LERINA

LERINA
Kembali Ke Korea


__ADS_3

Apa yang diungkapkan oleh Lerina membuat Edward harus kembali bertanya.


"Sayang, kamu dan Min Jun akan ikut denganku ke Seoul? Aku tak salah dengarkan?"


Lerina menganguk. "Iya, Ed. Aku tahu kalau kamu sangat menyayangi Min Jun. Selama 2 bulan ini, kamu menjaganya tanpa henti. Aku tahu kalau kamu bersedih hati saat harus meninggalkan kami. Aku mau kita bersama terus. Makanya aku bersedia ikut denganmu ke Seoul."


Edward berdiri dan mendekati istrinya. Ia menangkup pipi Lerina dengan kedua tangannya. "Bagaimana dengan perusahaanmu?"


"Calvin akan menanganinya dengan baik. Aku juga akan mengontrol perkembangannya melalui rapat bulanan yang akan dilakukan melalui video call. Aku puas dengan perkembangan perusahaan selama 2 bulan ini dibawa pimpinan Calvin." Kata Lerina dengan senyum diwajahnya.


"Dan Calvin bersedia untuk mengolahnya?"


Lerina mengangguk. "Calvin bahkan yang mendorongku untuk ikut denganmu."


Edward langsung memeluk istrinya. "Sayang, aku senang sekali. Akhirnya kita akan bersama juga."


"Kamu dan Min Jun adalah hal terbaik dalam hidupku. Aku ingin kita bersama terus."


Edward mencium kepala Lerina sampai beberapa kali. Ia kemudian menelepon Nana untuk menyiapkan segala sesuatu di sana.


********


Selama satu minggu persiapan, akhirnya mereka siap untuk pergi ke Seoul. Bi Suni terlihat sedih saat akan melepaskan mereka pergi namun ia juga senang karena Lerina mau tinggal bersama dengan suaminya.


Nina, sang pengasuh bayi pun ikut bersama dengan mereka. Ia sangat senang karena akan ikut ke Seoul. Nina memang belum menikah sehingga itu tak menjadi halangan baginya.


Akhirnya mereka berangkat ke Seoul dengan menggunakan pesawat pribadi keluarga Kim. Lerina bersyukur karena anaknya sama sekali tak cengeng.


Saat pesawat mendarat di Seoul, Lerina tersenyum. Ia tak mengira akan kembali lagi ke sini. Musim panas hampir berlalu. Tak lama lagi musim gugur akan tiba.


"Sayang, ini kan bukan jalan menuju ke apartemen. Memangnya kita mau mampir ke mana dulu?" Tanya Lerina bingung.


Edward yang sedang memeluk Min Jun tersenyum penuh misteri."Ke suatu tempat yang akan kamu sukai."


Mobil berjalan meninggalkan padatnya ibu kota, memasuki daerah pemukiman mewah, melewati rumah demi rumah dan akhirnya sampai di sudut jalan. Sebuah rumah dengan cat cream berpadu dengan coklat. Ada taman yang luas dan indah.


"Ed, ini rumah siapa?" Tanya Lerina bingung saat Edward memintanya turun.


"Selamat datang di rumah kita, sayang."


Lerina menoleh dengan kaget. "Ru....mah kita?"


"Ya. Mulai sekarang, kita akan tinggal di sini."


Mulut Lerina membulat. Ia tak percaya dengan apa yang dilihat dan didengarnya.


"Sayang, ini benar rumah kita?"


"Ya. Ini salah satu rumah yang dibangun oleh almarhuma mamaku. Waktu kecil kami sering ke sini. Saat ku dengar bahwa kamu hamil, aku merenovasinya kembali. Untunglah bisa cepat selesai. Aku tak ingin anak-anakku dibesarkan di apartemen yang tidak ada halamannya. Aku ingin mereka bermain di sini dengan bebas dan jauh dari keramaian kota. Kau suka?" Tanya Edward.


