Legenda Pendekar Peniru {The Impersonator}

Legenda Pendekar Peniru {The Impersonator}
Episode 67 : Hutan Kematian


__ADS_3

Wush...


Tiba-tiba didepan sebuah penginapan Bulan muncul tiga sosok, mereka tak lain adalah Jean, Cause dan Jenita.


"Mari masuk!" ucap Intan yang beberapa saat setelah kemunculan Jean, Cause, dan Jenita sampai.


Mereka pun memasuki penginapan menuju lantai tiga. Cukup santai dan tidak mengalami hambatan sesaat menuju lantai tiga. Sesampainya dilantai tiga mereka menuju tempat dimana kamar Zoan berada.


Setibanya dikamar Zoan terlihat Zuab dan zoan sedang menunggu kedatangan mereka.


"maaf kami baru datang!" ucap Cause menghampiri Zoan dan Zuab.


"ya, tak masalah tenang saja." ucap Zoan melambaikan tangan guna tidak usah untuk terlalu dipikirkan.


Mereka pun duduk melingkar dan mulai membahas hal apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.


"Bagaimana kalau kita langsung pergi saja ke hutan kematian. Bukan kah semakin cepat kita menghabisi kelompok mereka, maka ada peluang untuk menyelamatkan korban penculikan para pemuda dan pemudi itu?!" ucap Zuab mengutarakan pikirannya.


"ah tumben pikiran mu beres hehe!" ucap Cause dan tak lama setelah mengatakan itu Zuab dengan cukup cepat memukul kepala Cause dengan tangannya sambil menggerutu kesal.


"apa kau bilang..! dari dulu juga saya waras hanya kau saja yang lemot " ucap Zuab kesal.


"haih, sudah sudah, kalian ini!" ucap Jean menengahi dan menghela nafas.


Zuab dan Cause pun saling memalingkan wajah, Zoan yang melihat hal itu hanya berdecak disertai gelengan kepala, dan tak habis pikir kenapa semua teman-temannya suka memperbesar masalah kecil.


"Bagaimana menurut mu?" tanya Zoan sambil melihat kearah intan dan Jenita.


"ya tak masalah lebih cepat lebih baik" ucap intan menyetujui usulan dari Zuab.


"Aku juga setuju,!" ucap Jenita singkat.


Sementara Jean ia hanya mengangguk sebagai tanda ia juga menyetujui akan usul yang diutarakan oleh Zuab.


"Baiklah besok pagi kita akan pergi menuju hutan Kematian" ucap Zoan memutuskan.


"yah, walaupun pada awalnya saya berencana untuk sedikit tinggal lebih lama disini, namun apa yang dikatakan Zuab ada benarnya juga"ucap Zoan dalam hati.


Dirasa mereka telah mencapai kesepakatan, mereka semua pun pergi menuju kekamar masing-masing guna mengistirahatkan tubuh.Pada malam itu Zoan dan rekan-rekannya tidur dengan nyenyak.


...****************...

__ADS_1


Mentari pagi bersinar dengan penuh semangat yang membara. Zoan dan rekan-rekannya saat ini mereka sedang menuju lantai satu untuk mengisi perut. Mereka pun menempati meja yang berada dipojok ruangan lantai satu, tak lupa juga mereka memesan makan beserta minuman nya.


Mereka makan dengan lahap , setelah makan mereka bersiap keluar dari penginapan itu. tentu saja mereka mengunjungi sang resepsionis penginapan terlebih dahulu sebelum pergi guna mengembalikan kunci kamar penginapan.


Dengan senang hati sang resepsionis menerima kunci kamar tersebut dan tanpa banyak bertanya.


Setelah mengembalikan kunci mereka pun langsung pergi meninggalkan penginapan tersebut. Mereka pun akhirnya sampai didepan pintu gerbang desa Ni.


Beberapa waktu berlalu, Zoan dan rekan-rekannya melesat dan melompat dari pohon ke pohon, Entah sudah berapa waktu terlewati oleh mereka. Namun yang pasti saat ini mereka sedang berada disebuah air terjun yang merupakan perbatasan dari hutan kematian bagian luar.


