
Keyri dan Susan tersenyum senang saat mereka sudah menandatangani akte pernikahan mereka. Edward dan Yura menjadi saksi.
"Yes. Akhirnya aku dan Susan terdaftar di negara ini. Sekarang kami bisa bulan madu kan, bos?" Tanya Keyri sambil menatap Edward.
"Ya. Pergilah! Selamat bersenang-senang. Semoga cepat mendapatkan litle Keyri atau litle Susan." Kata Edward dengan wajah gembira. Ia memeluk Susan dan Keyri secara bergantian. Yura dan Taeyung pun yang hadir di sana ikut memberikan ucapan selamat. Setelah itu pasangan yang sedang dimabuk cinta itu keluar dari kantor catatan sipil untuk menuju ke bandara.
"Ed, kau mau kemana setelah ini?" Tanya Taeyung saat mereka melangkah bersama meninggalkan kantor catatan sipil itu.
"Aku mau ke apartemen dulu, Hyung. Beristirahat sebentar lalu jam 5 sore nanti akan rekaman untuk album kolaborasiku." Jawab Edward.
"Kapan Lerina akan ke sini, Ed? Aku sudah sangat kangen padanya. Kami juga sama-sama hamil. Sebenarnya sangat menyenangkan jika bisa di sini bersama." Ujar Yura sambil membelai perutnya yang semakin besar saja.
"Lerina belum bisa meninggalkan perusahaannya. Ia juga punya beberapa proyek yang harus dituntaskannya." Kata Edward sedikit sedih.
"Apakah kau sudah tahu jenis kelamin bayimu?" Tanya Yura nampak penasaran.
Wajah sedih Edward berubah gembira. "Ya. Aku akan mendapatkan anak laki-laki."
"Astaga...! Berarti akan ada 2 lelaki tampan dari keluarga Kim yang akan lahir diwaktu yang hampir bersamaan." Pekik Yura tanpa bisa menyembunyikan rasa senangnya. "Aku semakin kangen saja pada Lerina."
"Lerina ingin anak kami lahir di Indonesia. Walaupun sebenarnya aku ingin dia lahir di Korea. Ya, begitulah. Istriku itu memang sangat keras kepala. Ia tak tahu betapa rindunya aku padanya saat ini." Edward hanya bisa goyang-goyang kepala sementara Taeyung hanya terkekeh melihat tingkah adiknya.
"Setidaknya, kau sudah mendapatkan dia kembali." Imbuh Taeyung.
"Ya. Itulah yang paling aku syukuri." Edward berhenti di depan mobilnya.
"Siapa yang akan menggantikan Keyri untuk sementara waktu?" Tanya Taeyung. Ia tahu kalau adiknya selama ini selalu bergantung pada Keyri untuk segala urusannya.
"Ada asisten Keyri. Namanya Noel. Pria blesteran Korea-Australia. Dia sudah 3 tahun ada di timku. Kerjanya juga bagus." Edward membuka pintu mobilnya dan segera masuk ke dalam.
"Ed, datanglah ke Mansion untuk makan malam." Kata Yura sebelum Edward menjalankan mobilnya.
"Akan ku kabari jika waktuku luang. Bye..." Kata Edward lalu menjalankan mobilnya.
Taeyung melingkarkan tangannya dibahu istrinya dan menepuknya perlahan.
"Dia menyibukan dirinya untuk menutupi rasa rindunya pada Lerina." Kata Yura.
"Ya. Tapi aku yakin tak lama lagi mereka akan kembali bersama." Ujar Taeyung.
"Kita pergi sekarang?"
"Ya. Ayo...!" Taeyung dan Yura melangkah bersisian menuju ke tempat mobil mereka di parkir.
__ADS_1
*********
Lerina membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Sudah 2 minggu Edward pergi dan ia merasa sangat kesepian. Walaupun Edward setiap hari telepon, hampir setiap jam selalu berkirim pesan, namun tetap saja ia merasa kangen.
Sejak mereka berbaikan lagi, perhatian dan kasih sayang Edward seakan-akan menjadi sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh Lerina.
"Kau bergerak sayang? Apakah kau juga merindukan daddymu? Ibu juga sangat merindukannya." Kata Lerina sambil mengelus perutnya perlahan.
Hp Lerina yang ada di sampingnya tiba-tiba saja berdering. Lerina langsung meraihnya dan tersenyum ternyata sebuah panggilan videocall dari Edward.
"Hallo, sayang." Sapa Edward sambil melambaikan tangannya. Edward terlihat sedang berada di kamar apartemennya.
"Ed, aku baru saja memikirkanmu. Bayi kita juga bergerak-gerak di dalam sini. " Kata Lerina sambil mengarahkan kamera ponselnya ke perut buncitnya.
"Aku juga tiba-tiba ingat kalian. Makanya langsung video call. Sudah mau tidur?" Tanya Edward.
"Belum. Di sini kan baru jam 6 sore. Aku baru saja pulang dari tempat kerja. Bagaimana dengan pekerjaanmu?"
"Berjalan dengan baik. Aku harap boleh ada waktu luang supaya bisa mengunjungimu di sana. Aku kangen membelai perutmu, kangen memelukmu bahkan sangat kangen ingin menciummu." Wajah Edward terlihat sedikit sedih.
"Ed, aku juga begitu merindukanmu tapi kita harus bersabar ya? Kita sama-sama punya tanggungjawab dalam pekerjaan. Aku doakan supaya semua urusanmu di sana menjadi lancar dan kau dapat datang kembali ke Jakarta."
"Baiklah. Sampaikan salam rinduku untuk Kim Min Jun ya?"
