LERINA

LERINA
Pupus


__ADS_3

Bersamamu kulewati


Lebih dari seribu malam


Bersamamu yang kumau


Namun kenyataannya tak sejalan


Tuhan bila masih ku diberi kesempatan


Izinkan aku untuk mencintanya


Namun bila waktuku telah habis dengannya


Biar cinta hidup s'kali ini saja


Tak sanggup bila harus jujur


Hidup tanpa hembusan nafasnya


Tuhan bila waktu dapat kuputar kembali


Sekali lagi untuk mencintanya


Namun bila waktuku telah habis dengannya


Biarkan cinta ini (biarkan cinta ini)


Hidup untuk sekali ini saja


Sebuah lagu dari Almarhum Glen Fredly, mewakili luka hati Calvin karena kehilangan Lerina


**********


Jakarta...


Calvin duduk sendiri dalam keremangan ruang tamu apartemennya. Ponselnya yang ada di meja dibiarkannya saja tak disentuh walaupun benda pipi itu sudah berbunyi lebih dari puluhan kali.


Calvin tahu kalau itu dari mamanya yang akan menyuruhnya pulang ke rumah. Namun dia memilih untuk tinggal di apartemennya saja karena ia kecewa dengan keluarganya yang memberitahukan pada Lerina perihal pernikahannya itu.


Calvin ingat, sekitar setahun yang lalu, ketika ia selalu mengalami mimisan, secara diam-diam memeriksakan dirinya ke rumah sakit. Ia tak ingin membuat Lerina khawatir karena masalah gadis itu sudah cukup berat.


Setelah melalui beberapa tahap pemeriksaan, dokter pun memberitahukan padanya mengenai penyakitnya itu.


"Tuan Calvin, hasil lab menunjukan bahwa tuan sedang menderita penyakit kangker darah stadium 3. Ini sudah masuk dalam tahap yang serius dan membutuhkan pengobatan khusus"


Saat itu Calvin bagaikan di hantam palu yang sangat besar dan berat. Dia tahu penyakit apa itu. Kemungkinan pun akan sembuh rasanya sangat tipis.


"Berapa persen kemungkinanku akan sembuh?" tanya Calvin dengan hati yang sangat perih. Ia sudah mengingat bagaimana reaksi Lerina saat mendengar hal ini.


"Semua tergantung pada ketahanan tubuh tuan dan keseriusan untuk menjalani semua prosedur pengobatan"


Tentu saja Calvin ingin sembuh. Calvin ingin lebih lama menikmati hidupnya bersama Lerina. Calvin ingin membuat Lerina bahagia. Tapi tentu Calvin harus memikirkan kemungkinan terburuknya. Jika sakitnya ternyata tak disembuhkan lagi, ia harus meninggalkan Lerina dalam keadaan yang baik. Masa depan Lerina harus terjamin dan salah satu hal yang harus Calvin lakukan adalah mendapatkan kembali perusahaan papanya Lerina.


Calvin bukanlah tipe pria yang suka mempermainkan wanita. Namun demi Lerina, dia memaksa masuk dalam kehidupan Jien. Calvin tak menyangkah kalau Jien ternyata akan sangat mencintainya. Dan Calvin tahu dosanya pada Jien takan pernah diampuni.


Dan saat Calvin bisa mencapai tujuannya, ia ternyata tak bisa bersama Lerina lagi. Karena apa yang dilihatnya di kolam air panas itu sangat menyakitkan hatinya. Lerina, adalah gadis yang sangat menjaga kesucian dirinya. Bahkan terhadap Calvin yang sudah 4 tahun menjadi pasangannya, Lerina tak mau menyerahkan kesuciannya. Ia selalu bisa mengontrol dirinya. Makanya saat melihat Lerina dengan beraninya membuka bajunya di hadapan Edward, Calvin yakin kalau hati Lerina bukan lagi untuknya.

__ADS_1


Tangan Calvin memegang foto pertunangannya dengan Lerina. Mereka berdua nampak sangat bahagia saat itu.


"Tuhan....mengapa harus sesakit ini? Mengapa aku tak bisa memeluknya lagi? Mengapa aku tak bisa menjadikannya pasanganku lagi?" keluh Calvin sambil mendekap foto mereka.