"Suka banget!" Seru Lerina dengan wajah yang berseri.


Pintu utama tiba-tiba terbuka. Terlihat Keyri, Susan, Nana, Taeyung dan Yura bersama anak-anak mereka.

__ADS_1


"Nollada...! (Kejutan)!" Teriak mereka secara bersama.


Lerina terkejut. Ia sampai terharu menerima sambutan mereka.


"Ed, kau yang merencanakan ini?" Lerina menatap suaminya.


"Bukan. Aku sama sekali tak merencanakan ini." Kata Edward sambil menggeleng.


"Ini semua rencananya Yura. Dia ingin memberikan sambutan selamat datang dengan cara yang berbeda." Kata Taeyung.


Lerina menatap Yura. Perempuan itu mengedipkan matanya sambil tersenyum. "I miss you!" Ucap Yura.


Lerina mendekati Yura. "Aku juga merindukanmu."


Nana mengambil anak Yura dari pelukannya dan membiarkan kedua menantu Kim itu saling berpelukan.


"Aku senang kita akan bersama lagi." Kata Yura.


Lerina hanya mengangguk. Ia bahagia bisa hadir lagi di antara mereka.


Mereka pun masuk ke dalam rumah. Ruangan tamu yang bernuansa warna coklat kayu membuat lantai satu rumah itu terlihat mewah. Lerina menyukai semua perabotan yang ada di sana. Apalagi batas ruang makan dan ruang keluarga ditaruh sebuah aquarium yang besar.


Setelah berkeliling sebentar, mereka pun makan siang bersama. Semua memuji ketampanan Min Jun sebagai fotocopi dari papanya. Tentu saja Edward sangat bangga karena anaknya itu dikatakan sangat mirip dengannya. Acara penyambutan kedatangan Lerina berjalan dengan sangat meriah.


*************


"Sayang, apakah Min Jun sudah tidur?" Tanya Edward melihat istrinya sudah masuk ke kamar.


"Karena memang harus demikian. Lagi pula kamar Min Jun dan kamar kita berhadapan. Aku memasang CCTV di sana sehingga kita bisa mengontrolnya dari sini. Min Jun menangis pun ada terdengar melalui alat audio yang dipasang di sana dan terhubung ke kamar kita. Apalagi yag kau takutkan? Di samping Nani, ada juga Nana yang akan membantu mengawasi anak kita 1x24 jam. Apalagi yang kurang?" Tanya Edward lalu mendekati istrinya yang sedang berdiri di depan walk in closet untuk ganti pakaian.


"Aku sudah terbiasa dengan Min Jun yang tidur di sampingku."


Edward memeluk istrinya dari belakang. "Malam ini, bolehkah aku dulu yang tidur di sampingmu?" Tanya Edward sambil berbisik lembut ditelinga istrinya.


Lerina yang baru akan membuka bajunya untuk diganti dengan gaun tidur langsung mengurungkan niatnya. Ia membalikan badannya dan menatap suaminya dengan kaget. "K...au akan memintanya sekarang?"


"Ya. Aku sudah bertanya sama dokter. Sebenarnya kau siap untuk melakukan hubungan intim denganku setelah 6 minggu melahirkan. Dan sekarang, Min Jun sudah berusia 11 minggu, ditambah 1 minggu sebelum kau melahirkan berarti sudah 12 minggu. Genap 3 bulan kan?" Kata Edward sambil mengangkat kedua tangannya dan menggerakan jari-jarinya dengan gaya menggoda.


"Tak bisa ditambah 1 minggu lagi ya?" Tanya Lerina, mencoba bernegosiasi.


"Sayang, si dia hampir karatan. Apakah kau tega mau menundanya lagi?"


Lerina tertawa melihat wajah suaminya yang terlihat hampir putus asa.


"Baiklah."


Wajah Edward langsung berubah gembira. "Benar boleh?"


Lerina mengangguk dengan wajah yang sedikit merah. Ia sendiri agak malu untuk memulai kembali.


