LERINA

LERINA
Posesifnya Lerina


__ADS_3

Tak ada jawaban yang diberikan Edward atas pertanyaan Lerina. Lelaki langsung berdiri dan memeluk putranya yang baru saja bangun.


Lerina berusaha menahan rasa kesal di hatinya. Ia pun langsung mengajak Yura berbincang di ruangan kerjanya sambil menikmati cemilan yang disiapkan oleh Nana.


Semenjak Lerina tinggal lagi di Seoul, Yura sering berkunjung ke rumahnya. Demikian juga Lerina terkadang yang pergi ke rumah Yura.


Taeyung memang sudah banyak berubah. Ia sangat sabar menunggu sambil menjaga anak tertua mereka Chun Hei yang sudah berusia hampir 2 tahun. Sedangkan anak kedua mereka yang usianya hanya beda dua bulan dari Min Jun, sedang bersama pengasuhnya ditemani Nana. Anak lelaki itu bernama Kim Ryun Hong. Taeyung sengaja menamakan anaknya mirip seperti nama ayahnya karena ia sangat menyayangi almarhum ayahnya.


Kedua keluarga itu makan malam bersama, sampai akhirnya mereka berpisah karena hari sudah malam.


Lerina mandi dan setelah itu menemani anaknya. Edward sudah melaksanakan tugasnya untuk menyuapi Min Jun. Ia bahkan sudah memandikan bayi mereka. Min Jun memang sangat suka sama ayahnya. Ia selalu dibuat tertawa jika Edward bermain bersamanya.


Selesai menyusui Min Jun dan anaknya itu sudah tertidur, Lerina meletakannya di dalam box bayinya. Ia menatap Nani yang sedang membaca buku dengan judul percakapan sehari-hari bahasa Korea-Indonesia. Nani memang sementara belajar bahasa Korea. Ia begitu ingin menguasai bahasa itu.


"Nani, bagaimana perkembangan belajarmu?" Tanya Lerina.


"Saya sudah banyak tahu, nyonya. Menanyakan nama, alamat, sapaan selamat pagi, siang, malam. Nana juga membantuku dengan sangat baik." Kata Nina dengan sangat antusias.


"Tingkatkan terus. Saya mau ke kamar dulu ya? 3 jam lagi berikan Min Jun susu." Kata Lerina. Ia menatap jam dinding yang sudah menunjukan pukul 9 malam.


"Baik, nyonya."


Lerina segera menuju ke kamarnya. Edward sedang mengerjakan sesuatu di meja belajar saat Lerina membuka pintu kamar.


"Min Jun sudah tidur?" tanya Edward.


"Sudah." Jawab Lerina cuek. Ia segera masuk ke walk in closet, mengganti bajunya dengan gaun tidur. Setelah keluar dari dalam walk in closet, Lerina duduk di depan meja rias, membersihkan bekas make up nya, lalu segera ke kamar mandi untuk menggosok gigi dan mencuci muka.


Edward yang sementara membaca laporan dari kantor, menoleh sekilas ke arah istrinya yang baru keluar dari kamar mandi.


"Sayang, bolehkah kau membuatkan aku kopi?" Kata Edward.


"Buat aja sendiri atau suruh pelayan. Aku mengantuk." Sedikit ketus Lerina bicara membuat Edward kaget melihat perubahan istrinya. Sejak kapan Lerina bicara ketus seperti itu?


"Ada sayang? Kamu marah padaku?" Tanya Edward sambil mendekat ke arah tempat tidur. Lerina sudah berbaring memunggungi Edward. Ia sama sekali tak menjawab pertanyaan suaminya.


"Le..." Edward memegang pundak Lerina.


"Aku mengantuk."


"Sayang, sejak tadi wajahmu cemberut. Adakah sesuatu yang membuatmu kesal?"


Lerina bangun dan menatap Edward dengan sedikit sinis. "Mengapa kau tak mau menjawab pertanyaanku? Kau bilang ingin pergi ke pernikahannya sepupumu itu. Namun saat tahu kalau yang akan menikah dengannya adalah Jesica Chung, mengapa kamu tak mau pergi? Kamu nggak rela kalau mantanmu itu menikah?"


"Sayang, mengapa sampai kamu bicara seperti itu?"

__ADS_1


"Lalu, alasan apa yang kamu punyai sehingga tak mau datang?"


"Aku nggak mau saja ketemu dengan Jesica."


"Nggak mau ketemu karena kamu masih menyimpan perasaan khusus untuknya kan?" Tuduh Lerina membuat Edward kaget.


"Sayang, siapa bilang kalau aku masih menyimpan perasaan khusus untuknya? Aku hanya heran saja, mengapa Jesica mau menikahi Hye? Apakah karena ia tahu Hye ada hubungannya dengan keluarga Kim?"


Lerina menipiskan bibirnya tanda tak percaya. Ia bahkan berdecak kesal.


"Kamu cemburu?" Tanya Edward sambil menyentuh tangan Lerina namun istrinya itu menepiskan tangannya.


"Jelaslah aku cemburu. Kau pernah punya kisah masa lalu dengannya."


Edward tersenyum melihat wajah kesal istrinya. Ia merangkak naik ke atas tempat tidur, memeluk Lerina dengan sangat erat walaupun awalnya perempuan itu meronta-ronta, namun akhirnya ia membiarkan Edward memeluknya.


