LERINA

LERINA
Menguak Cerita Lama


__ADS_3

Edward tak dapat menahan dirinya lagi melihat Lerina terbaring tak berdaya di atas meja rapat. Ia pun mau untuk menolong istrinya namun saat ia berdiri dari tempat duduknya, pundaknya langsung dihajar menggunakan senjata yang dipegang oleh para penjahat itu. Edward langsung pingsan.


"Ed....!" teriak Jesica saat tubuh Edward jatuh dengan kepala yang membentur meja didepannya.


Ryun Ong semakin tegang melihat putra bungsunya itu diam tak bergerak.


Ryun Wong tak peduli. Tangannya sudah mulai turun ke bagian perut Lerina untuk membuka kancing celana yang dikenakan gadis itu.


Lampu yang ada di ruangan itu tiba-tiba padam. Lalu terdengarlah beberapa kali bunyi tembakan dan asap yang sangat menyakitkan mata. Dan setelah itu pintu terbuka dengan beberapa orang polisi yang masuk bersama Keyri.


Saat lampu menyala nampak semua anak buah Ryun Wong sudah terkapar namun lelaki bertato itu ternyata sudah kabur lewat pintu samping.


Para petugas rumah sakit yang memang sudah ada langsung membawa Ryun Ong yang juga sudah pingsan dengan memberikan pertolongan pertama baginya.


Taeyung langsung mendekati Yura dan membuka ikatan ditangannya. Yura langsung memeluk Taeyung dengan tubuh yang bergetar karena ketakutan.


Keyri mendekati Edward dan memberikan alkohol pada pria itu agar dia sadar.


"Lerina....!" teriak Edward saat melihat Lerina terbaring lemah tak bergerak.


Saat Edward mengangkat tubuh Lerina, nampak perut Lerina mengeluarkan darah yang sangat banyak.


"Pasti Ryun Wong yang melakukannya karena para penembak jitu itu memang hanya dikhususkan untuk menembak para penjahat sesuai dengan target yang sudah ditandai melalui sinar laser." kata Keyri.


"Sayang...bertahanlah..!" ujar Edward dengan tangan yang bergetar sambil mengangkat tubuh istrinya dan memasukannya ke dalam ambulance yang sudah tersedia di sana.


Satu jam sebelum itu.....


Keyri yang sedang bertugas didepan laptop untuk menampilkan laporan keuangan yang diselewangkan oleh Nula dan kawan-kawannya mendapatkan laporan dari pengawal pribadi Edward di lobby bahwa kawanan Ryun Wong sudah masuk dan mengusir semua orang yang ada disana. Ia bahkan menembak petugas keamanan yang berusaha mencegah mereka untuk masuk.


Keyri langsung menghubungi pihak polisi yang memang sudah dipersiapkan dan meminta ada penembak jitu supaya hadir.


Ketika Ryun Wong mengusir semua orang kecuali keluarga Kim, Keyri pun segera keluar dan mengatur strategi untuk menyelamatkan keluarga Kim.


Para pengawal pribadi Edward langsung menyingkirkan beberapa anak buah Ryun Wong yang berjaga di pintu masuk dan di depan pintu masuk ruang rapat.


Saat ada dua orang penjahat keluar untuk membawa Calvin dan Jien, kesempatan itu dipergunakan oleh Edward untuk membunuh 2 penjahat itu. Para polisi yang sudah tiba lalu menggunakan pakaian penjahat itu dan menggunakan masker dan kacamata seperti yang penjahat itu gunakan. Lalu masuk kembali ke dalam ruangan rapat tanpa dicurigai. Mereka memakai kacamata yang berfungsi sebagai kamera karena CCTV yag ada di ruang rapat itu sudah ditembak oleh Ryun Ong.


Para penembak jitu langsung berdiri di dekat jendela kaca yang tertutup tirai, siap membidik para penjahat itu pada saat yang tepat sesuai rencana yang sudah ditetapkan.