"kita beristirahat disini, lagi pula kita harus mempersiapkan diri dan mengisi kembali energi spiritual kita" ucap zoan berhenti dan berdiri disebuah batang pohon.


"ah, akhirnya" ucap Zuab sambil melompat turun menuju kesebuah air terjun. Ia langsung melompat kearah kolam yang terhubung dengan air terjun tersebut dengan sangat antusias.


byurr...... suara sesaat Zuab melompat ke arah kolam yang terhubung dengan air terjun.


"grah... segarnya hehe!" ungkap Zuab sesaat kepalanya kembali muncul ke permukaan.



Gmbr. Diatas adalah contoh ilustrasi air terjun.


"ah dasar !" ucap intan sedikit kesal.


"Serahkan padaku, ayo ketua kita berburu hehe...!" ucap Cause sambil melirik kearah Zoan.


"Okeh, ayo kita berburu! " ucap Zoan semangat, Cause dan Zoan pun pergi mencari beberapa binatang. Meskipun sebenarnya tidak terlalu perlu juga karena mereka sebelumnya sesaat di desa Ni sudah membeli beberapa roti dan daging kering.


Namun yah, memang itu sudah menjadi salah satu kebiasaan mereka lagi pula menurut para kultivator di benua hijau berburu adalah salah satu hal yang dapat menghilangkan frustasi sesaat mengalami kebuntuan dalam kultivasi serta menambah kesan yang menyenangkan.


Jean, Jenita mereka terlihat sedang menyalakan api unggun semetara itu intan sedang menyiapkan bumbu untuk membakar daging. Bumbu yang disiapkan oleh intan sangat sederhana yaitu Batu Asin, 5 buah Kunyit dan terakhir 10 buah tangkai pedas. Batu Asin dapat dibuat dari air garam yang di endapkan dibawah sinar matahari lalu dipadatkan dengan bentuk batu berwarna putih, untuk kunyit merupakan tanaman yang sering dijumpai disekitar hutan, tanaman kunyit dapat dijadikan obat penambah nafsu makan, obat pemusnah bakteri(alergi) terkhusus bagi para manusia fana. untuk tangkai pedas biasanya juga ditemukan ditempat-tempat yang memiliki tanah yang cukup lapang/luas serta ditempat yang tidak terlalu lembab air. tangkai pedas memiliki buah yang berwarna merah secara umum, Namun ada juga tangkai pedas yang memiliki buah berwarna putih, Ciri khas tangkai pedas adalah buah yang memiliki rasa yang amat pedas dan banyak digunakan untuk penambah cita rasa pada sebuah makanan.


wush... wush....


Zoan dan Cause datang menghampiri sementara itu dimasing-masing tangan mereka berdua membawa 5 ekor ayam hutan bahkan 1 diantaranya ada rusa hutan.


"Hem,... boleh juga kalian " ucap intan dengan suara yang sedikit ketus ciri khasnya.


"hehe,...!" ungkap Cause dan zoan cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Zoan dan Cause meletakan ayam hutan dan satu ekor rusa tepat didekat api unggun yang telah dibuat.

__ADS_1


"yeah...,akhirnya tugas kami selesai. Sekarang giliran Zuab, dimana dia?" ujar Zoan sambil sedikit merenggangkan tubuhnya.


"Dia masih di kolam air terjun!" ucap Jean sambil terus menjaga agar apinya tetap menyala.


"Ehm, biar saya yang panggilkan dia" ucap Jenita berjalan pergi menuju tempat dimana Zuab berada, tak perlu waktu lama Jenita pun sampai. Terlihat Zuab sedang asyik berenang ke sana kemari.


Dengan sedikit berteriak Jenita berkata kepada Zuab. "kemari lah, ada tugas dari ketua untuk mu !!" ungkap Jenita. Seketika Zuab yang mendengar teriakan itu, ia melirik dan langsung bergerak kearah Jenita, dengan pakaian basah kuyup ia menghampiri dan ikut bersama Jenita.


