
Lerina mendorong tubuh Calvin dengan emosi yang tiba-tiba saja meledak.
"Na, dengarkan aku dulu..." Calvin berusaha meraih tangan Lerina namun gadis itu menepisnya dengan kasar.
"Kita sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi. Aku sudah menikah demikian juga dengan kamu" ketus Lerina.
"Dengarkan aku dulu, Na. Kamu salah mengerti dengan pernikahanku dengam Jien"
"Aku tak mau mendengar apa-apa lagi darimu!" Lerina segera melangkah namun Calvin memeluknya dari belakang dengan erat.
"Sayang.....jangan seperti ini. Jangan bersama edward. Kembalilah ke Indonesia, tungguh aku di sana. Tinggal sedikit lagi maka misiku akan selesai" kata Calvin tepat ditelinga Lerina.
"Lepaskan aku...!" Lerina berusaha melepaskan dirinya namun pelukan Calvin semakin erat.
"Aku akan memaafkan semua yang sudah kau lakukan dengan Edward. Mari kita bangun kembali hubungan kita sayang...Kau adalah hidupku. Aku mencintaimu"
"Nona....!"
Lerina dan Calvin sama-sama menoleh. Nana berdiri di depan pintu masuk.
Kesempatan itu digunakan oleh Lerina untuk melepaskan diri dari pelukan Calvin. Ia segera menarik Nana dan masuk sambil menutup pintu.
"Lerina...!" panggil Calvin sambil mencoba membuka pintu itu. Tapi tidak bisa karena pintu depan hanya bisa dibuka oleh orang yang punya akses tinggal di apartemen ini.
Lerina dan Nana masuk ke dalam lift dan langsung menuju ke lantai paling atas apartemen itu. Sesampai di dalam apartemen, Lerina melempar tas yang dipegangnya dengan sembarang.
Tangisnya langsung pecah. Pertemuannya dengan Calvin membuat dadanya kembali sesak.
"Nona.....!" panggil Nana.
"Aku benci dia, Nana. Aku sangat membencinya. Kenapa dia harus menganggu aku? Mengapa dia harus menyatakan cinta segala? Dasar laki-laki penipu!" Lerina duduk di atas sofa dengan wajah yang basah. Dadanya nampak naik turun menandakan bahwa emosinya masih tinggi.
Nana diam-diam menelepon Edward.
"Tuan....sudah mulai konsernya?" tanya Nana
"Belum. Masih 30 menit lagi. Ada apa?"
"Nona nampak kacau, tadi saya memergoki tuan Calvin memeluk nona secara paksa di depan apartemen"
"Ubah panggilannya ke video call dan berikan hp nya kepada Lerina"
Nana mendekati Lerina yang masih duduk di sofa sambil menangis.
"Nona, ada telepon dari tuan Edward."
Lerina menerima hp dari tangan Nana. Nampak Edward dari seberang dengan senyum manisnya. Melihat wajah Edward, tangis Lerina semakin dalam.
"Ed...., si penipu itu menemui aku. Aku benci dia, Ed. Aku benci dia memelukku dan mengatakan kalau dia masih mencintaiku."
"Tenanglah. Sekarangkan dia sudah tidak ada"
"Rasanya sangat sakit, Ed."
"Aku mengerti"
__ADS_1
Lerina menatap pakaian yang digunakan Edward "Kamu akan konser?"
"Iya."
"Maafkan aku yang sudah mengganggumu"
"Kamu sama sekali tidak menggangguku. Sekarang berendamlah dengan air hangat dan sabun aroma tetapi. Itu akan sangat membantumu. Nanti ku telepon lagi jika konsernya sudah selelsai"
"Baiklah. Bye..." Lerina mengembalikan hp Nana dan segera naik ke atas. Ia membuka bajunya, mengisi bak mandi dengan air hangat lalu menambahkan sabun aroma terapi dan masuk ke dalamnya.
Lerina merasakan pikirannya sedikit tenang. Hampir satu jam lamanya ia berendam sampai akhirnya ia selesai dan segera membersihkan dirinya dan mengenakan baju tidurnya.
Nana membawakan teh hangat aroma melati dengan beberapa potong cake coklat.
"Terima kasih, Nana. Kau tahu apa yang aku butuhkan"
Nana tersenyum "Nona, jangan bersedih ya. Lupakan laki-laki itu. Nona tak pantas lagi menangis untuknya" kata Nana dengan penuh ketulusan.
Lerina mengangguk. Ada keharuan dalam dirinya menerima perhatian dari Nana.
"Panggil aku jika nona membutuhkan sesuatu" kata Nana sebelum menutup pintu.
Di apartemen ini memang ada 3 pelayan yang bertugas. Namun mereka akan pulang jam 4 sore. Hanya Nana pelayan yang diijinkan Edward untuk tinggal di sini.
Lerina membuka laptop dan mencoba konsentrasi dengan pekerjaannya. Ia juga menikmati teh dan cake uatan Nana.
Tak terasa sudah dua jam Lerina larut dalam pekerjaannya. Ia pun menutup laptopnya. Menggerakan badannya ke kiri dan ke kanan untuk merenggangkan ototnya. Sesaat bayangan Calvin muncul lagi.
Tepat di saat itu hp nya berbunyi. Dia melihat ada panggilan videocall dari Edward.
