
Sesampai di rumah, Lerina membanting pintu mobil dengan sangat kesal. Ia segera menuju ke lantai atas dan mengunci dirinya di dalam kamar.
Ia memang tak melanjutkan lagi kegiatan belanjanya dan memilih untuk pulang. Nana sebenarnya sudah mengusulkan untuk menyusul Edward ke atas. Namun Lerina menolaknya. Ia malas berhadapan dengan Jesica.
Hatinya sakit. Ia tak pernah merasakan seperti ini sebelumnya. Ia sudah pernah melihat Edward dan Jesica. Ia juga merasa cemburu namun tak pernah seperti ini.
Lerina masuk ke kamar mandi. Mengisi bak dengan air dan memasukan sabun cair di dalamnya. Ia ingin berendam sambil menenangkan hatinya. Sabun dengan wangi aroma terapi biasanya akan sangat menenangkan.
30 menit berlalu, Lerina hampir saja tertidur saat ia mendengar suara tangisan Bragi dari alat yang dipasang di kamar mereka. Dengan cepat ia membasuh tubuhnya dengan air bersih dan segera ganti baju dan bergegas ke kamar Bragi.
"Ada apa dengan anakku?" Tanya Lerina sambil mengambil Bragi dari gendongan Nani.
"Tidak tahu, nyonya. Saat bangun, ia tiba-tiba menangis."
"Sayang, ada apa?" Lerina langsung menghapus air mata Bragi dan mencium pipi montoknya.
Bragi berhenti menangis saat bertatapan mata dengan ibunya. Mulut mungilnya mengucapkan suara-suara khas bayi.
Apakah anakku tahu kalau hatiku sedang galau? Apakah ia mengerti kesedihanku?
"Nani, tolong tinggalkan aku dengan anakku." Kata Lerina.
"Baik, nyonya."
Setelah Nani pergi, Lerina membaringkan anaknya di atas tempat tidurnya. Ia juga membaringkan tubuhnya di samping Bragi lalu menarik ke atas kaos yang dikenakannya lalu menyusui anaknya.
"Minum yang banyak sayang. Maafkan ibumu yang sedang kesal ini. Daddy melakukan sesuatu yang tidak ibu sukai."
Baby Bragi menatap wajah ibunya. Ia melepaskan hisapannya lalu kembali mengeluarkan suara bayinya. Tangan anak itu bahkan menyentuh wajah ibunya.
"Kau sangat menghibur ibumu ini. Hati ibu menjadi tenang melihatmu berbicara. Sekalipun ibu tak mengerti tapi ibu merasa kalau dirimu sedang menghibur ibu. Apakah kau percaya pada daddymu? Kau percaya kalau daddy tak akan macam-macam?"
Bragi tersenyum tiba-tiba anak itu bicara. "A.....pa...pa.."
Lerina terkejut. "Oh...kau mengucapkan kata pertamamu. Tapi mengapa kata papa yang lebih dulu?" Lerina sedikit cemberut. Namun Bragi kembali mengucapka kata-kata itu, membuat Lerina akhirnya tersenyum haru. Anaknya sangat dekat dengan Edward, makanya ia lebih dulu mengucapkan kata-ka itu. Sanggupkah Edward menukar semua kebahagiaan ini dan berselingkuh dengan Jesica?
Ah...Tuhan, aku jadi bingung.
Setelah puas bermain dengan anaknya, Lerina kemudian memberikan dia makan, bermain lagi sebentar lalu akhirnya ibu dan anak itu tertidur bersama di kamar Bragi.
********
Jam 5 sore, Edward baru tiba di rumah. Ia merasa sangat lelah dan begitu rindu pada istri dan anaknya. Saat ia tiba di pintu masuk, pengasuh mengatakan kalau Bragi sedang tidur bersama mamanya. Makanya Edward memilih mandi untuk membersihkan dirinya lalu segera menuju ke kamar anaknya.
Saat pintu kamar terbuka dan melihat mereka masih tertidur, ada rasa damai di hati Edward. Sungguh senang rasanya saat pulang pulang dengan tubuh lelah dan menemukan mereka dalam keadaan seperti ini. Rasa lelah pun hilang.
