
Malam hari pun berganti menjadi pagi dengan begitu cepat tak terasa. Gelapnya malam mulai perlahan meninggalkan langit biru nan cerah tanpa bintik air hujan. Pagi-pagi buta, Zoan, Sezu, Suzu dan rekannya yang lain pergi keluar dari desa Feiz. Mereka pergi menggunakan kereta kuda yang telah mereka beli sesaat sebelum meninggalkan gerbang desa Feiz.
Perjalanan terus berlanjut dengan disertai sedikit canda dan tawa. Zoan saat ini sedang mengemudikan kuda, sementara itu rekannya yang lain berada didalam kereta.
ilustrasi diatas : kereta kuda yang dinaiki Zoan dan rekan-rekannya.
Satu jam terlewati semenjak meninggalkan desa Feiz, zoan terus memacu kereta kudanya agar tetap berjalan. Tujuan nya kali ini adalah Desa Ni yang terletak disebelah timur dari desa Feiz berada, Alasan ia mengunjungi desa Ni adalah karena ingin membeli beberapa stok senjata serta menyelidiki kasus menghilangnya para pemuda dan pemudi yang kini masih terus berlanjut tanpa henti, entah sudah berapa banyak para pemuda dan pemudi yang hilang sudah tak terhitung berapa banyak. Memang benar Zoan dan lainnya sudah memiliki informasi yang cukup kuat mengenai siapa yang terkait akan kasus tersebut namun Zoan merasa bahwa informasi tersebut masih kurang, apalagi Zoan dan rekan-rekannya tidak mengetahui jelas markas dimana asosiasi pembunuh beroperasi, baik itu markas cabangnya ataupun markas utamanya.
Desa Ni merupakan desa yang mata pencahariannya mengkhususkan pada penempaan, Banyak alat-alat tempa yang berkualitas yang berhasil Desa Ni buat salah satunya alat-alat perang sepeti pedang, panah, perisai, pakaian pelindung lengkap. Menurut rumor yang beredar baru-baru ini pemimpin desa Ni berhasil membuat senjata baru yaitu Misil Api. Misil Api sendiri memiliki daya rusak sebesar 50% dengan jarak tembak 10 Km, Misil Api sendiri berbentuk senjata Laras panjang. Cara menggunakannya cukup mudah yaitu dengan mengalirkan energi spiritual yang cukup, maka Misil api dapat digunakan. Untuk saat ini Misil api hanya ada didesa Ni, dan pembuatannya juga terbatas yaitu sebanyak 5 buah Misil Api, Itu pun sangat dijaga. Entah siapa yang telah membocorkan dan membuat rumor tersebut. Yang pastinya saat ini didesa Ni sangat ramai dan tak sedikit terjadi pertarungan. Selain rumor mengenai Senjata baru, didesa Ni juga ditemukan sebuah Reruntuhan kuno yang katanya merupakan peninggalan dari Dewa Tempa. Dikatakan juga didalam reruntuhan tersebut terdapat banyak harta salah satunya ada yang merupakan harta utama peninggalan Dewa Penempa. Pemimpin desa Ni bernama Bian Yu. Ia berasal dari klan Yu yang juga merupakan kerabat jauh dari klan Feiz.
Waktu terus berjalan tak terasa sudah 3 jam terlewati. Zoan dan rekan-rekannya yang lain memutuskan untuk beristirahat didekat sebuah pohon, mereka duduk dan memakan beberapa daging kering serta beberapa buah-buahan hutan yang mereka keluarkan dari cincin ruang.
"apakah kita akan bermalam disini kak Zoan?" tanya Suzu sambil terus memakan daging kering.
"Ehm, nampak nya tidak perlu, lagi pula hanya tinggal beberapa saat lagi kita akan sampai didesa Ni." ucap Zoan sambil berjalan menghampiri kuda lalu mengusapkan tangannya kearah punggung kuda tersebut. Mendengar hal itu kemudian Jean,Cause, Zuab, intan dan lainnya, kembali melanjutkan makan dengan cukup santai, sampai suatu ketika mereka mendengar sebuah suara serta munculnya lesatan dari tebasan pedang.
slash....
"haha... hebat juga! Cepat serahkan barang-barang kalian" ucap sosok berpakaian hitam mendarat dan melihat bahwa Zoan dan rekan-rekannya berhasil menghindari serangan tiba-tiba. Tak lupa juga setelah kemunculan sosok berpakaian hitam, datang juga dari beberapa arah lalu berkumpul dibelakang sosok yang berpakaian hitam serta topeng berwarna perak bernomor 19 yang terletak di kening topeng yang dipakainya.
"1..2...3... 100..., aihk, merepotkan! " ujar zoan sesaat menyadari dan menghitung secara kasar.
"Menyerah lah dan serahkan harta kalian!" ucap sang pria bertopeng sambil melipatkan kedua tangannya didepan dada terlihat sombong dan angkuh.
