Legenda Pendekar Peniru {The Impersonator}

Legenda Pendekar Peniru {The Impersonator}
Episode 88 : Serpihan Jiwa Wuksi Prozz


__ADS_3

Setelah pertemuan itu bubar Zoan pun pergi ke halaman depan, untuk melihat kedua anak yang saat ini sedang bermain dengan sang Singa Es serta terlihat juga pak Ija yang sedang mengolah kayu.


Pak Ija sebenarnya bukan hanya menjual kayu bakar dan menjual Madu, ia juga menyukai hal-hal yang menarik dari kayu, seperti saat ini. Pak Ija sedang memahat dan mengukir disebuah kayu datar.


Memahat atau pun mengukir merupakan salah satu dari teknik dasar penempaan, meski begitu pak Ija membuat sebuah penemuan baru yaitu menciptakan sebuah hal yang menarik dari sebongkah kayu.


Kalau pada umumnya para penempa dihormati karena dapat membuat berbagai senjata, namun pak Ija justru dihormati karena penemuan yang menarik dan bahkan ia terkenal dengan sebutan The Wood Conqueror(sang Penakluk Kayu).


Pak Ija sendiri memilih untuk menekuni hal tersebut dari pada menjadi kultivator. Selain tidak perlu memakai terlalu banyak energi spiritual yang menguras, teknik pahatan dan ukiran pak Ija cukup banyak memiliki penggemar dan itu cukup berhasil untuk menghidupi dirinya dan putrinya Amelia. Untuk istrinya sendiri telah cukup lama meninggal.


Zoan pun menghampiri pak Ija,dan langsung duduk serta menyapanya.


"Paman, masih sama seperti dulu yah! menyukai hal-hal yang unik serta menarik. memang tak salah orang-orang memanggil paman dengan julukan itu ." ungkap Zoan memperhatikan apa yang dibuat kali ini oleh pak Ija.


Ia masih fokus dengan pekerjaannya bahkan suara berjalan Zoan tak disadarinya, baru saat Zoan berkata-kata. Pak Ija pun menoleh kearah Zoan. Alasan Zoan berjalan tentu saja karena jaraknya dekat lagi pula ia tak ingin membuang energi spiritual nya untuk melakukan hal itu yang menurutnya kurang efektif.


"Eh,.. nak Zoan hehe ! maaf paman tidak menyadarinya. Ini paman lagi membuat sebuah ukiran dengan bentuk pohon yang merupakan lambang dari kelompok, nak Zoan." Ujar pak Ija sedikit menggaruk kepalanya yang tak gatal dan disertai tawa khass nya.


"Ouh, Iyah tak perlu dipikirkan. Maaf mengganggu waktunya, silahkan dilanjut " ungkap Zoan merasa tak enak karena ia merasa sudah mengganggu pekerjaan pak Ija. Ia pun mulai berjalan pergi menuju dua anak kecil yang terlihat masih bermain kejar-kejaran dengan Viktor sang Singa es.


"Haii... Dong'er, Mei'er ! apakah kalian nyaman dan menyukai tinggal disini?" tanya Zoan berjalan menghampiri serta menyapa kedua anak kecil itu, sementara itu tangan kanannya kini mengelus bulu halus nan dingin milik sang Singa es.


Sang Singa es pun tak mempermasalahkannya bahkan ia cukup senang ketika bulunya disentuh oleh tangan tuan mudanya itu.


"Iyah, aku suka tinggal disini. Terimakasih !" ucap Dong Peng.


"Em... Mei'er juga suka tinggal disini, terimakasih kakak !"


Mendengar hal itu tentu Zoan senang dan langsung mengelus kedua rambut anak itu. Zoan sengaja tidak langsung mengajari mereka berdua karena ia ingin mereka sendiri yang benar-benar memutuskannya, yah meski awal-awalnya mereka ingin menjadi kuat namun Zoan tak mau terlalu mengekangnya. Dan lagi yang lebih penting adalah kedua anak itu belum benar-benar bisa melupakan kenangan kedua orang tuanya, maka dari itu Zoan membiarkan nya bersenang-senang sesuka hati mereka.


" Mari kita masuk tak akan lama lagi malam akan datang, Dan lagi bukan kah kalian pasti lapar "ungkap Zoan mengutarakan maksud sebenarnya mengunjungi kedua anak itu. Memang benar saat selesai melakukan pertemuan itu berakhir tepat pada sore hari.


"Emm... Mei'er lapar, baiklah mari makan " ungkap Mei Su dengan suara khas anak perempuan berumur 7 tahun.


Sementara itu Dong Peng hanya mengangguk dan mengikuti Zoan disamping, terlihat dari raut wajah kedua anak itu kini telah mulai cerah dari pada saat dilakukannya resepsi pemakaman orang tuanya.