"Tak bisakah di sisa hidupku yang singkat ini, aku memiliki waktu bersamanya? Aku ingin menutup mata dalam dekapannya. Aku ingin menghembuskan napas terakhirku sambil menatap wajahnya. Atau, sebegitu kejamkah takdir yang Kau tuliskan untukku?"


Air mata Calvin jatuh seiring dengan rasa perih yang memenuhi dadanya. Calvin sungguh hancur kehilangan gadis yang dicintainya.


Calvin masih terus duduk sambil memeluk foto Lerina. Entah sudah berapa lama seperti itu sampai ponselnya berbunyi lagi. Kali ini bunyi pesan masuk. Calvin memutuskan untuk mengambil hp nya. Senyum di wajahnya langsung mengembang saat ia melihat nama Lerina yang tertera sebagai pengirim pesan.


Terima kasih sudah mewujudkan janjiku pada


almarhum papaku. Aku pun sudah memaafkan


semua yang terjadi pada kita. Mungkin semua ini


cara Tuhan untuk mengatakan kalau kita tak berjodoh. Aku mendoakan yang terbaik untukmu.


Tapi, apakah kau baik-baik saja di sana? Mengapa aku merasa kalau smsmu kemarin sepertinya kau sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja?


Calvin merasa terhibur membaca sms itu "Terima kasih sudah peduli padaku" gumannya lalu meletakan hp nya kembali.


************


Sekali lagi Lerina harus jujur, bahwa ia tak bisa menolak pesona Edward dalam hidupnya. Saat pria itu mencium dan mencumbunya malam ini, Lerina tahu betapa besar hasrat yang Edward miliki. Namun Edward dengan sopan masih menanyakan pada Lerina.


"Sayang...bolehkah aku..."


Lerina tersenyum "Memangnya nggak bisa di tahan lagi?" tanya Lerina sedikit menggoda.


Edward tersenyum "Bisa. Sebulan juga nggak masalah"


"Iya."


"Ya sudah!" Lerina menurunkan kembali gaun tidurnya yang terlanjur diangkat oleh Edward saat mereka berciuman tadi.


Edward pun langsung bangun dan duduk di tepi tempat tidur sambil membelakangi Lerina.


"Aku mau mandi ya" kata Edward tanpa membalikan badannya.


"Mandi? Tadikan kamu juga baru selesai mandi!" Lerina tersenyum. Ia tahu Edward pasti akan berendam air dingin untuk mendinginkan hasratnya itu.


"Tadi aku cuma cuci muka!" Edward akan berdiri namun Lerina menahan tangannya.


"Ed..tolong ambilkan selimut ya...aku kedinginan"


Edward mengerutkan dahinya. Bukankah selimutnya ada dibawa kaki Lerina. Apa susahnya ia mengambilnya sendiri. Edward pun meraih selimut itu dan membalikan tubuhnya. Selimut yang dipegangnya langsung dijatuhkannya begitu saja di lantai karena ia mendapati, Lerina sudah polos. Tangan istrinya itu bahkan sudah menutupi wajahnya karena sesungguhnya Lerina malu menggoda Edward seperti ini.


"Kau...!" kalimat Edward tersendat. Ia menelan salivanya dengan kasar.


"Selimutnya mana, Ed...!"ujar Lerina tanpa melepaskan tangannya yang menutupi wajahnya.


"Aku rasa kau tak butuh selimut karena aku yang akan menghangatkanmu!" bisik Edward lalu menarik tangan Lerina dan langsung memposisikan dirinya di atas istrinya itu. Edward tak akan menahan dirinya lagi. Sekalipun ia harus hati-hati karena bekas tembakan diperut Lerina yang belum sembuh benar.


**********


Malam semakin larut. Lerina bahkan sudah meringkuk manis dibalik selimut tebalnya. Ia bahkan tak punya tenaga lagi untuk menggenakan gaun tidurnya. Ed sudah membuatnya sangat lelah.

__ADS_1


Edward melepaskan tangannya dari pelukan Lerina, lalu bangun dan mengenakan lagi celana pendeknya. Ia merasa sangat haus.


