
Jean yang sudah babak belur, melesat kearah sebuah bangunan telah runtuh, sesaat menerima tendangan dari kaki kanan yang dilancarkan oleh Aoi.
"Haih, membosankan! Kukira tadi kau sedikit lebih kuat nyatanya kau sama saja."
"Apakah segini saja batas dari seorang yang menginjak ranah petapa?!" Ungkap Aoi berjalan kearah dimana Jean terjatuh.
Sezu dan Suzu yang melihat semua hal itu, mulai dari saat Jean dijadikan sebagai samsak tinju hingga kini ia telah terlihat sangat menyedihkan.
Mereka ingin membantunya, namun dilain sisi mereka juga tak bisa melindungi diri sendiri dari serangan yang dilancarkan oleh salah satu dari pasukan terlatih.
Keadaan pertarungan semakin rumit, sesaat Aoi menggunakan segel tangan guna melancarkan serangan Area.
"Haih, dia itu benar-benar orang yang tak menahan diri. Merepotkan saja kau Aoi !" Ucap Brok lalu di ikuti oleh senyuman masam dari Bram.
Bram dan Brok yang melihat segel tangan yang dilakukan oleh Aoi segera ikut melakukan segel tangan, hanya saja dengan tujuan berbeda yaitu Bram dan Brok membentuk segel tangan untuk menarik mundur dirinya serta para bawahannya dari pertempuran.
Kerena seranagan yang akan dilakukan Aoi mencangkup seluruh area tanpa pandang bulu.
"Teknik kegelapan: Kekacauan Dunia Gelap!"
Swushh....!!
Langit di benua hijau yang awalnya cerah bersinarkan matahari, langsung berubah sesaat Aoi menggunakan teknik tersebut.
"Hehe... musnahlah kalian !" Ucap Aoi sebelum kembali melakukan segel tangan dan sesaat kemudian ia menghilang tanpa disadari siapa pun kecuali dari kubunya sendiri.
Semua orang nampak menatap kearah atas, disertai perasaan yang was-was.
Dunggg...!
Sesaat keadaan yang masih gelap itu suara dengungan terdengar jelas, sehingga beberapa tarikan nafas kemudian, muncul gempa yang begitu dahsyat, disusul dengan angin peting beliung yang berwarna hitam memporak-poradakan benua Hijau.
"Sial sebenarnya teknik apa yang digunakan orang itu sebelumnya." Ungkap Jean sedikit panik.
Apalagi sesaat melihat kearah para orang-orang yang menjadi lawannya sebelumnya itu, kini telah menghilang semuanya bak di telan bumi.
"Dan lagi sejak kapan orang-orang yang mengaku sebagai kelompok asosiasi pembunuh itu menghilang, bahkan aku tak menyadari serta tak bisa menemukan jejak auranya.?!" Ungkap Jean heran disertai rasa penasaran yang tinggi.
"Patriak, apa perintah mu cepat!" Ucap Sezu yang terlihat sedang melayang dengan tatapan tajam yang mengarah pada angin peting beliung yang dengan ganasnya menghatam apa saja didepannya.
"Cih.. Untuk apa aku memikirkan itu sekarang!" Ujar Jean dalam benaknya berhenti memikirkan rasa penasaranya.
"Sekarang gabungkan semua energi spiritual kalian untuk menahan serangan dari angin peting beliung itu, sementara untuk gempa yang masih berlanjut ini coba bertahan lalu setelah membereskan angin itu kita akan memikirkannya lagi." Ucap Jean memberi intruksi dengan suara yang telah dialiri tenaga dalam.
__ADS_1
Semua orang mendengar hal itu saling mengangguk dan mulai melakukan apa yang telah diintruksikan.
Beruntung para manusia fana ditempat itu sudah diungsikan ketempat yang aman, yaitu artefak ruang dimensi buatan Zoan. Meski tidak bisa menampung semuanya tapi setidaknya masih ada cukup orang manusia fana yang selamat.
"Nampaknya kita tidak bisa menahan luapan energi dari teknik ini."
" Sezu, Suzu, Ah'Tai, Ah'Su, Leo, Jai, Cepat berkumpul. Kita akan pergi dari sini menuju kedalam artefak ruang dimensi buatan saudara ku Zoan." Teriak Jean sesaat merasa bahwa tak akan bisa menghentikan kekacauan dari teknik yang lancarkan Aoi.
"Tapi yang lainnya bagaimana, patriak?" Ujar Ah'tai panik sesaat mengetahui hal itu.
"Cih, baiklah ! cepat selamatkan apa dan siapa saja yan bisa kita diselamatkan, lalu bawa kehadapanku sekarang. Mungkin kita hanya memiliki batas waktu 5 Menit sebelum memasuki artefak ruang dimensi.Cepatlah!!!" Ungkap Jean tak ingin berdebat.
"Baik ! Mohon tunggu sebentar patriak, aku akan berusaha secepatnya bersama yang lainnya." Ucap Ah'Tai sebelum melesat bersama yang lainnya guna berusaha menyelamatkan orang-orang di benua Hijau lainnya yang masih belum dievakuasi.
Dalam 5 Menit itu mereka berhasil membawa sekitar 800 orang saja, itu pun kebanyakan adalah para kultivator.
Melihat hal itu Jean hanya bisa tersenyum pahit dan dengan segera mengaktifkan artefak diemensi serta memerintahkan semuanya untuk memasukinya.
Dengan cepat semua orang memasuki artefak ruang dimensi itu, beruntung sesaat teknik kehancuran itu hendak menyerang jean dan lainnya dengan cepat ia menutupnya.
