
Di sebuah apartemen mewah di kota New York, nampak Jien sedang sibuk membujuk anaknya yang tiba-tiba saja menangis. Jien nampak kebingungan karena ia tak tahu apa yang menyebabkan anaknya yang baru berusia 3 bulan ini menangis dengan suara yang sangat kencang.
"Sayang, putri cantik mama, apa yang menyebabkan kamu menangis?"tanya Jien sambil terus berjalan menggendong putrinya itu.
Serafina, nama gadis cantik itu terus membuka mulutnya dengan suara tangis yang membuat Jien semakin bingung.
Calvin sedang berada di rumah sakit. Ia sudah 2 hari berada di sana untuk menjalankan serangkaian tes terakhir untuk memastikan bahwa sel kanker sudah tak ada lagi ditubuhnya. Calvin memang tak mengijinkan Jien untuk ikut karena Serafina masih minum asi dan sama sekali tak menyukai susu formula. Calvin juga tak merasa keberatan untuk menginap sendiri di rumah sakit karena dia dalam kondisi yang sehat.
"Nyonya apakah mungkin baby Serafina sakit perut?" tanya Dolly. Pelayan yang bekerja dengan mereka di apartemen ini. Wanita berusia 40-an itu nampak khawatir juga karena sudah cukup lama Serafina menangis.
"Aku nggak tahu juga. Ini pengalaman pertamaku mengurus anak. Tadi Serafina sedang tidur. Tapi saat bangun dia sudah menangis seperti ini. Aku beri asi, dia nggak mau."
Dolly mendekat, mencoba memegang tangan dan kaki Serafina.
"Tangan dan kakinya kelihatan biasa saja. Nggak dingin. Apakah dia demam?" tanya Dolly lagi.
"Tidak juga."
Saat kedua perempuan itu sedang kebingungan, terdengar pintu apartemen yang dibuka dari luar. Nampak Calvin masuk dan langsung terkejut mendengar suara tangis Serafina.
"Ada apa?" tanya Calvin sambil melepaskan tas dukung yang dibawahnya. Ia ke dapur dulu, mencuci tangannya lalu mendekat ke arah Jien dan Dolly yang nampak sibuk membujuk Serafina.
"Dia menangis terus. Tak tahu apa sebabnya. Aku sudah kasih asi tapi nggak mau." kata Jien.
"Serafina....sayang.....!" panggil Calvin lalu mengambil putrinya itu dari gendongan Jien.
"Anak papa kenapa? Merindukan papa ya?" tanya Calvin lalu mencium pipi putrinya dengan gemas.
Tangis Serafina perlahan mulai redah. Jien menatap Calvin tak percaya.
"Apakah dia merindukanmu karena 2 hari kau tinggalkan?" tanya Jien.
"Entahlah." Calvin juga bingung. Ia menimang-nimang putrinya dengan penuh kasih."Apakah benar kamu merindukan papamu ini? Tenang saja sayang, mulai hari ini papa tidak akan meninggalkanmu. Dokter mengatakan kalau sel kanker dalam tubuh papa sudah bersih. Ini semua karenamu. Bobo lagi ya...."
Setelah Serafina tertidur, Calvin membawa anaknya ke kamar dan meletakannya di dalam boxnya.
Ia memandang Jien yang di pinggir ranjangnya. Selama ini mereka memang tidur di kamar yang sama tapi di ranjang yang berbeda.
"Apakah benar kau sudah sembuh?" tanya Jien.
"Iya. Begitulah kata dokter. Aku harus mengikuti semua petunjuk untuk menjalani hidup sehat. Seperti tidak boleh merokok, tidak boleh bergadang dan makan makanan yang tidak mengandung banyak lemak."kata Calvin lalu ia melangkah mendekati Jien dan duduk di sampingnya.
"Minggu depan, kita bisa pulang ke Jakarta."kata Calvin lagi setelah ia duduk di dekat Jien. Sangat dekat sampai bahu mereka saling menempel.
"Jakarta? Bukankah seharusnya aku pulang ke Seoul? Kau boleh mengunjungi Serafina sebanyak yang kau mau. Aku tidak akan melarangmu."
Calvin menggeleng. Ia memegang tangan Jien "Aku ingin kita bersama lagi. Aku ingin kita membesarkan Serafina secara bersama. Kamu mau kan?"
