
Edward merentangkan tangannya untuk menggerakan sedikit otot-ototnya. Ia masih duduk di depan pianonya sementara Arnold sudah menikmati kopi yang disiapkan oleh Susan.
Rekaman lagu Arnold yang dipadukan dengan permainan piano Edward sudah selesai. Hanya butuh 4 hari saja mereka latihan dan akhirnya bisa menghasilkan kolaborasi yang sangat indah. Video clipnya saja sebagian sudah diambil gambarnya. Hanya tinggal beberapa bagian saja yang khusus diperankan oleh model yang ada. Baik Edward maupun Arnold sudah sepakat untuk tidak beradu akting dengan para gadis cantik yang akan muncul di video mereka.
"Kemana Keyri?" Tanya Edward saat tak melihat asistennya itu. Ia pun melangkahkan kakinya menuju ke sofa tempat Arnold duduk.
"Sudahlah jangan ditanya. Kalau Keyri menghilang, dan Susan juga tak ada. Mereka pasti ada di satu ruangan untuk memadu kasih." Kata Arnold sambil mengangkat bahunya.
Edward tersenyum sambil menggoyangkan kepalanya. "Mereka masih bulan madu. Makanya selalu saja ingin berdua." Edward menghentikan kalimatnya dan mengeluarkan hp nya yang berbunyi. Senyum diwajahnya semakin mengembang melihat siapa yang meneleponnya.
"Hallo sayang..." Sapa Edward.
"Ed, aku kangen." Terdengar suara Lerina yang merengek dari seberang sana.
"Sayang, aku juga kangen. Setiap malam aku merindukanmu. Proyekku bersama Arnold sudah selesai. Besok aku akan kembali ke Korea untuk menyelesaikan laguku bersama Laura Park. Aku akan usahakan semuanya selesai sampai satu minggu saja. Setelah itu jadwalku kosong."
"Benar ya. Awas kalau si Laura membuatmu lama ada di Seoul."
"Tenang saja, sayang. Semuanya aman terkendali. Mana mungkin aku akan menghianatimu?"
"Baiklah. Nanti aku telepon lagi. Rapatnya sudah akan dimulai. Bye..."
Edward mengahiri percakapannya sambil menatap Arnold yang sedang tersenyum padanya.
"Kau belajar bahasa Indonesia?" Tanya Arnold.
"Ya. Memang agak sulit. Tapi setiap kali aku bicara dengan Lerina, aku selalu menggunakan bahasa ini."
"Sepertinya hubungan kalian bertambah manis saja."
Edward mengangguk sambil tersenyum. "Ya. Kami akan mendapatkan anak pertama kami. Menurut dokter jenis kelaminnya laki-laki. Aku sungguh tak sabar menunggunya. Rasanya tanganku sangat bergetar setiap kali memegang perut istriku. Aku tak pernah berpikir kalau menjadi ayah seperti ini rasanya."
Arnold memejamkan matanya sebentar. Ia jadi ingat dengan gadis manis berambut coklat lurus. Gadis bermata coklat yang selalu menatapnya dengan wajah polos. Andai saja saat itu aku dan fairy...Ah, sungguh aku sangat bodoh saat itu.
"Ar, bagaimana kedekatanmu dengan tuan putri?" Tanya Edward melihat temannya itu hanya diam saja.
"Aku tak tahu bagaimana perasaanku padanya. Tapi saat aku menciumnya, dia awalnya menamparku. Namun saat aku terus menciumnya, dia justru membalas ciumanku. Dan aku merasa seperti menemukan cintaku dalam pelukannya."
"Kejarlah dia kalau kau memang menyukainya. Sudah terlalu lama kau menyendiri."
__ADS_1
Arnold tersenyum. "Dia adalah tuan putri. Rasanya sangat sulit mendapatkannya. Mungkin aku ditakdirkan sendiri."
**********
Calvin memandang Lerina yang masih asyik dengan laptopnya.
"Le, sekarang sudah jam 7 malam. Ayo, kita pulang!" Ajak Calvin.
"Sedikit lagi, Vin. Aku harus membereskan semuanya karena 2 minggu lagi, aku akan cuti." Kata Lerina tanpa mengalihkan pandangannya dari laptopnya.
"Aku akan membantumu untuk mengolah perusahaan ini."
Lerina menatap Calvin. "Maksudmu, kau akan kembali aktif di perusahaan ini?"
Calvin mengangguk. "Perusahaanku dan perusahaanmu bergerak di bidang yang sama namun beda sasaran kerjanya. Sehingga aku berpikir kalau perusahaan kita menjadi mitra maka akan sangat menguntungkan."
Wajah Lerina langsung tersenyum senang. "Terima kasih, Vin. Kau bisa mengawasi seluruh kariawanku secara langsung. Aku tak perlu lagi mencari orang lain."
"Aku hanya membutuhkan sekretarismu yang pintar itu dan wakil direkturmu untuk menemani aku."
Lerina bernapas lega. "Aku bisa mempersiapkan persalinanku dengan baik. Kau tahu kan perusahaan ini sangat berarti bagiku. Aku sudah susah payah membangunnya kembali, aku tak mau semua usahaku sia-sia."
"Baguslah. Sekarang tutup laptopmu dan kita segera pulang."
