LERINA

LERINA
Janji


__ADS_3

Harum bau masakan langsung tercium saat Lerina menuruni tangga. Ia bangun pagi ini dan menemukan dirinya sudah tertidur di dalam kamar. Mungkin Ed yang sudah memindahkannya. Sesungguhnya Lerina tak ingat karena ia memang merasa mabuk.


Dia bangun pagi ini dengan kepala yang agak sakit. Namun setelah berendam di air hangat, Lerina pun merasa sakit kepalanya berkurang dan ia merasa lapar.


"Ed....apa yang kau lakukan? Tanganmu kan masih luka?" pekik Lerina saat menyadari bahwa yang berada di dapur bukanlah Nana melainkan Edward.


"Aku hanya membuat sup untukmu dengan bahan-bahan yang sudah disediakan oleh Nana. Saat ini Nana sedang ke apotik untuk menebus obatku yang lain" kata Edward sementara tangannya menganduk sup yang ada.


Lerina mendekat lalu segera mengambil spatula dari tangan Ed "Biarkan aku yang teruskan!" kata Lerina sambil mendorong tubuh Edward dengan tangannya.


Edward tak bergerak. Ia menatap Lerina sambil menahan senyum. Membayangkan kemarin ia begitu marah pada gadis itu namun karena apa yang didengarnya semalam justru membuat perasaannya senang.


"Ed, kamu bisa geser sedikit?" tanya Lerina melihat Edward hanya diam saja.


"Aku sayang kamu, Le!" kata Edward lalu memeluk Lerina dengan sangat erat.


Lerina terkejut. Bukankah Edward masih marah padanya? Bukankah kemarin mereka bertengkar di rumah sakit?


"Aku masih marah padamu, Ed!" kata Lerina lalu melepaskan diri dan membelakangi Edward sambil pura-pura menganduk sup yang ada.


"Tapi aku tak marah lagi padamu!" kata Edward lalu memeluk Lerina dari belakang. Tangannya melingkar dileher gadis itu sambil dagunya diletakan dipucuk kepala Lerina.


"Semalam saat aku memindahkanmu ke kamar, kamu bilang kalau aku tak boleh mendekati Jesica karena kamu akan membunuhku!"


Deg....


Tangan Lerina yang mengaduk sup tiba-tiba berhenti. Mana mungkin semalam ia mengucapkan kata-kata itu?


"Jangan bohong, Ed!"


"Aku tidak bohong, Le. Kamu bahkan mengucapkannya dengan nada penuh ancaman."


"Mungkin aku salah bicara karena sedang mabuk"


"Justru orang mabuk akan bicara yang jujur karena keluar dari lubuk hatinya yang paling dalam"


Lerina merasakan kalau pipinya panas. Jantungnya pun berdetak tak karuan.


"Awas...Ed, aku mau mengangkat sup nya!" kata Lerina sambil menyiku perut Edward. Ia sebenarnya sedang menutupi rasa malunya.


Edward tertawa melihat Lerina yang salah tingkah. Selama mereka menikah, inilah kali pertama Lerina bersikap seperti ini.


"Aku tungguh di meja makan saja" Edward pun tak mau membuat Lerina semakin salah tingkah karena ia takut sup panas itu akan tumpah dan mengenai tubuh Lerina.


Lerina pun segera menuangkan sup itu ke dalam mangku dan mengaturnya di atas meja makan.


"Kau mau pakai nasi, Ed?" tanya Lerina..


"Tidak. Aku makan sup saja. Tadi aku sudah minum susu jadi belum terlalu lapar" kata Edward lalu mulai menikmati sup nya.


"Enak!" puji Lerina saat suapan pertama masuk ke mulutnya.


"Tentu saja enak karena aku membuatnya dengan cinta." jawab Edward sambil menatap Lerina tanpa berkedip membuat gadis itu memalingkan wajahnya dengan jengah.


Mereka akhirnya menikmati sup itu tanpa suara selama beberapa menit.