__ADS_1
Edward melihat jam dinding. Ini sudah saatnya Bragi bangun dan makan malam.
"Sayang, ini sudah hampir jam 6 sore. Saatnya bagi Min Jun untuk makan." Kata Edward sambil membelai pipi istrinya.
Lerina membuka matanya. Sekilas kebersamaan Edward dan Jesica terbayang kembali. Lerina hendak mengeluarkan kemarahannya. Namun ia memutuskan untuk menahannya. Ia ingin melihat sejauh mana Edward akan jujur padanya.
"Kau bangunkan Bragi, aku akan menyiapkan makanannya." Lerina bangun sambil merapihkan rambutnya.
"Eh, mana ciumannya?" Edward menahan tangan Lerina sambil mengkerucutkan bibirnya.
Lerina memaksakan sebuah senyum, mencium pipi Edward dengan cepat lalu keluar dari kamar. Edward ingin protes dengan ciuman itu, namun Lerina sudah menghilang dibalik pintu.
"Min Jun sayang, wake up baby. Time to eat..." Edward mencium pipi putranya secara berulang-ulang. Tak lama kemudian manik hitam itu terbuka. Awalnya dia ingin menangis. Namun saat melihat wajah papanya, Min Jun langsung tersenyum. Ia bahkan langsung menggerakan tangan dan kakinya.
"Kangen dengan aboji? Ayo sini...!" Edward langsung memeluk putranya dan membawanya keluar dari kamar.
"Ada apa dengan ibumu, sayang? Dia sedikit cuek dengan daddy." Edward bicara sendiri dengan putranya sambil menuruni tangga. Edward memang ketika berbicara dengan anaknya selalu menggunakan 3 bahasa. Bahasa Indonesia, Inggris dan juga Korea. Dia ingin anaknya sudah mengenal 3 bahasa itu sejak ia masih kecil.
Makanan yang disiapkan Lerina hampir selesai saat keduanya tiba di meja makan. Min Jun langsung didudukan di kursi bayinya. Anak itu seolah tahu kalau dia akan makan. Ia kelihatan sangat bersemangat saat menatap piring makanannya yang dipegang oleh ibunya.
"Nani, tolong suapi anakku dulu ya? Aku mau berbicara dengan istriku." Kata Edward. Pengasuh itu langsung mengangguk senang. Ia memang jarang sekali mendapatkan kesempatan untuk menyuapi Min Jun. Edward dan Lerina sesibuk apapun mereka selalu menyediakan waktu untuk memberi makan anak mereka.
"Ada apa, Ed?" Tanya Lerina saat keduanya sudah berada di dalam kamar.
Edward mendekat dan memeluk istrinya itu dari belakang. "Sayang, aku merasa ada yang berbeda denganmu. Ada apa? Sesuatu membuatmu kesal?"
Edward pun melangkah dan duduk di samping istrinya."Kau marah padaku?"
"Tidak."
Edward menarik napas panjang. Ia meraih tangan Lerina namun sekali lagi Lerina menepis tangan Edward.
"Benarkan? Kamu sedang kesal padaku? Ada apa?"
"Mengapa tadi siang sekitar jam 11 hp mu tidak aktif?"
Edward mengangguk. "Jadi itu persoalannya? Hp ku ketinggalan di mobil. Kebetulan juga batreinya habis. Aku lupa mengisi dayanya semalam. Kenapa kamu tak telepon Keyri saja jika ada perlu denganku?"
"Memangnya kamu kemana sampai hp mu ketinggalan di mobil?"
"Aku ada pertemuan di hotel xxx."
"Pertemuan dengan siapa?"
Edward menatap Lerina. Tak biasanya istrinya ini akan bertanya seolah ingin menyelidiki sesuatu.
__ADS_1
"Ada apa, sayang? Kau curiga padaku?" Edward bertanya sambil mengerutkan dahinya.
"Aku kan hanya bertanya, ada pertemuan apa kau di hotel itu? Dengan siapa kau bertemu?" Tanya Lerina dengan nada suara yang sedikit tinggi, bahkan ia sudah terlihat emosi.
"Aku bertemu dengan Hyung."