"Bagaimana saudaraku? apa kita akan menyerang sekarang." tanya Jean melalui telepati.
"okeh, tak masalah namun sebelum itu... " ucap zoan sambil melihat kearah Amelia, Sezu dan Suzu yang tepat disamping nya.
"Lia, Sezu dan Suzu kalian tinggal lah diruang artefak dimensi terlebih dahulu. Maaf...!" ucap Zoan sambil melambaikan tangan lalu pusara ruang muncul dan mempersilahkan untuk dimasuki Lia,Sezu dan Suzu.
Walaupun pun sedikit enggan Lia,Sezu dan Suzu memasuki artefak ruang dimensi tersebut. Mereka juga sadar jika mereka terus berdiam diri dan keras kepala maka mereka hanya akan merepotkan dan membebani Zoan dan lainnya.
"Berhati-hatilah mereka memiliki basis kultivasi yang cukup tinggi, Kalian bekerja samalah. Untuk pria bertopeng itu serahkan kepada ku" ucap zoan sambil mengeluarkan pedang dari cincin ruangnya.
"haha,... baiklah kalau itu jawaban kalian. jangan salahkan kami jika bertindak kejam" ucap pria bertopeng yang juga mengeluarkan pedang dari punggungnya.
Wush...
Buumm....
duarr...
serangan demi serangan saling dilancarkan dan berbenturan dengan cukup intens. Meski Zoan dan rekan-rekannya kalah jumlah namun dengan sedikit usaha dan basis kultivasi yang lebih tinggi dari lawannya kecuali pria bertopeng. Pria bertopeng bernomor 19 memiliki basis kultivasi ranah Petapa Diamond tingkat ahli level 2.
Trang.... Trang...
Zoan dan pria bertopeng beradu pedang tanpa ada yang mau mengalah.
"haha... hebat juga!" ungkap pria bertopeng sambil melompat mundur sesaat setelah berbenturan pedang.
__ADS_1
"kau juga " ucap Zoan, mengakui bahwa lawannya memang memiliki kemampuan terkhusus dalam bidang berpedang.
"teknik pedang : Tebasan Neraka!"
wush....
sebuah bilah pedang diselimuti aura berwarna merah serta kobaran api yang terus menerus mengarah kearah Zoan.
Dengan sigap menggunakan teknik teleportasi miliknya, lalu setelah mengatakan tekniknya ia tiba-tiba menghilang lalu muncul kembali di belakang pria bertopeng.
"hm,... teleportasi ternyata. Boleh juga!" ucap sang pria bertopeng menebaskan pedangnya kearah belakang sesaat ia menyadari keberadaan Zoan.
Trang... benturan pedang pun terjadi.
Tak lupa juga setelah menebaskan pedangdan berbenturan pria bertopeng itu melompat mundur dengan cepat.
"hebat... dia menyadari keberadaan ku. padahal saya sudah menutupi keberadaan ku dengan cukup baik." ucap Zoan dalam hati.
"Nampaknya insting bertarungnya benar-benar telah terlatih" gumam zoan kembali, lalu ia melesat berteleportasi kembali dan muncul disamping pria bertopeng.
Trang.... tranggg... benturan pedang pun terjadi, lagi dan lagi. Entah sudah berapa kali mereka berdua saling berbenturan pedang, banyak pohon-pohon bahkan batu-batu yang pecah akibat serangan nyasar dari tebasan pedang antara pria bertopeng dan Zoan.
"Sial.... padahal basis kultivasiku lebih tinggi satu tingkat darinya, tetapi kenapa susah sekali mencari celah nya!" ucap Zoan kesal.
"haha.... bagaimana anak muda, masih sanggup kah bersenang-senangnya?!" ucap pria bertopeng dengan sedikit tertawa dan seringai meremehkan.
"Basis kultivasi mu memang lebih tinggi satu tingkat dari ku namun pengalaman bertarung mu masih kalah dari ku haha...!" ucap pria bertopeng bersiap kembali melancarkan teknik berpedang nya kembali.
Zoan sendiri berada di Asia kultivasi ranah Petapa Supreme tingkat Dasar level 1 sementara sang pria bertopeng berada diranah Diamond satu tingkat dibawah Zoan. Akan tetapi dengan semua pengalaman tempur yang telah ia lewati maka pria bertopeng itu dapat mengimbangi Zoan dengan baik.
wush....
slash....
slash ....
cruattt.....cruattt....
"sialan... !" ujar zoan sambil terus bergerak mundur dan menutupi beberapa luka bakar tebasan pedang yang berhasil mengenai lengannya.
"teleportasi!" ucap Zoan
wusshhh... tiba-tiba ia menghilang dan muncul kembali didepan pria bertopeng beberapa detik kemudian disertai gumaman teknik yang diucapkan:
"Teknik pedang bintang : tebasan Taurus.."