Sejak sore tadi, Calvin memang sudah ada di perusahaan Lerina untuk membahasa proyek yang akan dikerjakan oleh Lerina dan menggunakan barang yang disiapkan oleh perusahaan Calvin. Siapa yang mengira, saat melihat Lerina bekerja lembur dalam keadaan hamil membuat hati Calvin tergerak untuk menolong perempuan yang dulu sangat dicintainya itu.
Kalau mau jujur, Calvin memang masih menyimpan rasa untuk Lerina. Namun semua rasa itu selalu berusaha ditepisnya karena Calvin ingin serius dalam menjalani biduk rumah tangganya dengan Jien. Kehadiran Serafina diantara mereka telah membuat Calvin memiliki kesempatan untuk membalas semua yang sudah Jien lakukan untuknya. Kesehatan Calvin yang didapatkan melalui sel punca tali pusat dari anaknya itu membuat Calvin berjanji, akan mencurahkan seluruh kasih sayang san cintanya untuk Jien dan anak mereka. Apalagi saat ini Jien sudah memutuskan untuk meninggalkan dunia model dan tinggal bersama Calvin di Jakarta. Calvin sungguh tak ingin menyia-nyiakan pengorbanan Jien padanya.
***********
Setelah menurunkan Lerina di depan rumahnya, Calvin langsung pulang karena ia ingin makan malam bersama keluarganya. Tempat kediaman Calvin yang baru memang jaraknya hanya 5 menit dari rumah Lerina.
"Selamat malam, bi." Sapa Lerina pada bi Suni. Perempuan tua itu tersenyum.
"Selamat malam, nona. Apakah nona akan makan sekarang?"
"Aku mau mandi dulu, ya. Badanku rasanya panas. Nanti setelah mandi baru makan." Kata Lerina lalu menaiki tangga menuju ke kamarnya yang ada di lantai 2.
Saat Lerina membuka pintu kamarnya, ia terkejut melihat Edward terbaring di atas tempat tidur dengan mata yang terpejam.
__ADS_1
"Ed...!" Panggil Lerina sambil mendekat. Ia merasakan kalau jantungnya hampir saja jatuh karena mendapatkan kejutan ini.
Lerina duduk di pinggir ranjang, lalu membelai kepala suaminya. Bukankah Edward mengatakan kemarin bahwa nanti minggu depan baru dia bisa datang ke Jakarta?
Merasakan ada yang membelai kepalanya membuat Edward membuka matanya. "Sayang....!" Ujarnya sambil tersenyum melihat istrinya yang sangat ia rindukan sudah ada di sampingnya.
Lerina menunduk dan menghadiahkan satu kecupan di dahi suaminya. "Kamu sengaja ingin membuat kejutan ya?"
Edward bangun lalu mendekap istrinya. "Aku sangat merindukanmu. Pilot keluarga Kim memang mengatakan kalau minggu depan baru dia bisa mengantarku karena kurang sehat. Aku memutuskan untuk naik pesawat penumpang umum. Keyri saja aku tinggalkan karena masih sibuk mengurus istrinya yang hamil muda dan sering muntah dan pusing." Edward mencium kepala Lerina dengan luapan kerinduan.
"Kasihan, pasti capek ya naik pesawat penumpang biasa?"
"Lumayan capek karena waktunya kan lebih lama satu jam. Sekalipun duduk di kelas satu, namun tetap saja tak senyaman duduk di pesawat pribadi. Makanya tadi saat sampai, aku langsung tidur. Aku juga berpesan pada bi Suni agar tidak mengatakan kalau aku sudah datang. Aku ingin mengejutkanmu." Kata Edward sambil mengeratkan pelukannya.
"Ed, kau ada di sini sampai aku melahirkan Kim Min Jun, kan?" Tanya Lerina lalu melepaskan pelukannya. Di pandanginya wajah Edward dengan wajah penuh permohonan.
"Jadwalku kosong untuk 3 bulan ke depan."
"Aku senang, Ed." Lerina langsung mengecup bibir suaminya berulang-ulang. Hatinya bahagia karena Edward akan mendampinginya.
"Bagakmana kabar jagoanku ini?" Tanya Edward sambil membelai perut Lerina dengan lembut.
"Dia sehat, Ed. Kata dokter, 2 minggu lagi Min Jun akan lahir."
"Masih boleh dijenguk?"
Lerina menatap suaminya dengan senyum yang ditahan. "Memangnya aku masih menggairahkan untuk dilihat? Aku sudah segemuk ini. Lihatlah pipiku yang cabih ini. Kakiku yang sudah sebesar ini karena agak bengkak."
"Kau selalu cantik di mataku. Tak akan pernah berubah sekalipun berat badanmu naik 100 kilogram." Kata Edward dengan tatapan mata menggoda dan mulai mencium leher istrinya.
"Sayang, aku belum mandi. Seharian ini berkeringat. Aku mandi dulu, ya."
"Kau harum. Sangat harum. Aku suka baumu." Kata Edward tanpa menghentikan rayuannya di sekitar leher istrinya. Tangannya sudah membuka resleting gaun yang Lerina kenakan.
"Ed, kamu sudah makan? Kita makan dulu ya.." Lerina masih berusaha melepaskan diri dari genggaman suaminya.
"Aku lebih rindu menjenguk Min Jun." Ujar Edward lalu mendorong Lerina perlahan agar berbaring di atas tempat tidur.
Lerina akhirnya pasrah juga dalam belaian suaminya. Ia tahu kalau Edward begitu merindukannya. Dia juga merindukan suaminya itu.
__ADS_1
MAKASI SUDAH BACA PART INI
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE YA