__ADS_1
Jien tak dapat menahan air matanya "Kau tahu betapa besar rasa cinta yang kumiliki untukmu. Namun aku tak mau memaksamu hanya karena ada Serafina diantara kita. Bukankah kau mencintai Lerina?"
Calvin hanya bisa tersenyum."Aku memang pernah mencintai Lerina. Namun 5 bulan kebersamaan kita di sini, membuatku ingin membuka lembaran baru bersamamu. Aku merasa kalau dihatiku ini, sudah ada dirimu, Jien. Maukah kau terus bersamaku sampai hatiku ini benar-benar menjadi milikmu?"
Tanpa bisa ditahan lagi, Jien langsung memeluk Calvin dengan rasa bahagia yang sangat dalam. Ia percaya bahwa suatu saat nanti Calvin akan benar-benar mencintainya. Jien akan sabar menunggu karena ia yakin Serafina akan sangat membutuhkan papanya.
Calvin semakin mengeratkan pelukannya pada Jien. Ia tahu kalau Jien pasti akan mampu membuatnya bahagia bersama putri kecil mereka.
"Oh ya tadi Keyri telepon. Mengabarkan kalau Edward dan Lerina sudah bersatu kembali. Ed juga sudah tahu kalau Lerina hamil." kata Calvin sambil terus memeluk Jien.
"Semuanya akan menemukan kebahagiaan pada akhirnya." ujar Jien sambil terus menikmati hangatnya pelukan Calvin.
**********
Suasana di ruangan kerja Lerina jadi sepi saat dirinya dan Edward sama-sama mengungkapkan tentang keinginan mereka.
Edward berdiri sambil mengusap wajahnya secara kasar. Ia berjalan mondar-mandir tanpa bisa menyembunyikan kegalauan hatinya.
"Le, aku ingin terus berada di sampingmu. Melihat pertumbuhan anak kita. Tapi aku tak bisa tinggal di Jakarta. Aku harus menyelesaikan rekaman kolaborasiku dengan beberapa penyanyi Korea. Aku tak mungkin membatalkannya."kata Edward dengan nada frustasi.
"Perusahaanku juga baru mulai stabil. Masa aku harus meninggalkannya?" Lerina pun mengungkapkan rasa keberatannya.
"Memangnya tidak ada orang lain yang bisa menggantikanmu?"
Lerina menggeleng. "Aku tak mau menyerahkan perusahaan ini pada sembarangan orang."
Lerina diam beberapa saat. Lalu kemudian ia berdiri dan mendekati Edward. Di sentuhnya tangan Edward dan menautkan jarinya di jari Edward.
"Sayang, kau tahu karena untuk mendapatkan perusahaan ini, Calvin melakukan berbagai cara. Dia tahu kalau perusahaan ini adalah hidupku. Janjiku kepada papaku. Mungkin aku bisa meninggalkan perusahaan ini pada seseorang. Tapi belum sekarang, Ed. Aku harap kau akan mengerti." kata Lerina sedikit memohon.
"Tapi, Le...." Edward bingung harus bicara apa. Ia juga ingin tak bisa meninggalkan Seoul begitu saja. Edward telah menandatangi begitu banyak kontrak kerja karena saat itu yang ada dipikirannya adalah melupakan Lerina dengan kesibukannya. Ia sama sekali tak pernah berpikir kalau bisa kembali bersama Lerina, mengingat sifat keras kepala yang dimiliki oleh Lerina.
"Kita bicarakan nanti saja." putus Edward akhirnya."Aku mau menikmati momen bahagia ini saat berhasil melamarmu!" kata Edward lalu mencium dahi Lerina.
Senyum di wajah Lerina pun kembali terlihat. Ia pun ingin menikmati saat bahagia ini. Nantilah mereka akan membicarakan tentang hubungan jarak jauh atau salah satu ada yang mengalah.
"Ed, dimana cincin pernikahan kita. Apakah kau sudah membuangnya?" tanya Lerina saat keduanya sudah duduk diatas sofa. Kepala Lerina ada di bahu Edward sementara tangan Edward melingkar dipundak Lerina dan tangan satunya menggenggam tangan perempuan itu.
"Aku masih menyimpannya. Ada di apartemen di Seoul. Memangnya kenapa?" Edward balik bertanya setelah menjawab pertanyaan Lerina.
"Aku ingin memakainya lagi. Itu cincin yang sangat indah. Bolehkan?"