Wajah Edward langsung berseri mendengar celotehan nakal istrinya. "Awas kamu ya kalau aku bisa pulang ke Jakarta, aku tidak akan membiarkanmu pergi ke kantor lagi. Aku akan mengurungmu di kamar."
"Ah, takut..." Lerina tertawa membuat Edward tertawa juga.
"Sayang, aku mau makan malam dulu ya? Kamu juga jangan lupa makan malam. Nanti sebelum bobo, aku telepon lagi. I love you."
"I love you too. Bye...." Lerina meletakan hp nya kembali.Ia lalu memandang fotonya bersama Edward yang ada di layar hp nya. Wajah tampan yang sangat dirindukannya itu. Lerina tak menyangka kalau ia akan menikah dengan pria sebaik Edward. Pria yang telah membuatnya jatuh cinta lagi.
"Sayang, ibu yakin kalau kamu setampan daddymu. Cepat tumbuh besar di sini ya, nak" Ujar Lerina lalu menutup matanya kembali. Ia ingin bermimpi bertemu dengan Edward untuk mengobati rindunya
*********
Edward menatap wanita cantik yang ada di depannya. Laura Park. Penyanyi berusia 25 tahun ini adalah penyanyi yang memiliki banyak talenta. Suaranya merdu, dia pintar menari dan juga beradu akting. Filmnya yang terakhir bahkan mendapatkan penghargaan di Amerika. Laura sendiri lahir dan dibesarkan di Amerika sehingga pergaulannya sangat luas dan memberikan banyak masukan bagi perkembangan karirnya di Korea ini.
"Hallo, apa kabar tuan Kim?" Sapa Laura lalu memeluk Edward sambil memberikan ciuman pipi kanan dan pipi kiri.
"Panggil saja Edward, nona Laura."Kata Edward lalu mempersilahkan Laura untuk duduk. Hari ini Laura datang ke studio Edward untuk kolaborasi lagu terbaru Laura.
Laura Park duduk di depan Edward sambil tersenyum. Gaunnya yang seksi dan ketat sangat menonjolkan lekuk tubuhnya yang terlihat sempurna sebagai seorang perempuan.
__ADS_1
"Aku senang karena kau mau bekerja sama denganku, Edward. Aku sudah mengagumi permainan pianomu sejak lama." Kata Laura tanpa menyembunyikan tatapan kagumnya pada Edward.
"Terima kasih. Aku juga sudah mendengar beberapa lagumu yang sangat terkenal. Kau punya suara yang unik dan merdu."
Laura nampak merona mendengar pujian Edward. Dia sungguh tak menyangka kalau berhadapan langsung dengan Edward Kim jauh terlihat lebih tampan dibandingkan dengan yang dilihatnya di TV atau majalah. Apalagi pembawaan Edward yang sangat lembut dan sangat berwibawa. Hati Laura bergetar. Ia sungguh tak menduga pertemuan pertama ini begitu membuatnya terpesona.
"Bagaimana kalau kita mulai latihan sekarang? Studioku sudah siap." Edward langsung mengajak Laura untuk fokus pada pekerjaannya. Edward bukannya tak bisa membaca arti tatapan Laura padanya. Ia sudah selalu melihat bagaimana tatapan para wanita saat bertemu dengannya. Namun tak ada satupun yang mampu mengalahkan pesona Lerina dari hidupnya.
Sesi latihan pun dilaksanakan selama 2 jam. Suara merdu Laura sangat serasi dipadukan dengan permainan piano Edward.
"Aku sangat suka dengan hasilnya. Aku yakin kolaborasi kita ini akan berhasil." Kata Laura dengan sangat antusias.
"Baiklah. Kita akan mulai rekaman 2 hari lagi. Soalnya besok aku ada rapat pemegang saham di perusahaan keluargaku." Kata Edward. Hp nya tiba-tiba saja berbunyi. Ia langsung tersenyum melihat siapa yang menghubunginya.
"Hallo sayang..." Sapa Edward membuat Laura sedikit terkejut mendengar panggilan itu. Sayang? Apakah Edward Kim punya kekasih?
"Ed, kamu ada dimana?" Terdengar suara manja Lerina.
"Aku ada di studio. Baru selesai latihan. Kamu masih di kantor?"
"Tidak. Aku baru selesai pemeriksaan rutin kandungan. Foto USG nya aku kirim lewat WA ya? Kata dokter Dewi anak kita bertumbuh sehat dan kuat."
"Aku tak sabar untuk bertemu denganmu."
"Aku juga, Ed. Sudah sebulan kita berpisah. Andai jarak Jakarta Seoul hanya seperti Jakarta-Bandung. Aku pasti sudah menyusulmu ke sana."
Edward tertawa. "Sayang, aku juga ingin segera menyelesaikan pekerjaanku di sini. Kita sama-sama sabar saja, ya?"
"Baiklah. Jangan lupa makan siang ya? I love you."
"I love you too. Bye..." Edward mengahiri panggilan teleponnya. Ia lalu menatap Laura yang memang sedang menatapnya dengan wajah penuh tanda tanya.
"Kekasihmu?" Tanya Laura.
"Istriku."
"Istri? Aku tak tahu kalau kamu sudah menikah."
"Aku menikah sudah satu tahun lebih. Pernikahan kami memang dilaksanakan secara diam-diam karena aku dan istriku tidak suka ada pesta besar dan kejaran para wartawan. Istriku saat ini ada di Indonesia. Makanya aku sangat merindukannya." Kata Edward berterus terang. Wajah Laura nampak sangat kecewa. Namun ia tersenyum. Kekagumannya pada Edward tak juga berkurang. Haruskah Laura mengalah atau mengikuti kata hatinya yang begitu ingin mengenal Edward lebih dalam?
MAKASI SUDAH BACA PART INI
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE YA???
__ADS_1