
Malam semakin larut. Namun Lerina sama sekali tak bisa memejamkan matanya. Ia sudah mendengarkan lagu, membaca buku, bahkan sudah membuat ac di kamar menjadi sangat dingin. Tetap saja, matanya tak bisa diajak kompromi.
Apakah karena malam ini aku kembali tidur si kamarku?
Sejak menerima telepon yang memberitahukan bahwa Edward tak bisa datang, Lerina memutuskan untuk tidur di rumahnya ini. Ia juga meminta Calvin untuk menemaninya di sini. Calvin pun tidur di kamar tamu yang ada di lantai bawa. Kamar itu memang biasa ditempati Calvin ketika ia menginap di rumah ini saat orang tua Lerina meninggal.
Lerina akhirnya bangun lagi. Ia merasa haus dan memutuskan untuk turun ke lantai bawa untuk mengambil air untuk memuaskan dahaganya.
Ruang tamu sudah gelap. Kamar yang ditempati Calvin pun nampak gelap. Lerina segera menyalahkan lampu dapur, membuka kulkas dan mengeluarkan botol berisi air mineral. Setelah meletakan botol itu di atas meja makan, Lerina pun membuka lemari untuk mengambil gelas.
Saat ia menuangkan air dari botol ke dalam gelas, tiba-tiba saja bayangan Edward melintas dipelupuk matanya.
Kenapa aku tiba-tiba ingat Edward ya? Apakah sesuatu yang buruk terjadi padanya? Ya Tuhan, mengapa dengan diriku ini? Mengapa aku sangat gelisah saat memikirkan Ed?
Lerina memegang gelas dan hendak meminum air itu, namun ia tak bisa memegang gelas itu secara benar sehingga gelas itu jatuh dan pecah begitu saja.
"Ah...!" Lerina yang secara spontan bergerak justru tanpa sengaja menginjak pecahan gelas itu. Ia memang tak menggunakan pengalas kaki saat keluar dari kamarnya.
Apakah sesuatu yang buruk terjadi pada Ed?
"Na, ada apa?" tanya Calvin yang terbangun saat mendengar suara Lerina yang berteriak.
"Aku memecahkan gelas dan tanpa sengaja menginjak pecahannya"
Calvin terkejut. Ia segera mendekat dan mengangkat tubuh Lerina untuk duduk di atas meja makan. Lalu ia segera menunduk dan memeriksa kaki Lerina.
"Sebentar aku ambilkan kota P3K di mobil" kata Calvin lalu segera ke kamar, mengambil kunci mobilnya dan segera ke garasi untuk mengambil kotak yang dimaksud.
Saat Calvin kembali, ia dengan segera membersihkan kaki Lerina dengan air hangat, lalu beling didalam lukanya.
"sepertinya tidak ada pecahan beling. Namun besok kita harus ke dokter untuk memastikannya. Aku kasih obat merah dulu ya." ujar Calvin. Lerina hanya mengangguk.
"Ah...sakit..!" pekiknya saat obat merah itu mengenai lukanya. Calvin lalu mengambil plester dan kain kasa untuk menutup luka di kaki Lerina.
"Terima kasih, Vin"
Calvin hanya mengangguk. Ia lalu memeluk tubuh Lerina untuk menurunkannya dari atas meja makan. Lalu memapahnya untuk duduk di sofa.
"Kau duduk dulu ya, aku mau membersihkan pecahan gelas ini" kata Calvin sebelum meninggalkan Lerina kembali.
Setelah selesai membereskan dapur, Calvin kembali ke ruang tamu sambil membawakan segelas air putih bagi Lerina.
"Minumlah!" katanya lalu duduk di samping Lerina.
Lerina mengambil gelas itu dan meminumnya sampai habis.
"Mengapa belum tidur?" tanya Calvin.
"Aku tidak tahu. Rasa kantukku seakan hilang"
"Kau mengkhawatirkan apa yang terjadi di Seoul?" tanya Calvin.
Hati Lerina tersentak. Bagaimana Calvin bisa menebak dengan benar apa yang dirasakannya saat ini?
