
Zoan dan Jai pun sampai didepan penginapan lalu memasukinya dan beristirahat kedalam masing-masing penginapan yang telah mereka sewa selama 1 hari.
" ah, cukup melelahkan." ucap zoan sambil merebahkan tubuhnya diatas kasur.
Malam ini Zoan tak berencana tuk meningkatkan kultivasi nya, ia pun terlelap tidur begitu juga dengan rekan-rekan nya .
keesokan harinya tepat pada matahari terbit Zoan terbangun dan langsung pergi mandi lalu turun kelantai bawah untuk sarapan. rekan-rekan zoan juga ada dilantai bawah sedang sarapan, zoan pun menghampiri mereka.
Tak lama ketika zoan sedang makan, tiba-tiba batu giok komunikasi bergetar didalam saku zoan menyimpannya.
"tuan zoan, kepala manajer sudah berada di guild. Apakah tuan akan menemuinya sekarang?" tanya kaila atau biasa disebut sang manajer.
"baiklah saya dan teman-teman akan ke situ, tunggu sebentar kami sedang sarapan" ucap zoan mengirimkan suara melalui batu giok komunikasi, dan melanjutkan kembali sarapan, Tak lupa juga ketika selesai sarapan mereka membayar makanannya.
" mari kita berangkat." zoan berucap sambil beranjak dari tempat duduknya menuju guild.
Tak perlu waktu lama zoan pun akhirnya sampai, juga jarak guild dan tempat makannya terbilang cukup dekat. " mari ikuti saya, kepala guild sudah menunggu." ucap kaila langsung memandu zoan dan rekan-rekannya menuju tempat kepala guild berada.
tok...tok....
"silahkan masuk." sebuah suara terdengar dari dalam ruangan.
Kaila pun pamit dan hanya mengantarkan zoan sampai depan pintu karena ia masih memiliki beberapa urusan.
Sesampainya didalam ruangan zoan dan rekan-rekannya dipersilahkan duduk tanpa terkecuali Leo dan Jenita juga.
"Jadi apa yang ingin kamu bicarakan dengan ku tuan Zoan?" tanya kepala manajer mengawali percakapan.
" maaf sebelumnya dan terimakasih. Hal yang ingin saya bicarakan adalah saya dan rekan-rekan yang berada dibelakang sudah memutuskan untuk keluar dari keanggotaan guild" ucap Zoan.
__ADS_1
" Untuk alasannya karena kami sudah membuat kelompok yang bernama World Explorer dan kami ingin mengembangkan kelompok tersebut. Selain itu kaisar benua hijau sudah mengijinkannya" ucap zoan menjelaskan dengan penuh keyakinan.
"aih, baiklah saya tak akan mempermasalahkannya dan juga itu adalah keputusanmu. namun saya ingin kalian tetap menjalin hubungan baik dengan guild kami, apakah kamu setuju?" tanya sang kepala manajer yang tak lain adalah Shi fui.
"kami setuju dan akan tetap menjaga citra hubungan baik kelompok kami dengan guild petualangan Serigala" ucap zoan disertai tekad yang bulat di setiap kata-katanya.
pembicaraan pun akhirnya berakhir, Zoan serta rekan-rekannya resmi keluar dari guild petualang Serigala. tak lupa zoan dan rekan-rekannya pamit kepada seluruh anggota guild yang ada, termasuk juga kepada kaila dan kepala manajer, Zoan mengucapkan terimakasih dan permohonan maaf atas keegoisannya.
Zoan dan rekan-rekannya keluar dari gerbang desa Saidan, tujuan mereka saat ini adalah tempat tinggal Zoan dan kakeknya dulu yaitu ditengah hutan. Selain untuk meningkatkan kekuatan dan berkultivasi ditengah hutan juga dapat meningkatkan kebersamaan antar kelompok mereka agar lebih solid.
Sesampainya ditengah hutan tepatnya dirumah zoan dan kakek nya dahulu. Zoan dan rekan-rekannya membersihkan, membereskan, serta merenovasi sedikit rumahnya agar lebih besar. Malam pun tiba, terlihat saat ini baik Zoan, Jean, Jai, Leo, Zuab, Cause, intan, dan Jenita, sedang menyiapkan hidangan guna makan malam mereka.
" tuan zoan daging panggang sudah siap" ucap Jean yang bertugas bersama Jai dan Leo.
"okeh sekarang kita tinggal tunggu para wanita yang sedang mandi" ucap zoan santai sambil menggigit buah hutan. padahal yang Zoan sebut para wanita hanya 2 orang yaitu Jenita dan intan, mereka mandi ditempat yang ditunjuk Zoan di sungai. Untuk para laki-laki mereka memilih untuk mengisi perut lebih dahulu.
"hei, cepat lah !" ucap Jean sedikit berteriak sesaat melihat Intan dan Jenita berjalan santai dari kejauhan. "baik-baik," teriak intan.
Setelah lama berbincang zoan dan rekan-rekannya pergi menuju ke kamar masing-masing dan mulai melakukan kultivasi tertutup kecuali Leo dan Jenita.