Ia menyeberangi ruangan dan membuka kulkas yang memang tersedia di kamar itu. Mengambil satu botol air mineral dan meneguknya sampai habis.


Ed pun beranjak akan tidur lagi saat ia mendengar suara getaran hp Lerina yang diletakannya di atas nakas.


Siapa yang menghubungi Lerina di jam seperti ini?


Tangan Ed mengambil hp Lerina, memasukan kata sandi yang memang sudah diketahuinya. Dan matanya terbelalak membaca pesan masuk itu dari Calvin.


Ada apa Calvin menghubunginya di jam seperti ini? Bukankah sekarang di Jakarta sudah hampir jam 3 subuh? Apakah pria itu tidak bisa tidur dan menghubungi Lerina?


Aku baik-baik saja. Terima kasih atas perhatianmu.


Dahi Ed langsung berkerut. Rasa kantuknya pun hilang berganti dengan perasaan cemburu. Apakah Lerina menghubungi Calvin lebih dulu?


Tangan Ed bergerak cepat membuka isi pesan Lerina yang lain. Hatinya merasa terbakar membaca pesan yang dikirimkan Lerina pada Calvin beberapa jam yang lalu. Tepatnya sebelum mereka bercinta.


Isi pesan itu memang terlihat biasa saja. Namun bagian akhir pesan itu menunjukan bahwa Lerina masih memikirkan pria itu. lerina masih peduli padanya. Dan itu membuat Edward sangat patah hati. Membuat jiwa Edward memberontak. Ia tak mau Lerina berbagi perhatian dengan Calvin.


Membuang rasa kesalnya, Edward masuk ke kamar mandi, ia mencuci wajahnya di wastafel dan membasahi kepalanya yang tiba-tiba saja merasa panas.


Saat kepalanya terangkat. Ia menatap cermin didepannya yang memantulkan wajah pria yang menyedihkan. Tanpa sadar kakinya menyepak, dan terbentur pada kaki wastafel yang terbuat dari marmer yang sangat keras.


"Dem...!" maki Edward sambil duduk dan melihat jari jempolnya yang berdarah karena terkena sudut meja.


Edward membuka lemari gantung yang ada disana untuk mencari obat merah dan kapas, sampai tangannya menarik sesuatu dan membuat benda itu terjatuh.


Edward memungutnya dan langsung terbelalak saat tahu kalau itu adalah obat kontrasepsi. Ada 3 bungkus. Dan dua layar sudah digunakan.


Dada pria itu semakin sesak rasanya. Sebuah pertanyaan muncul dan membuatnya hampir kehilangan kendali lagi. Apakah Lerina memang tak ingin punya anak dariku?


*********


Lerina sebenarnya masih mengantuk. Ia juga tahu kalau hari belum terlalu pagi. Dia menggeser tubuhnya perlahan untuk memeluk Edward. Ingin rasnya memeluk Ed dan merasakan kehangatan tubuh suaminya itu. Namun tempat disampingnya kosong dan Lerina sayup-sayup mendengar ada suara TV yang diputar pelan.


"Ed...!" panggil Lerina sambil mencoba untuk bangun. Tangannya yang satu menahan selimut agar tidak jatuh sementara tangannya yang lain mengucek-ngucek matanya.


Di lihatnya Edward sedang duduk sambil menonton TV.


"Ed, mengapa sudah bangun?"


Edward menatap Lerina, ia mengambil sesuatu dari atas meja lalu berjalan mendekati ranjang.


"Aku tidak bisa tidur!" kata Ed sedikit pedas kedengarannya.


Lerina terkejut. Apa yang membuat Ed marah padanya?


"Ada apa, Ed?" tanya Lerina bingung.


Edward melemparkan obat kontrasepsi itu dan jatuh tepat dipangkuan Lerina.


"Apakah aku pernah memintamu untuk menggunakan ini?" tanya Edward dengan tatapan mata yang terluka.


Lerina diam seribu bahasa. Tubuhnya gemetar saat tangannya menyentuh obat kontrasepsi itu.


MAKASI SUDAH MEMBACA PART INI

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE, KOMENT, VOTE


__ADS_2