zoan muncul tepat didepan gerbang masuk desa Saidan, ia langsung disuguhi pemandangan yang menegangkan kan disertai bau darah dan teriakan pertarungan.


Banyak bangunan yang porak-poranda.


Duarr... duarr...


Ledakan benturan energi tersebar cukup jelas oleh Zoan.


"Cih... serangan yang besar dan membuat dampak kerusakan lebih parah dari sebelumnya" ucap Zoan menatap kearah dimana ledakan itu terjadi.


"Bukan kah itu berasal dari markas guild petualangan serigala berada?!" ungkap Zoan tiba-tiba teringat dari mana asal ledakan itu. Ia bergegas kearah tersebut.


Sepanjang Zoan melesat, ia melihat begitu banyak nyawa yang berserakan baik yang terbunuh ataupun yang tertimpa oleh bangunan yang runtuh.


Tempat dimana pertarungan Jai(timur),dan Leo(Barat) terjadi


duaarr...


duarr...


Suara ledakan akibat benturan dari serangan Leo dengan sang komandan elit no 16 terdengar sangat keras bahkan Jai yang sedang melakukan pertarungan tak jauh dari tempat itu mendengarnya.


Baik Leo atau pun sang komandan sama sama terpental dan terkena dampak dari ledakan tersebut.


"Benar-benar kuat, belum lagi ke lima komandan pasukannya. Cih...!" ungkap Leo mengusap darah dari mulutnya. ia saat ini sedang menghadapi komandan elit no 16, yang memiliki ranah Petapa Supreme tingkat ahli level 3.


Sementara itu Jai sedang melawan kelima orang yang disebut komandan pasukan. meski memiliki ranah kultivasi yang tinggi namun dikarenakan kerjasama dari kelima orang komandan pasukan itu sangat baik, maka dari itu Jai berhasil ditekan.


"Sial, jika saja tuan muda ada disini mungkin ini akan berlangsung berakhir lebih cepat" ucap Leo sambil terus menahan serangan dari komandan elit no 16.


"Ah, tapi tunggu bukan kah beberapa waktu lalu, tuan bertanya tentang keberadaan kami hanya saja Jai tidak memberitahukan keberadaan kami yang sebenarnya. Cih... si burung es itu " ungkap Leo kesal sesaat mengingat bahwa beberapa waktu lalu tuan muda nya menghubungi mereka namun naasnya Jai mengatakan bahwa mereka masih baik-baiknya, padahal nyatanya mereka sedang terdesak.


Untuk para anggota guild petualangan serigala sendiri sudah banyak yang mulai berjatuhan kembali, mereka cukup unggul dalam kekuatan namun bagaimana pun mereka kalah dalam hal jumlah serta baik Leo ataupun Jai tidak bisa menutupi hal itu.


Leo dan Jai sebenarnya mereka membawa 10 anggota World Explorer, akan tetapi kini tersisa hanya tinggal 5 orang saja itupun mereka dalam keadaan terluka dan masih terus bertarung.


trangg...trangg....


serangan demi serangan berhasil kembali ditangkis oleh Leo, ia memang tidak menggunakan pedang ia hanya menggunakan kukunya untuk menangkis semua serangan itu.


"Menyerahkan,! mungkin kau dapat berguna dengan masuk kelompok kami" ungkap sang komandan elit no 16 mencoba membujuk Leo.


"Dalam mimpi mu sekalipun aku tak akan masuk kelompok kalian !" Cibir Leo dengan masih mencoba untuk menangkis dan memberikan beberapa serangan.


"Dasar keras kepala...!" ungkap sang komandan elit no 16 kesal. Ia lalu melompat mundur, begitu juga Leo ia merasa harus selalu waspada.


"Teknik pedang sejati: 1000 tebasan pedang !'


ucap sang komandan menebaskan 1 tebasan nya kearah langit, tak lama beberapa detik kemudian sebuah gemuruh di langit yang terik terdengar sangat jelas.