***
Sesampainya didalam artefak ruang dimensi Jean dan lainnya terlihat duduk lemas disertai pikiran yang memikirkan banyak hal, terutama orang-orang dibenua hijau yang terkena akan dampak dari teknik kehancuran itu.
***
Kini Benua hijau sangat sunyi layaknya tempat/wilayah yang tak berpenghuni. Semua itu terjadi karena orang-orang mati bersamaan dengan ledakan yang menjadi akhir teknik yang dilancarkan Aoi.
1 hari terlewati sejak itu, kini benua hijau sudah layaknya tanah kosong hanya menyisakan kawah yang bertemankan air serta semilir angin.
Banyak pohon-pohon atau pun mahluk hidup seperti binatang yang menjadi korban serta mati mengenaskan.
Sebuah sosok bersama rekan-rekannya, muncul dikekosongan. Mereka terlihat melayang diatas langit dengan perasaan campur aduk.
Bagaimana tidak, tempat yang merupakan mereka berasal kini telah berubah layahnya hamparan tanah kosong tanpa penghuni satu pun.
Dengan tatapan yang masih syok berat serta air mata yang mengalir Zhang Jingmi berkata : "Apa yang terjadi? Kenapa seperti ini? Dimana ayah dan lainnya?"
"Sial kita terlambat, maaf kan aku semuanya." Tambah Zoan dengan wajah menunduk serta menyalahkan diri sendiri.
Beberapa waktu terlewati, semilir angin berhembus menerpa wajah sosok-sosok tersebut. Malam pun berganti siang, satu hari kembali terlewati sejak kedatangan Zoan dan rekan-rekannya.
Kini mereka sedang berpencar menjadi beberapa kelompok, setiap kelompk itu berisi dua orang.
__ADS_1
Mereka terlihat melesat keberbagai arah guna memeriksa lebih teliti dan berharap masih ada yang tersisa, terutama dari orang-orang yang dikenal mereka.
Bahkan saking syok dan terpukulnya, mereka sampai melupakan Jean serta tidak mencoba untuk menghubunginya.
Satu hari kembali berlalu tepat pada malam hari yang sepi, Zoan dan lainnya berkumpul ditempat mereka pertama kali muncul serta saling melirik dan menggelengkan kepala, masih dengan wajah yang menyiratkan kesedihan.
"Maafkan aku semuanya, seandainya waktu itu aku dengan cepat bergegas sesaat setelah menerima pesan suara dari Jean. Mungkin kita masih bisa menyelamatkan beberapa dari mereka." Ucap Zoan dengan wajah yang sedih dan menyalahkan diri sendiri.
"Sudahlah tuan Muda, Mungkin ini sudah takdir. Kita harus menerimanay bagaimana pun juga." Ucap Hun jie mencoba menghibur Zoan.
Mereka yang sedang melayang itu kini mulai menginjakkan tanah. Serta Lan jun mulai menyalakan api dan juga Gu yuan mengolah bahan makanan yang mereka beli sebelumnya dari benua bulan.
Awalnya bahan-bahan makanan itu akan mereka gunakan sebagai oleh-oleh dari benua bulan, namun takdir berkehendak lain.
Zoan yang masih menatap kearah langit yang berhamparkan bintang-bintang. Tiba-tiba teringat akan sesuatu, dengan cepat ia mengeluarkan sebuah giok komunikasi yang sama dengan pa yang digunakan Jean.
Ia menatap giok itu lalu mengalirkan energi spiritual guna memeriksa dan memastikan apa yang sedang ia pikirkan itu.
Beberapa hembusan nafas terlewati, Zoan pun sedikit menampilkan senyum diwajahnya.
"Ahaha...., ternyata masih ada yang selamat, aku tahu kaun dapat diandalkan saudara ku Jean." Teriak zoan disertai tawa dan senyuman yang terlihat sangat bahagian.
Tentu hal itu membuat orang-orang diserkitarnya heran dan penasaran termaduk Zhang Jingmi yang beberapa waktu ini tidak banyak bicara seperti biasanya.
"Kamu kenapa ?Ujar Zhang Jingmi menghampiri Zoan yang terlihat masih tertawa sanbil menatap kearah langit malam.
"Ada kabar gembira, ternyata ada beberapa orang yang berhasil diselamatkan." Ucap Zoan sambil menolwh kearah Zhang Jingmi.
"Benarkah?! Dimana mereka sekarang?" Ucap Zhang Jingmi membelalakan mata nya serta senyum bahagia, begitu pun dengan yang lainnya mereka ikut bahagia.
"Mereka ada didalam artefak ruang dimensi buatan ku yang sekarang ada ditangan Jean. Hanya saja untuk bertemu dengan mereka harus sendiri yang keluar, aku tak bisa memanggil mereka menggunakan teknik perobek ruang ku." Ucap Zoan sebelum kembali melanjutkan perkataannya.
"Tapi mungkin aku masih dapat menghubunginya serta memerintahkan Jean saudaraku untuk keluar." Ujar Zpan kembali mengutarakan penjelasannya.
Ada satu rahasia mengenai giok komunikasi buatannya itu yang tidak diketahui Jean.
Batu giok kominikasi itu mirip dengan Batu giok jiwa yang dapat melihat kehidupan/jiwa seseorang yang terikat.
Maka dari hal itu Zoan menyadari bahwa Jean masih hidup, serta meski terpaut jarak yang jauh atau dimensi yang berbeda sekalipun, bahkan jika ada sebuah penghalang, ia masih dapat saling berkomunikasi tanpa hambatan. Hal itulah yang membedakan giok komunikasi buatan nya dengan buatan orang lain.
>>>>
Jangan lupa Apresiasinya yaitu Like komen Vote and Subcribe!!
__ADS_1
Salam Persudaraan....