
"Hallo Jien...!" sapa Calvin setelah ia menjauh dari Lerina yang sedang tertidur.
"Apa kabarmu, Calvin?"
"Aku baik-baik saja"
"Dan sakitmu?"
"Aku masih menjalani kemoterapi. Hasil akhir menunjukan ada perlambatan penyebaran sel kanker."
"Apakah Lerina bersamamu?"
"Ya. Sekarang aku ada di rumahnya. Dia sedang tidur karena sedang tidak sehat"
Terdengar Jien yang menarik napas panjang "Eh...., Calvin, kau tahu kalau ada pengobatan terbaru untuk penyakitmu?"
"Ya. Tapi itu sesuatu yang tidak mungkin. Aku tidak ingin saudara-saudaraku menyumbangkan sel sum-sum tulang belakang padaku. Mereka masih sangat muda. Dan menyangkut sel puncah darah tali pusat itu juga sangat mustahil. Kalaupun aku dan Lerina menikah, ia belum tentu hamil. Dan kalaupun hamil, belum tentu tubuhku sanggup menunggu sampai anak itu lahir."
"Aku boleh ke Jakarta dan menemuimu? Ada sesuatu yang ingin ku sampaikan padamu. Aku tak bermaksud untuk menganggu hubunganmu dengan Lerina."
"Tentu saja kau boleh datang."
"Baiklah. 2 hari lagi aku akan ke sana"
"Ok. Bye...!"
Calvin memasukan hpnya ke saku celananya. Lalu ia kembali ke kamar dan melihat kalau Lerina tak ada di ranjangnya.
Baru saja Calvin akan mengetuk pintu kamar mandi, Lerina keluar dari sana sambil memegang perutnya.
"Ada apa?"
"Perutku nggak enak. Rasanya berputar-putar" kata Lerina lalu melangkah dengan lesuh menuju ke tempat tidurnya. Ia membaringkan tubuhnya perlahan untuk tidur kembali.
"Aku buatkan bubur?" tanya Calvin.
"Aku justru ingin makan nasi capcae"
"Aku bilang ke bi Suni ya" Calvin segera turun ke bawah. Nampak bi suni sedang membersihkan ruang tamu.
"Bi, Lerina ingin makan cap cae"
"Kebetulan bahan-bahannya bibi sudah bersihkan jadi tinggal di masak saja."
"Kalau sudah, tolong di antar ke kamar Lerina, ya? Sekalian buatkan teh jahe. Lerina perutnya agak kembung"
"Baik, tuan!"
Calvin kembali ke kamar dan melihat kalau Lerina masih membaringkan tubuhnya sambil menonton TV.
__ADS_1
"Bi Suni akan membuatnya. Tunggulah sebentar lagi" kata Calvin sambil duduk di teli ranjang.
"Terima kasih!" kata Lerina lalu kembali menatap ke layar TV.
"Na, tadi Jien telepon. Katanya, ia ingin datang dan bicara denganku"
Lerina mematikan TV lalu menatap Calvin "Dia mau apa bicara denganmu? Apakah Ed memintanya untuk menggagalkan pernikahan kita?"
"Tidak. Katanya dia tak akan menganggu hubungan kita. Dia hanya ingin bicara saja"
Lerina hanya mengangguk saja. Tapi dia penasaran ada apa sampai Jien mau datang Jakarta dan bertemu dengan Calvin.
"Vin, berkas perceraian kalian sudah bereskan?" tanya Lerina.
"Iya. Seminggu setelah aku pulang ke Jakarta, Jien sudah mengirimnya. Kenapa?" tanya Calvin sambil menyipitkan matanya saat memandang Lerina.
Gadis itu hanya menggeleng. Ia tak mau berprasangka yang buruk tentang Jien. Ia tahu kalau Jien sudah cukup menderita karena pernikahannya dengan Calvin.
Tak lama kemudian, bi Suni datang membawakan makanan untuk Lerina.
"Makanlah!" kata Calvin sambil menarik kursi dan meminta Lerina untuk duduk di depan meja bulat yang ada di kamar itu.
Lerina langsung memakannya dengan lahap.
"Aku sebenarnya tidak terlalu suka dengan cap cae. Namun malam ini rasanya sangat enak. Teh jahenya juga membuat perutku tidak kembung lagi" kata Lerina setelah selesai makan.
Lerina mengusap perutnya "Kok aku bisa makan sebanyak ini, ya?"
Calvin mengusap kepala Lerina dengan lembut "Lebih bagus kalau kau makan banyak. Aku rindu melihat pipi tembemmu kayak dulu."
"Aku dulu agak gendut ya?"