Ctarr...ctarr... suara dan kilatan petir menyambar kemana-mana memberikan Sean mengerikan.


wushh..wush... sebuah energi pedang yang begitu banyak tercipta di langit sesaat setelah suara petir yang menggelegar.


"Terimalah kematian mu, Chimera !" ungkap sang komandan elit no 16, mengetahui wujud asli Leo. Ia mengetahui hal itu saat Leo melakukan transformasi beberapa saat lalu, sewaktu melakukan serangan berupa bola api yang keluar dari masing-masing mulut ketiga kepalanya.


"Shield flame of the world !" ungkap Leo tak mau kalah dan menyerah.


Buush...


bussh...


Sebuah api membentuk sebuah perisai diatas Leo tercipta guna menahan serangan energi pedang yang begitu banyak dari atas langit.


duarr...duarr...


duarr...


"Aih, nampaknya tidak semua serangan dari orang itu dapat ku atas !" ungkap Leo sesaat melihat serangan yang dilancarkan oleh sang komandan elit no 16 itu ada beberapa lesatan pedang yang berhasil membobol pertahanan Leo.


Semakin lama Leo merasa energi terkuras banyak karena teknik yang ia gunakan. Selain itu kini luku-luka yang diterima Leo kembali bertambah banyak karena ada beberapa pedang yang menyayat tubuh nya Bahkan ada beberapa pedang yang menancap dibeberapa bagian tubuhnya seperti di kaki kanan,dan lengan kirinya yang membuat pergerakannya menjadi lebih terbatas.


"Sial nampaknya aku sudah tak kuat lagi " ungkap Leo sambil terus mencoba memusatkan energi yang tersisa agar dapat menahan beberapa lesatan energi pedang.

__ADS_1


Ada sekitar 100 energi pedang tersisa yang belum berhasil Leo tahan. Ia merasa sudah siap untuk mengorbankan diri.


"Maaf tuan muda nampaknya aku tak bisa lagi mengikuti mu...." ungkap Leo bersiap meledakan diri, akan tetapi tiba-tiba sebuah lesatan tebasan dari arah belakang berhasil menghancurkan 100 energi pedang itu.


wush...


ctrakk...ctraakkk...


100 energi pedang itu satu persatu mulai hancur sesaat akan mendekati perisai api yang dibuat Leo, ia yang melihat itupun memiliki harapan baru yakni orang yang dia tunggu dan harapkan akhirnya tiba menyelamatkan hidupnya.


"Cih, pengganggu sialan!" ungkap sang Komandan elit no 16 kesal sesaat serang yang dirasa akan berhasil membunuh targetnya itu kini berhasil digagalkan.


" Leo kamu beristirahatlah di artefak ruang ku" ungkap Zoan muncul disamping Leo, bersama dengan itu Zoan melambaikan tangannya dan sebuah pusaran tercipta sambil mendorong lembut tubuh Leo yang sudah kehabisan energi itu agar memasuki artefak ruangnya.


"Terimakasih tuan muda!" ungkap Leo sebelum kesadarannya benar-benar hilang. mendengar hal itu Zoan hanya mengangguk dan tersenyum.


Zoan kini menatap tajam sang komandan elit no 16 itu.


"Viktor keluarlah !"ungkap Zoan tanpa basa-basi.


Groarrgh...


Sebuah Auman tiba-tiba terdengar disertai kemunculan cahaya putih. Cahaya putih itu pun menghilang digantikan oleh sosok singa berwarna putih dan Biru, Singa itu berdiri dengan gagah disamping Zoan.


" Pergilah kearah timur dan bantu saudara kita Jai !" ungkap Zoan sambil mengelus bulu halus Viktor.


groarrghh...


Viktor mengaum lalu ia melesat kearah timur, sesuai dengan apa yang Zoan perintahkan.


" baiklah sekarang giliran kita !" ungkap Zoan menatap serius kearah sang komandan elit no 16. Orang yang ditatap itu hanya berkata dengan sedikit malas.


"Sudah bocah, mari kita bertarung. meski kau berada diranah yang sama dengan ku tapi tingkatan dan level kita berbeda. Cih... sama saja lemah!" ucap sang komandan elit no 16 meremehkan Zoan.


