LERINA

LERINA
Tak Bisa Kembali


__ADS_3

Edward yang bersandar di pagar pembatas balkon menatap Jesica tanpa berkedip. Seakan ia menikmati wajah cantik yang pernah sangat dipujanya.


Udara dingin yang mencoba mengusik kebaradaannya di balkon itu seakan tak dipedulikannya.


Sementara Jesica yang berdiri di depan pintu pun masih memandangnya. Mencoba menemukan tatapan hangat dari mata biru di depannya yang selalu membuatnya tenggelam dalam lautan cinta yang dalam.


Mulut Jesica ingin menjawab pertanyaan Edward. Namun kalimat itu seakan tertahan ditenggorokannya saat ia tak menemukan tatapan penuh cinta itu di sana. Sejuta rasa kecewa memenuhi rongga dadanya. Ia bahkan tak bisa menahan butiran bening yang jatuh disudut matanya.


"Ed....apakah kau sungguh telah melupakan aku?" akhirnya kalimat itu meluncur dari bibir manis Jesica setelah ia mencoba menahan rasa sakit yang membuat matanya kembali basah.


Edward tersenyum dengan tatapan yang sedikit mengejek.


"Apakah kau merasa dirimu terlalu tinggi nilainya sehingga membuat aku harus terus menyimpan semua kenangan yang pernah kita lalui?" tanya Ed pelan namun sangat menusuk hati Jesica.


"Apakah Lerina adalah perempuan yang pantas untuk mendapatkan kedudukan tertinggi di hatimu? Ed, dia adalah mantan tunangan Calvin, suaminya Jien." Kata Jesica mencoba mengusik hati Edward dengan menginformasikan apa yang dia ketahui.


"Aku tahu"


Jesica terkejut mendengar pengakuan Edward.


"Dan hal itu tak mengubah keputusanku untuk menikah dengannya. Karena dia memiliki hati seputih salju yang selalu menyejukanku ketika bersamanya. Sebagaimana dirimu yang sudah menjadi masa lalu bagiku, demikian juga Calvin telah menjadi masa lalu baginya. Aku dan Lerina akan membentuk masa depan bersama tanpa ada bayang-bayangmu dan juga Calvin" Edward meletakan gelas kopi yang ada ditangannya di atas meja.


Ia kemudian melangkah masuk ke dalam ruangan papanya setelah ia menggeser tubuh Jesica yang menghalangi langkahnya.


"Ed, dengarkan aku. Aku ter...."


"Selamat pagi...." Nana tiba-tiba masuk sambil membawa tempat makan ditangannya. Menghentikan kalimat Jesica yang sudah siap dilontarkannya.


"Selamat pagi, Nana." balas Edward.


"Tuan, aku membawakan sarapan. Nyonya Lerina yang membuatnya sebelum pergi ke kantor" kata Nana sambil mengeluarkan sarapan itu dari kantong yang membungkusnya.


"Oh ya? Dia memang istri yang sangat pengertian" Kata Edward senang. Ia segera duduk di depan meja, menungguh Nana membuka kotak makanan yang ada.


Edward mengambil hp nya.


"Hallo sayang...makasih sarapannya ya..."


"Sama-sama Ed. Aku ingin kamu memakannya supaya kamu nggak sakit. Aku juga meminta Nana ke rumah sakit agar bisa menjaga papa supaya kamu dapat istirahat Ed."


"Baiklah sayang. Setelah sarapan aku akan kembali ke hotel. Setelah rapatmu selesai, susul aku di sana ya?"


"Baiklah, Ed"


"I love you, baby!" Ed sengaja menekan kalimat itu dengan suara rayuan yang manis sebelum mengahiri percakapan mereka.


Jesica yang masih berdiri di luar menatap Edward dengan kesal.


Tadi saat kubawakan sarapan dia bilang tidak lapar. Namun saat Nana membawakan sarapan yang disiapkan oleh Lerina, dia menikmatinya dengan wajah gembira. Ah...Ed, aku tak mau kehilangan dirimu.


Jesica mencoba menguatkan hati lalu ia melangkah masuk dan menutup pintu penghubung ke balkon. Ia kemudian duduk di dekat ranjang sambil menatap Ryun Ong. Apa yang harus dilakukannya sekarang?


Edward menyelesaikan sarapannya. Lalu ia segera mengambil jaketnya dan mengenakannya. setelah itu meminta Keyri untuk menjemputnya.


"Aku pergi dulu Nana. Tolong jaga daddy ya. Nanti siang Taeyung akan ke sini" Edward mendekati ranjang tempat daddynya di baringkan. Menyentuh tangan tua itu dengan hati yang bergejolak. Ia kemudian menatap Jesica.


