Legenda Pendekar Peniru {The Impersonator}

Legenda Pendekar Peniru {The Impersonator}
Episode 78 : Hiruk-pikuk Kekacauan


__ADS_3

1 jam terlewati dengan cukup cepat, Zoan dan lainnya tidak perlu melakukan teleportasi karena hanya dalam waktu kurang dari 35 menit ia dan lainnya telah tiba di desa Souso, desa yang merupakan berbatasan dengan lembah persik kematian.


Setibanya didepan pintu desa, Zoan dan lainnya melihat pemandangan yang cukup mencengangkan, yang mana pemandangan itu adalah 3 orang pria paruh baya yang ditusukkan menggunakan sebuah tongkat layaknya sate, didepan pintu masuk desa. Mereka yang melihat itu menahan nafas ngeri akan kekejaman yang dilakukan oleh para kelompok cabang asosiasi pembunuh itu.


"Kejam...!" ungkap Jenita dan intan secara bersamaan.


Sementara itu Zoan,Jean dan Zuab terlihat mengepalkan tangannya hingga berdarah, karena rasa marah yang mereka tahan.


"Kita kuburkan mereka dengan layak" ungkap Zoan tanpa basa-basi langsung melesat kearah salah satu pria paruh baya yang telah jadi mayat itu. Tak lama Zuab dan Jean pun menyusul dibelakang.


Mereka mengambil ketiga mayat itu, lalu memisahkan dari tombak kayu yang menusuk tubuh mereka. Setelah itu mereka menggali tanah dan menguburkan ketiga mayat itu dengan layak.


Setelah itu mereka memasuki gerbang desa tersebut.disepanjang jalan desa mereka melihat pemandangan yang cukup menyesakan. Terlihat bebagai pria dan wanita paruh baya yang dipaksa bekerja menanam tanaman herbal, bahkan cukup banyak para pengemis yang meminta belas kasih para pendatang. Meski kebanyakan para pendatang itu adalah aliran hitam bahkan tak sedikit pengemis yang menjadi korban kekerasan dari para pendekar aliran hitam yang berkunjung itu.


Zoan dan rekan-rekannya berjalan lurus menelusuri desa tersebut, hingga suatu ketika ada 5 orang dengan pakaian berwarna hitam menghalangi Zoan dan rekan-rekannya.


" Berhenti !" ungkap seseorang di antara ke lima orang menghentikan Zoan dan lainnya.


"Serahkan semua harta kalian hehe...., dan kedua perempuan yang ada disisi kalian. Kalau kalian masih sayang nyawa kalian !" ungkap salah seorang berpakaian baju hitam melanjutkan kembali ucapannya.


Mendengar dan melihat hal itu Zoan melirik kearah rekannya, serta mengisyaratkan dengan satu jari telunjuknya, untuk menyisakan satu orang guna mengorek beberapa informasi.


"Biarkan kami saja ketua...!" ucap intan yang di angguki oleh Jenita.


"Baiklah, jangan terlalu kasar!" ucap Zoan sesaat melihat intan dan Jenita melesat kearah 5 orang yang menghentikan jalan itu.


"Satu... Dua... " ucap intan sesaat menebaskan sabitnya kearah kedua pria berpakaian hitam. disisi lain Jenita jungan melakukan hal sama yaitu langsung menghabisi nyawa kedua lawannya.


slash... Slash...


"Tiga.... Empat..." gumam Jenita menusukan tombaknya kearah kedua orang berpakaian hitam secara bergatian


Clabb.... Clabb...


" arggh...arggh..."


" argh..arrghh..."


Teriakan kesakitan terdengar dan hal itu menarik perhatian orang-orang baik dari para pendatang atau pun para warga yang tinggal di desa itu. orang-orang yang melihat pertarungan kedua perempuan itu bergidik ngeri bagai mana tidak, kedua perempuan itu dengan cepat dan hanya dalam hitungan detik mereka berhasil memberikan luka yang dalam bahkan sampai menebaskan senjatanya dengan disertai senyuman akan kesenangan dari sebuah pembunuhan.


Kini terlihat hanya tersisa satu orang saja yang berpakaian hitam itu dengan disertai tubuh yang terus bergetar ketakutan. Terlihat orang yang berpakaian itu berusaha untuk menyerang intan, dengan sekali tebasan intan berhasil memotong lengan pemuda tersebut.


Seakan tak mau kalah kini Jenita menusukan tombaknya kearah tangan kiri nya yang juga berhasil merobeknya, dari luar tangan kiri itu masih terlihat menyatu dengan tubuh namun tetap saja tangan kiri itu tidak dapat digunakan lagi karena semua urat tangan dan bahkan tulang tangannya sudah patah akibat dari teknik kombinasi Jenita.


"Sudah-sudah, serahkan sisanya kepada ku" ungkap Zoan berjalan menghampiri intan dan Jenita yang akan menyiksa seorang berpakaian hitam itu.