__ADS_1


Baik pemakaman intan,Jenita, 5 orang anggota World Explorer ataupun pemakaman kedua orang tua anak itu berada ditempat yang sama. yaitu berada di belakang halaman markas tak terlalu jauh dari makan kakek Zoan Prozz.


Zoan dan kedua nak itu memasuki markas, tak lupa juga mengajak pak Ija dan juga sang Singa es.


Cukup aneh memang karena Zoan membawa seekor singa kedalam markas, namun semua itu wajar saja karena mengetahui siapa sebenarnya singa es itu. Zoan juga mengajak Syi Nie(ibu Zuan lu), Suzu feiz dan Sezu feiz untuk makan bersama dari artefak ruangnya.


Kini diruang makan markas World Explorer cukup ramai dan menambah kesan kekeluargaan juga mempererat tali persaudaraan. Selama makan itu semua hanya tidak ada yang membahas hal-hal yang dapat merusak suasana, makan yang tenang, santai dan dipenuhi canda tawa merupakan sebuah impian yang menjadi kenyataan ditempat itu.


Suasana itu berlalu dengan cukup cepat hingga gak terasa acara makan bersama itu mendekati akhir.


Ada yang sebagian langsung pergi keluar menatap Bintang dan cahaya bulan serta berjaga guna keamanan ditempat tersebut. ada juga yang langsung berkultivasi serta mempelajari teknik cukup giat, namun ada juga yang langsung pergi ke kamar tidur guna beristirahat. Semua aktivitas itu mereka jalani malam itu dengan damai dan tentram terkhususs malam tersebut.


" Malam yang cukup tenang. Baguslah !" ucap Zoan santai menatap cahaya bulan dan tebaran bintang menghiasi langit gelap dibalik jendela kamarnya.


whushh....


Sebuah cahaya berwarna putih masuk kedalam kamar Zoan, melihat hal itu membuat sang pemilik kamar waspada. Hingga beberapa detik kemudian cahaya itu berubah wujud menjadi seseorang kakek tua berumur 61 tahun.


"Kk-kakek...!" ujar Zoan sedikit terkejut dengan kehadiran orang tersebut yang tak lain adalah kakek nya Wuksi Prozz. Ada perasaan senang, sedih, marah karena tidak bisa melindunginya. Zoan cukup ingat sesaat dirinya mengetahui bahwa kematian kakeknya itu tidak seperti pada umumnya.


"Cucuku, jangan bersedih dan ingat lah untuk menjadi lebih kuat lagi. Mungkin saat kakek menyampaikan ini kakek sudah tiada namun kakek percaya cucuku itu sudah tumbuh besar nan gagah seperti ayahmu dan memiliki rupa wajah seperti ibunda mu . Satu hal yang perlu kamu ketahui kita bukan berasal dari Dunia Galaxy ini, kita berasal dari Dunia yang bernama Dunia Gugusan. Kamu harus mengembalikan kejayan klan Prozz kita, temui jalan mu sendiri. Berjuanglah untuk menjadi yang terkuat agar kau dapat mengetahui asal usul mu yang sebenarnya dan apa yang sebenarnya telah terjadi dimasa lalu. Maaf kakek hanya bisa memberitahumu sekarang serta sedikit informasi, Kakek waktu itu tidak bisa memberikan beban ini pada mu, nak. Kakek harap kamu memaafkan kakek, Ingatlah ini hanya Serpihan jiwa yang aku sisakan, serta serpihan ini akan aktif saat waktu yang sudah aku tentukan." ungkap sosok yang merupakan kakek dari Zoan Prozz.


Setelah mengatakan itu tiba-tiba cahaya yang berwujud kakek Zoan itu berubah menjadi sebuah cahaya berwarna putih lalu melesat masuk kedalam kening Zoan.


Zoan tidak memberontak karena saat itu ia masih larut dalam rasa sedihnya. Berbagai kenangan terlintas dipikirannya. Berawal dari seorang anak yang selalu ceria dan penuh dengan ketaatan terhadap semua perintah kakeknya.


" zoan'er kamu bantu kakek masukan kayu-kayu ini kebelakang !" ungkap sang kakek sedikit berteriak.


" *B*aik kek, sini biar aku bantu...! " ucap seorang anak yang baru berusia 7 tahun menghampiri. Anak tersebut dengan cukup cekatan dan cepat membatu kakeknya itu.


"Kakek,...kakek tunggu dan duduk disini saja, biarkan Zoan'er ambilkan minum " ujar dan anak sesaat telah selesai memasukan kayu-kayu bakar yang dibawa kakeknya itu, sang anak bergegas masuk kedalam untuk menyiapkan air putih serta seperti biasa membawakan beberapa umbi rebus sebagai teman dari air minum yang ia suguhkan kakeknya itu.