Edward langsung melingkarkan tangannya dipinggang istrinya dengan gerakan menggoda. Baru saja ia akan menunduk untuk mencium istrinya, tiba-tiba terdengar suara ketukan dipintu kamar.


"Nyonya, maaf menganggu!" terdengar suara Nina.

__ADS_1


Lerina menatap suami. "Pasti Bragi bangun lagi."


"Sayang, apakah mereka tidak bisa menjaga Bragi sebentar saja?"


Lerina segera menjauh dari Edward dan membuka pintu kamarnya. "Ada apa Nina?"


"Min Jun bangun lagi. Sudah diberi susu tapi tak mau."


Lerina segera melangkah ke kamar anaknya. Di lihatnya Nana sedang menggendongnya.


"Ada apa, Nana?"


"Sepertinya dia merasa asing dengan tempat ini, nyonya. Lihat saja matanya yang selalu bergerak di segala arah." Kata Nana.


Lerina menatap putranya. "Ada apa sayang? Ini kamar Min Jun Juga kan? Min Jun belum terbiasa ya?" Tanya Lerina lalu mengambil anaknya dari gendongan Nana. Bayi bertubuh montok itu sedikit rewel. Saat Lerina membuka bajunya dan berusaha menyusui anaknya itu, Min Jun tak mau meminum ASI dari mamanya.


"Sayang, ada apa?"


Edward masuk ke dalam kamar Min Jun. Ia mengambil putranya itu. "Ada apa anakku, sayang? Ingin tidur bersama daddy?" Tanya Edward lalu menimang anaknya itu. Edward meminta Lerina untuk memutar CD rekaman pianonya. Itu memang kebiasaan Edward di Jakarta. Selalu memutar lagu saat menindurkan Min Jun.


Tak lama kemudian Min Jun kembali tertidur. Edward pun menaruhnya kembali ke tempat tidur putranya itu.


"Nina, biarkan lagunya tetap menyala selama 2 jam sampai waktunya Min Jun akan minum susu lagi." Pesan Edward sebelum menarik tangan istrinya menuju ke kamar mereka kembali. Ia sungguh sudah tak sabar untuk melanjutkan apa yang tadi tertunda.


😍😍😘😘


************


3 bulan pun berlalu tanpa terasa. Edward selalu bersemangat setiap kali pulang dari pekerjaannya. Sesibuk apapun dia, selalu menyempatkan waktu untuk memandikan atau menyuapi putranya yang kini sudah berusia 6 bulan.


Lerina masih tetap bekerja walaupun hanya melalui video call. Ia sering memimpin rapat dan menerima laporan dari masing-masing devisi. Lerina sungguh bersyukur karena perusahaannya terus mengalami peningkatan dibawa pengawasan Calvin.


"Nyonya, aku mau menidurkan Bragi dulu ya?" Ujar Nina saat melihat bayi itu sedikit rewel.


"Baiklah."


Nina langsung mengambil Bragi dari kereta bayinya dan menaiki tangga menuju ke lantai dua tempat kamar Bragi berada.


Saat Lerina akan menuju ke dapur, terdengar bunyi bel pintu. Ia tahu kalau Nana dan para pelayan sedang menikmati makan siang mereka.


"Biar saya yang buka." Kata Lerina sedikit keras suaranya supaya mereka mendengar tak menganggu makan siang Nana dan semua pelayan yang ada. Di rumah ini, selain Nana dan Nina, ada juga 4 orang asisten rumah tangga, seorang tukang kebun dan 2 sopir.


Lerina membuka pintu rumah tanpa memeriksa siapa yang membunyikan bel.


"Selamat siang."


Lerina terkejut melihat siapa yang datang. Wajahnya langsung pucat. Seperti melihat hantu.


"Kau....!" Bahkan untuk menyebut namanya pun Lerina tak mampu.


Siapakah tamu itu?


Jangan lupa Like, komen dan vote ya

__ADS_1


__ADS_2