
"Ina, apakah kamu sedang bercanda?"
"Siapa yang bercanda?" Lerina balik bertanya dengan dahi yang berkerut.
"Bukankah kau dan Edward masih menikah?"
"ya. Dan kami akan segera bercerai"
"Alasannya apa? Aku melihat kalau kamu sangat mencintainya"
Lerina melepaskan sendok dan garpu yang ada ditangannya. Kepalanya tertunduk. Lalu ia menarik napas panjang dan membuangnya secara kasar.
"Aku baru tahu kalau ternyata Ed tidak mencintaiku dan aku juga baru sadar kalau aku masih mencintaimu" katanya dengan suara yang terasa begitu berat melewati tenggorokannya.
Calvin yang awalnya duduk di depan Lerina segera berpindah tempat duduk di sebelah Lerina.
"Na...aku melihat cinta yang begitu besar setiap kali Edward menatapmu. Aku yakin kalau dia sangat mencintaimu. Katakan padaku ada apa?"
"Aku hanya ingin bersamamu"
"Jangan kasihani aku karena sakitku ini." Calvin menyentuh tangan Lerina. "Kau tahu kalau aku memiliki cinta yang begitu besar padamu. Akupun begitu ingin bersamamu. Namun aku tahu cintamu untukku sudah berakhir."
"Aku mencintaimu, Calvin dan aku ingin bersama denganmu sekarang ini. Ayolah, jangan bertanya apapun lagi mengenai, Ed. Aku yakin kalau kamu akan sembuh. Aku akan menemanimu berobat kemanapun juga. Dan bantulah aku untuk mengolah lagi perusahaan papaku" kata Lerina berusaha menekan sejuta rasa sakit di hatinya.
Calvin menatap Lerina sambil menggelengkan kepalanya. Ia tak melihat lagi pancaran mata penuh cinta seperti yang pernah Lerina berikan padanya setahun yang lalu.
"Aku mau tidur...!" Lerina segera beranjak dari tempat duduknya dan membaringkan tubuhnya di atas sofa. Dia memang sangat lelah dan ingin mengistirahatkan tubuh dan juga pikirannya dari semua persoalan yang terjadi.
*********
Dokter Jung Been keluar dari ruangan perawatan Edward. Taeyung segera mendekatinya.
"Bagaimana kabar adikku?" tanya Taeyung dengan wajah sangat khawatir. Nana pagi ini meneleponnya dan mengatakan kalau ia menemukan Edward tidak sadarkan diri di balkon kamarnya.
"Tuan Edward nampaknya sangat tertekan. Tekanan darahnya sangat rendah, dan dia juga sepertinya tidak tidur satu malam ini."
"Apakah ada gangguan juga akibat obat..."Taeyung tak meneruskan kalimatnya namun dokter Jung Been sudah mengerti karena semalam Taeyung meneleponnya untuk menanyakan masalah obat perangsang itu.
"Ya. Bisa jadi itu juga karena pengaruh obat itu. Saya sudah mengambil sampel darah tuan Edward dan akan memeriksanya hari ini"
Taeyung mengangguk. Ia segera membungkukan badannya sebagai tanda terima kasih. Dokter itu pun melakukan hal yang sama sebelum meninggalkan Taeyung.
Yura yang baru datang langsung mendekati suaminya.
"Bagaimana keadaan Edward?"
"Dia hanya stres dan tekanan darahnya rendah"
"Aku sudah menghubungi Lerina namun ponselnya tidak aktif"
Taeyung melingkarkan tangannya di bahu istrinya "Lerina saat ini ada di apartemen Calvin!"
"Apakah Le akan kembali dengan Calvin?"
Taeyung mengangkat bahunya "Aku tak tahu sayang. Ayo kita masuk dan melihat Edward"
Taeyung dan Yura masuk ke ruang perawatan Edward. Nampak Ed masih tertidur karena pengaruh obat yang diminumnya.
"Kalau Lerina sampai meninggalkan Ed, adikku ini akan patah hati untuk yang kedua kalinya. Aku yakin kalau dia akan lebih hancur dari yang pertama" Taeyung mendekati ranjang tempat Edward di baringkan. Wajah adiknya itu begitu pucat. Tampak kalau Edward begitu menderita.
"Aku sedih mereka berpisah...!" kata Yura. Namun tiba-tiba perempuan itu merasa pusing.
"Ada apa sayang?" tanya Taeyung melihat wajah istrinya begitu pucat dan nampak berkeringat dingin.
