LERINA

LERINA
Persiapan Pesta Kejutan


__ADS_3

Yura menatap Chun Hei yang sudah tertidur di box bayinya. Bayi Chun sudah berusia hampir 5 bulan. Ia juga sudah sangat aktif bergerak membuat Yura sedikit kesulitan memeluknya karena kandungan Yura sudah memasuki bulan ke-7.


Setelah memastikan bahwa gadis kecil itu sudah benar-benar terlelap,Yura segera meninggalkan kamar untuk menyiapkan makan malam. Waktu sudah menunjukan pukul 4 sore.


Saat ia menuruni tangga, Taeyung nampak baru masuk dari pintu depan.


"Sayang? Kau sudah pulang?" Tanya Yura terkejut.


"Iya. Di kantor sedang tidak banyak pekerjaan."


"Bukankah hari ini ada rapat pemegang saham?"


"Rapatnya di tunda karena Ed belum pulang." Kata Taeyung lalu mendekati istrinya. Ia mencium dahi Yura lalu berpindah ke perut Yura yang semakin membuncit.


"Apakah jagoan papa nakal hari ini?" tanya Taeyung sambil terus membelai perut Yura.


"Dia bergerak terus dengan sangat aktif. Sama seperti kakaknya Chun Hei yang semakin aktif saja." Kata Yura lalu mengambil tas kerja Taeyung dan segera membawanya ke ruang kerja.


"Kau mau minum kopi?" Tanya Yura saat keluar dari ruang kerja dan menemukan suaminya sedang duduk di kursi meja makan sambil memainkan hp nya.


"Tidak. Aku mau minum air putih saja."


Yura pun mengambilkan air untuk suaminya. Lalu ia meletakan gelas itu di depan Taeyung.


"Kenapa Ed belum jadi pulang? Apakah dia liburan dulu ke Bali?" tanya Yura penasaran.


Taeyung tersenyum. "Dia dan Lerina bersama lagi. Pengacara kita bahkan sedang mengurus proses pembatalan perceraian. Dan yang mengejutkan lagi adalah Lerina sedang hamil. Hampir 5 bulan"


"Astaga?" Yura menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ia kaget sekaligus juga bahagia. Setelah itu tangannya membelai perutnya sendiri. "Ah..., ternyata usia kehamilan kami tak jauh berbeda. Aku sudah tak sabar untuk bertemu dengan Lerina. Apakah mereka akan datang ke sini?" Tanya Yura sangat penasaran.


"Entahlah sayang. Edward juga belum memberitahu bagaimana keputusan Lerina. Kamu tahu sendirikan, gadis itu sangat keras kepala."


Yura tersenyum. Ia membayangkan bagaimana Lerina akan tetap keras kepala dengan perutnya yang buncit.


"Aku sangat merindukan, Lerina." Ujar Yura lalu menatap ke arah ruang tamu. Di sana ada foto pernikahan Lerina dan Edward yang masih terus dipajangnya. Yura rindu mereka akan bersama-sama lagi.


***********


Sebuah kecupan lembut di pipinya, membuat Lerina membuka matanya perlahan. Ia langsung tersenyum melihat Edward yang duduk di pinggir sofa yang digunakan olehnya untuk tidur.

__ADS_1


"Ed, apakah aku tidur cukup lama?" tanya Lerina sambil berusaha bangun dan duduk dengan benar.


"Ya. Kau tidur hampir 3 jam. Sebenarnya aku tak tega membangunkanmu tapi kita akan terlambat dalam perayaan nanti malam. Sekarang sudah jam 4 sore."


"Astaga..., aku pasti kelelahan karena ulahmu semalam." Kata Lerina menahan tawa sambil memukul pundak Edward dengan gemas.


Edward hanya terkekeh. "Aku janji sebentar malam cukup satu kali saja."


Lerina langsung melotot ke arah Edward. "Memangnya sebentar malam mau lagi?"


"Sayang, kita kan baru saja ketemu. Jadi seharusnya kita masih dalam suasana bulan madu." Kata Edward dengan tatapan menggoda.


Lerina langsung berdiri dan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah selesai, ia segera keluar.


"Kita pergi sekarang?" Tanya Edward.


"Pergi kemana?" Tanya Lerina bingung.


"Malam ini kita akan membuat perayaan bersama dengan seluruh kariawan yang ada di perusahaan ini. Jadi kita akan ke hotel. Di restoran hotel itu, kita akan merayakan hari bahagia ini. Ayo!" Edward menggandeng tangan Lerina dan segera meninggalkan ruang kerja itu.


20 menit kemudian, mereka sudah tiba di hotel yang dimaksud. Lerina menatap hotel mewah itu yang bernama The Thomson Hotel's.


Lerina merasa agak risih dipandang begitu. Namun Edward justru menunjukan kepemilikannya pada Lerina dengan melingkarkan tangannya ke pinggang gadis itu sambil melangkah memasuki lift.


"Ed, kenapa kita tidak mendaftar di lobby dulu?" tanya Lerina saat keduanya sudah ada di dalam lift.


"Aku dan Keyri sudah cek in tadi sebelum ke kantormu." Kata Edward tanpa melepaskan pelukannya di pundak Lerina.