Ctak... Zoan menjentikkan jarinya dan tak lama sebuah kobaran api membakar ke empat mayat berpakaian hitam itu hingga menjadi abu dan menyebar seketika tertiup oleh hembusan angin.


"Menyerahkan !" ungkap Zoan singkat sesaat melihat orang yang tersisa itu masih memberikan tatapan tajam nan penuh dendam.

__ADS_1


Setelah mengatakan itu Zoan langung menatap mata orang yang berpakaian hitam itu serta tangan kanannya menyentuh kepalanya.


" Teknik telepati tingkat 2 : Pemecah Pikiran!"


Zoan mulai memasuki dan menjelajahi pikiran orang yang berpakaian hitam tersebut. 5 menit terlewati.


"hmm, ternyata seperti itu. Rumah Bunga 69, jadi mereka berada disitu, tepatnya dibawah tanah rumah bordil tersebut." ungkap Zoan sebelum menyelesaikan penelusurannya.


" Bagaimana apakah sisa-sisa orang itu ada disekitar sini?" tanya intan ketika jiwa Zoan telah kembali ke tubuhnya.


"Ya, mari ikuti aku kita akan memusnahkannya sekarang "ucap Zoan langsung melesat kearah Rumah Bunga 69 berada.


Tentu sebelum pergi Zoan membakar pria yang berpakaian hitam itu hidup-hidup walau dalam keadaan sekarat sampai menjadi abu, rekan-rekan Zoan yang melihat hal itu menggeleng kepala dan berkata dalam hati masing-masing mereka bahwa apa yang dilakukan Zoan lebih kejam dari mereka.


Di bawah tanah rumah 69


"Tuan... tuan ! Chu'er telah mati, nampaknya ada seseorang kuat yang disinggung oleh nya. Tuan Tu " ungkap seorang pria dengan terburu-buru sambil memperlihatkan kristal yang meredup cahayanya serta pecah berkeping-keping.


Orang yang dipanggil Tuan Tu itu memukul kursinya hingga hancur.


Buakk... Duarr.... suara ledakan kursi yang hancur akibat dipukul cukup nyaring terdengar.


"Ahhkkk... tak berguna! Sudah tahu keadaan kita tidak menguntungkan saat ini, apalagi tuan ke 20(komandan elit no 20) tidak dapat dihubungi." ucap Tu kesal


"Haihhh,... aku punya firasat kita juga akan menyusul Chu'er" ucap Tu yang terlihat berusaha untuk tidak menghancurkan sekitar.


Beberapa menit kemudian, sesaat Zhong Tu sudah kembali tenang ia, menyuruh salah seorang bawahannya untuk memperketat penjagaan disekitar Rumah Bunga 69 serta memeriksa semua orang yang keluar masuk dari rumah hiburan tersebut.


Sang bawahan yang diperintahkan itu pun mengangguk dan kembali ke tempatnya guna menyampaikan apa yang sudah disampaikan oleh Zhong Tu.


Kembali ke Zoan berada


"Tunggu !" ucap Zoan menghentikan langkahnya sesaat jarak antara targetnya beberapa meter lagi.


" Penjagaan nya diperketat, kedatangan kita sudah diketahui " ungkap Jean menyadari alasan Zoan menghentikan langkahnya.


"ya itu benar maka dari itu kita tidak bisa masuk secara sembarangan. Pertama-tama biarkan aku,Jean dan Cause yang masuk ketempat itu kalian awasi dari ini."ungkap Zoan langsung memaparkan rencananya.


"Namun hanya kamu Jean yang akan masuk secara normal kearah sana, sementara aku akan menggunakan teknik bayanganku untuk tinggal dibayanganmu, Cause sendiri menggunakan teknik khusus itu.kita harus bergerak cepat. Serta sisanya kalian harus bersiaga agar saat kami melakukan pertarungan kalian bisa masuk perlahan dan jangan membiarkan musuh lolos" ucap Zoan melirik kearah Semua rekannya.


"Baiklah, kami paham. tenang saja " ungkap Zuab lalu di angguki oleh Jean, intan, Jenita dan Cause.


Setelah dirasa cukup dan mencapai kesepakatan, Zoan Cause serta Jean mulai menjalankan sesuai rencana.


"Berhenti ! perlihatkan kartu identitas" ungkap seseorang yang berpakaian hitam, menghentikan Jean yang akan memasuki rumah Bunga 69.


"ini, silahkan!" ungkap Jean memberikan sebuah kartu Guild petualang serigala yang telah dicoret, serta memiliki arti yang sangat jelas yaitu Jean telah keluar dari guild petualangan serigala dan kini menjadi petualang bebas.