"Nggak juga. Hanya badanmu dulu lebih padat dan berisi. Sekarang tulang-tulangmu justru terlihat jelas." Calvin duduk di depan Lerina. "Apakah kamu menderita bersamaku?"
"Tidak, Vin. Aku justru bahagia bersamamu. Sekarang aku mau membersihkan diri dulu dan tidur."
Calvin mengangguk "Aku juga mau tidur. Selamat malam!" Calvin berdiri lalu mencium pipi Lerina dan segera meninggalkan kamar gadis itu.
Lerina masuk ke kamar mandi. Ia membuka bajunya lalu mandi air hangat. Selesai mandi, ia segera mengambil piyamanya dan tidur.
***********
"Bos, kamu sakit?" tanya Keyri saat melihat Edward keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat.
Mereka berdua masih berada di London saat ini untuk rekaman album terbaru Arnold Manola yang kembali berkolaborasi dengan Edward.
Di London, Edward memiliki sebuah apartemen yang biasa ia tinggali jika ada pekerjaan di London. Edward pun meminta Nana untuk tinggal di sini sementara untuk mengurus semua keperluannya.
"Entahlah. Sudah 2 hari ini, setiap pagi aku selalu muntah-muntah. Tak tahu penyebabnya apa. Nana sampai bingung mau menyiapkan sarapan apa padaku. Aku bahkan mual kalau mencium bau kopi"keluh Edward lalu duduk lagi di ranjangnya.
__ADS_1
"Sudah ke dokter?" tanya Keyri.
Edward menggeleng. "Belum. Mungkin besok saja. Jam berapa kita harus ke studio?" tanya Edward.
"Jam 4 sore."
"Baguslah. Kalau begitu aku istirahat dulu sebentar. Bangunkan aku satu jam lagi untuk makan siang"
Keyri mengangguk. Ia segera meninggalkan kamar Edward dan segera menuju ke bawa.
"Nana, tolong buatkan aku kopi!"ujar Keyri.
"Baik." Nana langsung memanaskan air. "Mana tuan Ed?"
"Dia masih pusing. Tadi sempat muntah-muntah. Jadi bingung dengan penyakitnya. Kenapa mual dan muntahnya hanya di pagi hari ya?"
Nana tersenyum "Kalau nona Lerina masih di sini, aku akan pikir kalau penyebab mual dan muntahnya tuan Ed karena nona Lerina sedang hamil. Itu biasa terjadi. Istri yang hamil namun suaminya yang ngidam. Namun, mereka sudah berpisah. Nona Lerinakan selama ini selalu meminum pil anti hamil. Jadi aku pikir, tuan Edward hanya masuk angin saja"
"Seandainya nona Lerina tak memakai pil anti hamil, pasti mereka berdua sekarang sedang berbahagia menanti kelahiran anak pertama mereka. Aku sungguh menyesal, mengapa 2 orang yang saling mencintai tak bisa bersama. Nona Lerina juga sangat keras kepala. Aku yakin dia hanya ingin menyenangkan tuan Calvin diakhir hidupnya. Kasihan, tuan Ed kembali patah hati." Kata Keyri sambil menggelengkan kepalanya.
Nana tersenyum. "Mungkin benar apa yang mereka katakan, cinta tak selalu harus memiliki"
***********
Calvin terpana melihat penampilan Jien. Gaun berwarna merah yang nampak longgar di tubuhnya, sepatu tanpa hak dan jaket berwarna hitam.
Jakarta sedang udaranya sangat panas hari ini. Apakah gadis ini tak merasa kepanasan. Dan sepatu tanpa hak itu, sejak kapan Jien memakai sepatu seperti itu. Bukankah ia selalu menggunakan sepatu hak tinggi dan baju yang pas dengan bentuk tubuhnya yang sangat menarik ini?
"Calvin, aku datang untuk memberikan obat bagi kesembuhanmu!" kata Jien. Ia semalam sudah tiba di Jakarta dan pagi ini mereka janjian di kantor Calvin untuk ketemu
"Obat apa?"
"Transplantasi sel puncah darah tali pusat"
Calvin terkejut. Lalu ia tersenyum sinis "Bagaimana kamu bisa memberikan itu padaku?"
"Aku sedang mengandung anakmu. Usia kandunganku sudah hampir 6 bulan" kata Jien sambil membuka jaketnya.
Calvin terpana saat melihat kalau dibalik jaket itu perut Jien yang biasa rata kini sudah membuncit.
"Kau hamil anakku?" tanya Calvin dengan detak jantung yang sangat kencang.
"Ya"
Lerina yang ada di depan pintu terkejut saat mendengar itu. Jien hamil???
MAKASI SUSAH BACA PART INI
LIKE, KOMEN DAN VOTE YA JIKA SUKA
__ADS_1