"Bohong. Aku melihatmu dengan Jesica di lift kaca itu. Aku ada di lantai dua mall itu tadi siang. Kamu mau menyembunyikan sesuatu dariku? Aku nggak suka dibohongi, Ed !" Lerina langsung berdiri dan membelakangi suaminya.
"Sayang, aku secara tak sengaja bertemu dengan Jesica di depan pintu lift. Dia akan melaksanakan foto preweding di hotel itu. Aku dan Hyung hendak melaksanakan pertemuan dengan rekan perusahaan dari Jepang. Mereka juga menginap di hotel itu. Kalau kau tak percaya, boleh hubungi hyung dan tanyakan padanya." Edward dengan sabar menjelaskan pada istrinya itu.
Lerina kelihatan belum percaya. Masih terbayang bagaimana Jesica dan Edward berbicara sambil melemparkan senyum di dalam lift itu yang memang hanya ada mereka berdua.
Edward memegang bahu Lerina dan membalikkan tubuh istrinya itu agar mereka saling berpandangan. "Aku kan pernah bilang padamu. Kalau Jesica adalah masa laluku. Aku memang pernah sangat mencintainya. Tapi semenjak kita bersama, aku sudah jatuh cinta padamu. Dan cintaku padamu, melebihi dari semua rasa yang pernah aku miliki bersama Jesica."
"kalian begitu akrab kelihatan berbicara di dalam lift. Aku jadi kesal melihatnya."
"Tidak ada percakapan istimewa. Jesica memang mengatakan kalau ia menerima lamaran Hye bukan karena Hye bermarga Kim. Awal berkenalan Hye menggunakan marga ibunya. Nanti setelah ia menerima lamarannya, baru Jesica tahu kalau Hye anak pamanku." Edward menyentuh pipi Lerina dan membelainya secara lembut.
"Aku senang kau cemburu padaku. Dengan begitu aku tahu kalau kau sayang padaku. Kita akan pergi ke acara pernikahan Hye secara bersama untuk menunjukan padamu kalau Jesica tak ada lagi dalam hidupku."
Lerina akhirnya tersenyum. "Saat aku belum menyadari perasaanku padamu, aku memang selalu memendam rasa cemburuku. Namun saat Min Jun sudah lahir, aku tak mau memendamnya lagi. Kau milikku dan aku tak akan pernah rela membaginya dengan siapapun. Jadi kalau kau berani melirik perempuan lain, aku tidak akan melarikan diri seperti dulu. Aku akan menghajar siapapun yang akan menggambilmu dariku."
Edward terkekeh. Ia memeluk istrinya dengan perasaan senang. Ia suka dengan sikap Lerina yang posesif padanya. "Aku hanya milikmu sayang." Bisik Edward lalu mengecup leher istrinya dengan kecupan yang menggoda.
"Ed....!" Lerina berusaha menghentikan gerakan suaminya namun Edward semakin kuat menggodanya bisikan yang menghadirkan senyar di kulit Lerina.
"Tamu bulananmu sudah pergi kan?"
Lerina mengangguk. "Min Jun akan selesai makan. Dia mungkin akan mencari kita."
"Nani akan senang menjaganya lebih lama. Sekarang ayo kita buat Meloddy."
Lerina mendorong tubuh Edward dan mendongak. "Membuat Meloddy?"
"Ya. Aku mau Min Jun punya ade cewek."
"Ed, usia Min Jun baru 7 bulan. Aku nggak mau. Min Jun masih butuh ASI."
"Aku mau sekarang. Usiaku sudah semakin bertambah. Aku ingin tubuhku masih kuat untuk melihat mereka besar dan menjadi dewasa."
"Tapi, Ed. Belum tentu juga yang akan lahir anak cewek kan? Bisa saja Min Jun punya adik cowok."
"Kalau begitu kita akan buat terus sampai dapat Meloddy." Kata Edward lalu langsung mencium bibir istrinya dan mendorong Lerina untuk menuju ke ranjang mereka.
So...sudah bisa ditamatkah cerita ini?
__ADS_1
Makasi sudah membaca...
Jangan lupa Like, komen dan Vote ya???