"Jika keadaan papa sudah membaik, aku akan pergi denganmu ke Jakarta" kata Edward membuat Lerina yang sementara menikmati sup nya terkejut dan sedikit membuatnya tersedak.


"Apakah perkataanku salah?" tanya Edward sambil mengulurkan gelas yang berisi air putih.


Lerina langsung menyambar gelas itu dan meminumnya sampai habis.


"Kamu sedang tidak bergurai kan, Ed?" tanya Lerina.


"Aku akan menemanimu. Karena aku tak bisa sehari saja berpisah denganmu!"

__ADS_1


Wajah Lerina merona mendengar kata-kata Edward.


"Eh....baiklah. Kita tunggu sampai keadaan papa sudah stabil"


Lerina membereskan peralatan makan yang mereka pakai. Namun Edward menahan tangannya saat gadis itu berdiri.


"Le, apa yang kau lihat kemarin di rumah sakit hanya sebagai bentuk penyelesalanku saja atas keputusan Jesica. Tapi jauh di dalam hatiku, tidak ada lagi nama Jesica. Hatiku ini hanya untukmu."Edward berdiri tanpa melepaskan pegangan tangannya. Ia mendekat Lerina, lalu melanjutkan ucapannya,


"Aku tak ingin menggantikan dirimu dengan perempuan manapun. Lihat aku, Le. Bukalah hatimu untukku. Mari kita melangkah bersama ke masa depan dan melupakan masa lalu kita"


Lerina mengangkat wajahnya yang tertunduk. Ia menatap Edward. Tatapan mata pria itu penuh dengan harapan, penuh dengan pancaran cinta.


"Ed, mengapa kau harus memberikan aku cinta sebesar ini? Bagaimana jika kita tak ditakdirkan untuk bersama?"


"Maka aku akan melawan takdir itu. Karena aku tak mau ada wanita lain. Aku juga tak tahu bagaimana perasaan ini hadir. Aku sudah mencoba membuangnya tapi tak bisa" kata Arnold dengan penuh kesungguhan.


Lerina tak dapat menahan air matanya. Ia langsung memeluk Edward dengan perasaan haru."Ed, aku takut menyakitimu"


"Kau tak akan menyakitiku selama kau tetap disampingku" Edward membalas pelukan Lerina. Ia dapat merasakan kalau hatinya begitu lega telah mengeluarkan semua isi hatinya.


Hp Edward yang diletakan di atas meja berbunyi. Pelukan mereka terlepas.


"Hallo Yura..!"


"......."


"Apa? Baiklah kami akan ke sana" Edward melepaskan hp nya kembali ke atas meja.


"Papa drop lagi. Kita di minta untuk datang ke sana. Aku mau ganti baju dulu"


"Baiklah. Aku bereskan meja." Lerina membersihkan meja yang ada. Namum ia heran melihat Edward yang masih berdiri di tempatnya.


"Ed, ayolah ganti baju. Nanti kita terlambat"


"Mana bisa aku ganti baju sendiri?"


"Le, kemarin itu aku kan sedang marah. Jadi biarpun sakit dan terus menggerutu di kamar mandi aku terpaksa memakai baju. Sekarangkan kita sudah baikkan jadi bolehlah meminta pertolonganmu" ujar Edward dengan wajah penuh permohonan sambil mengulurkan tanggannya pada Lerina.


"Dasar keras kepala!" umpat Lerina namun ia menerima uluran tangan Edward. Keduanya melangkah bersama menaiki tangga menuju ke kamar mereka.


Sesampai di kamar, Lerina langsung membuka kaos yang dipakai Edward.


"Le, aku mau mandi. Dari kemarin aku belum mandi" kata Edward membuat tangan Lerina yang sementara membuka celana panjang Edward terhenti. Ia menegakan tubuhnya dan memandang Edward.


"Tapi kamu nggak bau, Ed. Jadi ganti baju saja ya? Sekarangkan masih musim dingin"


"Aku gerah."