"Kalau belum dicoba bagaimana kau tahu..." ucap Zoan tak mau kalah.


wush...


sang komandan elit no 16 melesat kearah Zoan, tentu ditangan kanannya sebilah pedang siap menebas kepala Zoan.


Trang....


Sang komandan elit no 16 menebaskan pedangnya kearah Zoan, namun berhasil ditahan oleh pedang yang di pegangan Zoan. Bentrokan pedang terjadi cukup sengit, baik teknik tarian pedang saling bertukar serangan ataupun dengan mengeluarkan aura yang saling terus mengintimidasi satu sama lain.


Duarr.. duarr...


"Ehm, kau memiliki kemampuan bocah!" ungkap sang komandan elit no 16 melompat mudur, sesaat ledakan dari bentrokan antara aura satu dengan yang lain.


Aura yang dikeluarkan oleh sang komandan dominan warna hitam pekat sementara Zoan berwarna merah darah.


"Bagaimana dengan ini, Bocah ! Terimalah..." ungkap sang komandan elit no 16 sebelum menggunakan teknik elemennya.


"Teknik elemen Ganda : Kabut korosif !" ungkap sang komandan elit.


"Cih, sialan, dari tadi menyebut namaku bocah, bocah dan bocah terus. Dasar berondong bau tanah....!" ujar Zoan kesal, mendengar kata " Bocah ".


"Kau pikir hanya kau saja yang bisa menggunakan teknik itu,...!" gerutu kesal Zoan kembali.


Zoan melompat mundur sesaat melihat sebuah kabut putih menyebar kearahnya, setelah dirasa waktu sudah tepat, ia mulai melakukan teknik yang sama dengan teknik sang komandan elit no 16 lakukan.


"Teknik elemen Ganda : Kabut korosif !"


"Teknik elemen angin : Angin ribut !"


wush....


wush....


Zoan tak hanya meniru teknik komandan elit no 16 itu, namun ia juga menambahkan teknik elemen anginnya untuk memberikan dorongan saat terjadinya benturan antara dua teknik yang sama.


bush...


duaarr...


Ledakan kembali terdengar sangat keras namun efek dari ledakan itu tidak mengarah kearah Zoan berada tetapi efeknya nya langsung mengarah kearah sang komandan elit no 16 berada.

__ADS_1


"Arggh..., dialah bocah tengik !" ucap sang komandan elit no 16 sesaat terkena serang dari efek ledakan tersebut.


"Cih, kau ini sudah kubilang kanga panggil aku bocah !" ungkap Zoan kembali kesal, dan karena kesal ia tanpa jeda langsung menggunakan teknik nya kembali.


" Hukum Elemen : Dunia gelap !"


"Tebasan Gerhana !"


"Tarian Bintang !"


"Tebasan ruang dimensi !"


wush...


setelah mengatakan teknik hukum elemen dunia gelap tiba-tiba sang komandan elit berpindah tempat ke tempat yang dipenuhi kegelapan tanpa cahaya sama sekali, Sesaat kemudian Zoan menebaskan pedangnya dengan menggunakan tebasan Gerhana dan berhasil memotong kedua lengan sang komandan elit itu.


Belum juga selesai keterkejutan kembali terjadi saat Zoan menggunakan teknik tarian Bintang dan itu cukup untuk memotong-motong tubuh sang komandan elit no 16, masih belum puas Zoan pun melakukan teknik tebasan ruang dimensi dan membuta sang komandan terpotong potong bagaikan tahu hingga tersisa hanya potongan kecil.


"Hah...hah... mati kau, mampusss !" ungkap Zoan masih dengan raut wajah kesal sesaat mengingat perkataan bocah yang diucapkan oleh komandan elit no 16 itu.


Beberapa menit kemudian ia berhasil menenangkan dirinya kembali dan ia langsung melepaskan tekniknya hukum elemen gelapnya.