Zuab dan Jenita pun sampai ditempat dimana Zoan dan lainnya sedang menunggu mereka.


"Ketua apa tugasku ?!" tanya Zuab buru-buru. Namun tiba-tiba intan melemparkan 4 ayam hutan dan 1 ekor rusa kearah Zuab. Dikerjakan Zuab lengah semua lemparan tersebut berhasil mengenai wajahnya.


"Sialan... apa yang kau lakukan kampret....!" ucap Zuab kesal sambil melirik kearah intan yang sedang bersiul dan memalingkan muka seolah bukan ia yang melakukannya.


"bersihkan binatang buruan itu, bocah!" ucap intan asih dengan memalingkan mukanya kearah samping.


"sialan... kau!" ucap Zuab yang bersiap mengalirkan energi spiritual dan mengeluarkan kan tombaknya.


"Mau bertarung, hah...!!" ungkap intan tak mau kalah.


"Sudahlah kalian, kapan kita akan makan ini. Intan kamu jangan terlalu memancing dia terus, dan kamu Zuab jangan mudah terpancing serta cepat kamu bersihkan binatang itu" ucap Zoan tegas.


Mendengar hal itu baik Zuab ataupun intan saling memalingkan muka.


"Ehm... " ungkap Zuab dan intan memalingkan wajah, sementara Zoan menghela nafas dan menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Zuab pergi kearah kolam air terjun sambil membawa 4 ayah hutan serta 1 ekor rusa. Zuab dengan cepat membasuh bintang tersebut, setelah dirasa bersih ia lalu kembali.


Pada malam itu Zoan dan lainnya makan dengan ditemani beberapa bintang buruan, tentu saja tak lupa memasukan campuran bumbu yang sudah disiapkan. Langit malam penuh bintang disertai gemercik air yang terdengar dari air terjun menjadikan malam yang cukup begitu lengkap. Seakan tak mau kalah semilir angin membawa dinginnya malam pun ikut berkumpul dari berbagai arah.


Malam yang sunyi itu pun terlewati dengan cepat. Zoan dan rekan-rekannya kembali bersiap melanjutkan perjalanan mereka menuju hutan Kematian.


Mereka melompat dan melesat dengan cepat melewati Air terjun. Tepat pada saat matahari berada dipuncak mereka berada di hutan kematian bagian luar. Mereka mulai melangkah maju menuju ke hutan kematian bagian luar lebih dalam lagi.


Disepanjang perjalan mereka sering menjumpai binatang siluman, seperti siluman laba-laba berkepala manusia, siluman kepiting berkaki 5 bahkan mereka juga menemukan beberapa tanaman herbal.


Mereka juga tak lupa untuk mengambil permata siluman yang telah mereka habisi.


Permata siluman dapat diserap serta meningkatkan kekuatan spiritual, namun cara penggunaannya tidak boleh berlebihan.


Misal kultivasi ranah perunggu - emas hanya dapat menggunakan 5 permata siluman dalam sehari, ranah Platinum - Diamond dapat menggunakan 10 permata dalam sehari, ranah Demi Diamond - Supreme Platinum God dapat menggunakan 15 permata siluman, jika melebihi batas tersebut maka orang tubuh tersebut akan meledak ataupun kalau selamat akan menimbulkan kecacatan pada kultivasi nya serta efek tambahan lainnya yaitu munculnya salah satu organ dari permata siluman yang telah diserapnya. Seperti memiliki tanduk,sisik atau pun bulu binatang siluman.

__ADS_1


Untuk para kultivator ranah Petapa mereka Memiliki hak khusus yaitu memiliki ke tidak batasan dalam menyerap permata siluman atau pun kristal bintang beast, bahkan hal itu tidak menimbulkan efek samping. Hal itu disebabkan oleh energi spiritual yang lebih murni murni serta ketahanan tubuh yang cukup mengerikan dari pada kultivator yang berada diranah Supreme Platinum God ke bawah.


__ADS_2