"Tarian bintang ...!"
"Zona pedang bintang....!" ujar zoan sambil terus menerus menyerang kearah pria bertopeng.
Zoan menggunakan tiga teknik pedang bintang sekaligus, dan cukup berhasil untuk mendesak pria bertopeng hingga melompat mundur, dan juga teknik tersebut membuat Zoan terlihat terengah-engah. Selain menguras energi, teknik pedang bintang juga berhasil membuat fisik Zoan melewati batasnya.
__ADS_1
"hah...hah... melelahkan sekali !" ucap Zoan sambil terus mengatur nafas yang masih terengah-engah.
"Bocah tengik, teknik mu memang merepotkan dan hal itu membebani tubuhmu, hehe..."ucap sang pria bertopeng melesat kearah Zoan dengan pedang bersiap menebas tubuh.
"Teleportasi...!" ucap Zoan sesaat sebelum serangan tiba, ia menghilang dan muncul kembali cukup jauh dari pria bertopeng.
"ahkkk,... lagi-lagi teleportasi. Dasar bocah tengik, kesini kauu... !" ucap sang pria bertopeng kesal.
Sementara itu disisi rekan-rekan Zoan, mereka terlihat sedang bertarung serta saling melindungi dan melengkapi.
"Pukulan air : Penghancur gunung!" ungkap Jean memukulkan kepalan tangan nya dan dari kepalan tangannya itu dilapisi dengan energi berelemen kan air.
bush....
byurr....
semburan air dari kepalan tangan Jean menyembur keluar dan tepat mengarah pada 10 lawan nya sekaligus.
wushh....
slash.... Duarr..... sebuah serang tiba-tiba berhasil dihalau oleh teknik milik Zuab yaitu teknik tanah : Dinding tanah,
"God job brother! " ucap Cause sambil menepuk pundak Zuab.
"Okeh, tak masalah" ucap Zuab sambil terus memerhatikan sekitar.
"Wind night killer !" ucap Cause tak lama angin berhembus, Semua angin tiba-tiba mengarah kearah 50 orang sekaligus. Orang-orang tersebut adalah bawahan dari pria bertopeng.
"arghh..., kenapa tangan ku! "
"argh...., kenapa kaki ku tidak bisa digerakkan?"
"argh... kenapa?!" ucap orang-orang yang terkena teknik milik Cause, Wind night killer merupakan teknik berelemen kan angin. flukturasi angin tersebut sangat lembut nan dingin bagaikan dihampir oleh ribuan ton es. Teknik tersebut tidak membuat luka luar namun teknik tersebut akan menyerang organ dalam secara langsung dan membuat siapa saja yang menerimanya tidak dapat menggerakkan tubuhnya selama 1 jam kedepan.
"Intan, saatnya bagian mu!" ucap Cause sesaat melihat teknik yang ia keluarkan sudah menjalar kepada lawannya.
Tanpa banyak bicara intan pun dengan cepat menebaskan sabitnya kearah 50 orang yang telah terpengaruhi oleh teknik Cause sebelumnya.
wush....
"Light step...!"
" tebasan Cahaya !" ucap intan melesat ke sana kemari sambil terus menebaskan sabitnya. Ia menggabungkan dua teknik sekaligus, dalam waktu kurang dari 10 menit ia telah berhasil memusnahkan 50 orang tersebut.
Tak mau kalah dengan yang lainnya Jenita pun dengan cepat menusukan tombaknya serta tak lupa juga ia menggabungkan tekniknya tombaknya dengan teknik elemen ruang yang ia miliki.
"arghh...!"
" argh...!"
"arrgghhh....!"
__ADS_1
Tusukan demi tusukan tombak yang Jenita lakukan berhasil melukai lawan-lawannya. Jenita memang belum menguasai teknik tombak dengan benar namun karena elemen ruang yang ia miliki serta banyaknya lawan yang ia hadapi meski hanya sembarang menyerang, ia berhasil mengenai tepat pada lawan lawannya. Setiap tusukan dan teknik ruang yang digabungkan oleh Jenita hampir semuanya mengenai sasarannya. Pada awalnya ia(Jenita) mual sesaat melakukan itu kepada lawannya. Bagaimana tidak? membunuh lawan merupakan hal yang mengerikan menurut pandanganya, namun seiring berjalannya waktu sedikit demi sedikit ia mulai membiasakannya.
Pertempuran Zoan dan rekan-rekannya terus berlanjut. Hingga tak terasa Matahari sudah berada diatas kepala mereka. Teriakkan, ledakan saling berbenturan. Darah segar berceceran diatas tanah, batang pohon, batu menjadikan pemandangan yang mengerikan. Ya, memang seperti itulah dunia Kultivator. Pemandangan seperti itu bagaikan makanan sehari-hari kultivator, yang kuat berkuasa yang lemah ditindas.