"Aku memang pernah punya masa lalu bersamanya. Namun itu sudah hilang tak berbekas di hatiku. Aku tak mau pergi ke pernikahan itu karena aku tak mau lagi berurusan dengannya." Kata Edward sambil membelai kepala Lerina yang bersandar di dadanya. "Namun, jika kau ingin aku pergi ke pesta itu untuk membuktikan bahwa aku sudah melupakan Jesica, aku akan pergi."


"Aku mau kita pergi, Ed. Untuk menunjukan bahwa kita tak dendam pada Hye, juga memperlihatkan pada Jesica bahwa kita sudah bersama dan bahagia." Kata Lerina tegas.


Edward lagi-lagi tersenyum. Hamil dan melahirkan anak telah membuat Lerina sedikit posesif padanya.


"Baiklah istriku. Apapun juga yang kau inginkan. Aku senang karena kau jadi posesif padaku."


"Apalah menurutmu." Edward terkekeh lalu mencium pipi istrinya dengan gemas. "Si merah sudah pergi, belum?" Bisiknya di telinga Lerina.


"Belum, Ed. Inikan baru hari ketiga."


"Oh...malangnya aku harus menahan diri lagi malam ini."


Lerina tertawa. Tangannya dilepaskan dari pinggang suaminya. "Makanya malam ini, aku mau tidur di kamar Min Jun saja."


"Jangan, sayang." Edward menarik tubuh Lerina lagi untuk dipeluknya. "Tidurlah di sini. 3 bulan saja aku bisa menahannya apalagi 5 hari?" Edward membaringkan tubuh Lerina lalu ia ikut tidur di samping istrinya. Keduanya saling berhadapan. Saat mata mereka bertemu, keduanya saling tersenyum.


"Mimpi indah suamiku."


"Mimpi indah juga, istriku."


**********


Hari ini Lerina akan pergi belanja kebutuhan Min Jun. Stok susunya hampir habis, begitu juga dengan popoknya.


Sejak pagi Edward sudah pergi ke studio untuk rekaman album barunya. Seperti biasa, Edward menyempatkan diri untuk menemani dan menyuapi putranya untuk sarapan sebelum pergi.


"Nyonya, Min Jun akan dibawa ke mall?" Tanya Nina.

__ADS_1


"Jangan, Nina. cuaca sekarang sering hujan. Aku tak mau lagi putraku ini sakit."


"Baiklah, nyonya."


Lerina yang sudah bersiap-siap segera menuju ke dapur.


"Nana, aku mau belanja bulanan. Ada yang ingin kau beli untuk keperluan dapur?" Tanya Lerina.


"Wah, kebetulan sekali. Aku juga mau pergi belanja, nyonya. Apakah aku boleh ikut denganmu?"


Lerina mengangguk. "Tentu saja boleh. Aku senang jika punya teman untuk belanja."


Nana langsung mengambil dompetnya, setelah itu keduanya langsung pergi bersama ke sebuah mall diantar oleh pak Cheng.


Jarak rumah mereka yang jauh dari pusat kota, membutuhkan waktu hampir 30 menit untuk bisa sampai ke sana. Apa lagi ini di jam yang sibuk. Jadi kendaraan cukup padat di jalan-jalan utama.


"Nyonya, apakah tuan tahu hari ini kita akan belanja?" Tanya Nana saat keduanya sudah berada di dalam mall.


"Aku sengaja tak memberitakannya pada Ed. Ia pasti memaksa untuk menemani. Kadang jalan bersama Ed di mall kurang menyenangkan. Banyak ibu-ibu, para gadis bahkan pernah ada anak kecil yang mengejarnya untuk minta tanda tangan, foto bersama. Sering menghambat kegiatan kami."


Nana hanya tersenyum. Ia tahu kalau Edward banyak diidolakan oleh para gadis dan ibu-ibu cantik. Wajarlah kalau Lerina sering cemburu.


Selesai dengan belanja keperluan Min Jun dan kebutuhan dapur, pak Cheng langsung membawa belanjaan mereka ke mobil.


Nana, kita ke lantai 3 dulu ya. Mau beli sepatu untuk Min Jun. Sebentar lagi dia akan belajar berjalan."


Nana hanya mengangguk. Min Jun memang bayi sehat dan montok. Ia juga sangat aktif. Nana selalu senang jika memeluk anak itu.


"Kita naik eskalator saja ya. Nanti kalau naik lift suka antri." Kata Lerina sambil menunjuk ke arah lift kaca yang ada di samping mereka. Tepat di saat itu, Lerina terkejut melihat siapa yang ada di dalam lift kaca itu.


"Nana, itukan Edward? Dan gadis yang ada di sampingnya...?"


"Itu nona Jesica Chung, nyonya." Kata Nana dengan sangat yakin. Wanita yang berusia hampir 50 tahun itu juga sangat terkejut.


"Lalu ada apa urusan apa Ed dan Jesica di lift yang sama? Memangnya di lantai atas mall ini ada studio atau semacamnya?" Lerina sudah emosi. Wajahnya sudah terlihat merah. Dadanya pun terasa sesak.


"Lantai atas mall ini, adalah hotel, nyonya."


Mata Lerina membulat. Tiba-tiba ia merasa pusing. Tangannya meraih hp dari dalam tasnya lalu menelepon Edward. Lerina benar-benar hampir pingsan saat ponsel Edward tidak aktif.


HALLO....BAGAIMANA KISAH INI BERAKHIR?


JANGAN LUPA DUKUNG AKU YA DENGAN CARA LIKE, KOMEN DAN VOTE.


yang belum gabung di grup chat, gabung yuk...biar rame

__ADS_1


__ADS_2