
wssh...
wsshh...
pusaran energi dalam portal ruang yang tak lain adalah teleportasi, memberikan tekanan kepada sepuluh orang itu. Ke sepuluh orang tersebut berada diranah Diamond sementara sebelumnya sang pemimpinnya Gato berada diranah Supreme Platinum God, mungkin hal itu yang jadi pemicu kekalahan pertarungan antara paman Sezu yang berada diranah Diamond God Vs Gato.
"Bertahanlah, pusatkan tubuh energi spiritual kalian lalu alirkan ke sekitar tubuh " ucap zoan mengarahkan serta sedikit memberikan energi ya untuk melindungi ke sepuluh orang dari terpaan Angin Ruang dan Waktu.
"Baik tuan, " ungkap mereka sambil terus melakukan apa yang telah Zoan perintahkan.
"Sebentar lagi kita akan sampai bersiaplah!" ucap Zoan melirik kearah depan.
Di area luar portal tepatnya didepan halaman markas World Explorer, mulai terlihat sebuah pusaran portal ruang.
wush....
wush....
wussh.... sosok sosok yang dari dalam portal keluar, perlahan tapi pasti sosok-sosok tersebut mulai berkumpul didepan halaman markas World Explorer, hingga sampai pada satu sosok terakhir dan portal ruang pun menutup.
"Selamat datang tuan muda!" ucap Jai dan Leo bersamaan dengan sedikit menunduk.
"Baik terimakasih. Bagaimana kabar kalian?" ucap Zoan berjalan menghampiri Jai dan Leo.
"baik-baik saja, mereka siapa?" tanya Jai sambil melirik kearah orang-orang yang ada dibelakang Zoan.
"oh, mereka adalah teman kita. Mari kita masuk " ungkap Zoan tak lupa juga ia mengajak kesepuluh orang tersebut untuk mengikutinya masuk kedalam markas.
Sesampainya diruangan yang biasa dijadikan sebagai tempat rapat, zoan duduk dan memulai mengenalkan dan menceritakan ke sepuluh orang tersebut.
Jai dan Leo pun cukup terkejut ternyata kesepuluh orang yang disebut teman oleh Zoan adalah budaknya, meski begitu baik Leo ataupun Jai tak mempermasalahkannya malahan mereka setuju dengan keputusan Zoan, karena selain menambah kekuatan world Explorer kesepuluh orang tersebut juga dapat dijadikan sebagai salah satu batu loncatan agar menaikan reputasi dan mempermudah dalam mengerjakan sebuah urusan ataupun misi yang akan kelompok mereka terima kedepannya.
"oh, jadi seperti itu. Baiklah serahkan kepada kami, kami akan melatih mereka dan tentunya menjadikan mereka sosok yang cukup membanggakan." ucap Leo sambil memangkupkan tinju kedada nya. Jai pun menganggu menyetujui perkataan Leo.
"okeh,kalau begitu saya pamit. Terus waspada dan jangan kendurkan penjagaan." ungkap Zoan melambaikan tangan, lalu muncul cukup banyak sumberdaya didepan Leo, Jai dan ke sepuluh orang yang sekarang secara resmi menjadi bagian dari anggota World Explorer.
"Gunakanlah sumberdaya ini untuk meningkatkan kekuatan kalian berdua, jangan lupa juga bagikan kepada mereka sumberdaya dan cincin ruang ini" ungkap Zoan sambil melirik kearah ke sepuluh orang itu.
"Baik, tuan muda" ucap Jai dan Leo bersamaan.
"Dan untuk kalian berlatihlah dengan giat, kalian sudah menjadi bagian dari keluarga ku mulai saat ini. jangan kecewakan ku!" ungkap Zoan sambil melirik kearah ke sepuluh orang yang juga hadir.
"Baik tuan muda Zoan, kami berjanji tak akan mengecewakan tuan muda dan akan berlatih dengan giat" ucap salah satu dari kesepuluh orang menjawab pertanyaan Zoan, tentu zoan pun sangat senang mendengar hal itu.
__ADS_1
Awalnya ia memang tak peduli dengan mereka namun sesaat setelah sedikit mempertimbangkan banyak hal ia mulai menganggap mereka bagian dari keluarganya walau masih ada segel budak dalam ke sepuluh orang tersebut.