"Maaf bos, aku sedikit terlambat karena CCTV sudah dirusak. Untunglah saat Calvin dan Jien keluar, kami menemukan ide untuk menghabisi kedua pengawal yang mengantarnya" kata Keyri saat dalam perjalanan ke rumah sakit.


"Terima kasih Keyri. Kau sudah melakukan lebih dari yang aku harapkan" kata Edward dengan wajah tegang karena melihat keadaan Lerina yang pucat bagaikan tak ada darah yang mengalir dalam tubuhnya.


"Cari Ryun Wong sampai dapat. Arahkan semua anak buah kita" bisik Edward saat ambulance sudah tiba di rumah sakit keluarga Kim.


Lerina langsung didorong ke ruang operasi. Para dokter dan perawat segera bekerja untuk mengeluarkan peluru yang ada diperut Lerina.

__ADS_1


"Ed.....!" panggil Yura.


Edward yang sedang duduk di depan ruangan operasi itu menoleh ke arah Yura.


"Ayo ke ruang perawatan. Dahimu terluka karena terbentur di meja tadi"


Edward menggeleng.


"Ayolah, Ed. Kita semua harus kuat agar bisa menghadapi semua ini. Papa juga masih di ICCU. Papa koma, Ed."


"Pasti dia sedih karena tahu mengapa Anastasya sampai bunuh diri. Ryun Wong sungguh bukan manusia. Mengapa ia tega menyakiti adikku yang begitu baik. Anastasya yang cantik dan sangat pintar. Aku sungguh ingin menghabisi Ryun Wong dengan tanganku sendiri" Edward sangat geram. Ia bahkan kembali menangis mengingat adiknya itu.


"Ayolah, Ed. Anastasya sekarang pasti sudah tenang karena kebenaran tentang dirinya sudah terkuak. Kau harus membuat dirimu kuat untuk bisa mengurus Lerina jika ia sudah selesai di operasi!" Yura menarik tangan Edward untuk dibawa ke ruang UGD.


Seorang doktet langsung membersihkan luka di dahi Edward, juga memeriksa luka yang disebabkan olwh pukulan senjata dipunggungnya.


Setelah selesai, ia langsung ganti pakaian yang sudah dibawa oleh Nana lalu kembali ke depan ruang operasi.


Jien datang mendekatinya. "Bagaimana keadaan Lerina?" tanya Jien.


"Masih di dalam. Ia kehilangan banyak darah. Untunglah stok darahnya tersedia di rumah sakit ini."


Jien duduk di samping Edward "Calvin sudah selesai di operasi. Ia masih tertidur karena pengaruh obat bius"


Edward mengangguk "Baguslah!"


"Ed, apakah kau tahu kalau Lerina dan Calvin punya hubungan saat mereka di Jakarta?" tanya Jien.


"Bagaimana kau bertemu dengan Lerina, Ed?"


"Di hari pernikahanmu. Lerina ada di sana. Sedang berdiri di pintu samping gedung, melihat pernikahan kalian dengan hati yang hancur. Aku melihatnya hendak bunuh diri. Berdiri di ujung gedung. Aku menyelamatkannya dan aku tertarik untuk menolongnya. Namun pada kenyataannya aku sungguh jatuh cinta padanya."kata Edward tenang.


"Apakah Lerina mencintaimu, Ed?"


"Kalau dia tak mencintaiku, dia tak mungkin akan menyerahkan kesuciannya padaku. Aku adalah lelaki pertama yang tidur dengannya walaupun dia dan Calvin sudah 4 tahun pacaran."


Jien menghapus air matanya "Namun Calvin tidak mencintaiku, Ed. Dia sangat mencintai Lerina. Itu yang kulihat tadi saat ia rela ditembak hanya untuk menyelamatkan Lerina."


Edward menarik napas panjang. Lalu ia menatap sepupunya yang nampak sangat sedih saat ini.