Calvin tersenyum sambil mengelus kepala Lerina "Kau tidak dapat menyembunyikan apapun padaku. Aku tahu dari pancaran matamu, kau memikirkan Edward."
Lerina hanya tertunduk.
"Baguslah kalau kau sadar bahwa Edward masih sangat mempengaruhi dirimu. Kau merindukannya, Na. Akuilah"
__ADS_1
Lerina langsung memeluk Calvin sambil menangis. Ia tak menanggapi apa Calvin katakan tapi air matanya sudah mewakili semuanya.
Calvin melingkarkan tangannya di pinggang Lerina. "Menangislah kalau itu memang dapat membuatmu merasa tenang. Esok pagi, aku akan menelepon Jien dan menanyakan kabar Ed"
***********
Yura dan Keyri mendekati Edward yang sudah jatuh ke tanah ketika terdengar suara letusan senjata laras panjang.
Para pengawal pun langsung melancarkan serangan saat sudah terlihat dari arah mana serangan itu datang.
"Ah...Le....!" teriak Edward saat ia jatuh. Wajah Lerina tiba-tiba saja terbayang dipelupuk mata Edward. Ia begitu takut seandainya tak bisa menemui Lerina lagi.
"Bos....!" Keyri mendekat sambil memegang lengan Edward.
"Ed....!" panggil Yura. Tubuh Yura sangat gemetar karena takut yang kembali menyerangnya.
Jesica mendekat "Ed....!" panggilnya juga dengan sangat ketakutan.
Edward membuka matanya perlahan sambil memegang dadanya "Ah....sakit sekali sekalipun aku memakai rompi anti peluru."
Keyri membantu Edward duduk lalu membuka kemeja pria itu. Nampak rompi anti peluru di dalamnya. Saat rompi itu dilepaskan, ada dua butir peluru yang ikut jatuh.
"Tembakannya dari jarak dekat sehingga menimbulkan rasa sakit. Lihat saja, kulit bos merah" kata Keyri sambil menunjuk kulit di bagian dada Edward yang agak lecet berwarna merah.
Keyri membantu Edward untuk berdiri saat anak buahnya mengatakan kalau keadaan sudah aman terkendali.
"Syukurlah!" Yura pun ikut berdiri.
"Tadi aku mendengar ada 3 letusan senjata. Yang satu mungkin pelurunya nyasar ya..!" ujar Keyri.
Jesica menunduk saat merasakan kalau bajunya basah dibagian perut. Ia langsung terperanjat saat melihat ada darah di sana.
Edward langsung mendekati Jesica. Dan sebelum perempuan itu bisa berkata apa-apa, tubuh Jesica terlihat lemah. Edward langsung menangkap tubuh Jesica sebelum ia jatuh ke tanah.
"Siapkan mobil !" teriak Edward. " Keyri ambil kemejaku itu. !"
Edward menekan perut Jesica yabg tertembak dengan kemejanya lalu memeluk Jesica dan segera berlari ke mobil.
"Carilah rumah sakit terdekat." perintah Edward pada supir. Mereka memang berada di luar kota.
"Baik, bos!" ujar si supir dan segera menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Jes, tetaplah sadar!" kata Edward sambil memegang terus menekan perut jesica yang berdarah. Ia membiarkan Jesica ada dipangkuannya.
"Ed...., maafkan aku!" kata Jesica tanpa membuka matanya.
"Jangan banyak bicara dan jangan banyak bergerak supaya darahmu tak banyak keluar." kata Edward dengan berbagai rasa yang kini ada di hatinya.
Mereka tiba di sebuah rumah sakit kecil dipinggir kota. Mereka langsung menangani Jesica.
Tak lama kemudian Taeyung datang. Yura langsung berlari dan memeluk Taeyung sambil menangis.
"Sayang, aku sangat takut saat kau menghilang. Aku bisa gila jika kau tak bisa kutemukan " kata Taeyung sambil mencium kepala Yura berulang-ulang.