"Okeh, Masuk !" ungkap salah satu dari dua penjaga mempersilahkan masuk setelah memeriksa kartu identitas Jean dengan memasukan sebuah alat dan dari alat itu keluar hologram berwarna putih pertanda identitas itu asli dan sesuai dengan Jean.

__ADS_1


Jean pun melangkah kan kakinya memasuki Rumah Bunga 69. ia duduk disebuah meja dan mulai memesan sebuah minuman anggur tanpa alkohol. ia terlihat menikmati musik ditempat tersebut sambil meminum dan melihat beberapa perempuan yang menari dipanggung. Tentu saja itu semua hanya kecil belaka sebenarnya ia sedang mengedarkan energi spiritual nya dan memfokuskan telinganya guna mendapatkan informasi dimana pintu ruang bawah tanah di Rumah Bunga 69 berada.


"Ketemu !" ungkap Cause masih dalam wujud tubuh anginnya melalui telepati.


"Bagus.., dimana?!" tanya Zoan melalui telepati. Jean sendiri hanya mendengarkan kedua orang itu berbicara.


"Di pojok kanan tepatnya dekat pintu kamar mandi!" balas Cause kembali.


"Saudaraku, sekarang giliran mu!" ungkap Zoan melalui telepati.


"baiklah,tenang saja aku tahu apa yang harus aku lakukan" ungkap Jean. ia berdiri dan menghampiri sang resepsionis.


"Maaf nona,apakah disini ada kamar mandi saya ingin membersihkan tubuh. Sudah beberapa hari saya belum membersihkan tubuh saya" ungkap Jean beralasan.


resepsionis yang dipanggil nona itu melihat Jean dari atas sampai bawah seperti menyelidik. Jean yang dilihat seperti itu mulai berpura-pura merasa tak nyaman.


"maaf, nona apakah ada yang salah dengan tubuh ku" ungkap Jean.


"ah.. tidak-tidak,mari saya antar...."ungkap sang resepsionis .


"Baik mari nona yang memimpin jalan" ungkap Jean tak mempermasalahkan nya, lagi pula masih ada dua temannya yang menurutnya hebat terlebih ia sangat percaya kepada saudara angkatnya itu(Zoan).


Tidak banyak hal yang dibicarakan selama berjalan menuju ke kamar mandi, baik dari Cause, Zoan,Jean ataupun sang resepsionis sendiri.


"Sudah sampai!" ungkap sang resepsionis sambil menunjuk kearah pintu yang merupakan kamar mandi.


"terima kasih" ungkap Jean masuk kedalam kamar mandi, sementara itu Zoan dan Cause masih dalam penyamarannya dan berada di samping kiri dan kanan sang resepsionis yang dengan setia menunggu Jean selesai.


Dari balik bayanan itu Zoan keluar secara perlahan lalu memukul tengkuk sang resepsionis hingga pingsan.


wush....


Cause dan Zoan menampakkan wujudnya. "Jean selesai, waktunya keluar !" ungkap Zoan.


Jean pun keluar dari kamar mandi,ia berkata "lalu bagaimana dengan resepsionis ini?" tanya Jean sedikit bingung karena sebelumnya Zoan tidak mengatakan hal apapun yang akan ia lakukan, ia hanya berkata bahwa untuk urusan selanjutnya diserahkan kepadanya.


"Teknik telepati tingkat 4 : Pengontrol dan pengikat pikiran Budak !" gumam Zoan sambil menyentuh salah satu tubuh dari sang resepsionis yang masih pingsan tersebut.


Setelah mengatakan tekniknya, sang resepsionis terbangun dari pingsannya dan terlihat menundukkan kepala sat menatap kearah Zoan tanpa mengatakan apapun.


"Lakukan seperti biasa dan jangan menimbulkan kecurigaan!" ucap Zoan tegas sambil menatap sang resepsionis yang masih menunduk, dan memberikan jawaban Zoan hanya dengan gumaman "baik tuan!" ungkap nya.


setelah mengatakan hal itu sang resepsionis pergi kembali ketempat nya tanpa melakukan hal yang mencurigakan. Cause atau pun Jean terlihat terkagum-kagum akan kejadian yang dilakukan Zoan.


"Suatu saat kalian akan tahu teknik itu, untuk saat ini kita fokus!" ungkap Zoan dan tanpa basa basi langsung melambaikan tangan lalu sebuah lingkaran layaknya lubang berwarna putih tercipta dibawah kaki mereka bertiga.


Teknik telepati tingkat 4 adalah teknik yang dikembangkan oleh Zoan melalui gabungan teknik pemecah pikiran dan teknik kontrak budak. Setiap orang yang terkena teknik itu makan orang itu layaknya sebuah boneka hidup yang dikendalikan oleh sang pengguna teknik itu.


Teknik itu sendiri hanya dapat dipatahkan oleh sang pengguna atau ketika sang pengguna teknik itu meninggal.

__ADS_1


__ADS_2