"Aku tak bisa mengatakan apa-apa, Jien. Mengenai Calvin semuanya aku kembalikan padamu. Namun percayalah kalau Lerina sejak menikah denganku sama sekali tak pernah menganggu Calvin. Dia justru ingin melihat kalian bahagia"


Jien mengangguk "Aku tahu, Ed. Lerina adalah gadis yang baik. Kau sangat beruntung mendapatkannya."


Pintu ruang operasi terbuka. Dokter Mathew Kang keluar.


"Bagaimana istriku, dok?" tanya Edward

__ADS_1


"Semuanya berjalan dengan baik, tuan Kim. Peluru yang bersarang di perut nyonya Lerina dapat kami keluarkan. Untungnya peluru itu tak mengenai bagian organ dalamnya"


"Apakah aku sudah boleh menemuinya"


"Tunggulah sampai nyonya dipindahkan di ruang perawatan intensif. Nyonya akan dipantau selama 48 jam di sana. Setelah itu dia bisa dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Permisi!" dokter Mathew membungkukan badannya lalu segera pergi.


"Ed, aku mau melihat keadaan Calvin dulu ya...!" pamit Jien.


Edward mengangguk. Saat Jien pergi, tak lama kemudian Lerina sudah didorong keluar dari ruang operasi menuju ke ruang perawatan intensif.


Hati Edward sangat bergetar melihat wajah pucat Lerina. Terbayang saat ia pertama bertemu dengan gadis itu. Wajah yang pucat dan kehilangan pengharapan membuat Edward justru tertarik untuk menolongnya. Namun kebersamaan yang terjalin justru membuat Edward jatuh cinta pada Lerina. Ia bahkan merasa sangat tergila-gila pada gadis bertubuh mungil itu.


***********


Calvin membuka matanya dan menemukan Jien sedang tertidur disebuah singel sofa yang sengaja di tarik kedekat ranjang perawatannya.


Suara rintihan Calvin saat mencoba bangun membuat Jien terbangun.."Sayang...kau sudah sadar? Bagaimana keadaanmu?" tanya Jien lalu berdiri dan memegang kepala Calvin.


"Aku haus!" ujar Calvin.


Jien langsung mengambil gelas dan menuangkan air putih dari botol air mineral lalu ia menaru sedotan didalam gelas.


"Minumlah Calvin!" ujar Jien sambil mendekatkan gelas itu ke mulut Calvin.


"Pelan-pelan. Nanti kau tersedak!" kata Jien melihat Calvin mengisap sedotan dengan sangat kuat.


Selesai minum, Jien meletakan gelas itu di atas meja kecil yang memang sudah tersedia di sana.


"Jien...bagaimana kabar Lerina?" tanya Calvin dengan suara yang terdengar sangat khawatir.


Jien menelan salivanya yang terasa pahit. Seiring dengan dadanya yang terasa sesak. Namun ia tersenyum sambil terus membelai kepala Calvin


"Lerina sempat tertembak. Namun dia baik-baik saja. Dia juga dirawat di rumah sakit ini. Jika kau sudah kuat, kita dapat menjenguknya"


Calvin menarik napas panjang. Seolah ingin membuang sesak yang ada didadanya.


"Jien, pulanglah dan istirahatlah di rumah. Tolong sewakan perawat untuk mengurusku selama di rumah sakit ini. Aku tak ingin membebanimu lagi dan membuatmu sakit hati"


"Apa maksudmu, Calvin?" tanya Jien tak mengerti.


"Setelah aku keluar dari rumah sakit ini, aku ingin supaya kita bercerai"


Air mata Jien jatuh tanpa bisa ditahannya. Hatinya kali ini benar-benar hancur.


Apakah Jien dan Calvin harus bercerai??


Di episode berikutnya, alasan Calvin menikahi Jien akan terkuak dan itu menggoyahkan hati Lerina

__ADS_1


MAKASI SUDAH BACA YA...


JANGAN LUPA LIKE, KOMENT, VOTE KASIH JUGA BINTANG 5 YA...


__ADS_2