Yura tersenyum. Hatinya bergetar mendengar kata-kata suaminya.
"Bagaimana Jesica?" tanya Taeyung sambil melonggarkan pelukannya sehingga bisa menatap wajah istrinya itu.
"Mereka sementara mengoperasinya. Ed sedang ada di toilet untuk membersihkan dirinya dan ganti baju" kata Yura. Tiba-tiba Yura merasa pandangannya berkunang-kunang.
__ADS_1
"Sayang...kamu kenapa?" tanya Taeyung melihat wajah pucat Yura.
"Tae...aku merasa pusing!"
Taeyung langsung mengangkat tubuh istrinya dan menuju ke UGD.
Dokter jaga langsung memeriksa Yura.
"Sepertinya nyonya lemah karena perutnya kosong. Nyonya belum makan?" tanya dokter jaga itu.
"Iya. Mereka sama sekali tak memberi aku makan dan minum sepanjang hari ini." jawab Yura lemah. Taeyung yang memegang tangan Yura merasa jengkel mendengarnya.
Dokter itu tersenyum " Nyonya juga sepertinya sedang hamil"
"Apa? Hamil?" Yura terkejut. Taeyung langsung tersenyum.
"Ya. Namun untuk lebih memastikannya, nyonya dapat melakukan tes sendiri besok pagi atau konsultasi pada dokter ahli kandungan." kata dokter jaga itu sambil berdiri "Saya akan memasang infus dan meminta perawat untuk membawakan makanan untuk nyonya."
Yura memandang dokter itu sampai menghilang di pintu masuk.
"Sayang....., kau hamil?" Taeyung menyentuh perut Yura dengan wajah bahagia.
"Aku memang sempat berpikir begitu kemarin pagi. Aku sudah terlambat selama 3 minggu" kata Yura dengan mata berbinar.
Taeyung menghadiahkan satu ciuman hangat di dahi Yura "Sayang...aku sungguh mencintaimu"
"Aku juga mencintaimu ,Tae"
Edward yang sudah berdiri di depan pintu ruang UGD merasa terharu melihat pemandangan itu.
Ah...andai saja aku dan Lerina pun bisa memiliki anak, pasti rasanya akan sangat menyenangkan. Le, apa kabarmu saat ini? Aku sangat merindukanmu, sayangku!
"Bos, Jesica sudah selesai di operasi" kata Keyri membuyarkan lamunan Ed.
"Bagaimana keadaannya?"
"Dokter bilang kalau Jesica kritis. Kemungkinan untuk sembuh agak sulit"
Edward duduk sambil mengacak rambutnya. Ia begitu ingin segera bertemu dengan Lerina namun persoalan yang timbul karena ulah pamannya membuat ia harus menahan semua kerinduannya untuk bersama Lerina.
******
Lerina dan Calvin akhirnya tertidur di sofa. Lerina berbaring sambil kakinya ada dipangkuan Calvin yang sedang diduduk.
Lerina terbangun saat ia meraakan kalau tangan Calvin yang memegang kakinya terasa agak dingin.
"Vin....!" panggil Lerina sambil mengangkat tubuhnya untuk duduk.
"Vin...!" panggil Lerina sambil menggoyangkan tangan Calvin yang memang sangat dingin.
Lerina memandang wajah Calvin yang masih menutup matanya. Perlahan ia mengangkat kakinya dari pangkuan Calvin dan menurunkannya ke lantai.
Wajah Lerina langsung berubah pucat saat ia melihat bibir Calvin yang membiru dan ada darah yang keluar dari hidungnya.
"Calvin...! Calvin....!" panggil Lerina sambil memegang lengan Calvin dan menggoyangnya perlahan. Calvin tak merespon. Kepalanya masih tersandar di sandaran sofa dan matanya tertutup dengan rapat.
Tiba-tiba Lerina memeluk Calvin sambil menangis histeris "Tidak....Jangan tinggalkan aku, Vin!" ucapnya dengan dada yang terasa sakit.
MAKASI SUDAH BACA PART INI
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE, KOMENT DAN VOTE YA