Zoan memang kejam terhadap musuh-musuh nya serta tak pandang bulu, akan tetapi ia akan sangat lembut bagaikan sutra ketika dihadapan orang yang ia anggap keluarga sendiri. pembicaraan pun diakhiri dengan diadakannya makan-makan dengan satai dan tenang.
3 jam lebih Zoan menghabiskan waktu di markasnya itu, setelah dirasa cukup ia pun pergi kehalaman depan dengan diiringi oleh Leo dan Jai tak lupa juga 10 anggota baru yang saat ini ikut mengantar kepergian Zoan.
"Sampai jumpa, Saya nantikan peningkatan kekuatan kalian" ucap Zoan sebelum menghilang berteleportasi.
...****************...
Di depan rumah Sezu dan Suzu berada
"Kakak Lia,apakah kakak Zoan akan menerima kami" ucap Sezu terlihat khawatir sambil memegangi tangan Amelia yang saat ini mereka bertiga sedang duduk dibangku kayu halaman rumah.
"em, percayalah. Ia pasti akan menerima kalian" ucap Amelia sambil mengelus kepala kedua anak kembar tersebut.
flash back on :
Beberapa waktu setelah zoan pergi menuju markas, Sezu dan Suzu tersadar dari pingsannya.
Tubuh kedua anak tersebut bergetar cukup hebat sesaat mengingat kembali kejadian-kejadian saat terjadinya pembunuhan pamannya sampai pada penyiksaan yang dilakukan oleh Zoan kepada orang yang bernama Gato.
Dengan cepat Amelia menghampiri kedua anak tersebut dan memeluknya. Sementara untuk Jean, dan lainnya pergi meninggalkan Amelia dan kedua anak tersebut. Jean dan lainnya pergi kearah rumah kepala desa Feiz untuk melaporkan apa yang telah terjadi. Dan sampai saat ini Jean dan lainnya belum kembali.
"kalian ini! bukan sudah ku bilang untuk pulang lebih dahulu, malah kesini. Dasar laki-laki" ucap intan kesal.
"hehe... tak apalah sekali-kali kita mampir dan minum sedikit" ucap Zuab sambil kembali menuangkan minuman kedalam gelasnya.
Jean, Jenita, intan, Cause dan Zuab saat ini mereka berada didalam bar. Setelah selesai memberikan laporan mereka jalan-jalan dan tanpa sengaja melihat sebuah toko yang bernama Bar Pelangi. Karena sedikit tertarik, para laki-laki terutama Zuab sebagai pelopor ide untuk memasuki bar tersebut, ia mengajak yang lainnya untuk mampir. Mau tak mau Jenita dan intan pun mengikuti mereka hingga saat ini. Hampir sepanjang Waktu tepatnya saat didalam bar intan terus menggerutu kesal.
"Sudahlah biarkan saja, mari kita pergi dan tinggalkan saja mereka" ucap Jenita bersiap melambaikan tangan untuk melakukan teleportasi ruangnya menuju rumah Sezu.
Namun tiba-tiba Jean menepuk pundak Jenita dan berkata, " tunggu sebentar lagi!" sambil dengan wajah yang cukup menjengkelkan karena Jean sedikit mabuk.
pletak...
pletak ...
pletak...
"Kau ini Cepat, kalau tidak kami akan tinggalkan saja disini sampai sepuasnya" ucap intan sesaat setelah memberikan beberapa pukulan kearah Jean yang sedang dalam keadaan mabuk cukup berat. Dalam pukulan nya itu intan mengalirkan sedikit energi spiritual nya selain agar menambah rasa sakit juga berguna untuk menyadarkan orang yang sedang mabuk.
"ahkk... sakit, kau ini. kenapa tidak pelan-pelan sedikit hah!" ucap Jean tersadar dari mabuknya sambil terus memegangi kepalanya yang sedikit benjol.
__ADS_1
"apa kau bilang, pelan-pelan matamu hah! apakah kau lupa kita saat ini sedang melakukan penyelidikan selain itu kau ini sebagai ketua sementara bukannya memberi contoh yang baik malah ikut-ikutan. Apa kau tak malu saat saudara mu Zoan mengetahui kelakuanmu...!" ucap intan sambil terus mengomeli Jean.