"Aku pergi dulu!" pamitnya lalu segera meninggalkan ruang perawatan itu.


Jesica menatap kepergian Edward dengan hati yang sedih. Setelah Ed menutup pintu, Jesica mendekati Nana yang sedang membereskan meja makan.


"Nana, kamu pasti tahu kan kalau Lerina dan Ed itu sama sekali tak pacaran? Pernikahan mereka pasti merupakan suatu kontrak agar Ed bisa mendapatkan saham yang diwariskan ibunya."

__ADS_1


Nana menatap Jesica "Nyonya, jangan mengusik kehidupan tuan Ed. Dia sudah bahagia dengan nyonya Lerina. Yang aku tahu, nyonya Lerina datang ke Seoul karena dia sudah menerima lamaran tuan. Saya yang setiap hari selalu bersama mereka jadi saya yang lebih tahu bagaimana mereka berdua saling menyayangi."


"Lalu kenapa Lerina belum hamil juga? Pada hal aku tahu Ed sangat ingin memiliki anak. Pernikahan mereka kan sudah hampir 3 bulan?"


"Mungkin Tuhan belum mengijinkannya. Nyonya Lerina sehat begitu juga dengan tuan Ed. Lagi pula mereka masih sama-sama muda. punya anak sekarang atau nanti, aku pikir itu bukan masalah bagi mereka" Nana memasukan kembali kotak makanan itu ke dalam kantongnya.


"Jangan usik lagi kehidupan tuan, Ed. Dia sudah bahagia. Saya akan menungguh di luar saja" Nana segera meninggalkan kamar itu dengan sedikit kesal.


Jesica menghentakan kakinya. Ada rasa marah dan frustasi yang menderanya. Ia ingat saat Ed menemukan obat kontrasepsi di laci meja rias.


"Sayang, kau meminum ini?"


Jesica mengangguk. "Aku belum mau hamil, Ed. Aku masih ingin melanjutkan kuliahku ke S2"


Edward memegang tangan Jesica "Tapi aku ingin punya anak darimu. Aku ingin sekarang. Kamu tahu aku sangat menyukai anak-anak"


"Ed, sabarlah sedikit. Aku juga ingin punya anak darimu"


Edward nampak kecewa. Namun ia memeluk Jesica juga dengan penuh kasih.


Bayangan masa lalu itu perlahan pudar. Jesica mengepalkan tangannya dan memandang Ryun Ong.


Mengapa kau pisahkan aku dan Ed? Kau tahu Ed sangat mencintaiku. Aku benci kamu Ong..


Jesica perlahan menangis. Ia memeluk dirinya sendiri. Ia benci kenapa harus terikat dengan perjanjian konyol itu demi menolong keluarganya yang miskin. Ia benci harus melepaskan pria yang sungguh-sungguh mencintainya dan yang juga pada akhirnya dia cintai.


********


Lerina tersenyum membaca pesan dari Nana yang mengatakan kalau Ed sudah meninggalkan rumah sakit. Entah mengapa ia merasa senang saat Ed jauh dari Jesica.


"Ada apa?" tanya Yura yang sedang duduk di hadapannya sambil membaca sebuah file.


"Tidak." Lerina tentu tak dapat menceritakan pada Yura bagaimana senangnya ia saat Ed tak dekat dengan Jesica.


"Kak Taeyung!" Lerina langsung berdiri dan membungkuk hormat.


"Bagaimana hasil rapatnya?" tanya Taeyung..


"Beres kak. Kontraknya sudah ditandatangani. Hanya butuh waktu 15 menit bagi aku dan Yura untuk menjelaskannya" kata Lerina bangga sambil mengangkat sebuah map berwarna kuning.


Taeyung mengangguk senang. Setelah itu ia nampak menutup mulutnya karena batuk.


Yura yang sejak tadi diam menoleh ke arah Taeyung. Ia tahu, alergi Taeyung di musim dingin jika ia tak menjaga kesehatannya.


"Aku ke ruanganku dulu!" pamit Taeyung.


Lerina menatap Yura "Ada apa Yura?" tanyanya saat Taeyung sudah pergi.


"Setiap musim dingin tiba, Taeyung akan batuk jika tak menjaga kesehatannya. Mungkin karena semalam ia berjaga di rumah sakit. Lerina maukah kau membantuku?"


Lerina mengangguk.


"Kau ajaklah Nula ke mana saja selama 30 menit. Aku akan membuatkan teh jahe bagi Taeyung dan memberikan pijatan di kakinya. Sebab jika itu tak kulakukan, Taeyung akan semakin sakit"


Lerina tersenyum "Kau masih peduli dengannya?"