"Hai, Ed. Konsernya sudah selesai?"
"Ya. Kami baru saja kembali ke hotel. Apakah semuanya baik-baik saja di sana?"
"Ya. Aku berendam dengan sabun aroma terapi dan menghabiskan teh serta kue buatan Nana juga sudah selesai membaca beberapa dokumen" kata Lerina sambil mengarahkan kamera hp nya ke gelas dan piring yang sudah kosong.
"Baguslah. Aku senang mendengar kalau kamu tak larut dalam kesedihan. Bagaimana hari pertama bekerja?"
Lerina menceritakan semuanya kepada Edward. Termasuk Taeyung yang sepertinya cemburu saat Yura diperhatikan oleh 2 orang pria tampan.
Edward mendengarnya sambil tertawa " Aku senang karena kamu menikmati pekerjaannya. Tetap jaga kesehatan ya. Jangan menangis lagi ya..."
"Ya Ed. Aku tak akan menangis lagi untuk Calvin." Lerina tersenyum.
"Baguslah. Kamu mau ku bawakan apa dari China?"
"Apa saja"
"Baiklah. Tidurlah yang nyeyak"
Lerina mengangguk. Entah kenapa perasaannya menjadi senang karena bisa bicara dengan Edward. Ia bahkan ingin Edward ada di sini sekarang. Kamarnya terasa sepi karena Edward tak ada.
Ada apa dengan diriku? Mengapa aku merasa kesepian di kamar ini? Apakah karena selama 1 bulan lebih aku selalu tidur di kamar yang sama dengan Edward? Aku tak mungkin menyulai Edward kan? Ini tidak boleh terjadi. Aku mungkin hanya butuh teman karena tadi bertemu dengan Calvin.
Lerina asyik berbicara dengan hatinya sendiri. Ia pun menatap foto pernikahan mereka yang tergantung di kamar itu. Perlahan Lerina tersenyum memandang wajah Edward. ia pun membaringkan tubuhnya. Perlahan matanya mulai terpejam.
__ADS_1
***************
Edward meletakan hp nya sambil tersenyum. Ia lalu menatap Keyri "Key, besok konsernya sore kan?"
"Iya. Konsernya di mulai jam 4 sampai jam 7 malam. Setelah itu ada acara makan malam dengan promotor dan beberapa stasiun TV."
"Batalkan acara makan malamnya. Setelah konser aku ingin segera pulang"
Keyri terkejut "Tapi bos, bukankah kamu sudah tahu jadwalnya? Ada acara lain yang lebih pentingkah?"
"Aku mau pulang ke Seoul. Besok setelah konser dengan pesawat pribadi keluarga Kim"
Keyri semakin terkejut. Sejak peristiwa pertengkaran Edward dengan ayahnya, cowok ganteng itu tidak pernah menggunakan pesawat pribadi keluarga Kim.
"Kenapa bengong? Cepat hubungi pilotnya sehingga semua ijin boleh selesai sebelum siang" kata Edward lalu masuk ke kamar mandi.
Ada apa dengan bos ya?
********
Di Mansion keluarga Kim, Taeyung pun tak bisa memejamkan matanya. Saat Yura memutuskan untuk pindah kamar, Taeyung merasa kamarnya terlalu sepi. Ia harus meminta bi Yun menyiapkan segala keperluannya dan bi Yun hampir tiap hari dimarahi Taeyung karena merasa baju yang disiapkan tak sesuai dengan seleranya. Ikat pinggang, jam tangan, kaos kaki, semuanya tak ada yang cocok saat dikenakan oleh Taeyung.
Taeyung memilih untuk keluar kamar. Ia bermaksud mengambil air di kulkas saat ia mendengar suara Yura yang nampaknya sedang berbicara dengan seseorang di telepon.
Taeyung menemukan Yura sedang duduk di ruang keluarga sambil menonton TV dan menelepon seseorang.
"Ok. Besok kita pergi nonton bersama. Tapi jangan sampai larut malam ya.....ok ?.Bye..."
"Siapa yang meneleponmu?" tanya Taeyung sambil mendekat.
"Apa pedulimu?" tanya Yura tajam.
"Aku masih suamimu"
"Kita akan bercerai"
"Yura!" bentak Taeyung. Ia tak suka Yura menentangnya.
Yura berdiri dan bermaksud akan pergi namun Taeyung justru menghadangnya dan menarik tangan Yura dengan sangat kencang menaiki tangga.
Teriak Yura yang minta dilepaskan seakan tak dipeduli oleh Taeyung.
Saat mereka sudah berada di kamar Taeyung, pria itu dengan kasar mendorongnya ke atas tempat tidur dan setelah itu ia pun naik ke atas tempat tidur, mengunci pergerakan Yura dengan berada di atasnya.
"Lepask...." kalimat Yura terhenti karena Taeyung langsung membungkamnya dengan ciuman. Yura berusaha melapaskan ciuman Taeyung namun pria itu semakin dalam melancarkan ciumanya.
Yura hampir saja terlena dengan ciuman itu namun ia segera sadar dan mengigit bibir Taeyung dengan sanga kuat.
"Aow..!" Taeyung memegang bibirnya yang berdarah.
Yura dengan cepat mendorong tubuh Tae dan berlari keluar kamar.
Makasih ya suda baca
jgn lupa like, komentarnya ya
__ADS_1