Yura duduk di sebuah single sofa sambil memijit kepalanya.
"Mungkin juga tekanan darahku rendah. Aku begitu tertekan memikirkan hubungan Ed dan Le"
Taeyung memegang tangan istrinya lalu memijatnya perlahan."Sebaiknya kamu pulang dan beristirahat sayang. Biar aku yang menjaga Edward di sini."
Yura mengangguk "Bi Yun ada di depan bersama sopir. Baju-baju Ed nanti Nana yang bawakan"
__ADS_1
"Baiklah. Kamu istirahat yang banyak ya...jangan dulu pikirkan apapun. Aku akan membantu Edward dan Le semampu yang aku bisa" kata Taeyung lalu mencium dahi istrinya.
Yura pun segera berdiri dan melangkah meninggalkan ruangan perawatan Edward.
Taeyung dengan setia menemani adiknya. 2 jam kemudian, Edward nampak menggerakan badannya.
"Ed....!" panggil Taeyung sambil mendekat.
Perlahan Edward membuka matanya. "Hyung, aku dimana?" tanya Edward dengan suara yang sangat lemah.
"Di rumah sakit"
Edward mencoba bangun namun kepalanya bagaikan ditusuk-tusuk dengan benda tajam.
"Jangan memaksakan diri, Ed. Tekanan darahmu sangat kurang dan kamu butuh istirahat yang cukup untuk memulihkan tenagamu"
Edward kelihatan sangat kesal" Aku harus ketemu dengan Lerina. Aku harus menceritakan semua yang terjadi"
"Ponsel Lerina tidak aktif. Tapi anak buah kita yang mengikuti Le memberitahukan kalau Le sudah tiba di Jakarta dengan selamat"
"Apakah ia tinggal di rumahnya?"
"Tidak. Dia...."Taeyung agak ragu mengatakannya. Ia tak ingin membuat keadaan Edward bertambah buruk dengan berita ini.
Edward dapat membaca kalau raut wajah kakaknya seperti menyembunyikan sesuatu.
"Katakan Hyung....ada apa?"
"Le ada di apartemen Calvin"
Hati Edward bagaikan dihantam oleh palu yang besar dan berat mendengar kalau Le bersama Calvin. Ia cemburu, sangat cemburu sampai ia begitu ingin saat ini juga berada di Jakarta. Edward tak ingin pria manapun dekat dengan Lerina. Apalagi Calvin yang dulu pernah sangat dicintai oleh Lerina.
"Ed, bersabarlah dulu. Bisa jadi Lerina ada di sana karena ia tak punya siapapun untuk ditemui selain Calvin." kata Taeyung melihat wajah Edward yang terbakar cemburu mengetahui kalau Lerina ada di tempat Edward.
Edward berusaha meredam api cemburu dalam hatinya. Bagaimanapun ia harus kuat agar bisa menjelaskan segalanya pada Lerina.
"Aku mencintainya, Hyung. Aku tak mau kehilangan dia. Lerina adalah hidupku." kata Edward perih.
Ada perasaan lega yang dirasakan oleh Edward mendengar perkataan kakaknya. Ia tahu kalau Taeyung sungguh-sungguh mencintainya. Dan ia tahu kalau Taeyung juga akan membantunya.
"Sekarang, kau makan dulu ya. Pulihkan tenagamu secara cepat agar kita dapat ke Indonesia bersama"
Edward tak dapat menyembunyikan rasa harunya "Terima kasih, hyung."
Taeyung memeluk adiknya. Ia tahu inilah saatnya menebus waktu yang hilang selama bertahun-tahun karena kebenciannya yang tidak beralasan. Ia akan membuat adiknya ini bahagia.
*********
Calvin mengambil selimut dan menyelimuti tubuh Lerina yang sudah terlelap dalam tidurnya. Gadis itu begitu lelap sehingga saat Calvin mengangkat tubuhnya dan memindahkannya ke kamar, Lerina sama sekali tidak bangun.
Hati Calvin bahagia karena Lerina saat ini bersamanya. Namun ia juga tak mau egois membiarkan gadis itu berpura-pura bahagia bersamanya. Ia yakin kalau cinta Lerina padanya sudah berakhir. Dan Calvin ingin mencari tahu apa yang menyebabkan Lerina pergi dari Seoul dengan terburu-buru.
Walaupun agak ragu, Calvin akhirnya menelepon Jien. Hanya Jien yang bisa memberikannya informasi mengenai apa yang terjadi di sana.