"Aku peduli karena papa juga sedang sakit. Kita harus bergantian menjaga papa di rumah sakit sementara pekerjaan di perusahaan semakin menumpuk menjelang libur natal dan tahun baru."


"Ok. Jadi bagaimana sekarang?"


"Aku ke pantri dulu untuk menyiapkan minumannya, setelah itu aku akan sms kamu untuk segera mengajak Nula"

__ADS_1


"Ok."


Yura segera keluar. Dilihatnya Nula tak ada. Mungkin dia ada di ruangannya Taeyung.


Yura segera menuju ke lantai 1 tempat pantri berada. Ia menyiapkan segelas teh jahe bagi Taeyung.


Segera ajak Nula keluar


Lerina membaca pesan itu dan segera keluar. Dilihatnya Nula baru saja keluar dari ruangan Taeyung.


"Nula....bolehkah kau menolongku?"


Nula berdiri dan mendekati Lerina.


"Apa yang bisa ku bantu, nyonya?"


"Tolong temani aku ke ruang arsip. Ada yang hendak aku cari di sana. Kepala ruang arsip kan laki-laki dan Ed tidak suka jika aku terlalu dekat dengan pegawai laki-laki"


Nula mengangguk "Baik nyonya. Ayo!" ajaknya. Ruang arsip hanya terletak satu lantai dibawa ruangan mereka.


Saat keduanya memasuki lift, Yura keluar dari lift yang lain sambil membawa teh jahe ditangannya. Ia segera mengetuk pintu ruang Taeyung dan setelah ada sahutan dari dalam, ia membukanya perlahan.


Taeyung yang sedang mengetik menghentikan kegiatannya saat melihat Yura masuk sambil membawakan sesuatu ditangannya.


"Minumlah teh jahe ini supaya badanmu hangat." Yura meletakan gelas itu di hadapan Taeyung.


"Terima kasih" kata Taeyung. Ia sangat senang mendapatkan perhatian dari Yura.


"Apakah kau masih menyimpan minyak hangat?" tanya Yura.


"Ya" jawab Taeyung sambil membuka laci mejanya dan mengeluarkan minyak hangat yang tersimpan di sebuah botol kaca kecil.


"Duduklah di sofa biar aku lebih leluasa memijat kakimu"


Taeyung mengangguk. Ia pun berpindah tempat duduk ke sofa.


Yura dengan cekatan langsung duduk bersimpuh didepan Taeyung. Ia membuka sepatu dan kaos kaki Taeyung, menuangkan minyak itu ditangannya dan mulai memijat pergelangan kaki Taeyung.


Taeyung menatap Yura dengan hati yang bergejolak. Dulu, saat Yura memijatnya seperti ini, ia seakan tak peduli. Bahkan ia akan marah-marah jika Yura memijatnya terlalu keras. Namun saat ini, ia baru menyadari bahwa Yura adalah satu-satunya wanita yang paling tahu bagaimana mengobati alerginya terhadap cuaca dingin.


Bukan hanya kakinya yang terasa hangat. Saat ini hatinya juga hangat karena perhatian Yura padanya. Ingin rasanya Taeyung memeluk dan mencium bibir tipis Yura itu.


"Terima kasih, Yura" kata Taeyung saat Yura selesai memijat kakinya dan memakaikan kaos kaki dan sepatunya kembali.


Yura hanya mengangguk lalu ia berdiri dan mencuci tangannya di wastafel yang ada di sudut ruangan.


"Minumlah teh nya selagi hangat" Kata Yura lalu ia membalikan badannya dan bermaksud akan pergi. Namun Taeyung tiba-tiba memeluknya dari belakang.


"Yura...tidurlah di kamarku malam ini. Aku sangat membutuhkanmu"bisik Taeyung.


Yura melepaskan tangan Taeyung yang melingkar di pinggangnya.


"Kau punya Nula yang siap selalu menemanimu di kamar. Kau tidak membutuhkan perempuan kampungan seperti aku" kata Yura terdengar tegas lalu ia keluar dari ruangan Taeyung.


Ada sesuatu yang menusuk dada Taeyung saat melihat kepergian Yura. Ia menarik napas panjang untuk mengurangi kepedihan hatinya.


Menyesalkah aku karena selama ini telah jahat pada Yura?


Taeyung meraih gelas yang berisi teh jahe itu. Mencium aromanya lalu mulai menyesapnya perlahan. Taeyung tahu hanya Yura yang bisa membuat teh jahe seenak ini.


MAKASI SUDAH BACA PART INI

__ADS_1


JANGAN LUPA DI LIKE, KOMENTARI DAN VOTE


Gabung ke grup chat aku yuk...


__ADS_2