"ah... itu-itu hehe. maaf maaf, baiklah mari kita kembali ucap Jean sesaat sesudah intan berhenti mengomelinya. Tak lupa juga ia menyadarkan kedua temannya yang masih mabuk untuk segera kembali kerumah Sezu sebab mungkin saudaranya, Zoan akan mencari mereka.
Mengingat dan mendengar ucap Jean, bahwa rekanya Zoan akan kemungkinan tiba, Cause dan Zuab pun langsung beranjak berdiri dari duduknya.
"Mari kita pergi" ucap Jean sesaat melihat kedua temannya itu sudah sadar dari mabuknya.
Jean, Cause, Zuab, Jenita, dan intan keluar dari bar tersebut tak lupa juga membayarnya. Mereka berlima pun mencari tempat yang cukup sepi, setelah dirasa tempat tersebut sepi dan aman, Jenita pun melambaikan tangan, tak lama mereka menghilang dan tiba-tiba muncul kembali didepan rumah Sezu. Bersamaan dengan itu terlihat Zoan dan Amelia yang menatap Jean dan lainya yang baru muncul.
"Dari mana saja kalian!" ucap Zoan bertanya dengan santai.
"kami dari bar saudara ku" ucap Jean sambil menunduk malu begitu juga lainnya.
"aihk, kalian ini. sudahlah lain kali jangan melakukan hal lagi. Terutama kamu Jean bukan kah kamu saya beri tanggung jawab, Mengapa kamu malah ikut-ikutan?" ucap Zoan sambil terus melirik kearah Jean yang masih menunduk.
"itu-itu karena..." ucap Jean namun ucapannya langsung terpotong lagi oleh Zoan.
"Sudahlah saya tak perlu banyak alasan namun yang pasti jika kalian ingin melakukan hal lain, kalian jangan lupa untuk memberitahukan kabar dan dimana kalian berada" ucap Zoan.
"Mari kita masuk" ucap zoan mengajak lainnya untuk memasuki rumah Sezu.
Amelia, Sezu dan Suzu sudah pergi masuk lebih dahulu sesaat Zoan menceramahi Jean dan lainnya. Zoan juga tak mempermasalahkan hal itu, Amelia, Sezu dan Suzu sedang menyiapkan beberapa makan didapur.
Zoan,Jean dan lainnya duduk tak lama dari arah dapur terlihat Amelia serta Suzu dan Sezu membawakan beberapa makanan yang sudah matang. Sedikit berbincang-bincang mereka pun akhirnya memakan makanan tersebut dan akhirnya selesai.
Setelah makan Amelia mewakili Sezu dan Suzu pun berkata kepada Zoan. Bahwa Sezu dan Suzu ingin ikut bersama mereka, Zoan pun sedikit mengerutkan alisnya dan bertanya.
"Apakah kalian yakin? jalanan yang akan kalian lalui setelah ikut bersama kami akan jauh berbeda. Apakah kalian serius?" tanya Zoan sambil melirik secara bergantian kearah Sezu dan Suzu.
"Kami yakin kak Zoan. mohon ijin kan kami" ucap Sezu.
"iya Kakak Zoan, kami yakin dan ingin ikut mohon ijinkan kami" ucap Suzu tak mau kalah dengan disertai sorot mata yang penuh tekad.
Melihat hal itu Zoan menghela nafas dan mau tak mau ia menerima Sezu dan Suzu.
"Baiklah, kalian boleh ikut bersama kami namun untuk saat ini kalian akan tinggal didalam artefak dimensi. Kalian berlatihlah disana, ketika sudah waktunya saya akan mengeluarkan kalian" ucap Zoan sambil terus melirik kearah Sezu dan Suzu.
"Lia, kamu juga akan ikut bersama Sezu dan Suzu. Berlatihlah didalamnya, selain itu disana juga kalian akan bertemu dengan teman kalian" ucap Zoan kembali melanjutkan ucapannya.
"Baiklah tak masalah" ucap Amelia.
"Kita akan berangkat besok lebih baik hari ini kita bermalam disini. Dan Jean kamu pergilah kerumah kepala desa Feiz untuk meminta ijin mengenai keinginan Sezu dan Suzu yang akan ikut pergi meninggalkan desa" ucap zoan melirik kearah Jean.
__ADS_1
"Baik saudaraku " ucap Jean lalu ia pergi keluar, menuju kearah rumah kepala desa.