
Duarr....
Duar.....
Ledakan energi spiritual terdengar, membuat pepohonan terbakar akibat dari ledakan tersebut.
"hah... hah...., Merepotkan!" ungkap Zoan sambil menyeka darah yang keluar dari mulutnya.
"Domain pedang..! " ucap pria bertopeng menghunuskan pedangnya keatas lalu menancapkan pedangnya ketanah.
cleb....
"huuh... Sebuah domain ya!" ucap Zoan sesaat menyadari ia telah masuk kedalam sebuah ruangan kekosongan, yang mana di ruangan kekosongan tersebut tiba tiba ratusan pedang muncul dari udara kosong. lalu menukik kearah zoan dengan kecepatan yang tinggi.
"Pukulan Ruang dimensi" ujar zoan sambil memukulkan tangan kirinya kearah ratusan pedang yang sedang menukik kearahnya.
kreak..... kreakkk....
pedang-pedang tersebut pecah sesaat mengenai pukulan Zoan.
"Tebasan Pemecah ruang dimensi !" ungkap Zoan dengan tangan kanan yang yang menebaskan pedangnya kearah Domain pedang yang diciptakan oleh pria bertopeng. Zoan melakukan tebasan Pemecah ruang dimensi sebanyak 10 kali, 15 kali, hingga tak terasa ia telah melakukan tebasan tersebut sebanyak 25 kali dan terdengar sebuah retakan Domain. Dengan cepat ia melesat kearah suara retakan tersebut dan melakukan tebasan sebanyak 5 kali hingga terlihat sebuah celah Domain.
wushh....
"Oeekkk....!" pria bertopeng memuntahkan seteguk darah segar dari mulutnya sesaat Domain pedang yang ia gunakan untuk menjebak zoan berhasil dihancurkan. Tepat setelah ia memuntahkan seteguk darah yang ke tiga kalinya.
Zoan berhasil keluar dan langsung menyerang kearah pria bertopeng.
Serangan tiba-tiba yang dilancarkan zoan berhasil memotong tangan kiri pria bertopeng. Setelah melakukan serangan tersebut Zoan melompat mundur guna mengatur energi spiritual dan nafas yang cukup kacau.
"hm... anak muda yang menarik hehe !" ucap pria bertopeng sambil terus memegangi tangan kirinya yang sudah putus.
__ADS_1
" Semuanya dengarkan ! Kita mundur..." ucap pria bertopeng melesat pergi setelah mengatakan itu.
Mendengar hal itu bawahan pria bertopeng yang tersisa yaitu sebanyak 30 orang dari 100 orang, mereka bergerak mundur mengikuti pria bertopeng.
"Jangan dikejar! lebih baik kita pulihkan dulu energi kita" ucap Zoan menghampiri rekan-rekannya yang terlihat akan mengejar kelompok bawahan dari pria bertopeng dengan nomor 18 itu.
"Zuab, kamu bawa satu mayat pria itu !" ucap Zoan menunjuk kearah seorang pria yang masih utuh mayatnya
Tanpa banyak tanya Zuab pun membawa mayat laki-laki yang merupakan salah satu bawahan dari pria bertopeng.
Zoan dan rekan-rekannya pergi meninggalkan tempat tersebut, hingga sampailah mereka didekat sebuah aliran air yang cukup jernih. mereka pun memutuskan untuk beristirahat dan memulihkan diri ditempat tersebut.
Tak lupa juga mereka menyuruh 2 orang berjaga, Zoan Memiliki rencana tersendiri terkait mayat tersebut.
Malam pun tiba dengan cepat tak terasa mereka memilih kan diri cukup lama. Setelah memulihkan diri mereka menyalakan api unggun, didepan api unggun mereka memakan beberapa daging kering serta buah-buahan.
"nampaknya kita akan melanjutkan perjalanan setelah mengambil informasi dari mayat ini. Kalian tunggu lah sebentar" ucap zoan bangkit dari duduknya lalu menghampiri mayat laki-laki yang dibekukan beberapa saat sebelum memulihkan diri, Zoan dengan sisa energi nya ia membekukan mayat itu.
Zoan berjalan menghampiri mayat laki-laki itu dan menyentuh kepalanya tak lupa juga ia bergumam dalam hatinya:
"Teknik telepati Tingkat 2 : Pemecah pikiran!"