Malam pun berlalu dengan cepat. Di pagi hari yang cukup cerah terlihat Leo dan Jenita sedang berlatih dihalaman depan, tentu saja mereka tak akan lupa untuk menjalankan tugas yang diberikan Zoan.
wush....
duarr.....
"teknik ruang: pintu ruang pembalik" ucap Jenita sambil melambaikan tangannya, tak lama sebuah celah ruang pun tercipta. Bola-bola api yang dilancarkan oleh Leo pun terserap masuk kedalam teknik ruang tersebut dan dari belakang tiba-tiba muncul celah ruang bersamaan dengan itu dari dalam celah ruang keluar 3 bola api yang sebelum nya dilancarkan oleh Leo untuk mengincar Jenita naas nya sekarang malah membalik menyerang kearah nya.
"aih, teknik ruang memang merepotkan!" ucap Leo sambil berusaha untuk melompat kesamping untuk menghindarinya. Melihat hal itu Jenita dengan cepat kembali melambaikan tangannya dan menggunakan teknik ruang.
__ADS_1
"Teknik ruang: tusukan tombak "ucap Jenita sambil menusukan tombak yang ia pegang kearah celah ruang yang tak lama dari celah tersebut muncul didepan Leo dan akan menusuk perutnya, dengan sigap Leo tak mau kalah, ia menggunakan teknik elemen kegelapan nya, walau tak se-mahir teknik elemen apinya.
"Teknik Elemen kegelapan: pusaran penghisap" ucap Leo, sebuah gumpalan energi dengan daya hisab yang cukup tinggi tiba-tiba muncul didepan perut Leo yang hendak ditusuk oleh tombak Jenita.
"hm, sepertinya tak ada kesempatan untuk saya menang dari tuan Leo" ucap Jenita sambil menghilangkan Teknik nya. tentu saja Jenita sudah tahu teknik itu yang memiliki daya hisab yang cukup tinggi, dan Jenita tak mau tombak yang baru ia pakai langsung hilang terkena hisapan oleh teknik Leo.
"hehe, maaf-maaf saya tak bermaksud " ucap Leo sambil cengengesan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Mereka berdua pun memutuskan untuk berhenti bertarung dan memulihkan energi spiritualnya yang telah terkuras.
"apa yang akan kita lakukan, untuk menjalankan tugas yang diberikan tuan muda?" tanya Jenita telah selesai memulihkan energi spiritualnya.
"pertama-tama kita akan melakukan tugas dengan cara saling bergiliran, hari ini biar saya yang mengawasi sekitar dan melihat keluar hutan ini, kamu lebih baik diam dan jaga mereka yang sedang melakukan kultivasi tertutup." ucap Leo mengusulkan.
"baiklah saya setuju" ucap Jenita, setelah mendengar persetujuan dari Jenita Leo pun dengan cepat pergi untuk menjalankan tugas yang diberikan Zoan.
...****************...
Didepan gerbang Desa Saidan, terlihat seorang pemuda yang berada di depan gerbang desa saidan,pemuda tersebut membawa dua ikat kayu bakar dipunggung nya. Pemuda tersebut sedang membayar uang pajak agar dapat memasuki desa saidan.
Dengan pakaikan layaknya penjual kayu bakar, ia berjalan menuju toko setelah diijinkan masuk. Pemuda tersebut tak lain dan tak bukan adalah Leo yang sedang menyamar, Leo mengetahui letak dimana toko pak Ija setelah bertanya kepada sang penjaga gerbang desa. awalnya sang penjaga gerbang terlihat heran Leo tidak mengetahui toko pak Ija, bagaimana pun kebanyakan orang sudah mengetahui bahwa di desa saidan hanya ada satu toko yang menjual dan membeli hasil kayu bakar serta madu yaitu toko pak Ija.
Leo pun mengungkapkan alasan nya dan penjaga gerbang pun tanpa curiga memberitahukan letak dimana toko pak Ija berada.
Sesampainya di toko Leo disambut dengan ramah oleh pak Ija. "ada yang bisa saya bantu tuan?" ucap pak Ija ramah. "iya, saya mau menjual 2 ular kayu bakar. kira-kira berapa harganya?"ucap Leo santai.
"satu ikat kayu bakar sama dengan 25 koin perunggu. Apa tuan akan tetap menjualnya dan tidak keberatan sama sekali?" tanya pak Ija kembali.
"ya, saya akan menjualnya tak masalah kok" ucap Leo sambil menurunkan 2 ikat kayu bakar dari punggungnya.
__ADS_1
Pak Ija pun menyiapkan uang pembayaran dan memberikannya kepada Leo,
"terimakasih " ucap Leo menerima uang tersebut meski sebenarnya itu hanya sebagai tukang penjual kayu bakar, agar Misinya berhasil. tak lupa pak Ija memasukan dua ikat kayu bakarnya kedalam gudang penyimpanan kayu bakar. Setelah mengetahui keadaan pak Ija dan keluarganya baik-baik saja Leo pun berlanjut mengunjungi kedai untuk mendengarkan dan mencari informasi.