"Ed, aku jadi malu kalau kamu memelukku seperti ini." Kata Lerina berusaha melepaskan diri namun Edward justru menariknya lebih dekat sehingga tubuh Lerina kini berada dalam dekapan Edward.


"Kau adalah milikku. Itu yang harus mereka tahu." Kata Edward lalu mencium kepala Lerina.


Pintu lift terbuka di lantai 14. Lantai ini hanya berisi 4 kamar presidential suite room. Edward keluar dari lift sambil kembali melingkarkan tangannya dipinggang Lerina.


"Kamar kita nomornya 1402A." kata Edward lalu segera mengarahkan kakinya menuju ke kamar yang letaknya paling ujung.


Setelah masuk ke dalam, Lerina dibuat kagum oleh kemewahan kamar itu yang ada ruang tamu dan pantry sendiri.


"Ed, acara seperti apa yang akan kau buat?" Tanya Lerina lalu mendaratkan pantatnya di sofa cream yang ada di ruang tamu.

__ADS_1


"Kejutan pokoknya." Jawab Edward dengan senyum manisnya. "Sebaiknya kamu mandi saja. Nanti tukang make up nya keburu datang." Kata Edward lalu membuka pintu yang ada di belakang Lerina. Ruang tidur. Mata Lerina langsung tertuju pada sebuah gaun pengantin berwarna putih tang digantung di sana, bersebelahan dengan sebuah tuxedo berwarna hitam.


"Ed, bagaimana kau bisa menyiapkan gaun seindah ini?" Tanya Lerina lalu mendekat dan menyentuh gaun itu dengan tangannya.


"Sebenarnya tadi malam, selesai kita bercinta dan kau sudah tertidur, aku menelepon Keyri dan memintanya untuk menyiapkan ini semua. Keyri memang sedikit kewalahan harus mencari semuanya mulai pagi. Namun itulah untungnya berteman dengan Arnold Manola. Ia meminta sepupunya Ezekiel yang memang disamping memiliki hotel ini, juga memiliki beberapa butik. Semuanya siap sebelum jam 9 tadi pagi."


Lerina menatap Edward dengan senyum yang termanis yang bisa dimilikinya.


"Terima kasih, Ed." Ujar Lerina lalu memeluk Edward dengan sangat erat. Ketika pelukan mereka berakhir, Edward langsung menunduk dan mencium bibir Lerina dengan sangat lembut. Lerina pun membalas ciuman Edward dengan rasa yang sama. Keduanya terlena dalam ciuman hangat yang awalnya lembut kini berubah menuntut. Tangan Edward bahkan sudah menyentuh bagian terfaforitnya di tubuh Lerina. Sekalipun terlena namun ada sinyal peringatan yang di kirimkan oleh alam bawa sadarnya bahwa ini berbahaya jika diteruskan.


Lerina mengahiri ciumannya walaupun Edward nampak tak rela.


"Sayang...!" Edward nampak merajuk.


"Ed, aku harus mandi dan bersiap-siap. Kau tahu kalau aku juga menginginkannya. Tapi kita bisa terlambat." Kata Lerina mengingatkan Esward lalu ia segera melepaskan tangan Edward yang masih melingkar dipinggangnya.


"Aku mandi dulu ya sayang..." Kata Lerina lalu segera masuk ke kamar mandi. Edward sebenarnya ingin menyusul Lerina. Namun langkahnya terhenti mendengar bunyi bel pintu. Ia pun melangkah menuju ke pintu masuk yang ada di ruangan tamu.


Melalui layar monitor yang ada di depan pintu, nampak Keyri sedang berdiri dengan seorang perempuan berusia 40-an.


Edward langsung membukanya.


"Selamat sore, bos. Ini adalah make up artis yang direkomendasikan oleh anak buah tuan Ezekiel." Kata Keyri begitu dia dan perempuan itu masuk.


"Istriku sedang mandi. Kau tunggulah." Kata Edward.


"Baik tuan. Nama saya Wanda." kata Wanda sambil memperkenalkan diri. Wanda ternyata bisa berbahasa Korea.


20 menit kemudian, Lerina segera selesai mandi dan langsung di dandani. Edward memilih untuk mandi juga sambil membawa tuxedonya ke kamar mandi karena Edward tak mungkin akan akan ganti baju di depan Wanda.


Akhirnya Edward dan Lerina pun sudah siap. Lerina nampak cantik dengan gaun pengantin yang modelnya sangat sederhana namun tak mengurangi kesan mewah. Rambutnya digulung ke atas dan ada sebuah mahkota kecil perak menghiasi kepalanya. Gaun pengantin ini bentuknya melebar di bawah sehingga membuat perut Lerina yang mulai membuncit tak kelihatan.


1 jam kemudian, Edward dan Lerina sudah berjalan keluar kamar sambil bergandengan tangan layaknya sepasang pengantin.


Restoran yang mereka tujuh bukanlah tempat makan para tamu hotel yang biasanya ada di lantai 1, melainkan ruangan restoran baru yang ada di lantai 10.


"Kamu siap?" tanya Edward. Lerina hanya mengangguk. Saat pintu restoran terbuka, Lerina langsung terpana..


KEJUTAN APA YANG AKAN DIBERIKAN EDWARD

__ADS_1


JANGAN LUPA COMEN, LIKE AND VOTE YA


__ADS_2