Zoan pun memasuki alam pikiran mayat tersebut dan memeriksanya secara satu persatu dan teliti. Didalam pikiran tersebut akhirnya ia berhasil menemukan pelaku menghilangnya para pemuda dan pemudi tersebut. Maka dari itu ia sangat yakin bahwa memang benar Asosiasi pembunuh adalah dalang nya. Zoan juga menjadi mengetahui bahwa masih banyak orang-orang dari kelompok tersebut yang masih tersebar dan berbaur dengan kedok masyarakat biasa. Dari mayat laki-laki tersebut ia mengetahui salah satu markas cabang Kelompok asosiasi pembunuh. cukup banyak informasi yang ia dapatkan kecuali petinggi Asosiasi pembunuh yang masih misteri bahkan semua bawahan dan 20 pasukan elit asosiasi pembunuh tidak mengetahui bagaimana rupa wajah pemimpin tertinggi nya itu. Pemimpin tertinggi Asosiasi pembunuh selalu mengenakan topeng berwarna emas, berjubah hitam serta corak merah mirip api yang berkobar.
bush ...
wush....
Setelah mendapatkan semua informasi yang menurutnya penting, zoan membakar mayat laki-laki tersebut hingga menjadi abu.
"Gimana saudaraku apakah mendapatkan informasi yang kita cari?" tanya Jean menghampiri.
__ADS_1
"ya, menurut informasi yang di dapat dari mayat tersebut adalah markas nya berada di bawah lereng gunung Hutan Kematian tepatnya disebelah Timur Laut..." ucap Zoan lalu duduk didekat api unggun.
"apakah kita tidak bermalam dulu disini, bukan kah itu lebih baik" ucap intan tiba-tiba sesaat Zoan telah berhenti menjelaskan informasi baru yang ia dapatkan.
"haih, baiklah kita akan bermalam disini" ungkap Zoan sambil menghela nafas.
"Ehm, terimakasih hehe" ucap intan menggaruk kepalanya yang tak gatal.a Sementara Zoan hanya mengangguk.
...****************...
Keesokan harinya tepat pada saat matahari terbit, Zoan dan para rekan-rekannya kembali melanjutkan perjalanan menuju desa Ni. Untuk Amelia, Sezu dan Suzu mereka masih berada didalam artefak dimensi, Zoan sengaja tidak mengeluarkan merek untuk sementara ini. Tujuannya tentu agar ketiga orang tersebut berlatih meningkatkan kultivasi nya disana, bersama dengan Zuan lu.
Tak perlu waktu lama, Zoan dan rekan-rekannya akhirnya sampai didepan gerbang desa Ni, Seperti biasa sebelum memasuki desa mereka membayar uang koin sebesar 5 perak per orang. Setelah membayar baru mereka diijinkan untuk memasuki Desa Ni.
Disepanjang jalan, Zoan dan rekan-rekannya banyak yang menatap mereka. Mungkin salah satu penyebab mereka menjadi pusat perhatian karena mereka berjalan secara berkelompok, meski pun hal tersebut sudah biasa terjadi terkhusus bagi orang-orang yang berdarah bangsawan atau para preman jalanan pembuat rusuh.
Desa Ni memang Desa yang cukup makmur meski begitu ada saja 1 atau 2 keributan yang terjadi, dan berakhir dengan pertumpahan darah.
"Kita bagi menjadi dua kelompok. saya,Zuab dan intan kita pergi ke kedai itu. untuk sisanya kamu(Jean), Cause dan Jenita pergi ke kedai lain atau ketempat lain terserah kalian yang penting kita berjalan secara terpisah terlebih dahulu." ungkap Zoan melalui telepati sambil berjalan menuju kesebuah kedai. Alasan Zoan membagi menjadi dua kelompok karena ia tak ingin terlalu mencolok.
"Lalu kita akan berkumpul kembali disebuah penginapan yang akan saya beri tahukan nanti melalui telepati" ungkap Zoan kembali.
"oh, baiklah tak masalah" ucap Jean berjalan lurus melewati kedai yang akan disinggahi oleh Zoan. Jean, Cause dan Jenita pun berpisah arah.
Zoan, Zuab dan intan memasuki kedai, sesaat sudah didalam kedai mereka duduk dan memesan makanan beserta minuman nya. Mereka dengan santai memakan makanan dan minuman itu.
1 jam pun berlalu selama didalam kedai mereka tak mendapatkan informasi yang menurut mereka menarik. maka dari itu Zoan, Zuab dan intan memutuskan keluar dari kedai tersebut.
"Tidak ada informasi yang menarik, lalu apakah kita akan mencari penginapan sekarang?" tanya intan sesaat sudah keluar dari kedai.
"tak perlu terburu-buru, bagaimana kalau kita pergi ketempat tempa? sekalian membeli beberapa stok senjata" ucap Zoan mengusulkan.
__ADS_1
"ah, kamu benar. lagi pula masih terlalu awal untuk mencari sebuah penginapan! " ucap intan menggaruk kepalanya yang tak gatal. Zuab sendiri hanya diam dan mengangguk pertanda setuju.