"Hallo Jien"
"Calvin?" terdengar suara Jien yang sangat terkejut karena Calvin meneleponnya. Sudah sebulan lebih sejak kepergiannya dan baru kali ini Calvin menghubunginya.
"Ya. Maaf aku menganggumu!"
"Kau sama sekali tidak mengangguku. Apa kabarmu?"
"Aku baik-baik saja"
"Dan...sakitmu?"
"Aku menjalani pengobatan secara rutin."
"Syukurlah"
"Jien, aku ingin bertanya sesuatu"
__ADS_1
"Ada apa?"
"Apakah terjadi sesuatu antara Edward dan Lerina? Soalnya Lerina ada di sini sekarang. Ia datang tanpa membawa koper. Sepertinya mereka ada masalah"
"Aku tidak tahu apa yang terjadi. Yang pasti sekarang Edward ada di rumah sakit. Sore ini aku akan mengunjunginya"
"Aku mohon, carilah tahu apa penyebabnya sampai Lerina pulang ke sini"
"Baiklah. Aku akan mencari tahu. Kau sehat-sehat di sana ya?"
"Terima kasih ya...kamu juga jaga kesehatannya. Bye...!" pamit Calvin dan mengahiri panggilan telepon.
Pandangannya beralih kepada Lerina yang masih terlelap. Ia tahu kalau gadis itu berusaha untuk menutupi kegalauan hatinya.
Bel pintu apartemen Calvin terdengar. Ia pun segera menembuka.
"Mama?" Calvin terkejut melihat ternyata mamanya yang datang.
Arista langsung masuk. Kepalanya celingukan seperti mencari seseorang.
"Ada apa, ma?"
"Di mana Lerina?" tanya Arista.
"Jangan usik Lerina,ma"
Arista memandang putranya "Mama tak akan mengusiknya. Mama justru ingin minta maaf padanya. Kalau saja mama tak bersikap egois, kalian pasti sudah menikah dan memiliki anak. Sekarang kau sakit dan mama tahu kebahagiaanmu adalah bersama Lerina"
Calvin menggeleng "Ina tak mencintai aku lagi, ma. Dia hanya kasihan padaku"
Arista memeluk putranya "Kalau memang Lerina mau bersamamu, mama yakin dia akan mampu membuatmu kuat dan sembuh"
Calvin melepaskan pelukan mamanya. Ia duduk sambil melipat tangannya di depan dada.
"Lerina sedang ada masalah dengan suaminya. Dan aku tak mau mengambil keuntungan dengan sakitnya itu, ma."
Arista hanya bisa menatap putranya dengan rasa menyesal. Seandainya dulu dia membiarkan Calvin bersama Lerina, pasti putranya itu tak akan masa bodoh dengan sakitnya.
Ia merasa kalau kesombongannya sebagai orang tua telah menghancurkan kehidupan anaknya sendiri.
*********
Menjalani perawatan selama 3 hari membuat Edward merasa kuat dan hari ini sudah diijinkan pulang.
Yura dan Taeyung datang menjemputnya di rumah sakit.
"Apakah semua sudah beres?" tanya Taeyung.
"Sudah. semuanya sudah dimasukan ke dalam tas. Kita bisa pulang sekarang" kata Yura.
"Hyung, dapatkah pesawat kita berangkat hari ini ke Jakarta?" tanya Edward. Ia memang sudah tak sabar ingin bertemu dengan Lerina.
"Pilot kita sedang ada acara keluarga hari ini dan besok. Jadi kita berangkatnya lusa saja. Lagi pula kau kan baru sembuh. Jangan terlalu memaksakan diri. Bersabarlah sedikit saja. Kau pasti akan berjumpa dengan Lerina" kata Taeyung berusaha menasehati adiknya.
"Selamat siang...!"
Mereka bertiga secara spontan menoleh ke arah pintu kamar yang memang tidak dikunci.
"Siapa ya?" tanya Taeyung.
"Saya Hendra Baskoro. Pengacara nona Lerina Avigail. Saya datang ke sini atas perintah nona Lerina untuk mengurus perceraiannya dengan tuan Edward Kim" kata Hendra mengutarakan maksud kedatangannya.
Deg...!
Jantung Edward bagaikan ditarik keluar dari tempatnya mendengar perkataan pengacara itu.
Dia tak siap menerima kenyataan kalau Lerina akan berpisah darinya.
MAKASI SUDAH BACA PART INI
JANGAN LUPA LIKE, KOMENT DAN VOTE YA
__ADS_1