Ia kembali ketempat semula saat bertarung dengan sang komandan elit no 16 pertama kali namun kini yang terlihat yang masih berdiri adalah hanya dirinya seorang sementara sang komandan elit itu sudah menjadi potongan kecil yang berserakan.


Tanpa memperdulikan itu Zoan melesat kearah selatan yang mana ditempat itu terjadi pertarungan antara anggota Guild petualang Serigala yang masih mempertahankan dirinya. Zoan mengetahui informasi itu dari Jai.


Tempat dimana Jai(timur) bertarung dengan kelima komandan pasukan musuh.


Groarrghh....


groarrgh....


Viktor tiba dan langsung menerjang kerah para Komandan Pasukan guna membatu Jai.


"Yo, kawan ! mari kita bekerja sama" ungkap Jai senang karena mendapatkan bantuan.


groarrghh... Viktor mengaum sebagai tanda senang dapat bekerja sama dengan Jai.


Viktor melepaskan energi spiritual dingin nya dan membuat tempat sekitar berubah menjadi Padang es, selain itu teknik itu juga cukup efisien dalam memperlambat pergerakan para musuhnya.


"Cih, teknik es yang murni serta membuat pergerakan kita terhambat" ungkap orang berpakaian biru sambil memainkan kedua pisau belatinya.


"Tenang saja es ini tak akan berpengaruh dengan kita terkhususnya dengan ku !" ungkap arogan si merah.


wush...


"Tubuh api : Pembakaran maksimal !" Ujar si merah menggunakan tekniknya, tak lama dari tubuhnya keluar kobaran api serta memancarkan hawa panas yang mencairkan hawa dingin milik Viktor.


" Tenang saudaraku aku akan membantumu " ujar Jai sesaat melihat Viktor berusaha keras untuk terus mengeluarkan hawa dingin dari tubuhnya.


Groarrghh.... Viktor kembali mengaum dengan cukup keras.


"Teknik kombinasi : Suara kematian dunia es...!" ucap Jai, tak lama ia sebuah hembusan berhawa dingin serta sebuah pekikan burung elang entah darimana muncul dan membuat para komandan pasukan itu pusing serta mempengaruhi mentalnya. Apalagi kini dengan ada bantuan yang juga memiliki elemen es, semakin memperkuat aura dingin serta kematian dari teknik yang dilancarkan oleh Jai.


"Cih, merak benar-benar menjadi merepotkan sekarang !" ungkap si hijau terlihat sedikit kesulitan ketika akan melancarkan serangan kearah Jai dari belakang.


Groarrgh...


Viktor tiba-tiba melompat kearah Jai, dengan cakar yang diarahkan ke depan. sontak saja Jai menghindar kearah samping. awalnya ia ingin memproteksi apa yang dilakukan oleh Viktor akan tetapi sesat tahu tujuannya adalah untuk menyelamatkan dirinya dari serangan si hijau Jai pun tidak mempermasalahkannya.


"Argh..." ungkap si hijau sesaat terkena oleh cakaran dari Viktor. Si hijau langsung melompat mundur sambil meringis kesakitan sesaat tangan kirinya terkena cakaran.


"Bintang sialan !" ungkap si hijau kesal menatap si Viktor dengan niat membunuh yang semakin pekat.


Groarrghh....groarrghh...


Viktor yang diberikan tatapan seperti itu malah mengaum lebih keras dari pada sebelumnya, seakan akan mengatakan bahwa "aku juga tak takut dan maju sini kalau berani !"


Perlahan tapi pasti teknik yang digunakan Jai mulai efektif apalagi dengan adanya Viktor yang memiliki insting yang sangat tajam.


para komandan pasukan itu satu persatu mulai merasakan sakit dalam kepalanya, bahkan ada beberapa anggota kelompok assosiasi pembunuh itu yang terkena teknik tersebut dan mati seketika.


Teknik itu memang mengerikan namun juga menguras tenaga dan konsentrasi bila ingin keberhasilan dari teknik yang dilancarkan oleh Jai itu sukses 100%.


Jangan lupa like, komen, vote and rate 5

__ADS_1


See you next time...


__ADS_2