Terlihat sang kakek hanya menggelengkan kepala antara senang, bangga dan sedikit merasa bersalah melihat cucunya itu. Bagaimana tidak, sudah beberapa kali, cucunya itu menanyakan tentang kedua orang tuanya, namun dengan berbagai alasan sang kakek berhasil mengalihkan pembicaraan itu.


"Hem,...Andai orang-orang itu tidak membantai klan kita. Haihhh... keserakahan benar-benar dapat membuat orang-orang menjadi buta " gumam dan kakek menghela nafas panjang sambil menerima secawan air serta melihat kearah cucunya cukup dalam.

__ADS_1


"Apa kek?kenapa?..." tanya sang anak umur 7 tahun itu polos sesaat mendengar gumaman dan tatapan mata dari kakeknya yang mana menurut anak itu kurang mengerti.


"ah,... tidak-tidak. Kakek hanya senang dan bangga memilik cucu seperti Zoan'er" ujar sang kakek mengalihkan pembicaraan sambil mengelus kepala Zoan kecil.


Ingatan-ingatan seperti itu kembali teringat di kepala Zoan, akan tetapi suatu ketika sesaat sebuah cahaya(serpihan jiwa) itu memasuki pikirannya(Zoan). Sebuah ingatan baru muncul di kepalanya.


Zoan tiba-tiba melihat sebuah ingatan, di mana ledakan demi ledakan terus menggema di tempat yang ia lihat. Ia melihat banyak nyawa yang tergeletak dan tertimpa oleh berbagai bangunan.


Genangan darah bertebaran dimana-mana, teriakan kesakitan dan suara tawa kepuasan juga saling beriringan dengan rentetan ledakan yang terus terjadi.


Duarr... duarr...


"Argh,.. tolong ampuni kami " Ungkap seorang pria paruh baya sambil terus memeluk istri dan anak perempuan nya yang berumur 15 tahun.


Pria paruh baya itu memakai pakaian biru langit serta sebuah lambang pedang dan awan berwarna putih di punggungnya, anak dan istrinya pun nampak memakai pakaian yang sama.


"Ahahaha... tidak akan kami ampuni, Klan kalian harus musnah di sini ! " ungkap sosok berpakaian putih serta terdapat lambang burung Elang berwarna Emas di punggungnya, sosok itu masih terus menendang dan memukul punggung pria paruh baya yang kian lama melemah serta mengeluarkan banyak darah.


"Apa yang sebenarnya mereka lakukan? kenapa tidak melawan? cih... apakah orang-itu menggunakan trik licik?!" ucap Zoan ditengah-tengah sesaat melihat kilasan ingatan itu.


Memang benar apa yang di pikirkan Zoan, orang-orang yang melakukan serangan itu menggunakan cara licik, terlihat dari sebuah energi berwarna merah darah yang menyelimuti si korban-korbannya.


Pria paruh baya itu sebenarnya bukan tidak bisa melawan namun ada sesuatu hal yang menghalanginya yaitu sebuah kubah energi berwarna merah darah menyelimuti mereka sehingga mereka tidak bisa melakukan perlawanan layaknya seorang kultivator.


Darah terus keluar dari beberapa lubang pria paruh baya itu. Hingga tak lama pria itu pun mati kehabisan darah.


Kilasan ingatan kini berganti yang mana terlihat seorang anak sedang dalam gendongan seorang kakek tua, berbagai halangan terjadi saat sang kakek berlari serta melesat, hingga tanpa sengaja kakek tua dan anak kecil itu tergelincir lalu terjatuh kedalam lubang, nyatanya dibalik lubang itu terdapat sebuah Pusaran kegelapan, Pusaran itu adalah portal perpindahan ruang.


Whussh...


Sebuah kilasan pun berakhir di situ, Pada saat itu juga Zoan kembali kedalam kesadarannya. Sambil memegangi kepalanya, ia mulai mencerna kejadian yang barusan ia alami itu.


Zoan yang sekarang bukanlah Zoan yang dulu, dia yang sekarang cukup paham dengan semua kejadian ini. ia tahu bahwa pria paruh baya yang melindungi istri dan anaknya itu adalah ayah, ibu dan kakak perempuan nya. Sementara sang kakek yang berlari sambil menggendong anak kecil itu adalah dirinya dan kakeknya.


"ah jadi seperti itu, aku tak menyangka bahwa aku memiliki seorang kakak terlebih kakak ku adalah perempuan. Haiih... dan lagi siapa sebenarnya orang-orang itu..." ungkap Zoan penasaran dengan orang-orang yang menjadi lawan dari klan nya itu.

__ADS_1


"Tapi tunggu... ! Orang orang itu memakai pakaian putih serta memiliki corak burung Elang berwarna Emas." ungkap Zoan mengingat ngingat-ngingat ciri-ciri dari orang yang menyiksa ayah, ibu dan kakak nya itu.


"Cih,... tunggu saja ! Keparat sialan." ungkap Zoan disertai aura dan tatapan membunuh yang merembes keluar.


__ADS_2