Edward mengangguk "Ok. Nanti kalau kita sudah pulang ke Seoul."
"Ed, kamu tahu kan kalau aku belum bisa ke Seoul sekarang."
"Iya. Aku tahu!" Edward mencium kepala Lerina untuk menenangkan perempuan itu lagi. Keduanya pun saling diam. Menikmati kebersamaan dengan gerakan tubuh yang saling membelai, membuat Lerina hampir jatuh dalam dekapan mimpi karena tubuhnya yang lelah. Namun ketukan di pintu membuat ia harus membuka matanya lagi.
__ADS_1
"Masuk!" kata Lerina.
Saat pintu terbuka, nampak Keyri, Vita dan ibu Suryani masuk sambil membawakan pesanan makan siang. Mereka segera mengaturnya di atas meja.
"Terima kasih!" kata Lerina lalu berdiri dan mendekat ke meja makan. Melihat makanan yang enak-enak itu, Lerina tanpa sadar menelan Salivanya.
Ketiga orang itu langsung meninggalkan ruangan setelah tugas mereka selesai.
Edward tersenyum melihat tingkah Lerina. Ia mendekat, memeluknya dari belakang sambil membelai perut Lerina.
"Anak daddy sudah lapar ya? Atau mommy nya yang kelaparan?"tanya Edward berbisik di telinga istrinya membuat Lerina menjauhkan kepalanya karena rasa geli yang diciptakan itu.
"Ed, ayo makan!" ajak Lerina lalu melepaskan tangan Edward. Ia duduk di kursi yang tersedia.
Edward pun menarik kursi yang satu agar lebih dekat dengan Lerina.
"Aku ingin disuapin!" rengek Edward dengan gaya manjanya.
"Ya Tuhan, Ed. Seperti anak kecil saja." kata Lerina sambil menggelengkan kepalanya. Edward hanya tertawa.
"Aku akan minta perhatian sekarang sebanyak-banyaknya. Karena jika anak kita sudah lahir, kamu pasti akan lebih memperhatikannya. Dan aku akan terabaikan." ujar Edward dengan wajah memohon. Lerina tak dapat menahan tawanya. Ia membelai wajah Edward dengan penuh kasih.
"Aku akan memberikan semua cinta, perhatian dan kasih sayangku hanya untukmu dan anak kita. Aku akan membuat kalian bahagia tanpa merasa kekurangan kasih sayang. Mengerti?"
Edward langsung mencium pipi Lerina bergantian dengan gemasnya. "Aku mencintaimu, sayangku. Lerinaku. Gadis keras kepalaku."
"Aku mencintaimu juga, Ed. Dengan semua kekurangan dan kelebihanmu." kata Lerina dengan mata berkaca-kaca.
"Eh, jangan menangis! Ayo sekarang kita makan. Kamu akan menyuapi aku, dan aku yang akan menyuapi kamu. Ok?"
Lerina mengangguk. Akhirnya keduanya pun makan dengan suasana romantis yang membawa kebahagiaan.
Selesai makan, Edward menelepon seseorang. Lerina kurang mendengar apa yang dikatakan oleh Edward karena ia tiba-tiba saja merasa mengantuk setelah makan siang yang cukup banyak hari ini.
Saat Edward sudah selesai menelepon, ia berbalik dan menemukan Lerina yang sudah tertidur di atas sofa dengan nyenyak.
Edward pun duduk dipinggir sofa, lalu membelai wajah wanitanya dengan hati yang bahagia. "Tidurlah sayang. Kau perlu istirahat untuk menikmati kejutanku selanjutnya." kata Edward pelan. Setelah itu tangannya turun ke bawa, membelai perut Lerina dengan penuh kasih.
"Daddy tak sabar menunggu kehadiranmu. Bujuk mommy ya, agar mau ikut daddy ke Seoul." katanya lalu mencium perut Lerina dengan lembut. Setelah itu Edward meninggalkan ruangan Lerina untuk berbicara dengan Keyri.
Begitu pintu tertutup, Lerina membuka matanya yang nampak masih mengantuk. Ia membelai perutnya sendiri sambil berkata," Anak ibu, tetap bersama ibu di sini ya? Seoul dingin. Ibu nggak suka." Lalu ia memejamkan matanya kembali.
He...he...si baby dalam perut pasti bingung ya...
So, berikan komentar kalian
Jangan lupa like dan Vote ya...
__ADS_1
Makasi atas dukungannya.