Lerina tersenyum. Ia menarik hidung mancung suaminya itu sambil tertawa "Tapi, hanya mandi ya? Tidak pakai yang lain-lain"


Edward tersenyum nakal"Sayang, sudah 4 hari kita..."


"Papa sedang menungguh kita, Ed." Lerina mengingatkan.


"Iya, aku tahu. Tapi tolong mandikan aku saja ya?" Edward nampak sedikit frustasi. 4 hari ia tak menyentuh wanitanya ini dan membuatnya sedikit uring-uringan. Namun mau bagaimana lagi, mereka harus ke rumah sakit.


"Cium aja ya?" mohon Edward.


Lerina menggelengkan kepalanya. Ia mendekati Edward, berjinjit lalu menghadiahkan satu kecupan di pipi Edward.


"Sayang...mengapa di pipi?" protes Edward.


"Ed, kamu mau mandi sendiri?" tanya Lerina sedikit mengancam.


Edward langsung tersenyum "Baiklah sayang...!" ujar Edward lalu segera melangkah lebih dulu ke kamar mandi. Lerina mengikutinya dari belakang. Saat Edward sudah berada di kamar mandi, ia tiba-tiba berhenti membuat Lerina yang ada dibelakangnya menabrak punggung Edward.

__ADS_1


"Ed....!" pekik Lerina jengkel.


Edward tertawa karena ia berhasil mengerjai istrinya. Pagi ini terasa indah di apartemen itu.


*************


Senyum di wajah Yura tak dapat disembunyikannya melihat Edward dan Lerina datang sambil berpegangan tangan. Ia tahu kedua suami istri itu pasti sudah berbaikan.


"Bagaimana keadaan papa?" tanya Edward.


"Dokter masih memeriksanya. Tadi, papa menanyakanmu, Ed!" ujar Yura.


Jesica memalingkan wajahnya, menekan rasa sakit yang menusuk hatinya melihat Edward datang bersama Lerina sambil bergandengan tangan.


Mereka berdiri di depan perawatan intensif dengan perasaan tegang sambil menungguh dokter yang masih memeriksa Ryun Ong.


"Tuan Ryun Ong sudah benar-benar kritis. Namun dia ingin berbicara dengan kalian. Aku harap kalian tidak membuatnya lelah" kata dokter sebelum mempersilahkan mereka masuk.


Wajah tua itu kelihatan sangat lelah. Namun ia memaksakan sebuah senyum saat melihat anak-anaknya masuk.


"Aboji....jangan banyak bicara. Aboji harus istirahat" kata Taeyung sambil berusaha menahan air matanya. Ia tak sanggup melihat wajah tua itu yang pucat pasih tak berdaya.


Ryun Ong menggelengkan kepalanya. Tangannya bergerak meminta mereka untuk mendekat.


"Tae....jadilah kakak yang baik untuk Edward, jangan lagi saling bertengkar. Dan..., bahagialah bersama rumah tangga kalian masing-masing" Ryun Ong menarik napasnya yang terasa sesak.


"Daddy....jangan memaksakan diri!" ujar Edward sambil memegang tangan papanya.


"Ed, kalau memang kau mencintai Le, bahagilah terus bersamanya." Ryun Ong menatap Lerina "Le, berjanjilah kau tidak akan meninggalkan putraku!"


Lerina mengangguk. Ia tak bisa menahan air matanya.


"Yura, terima kasih karena mau menerima Taeyung dengan semua kekurangannya"


"Aku mencintai Taeyung, papa" kata Yura sambil menggengam tangan suaminya. Ia ingin menunjukan pada papa mertuanya bahwa mereka memang saling mencintai.


Ryun Ong kembali memejamkan matanya. Ia seperti menahan sakit yang amat dalam.


"Aboji, istirahatlah!" kata Edward yang semakin sedih melihat kondisi papanya.


Ryun Ong tersenyum "Aku sudah lama menantimu memanggilku seperti itu, Ed!"


Edward menyentuh tangan papanya. Air matanya sudah tak dapat ia tahan lagi. Ada rasa sedih di hatinya karena selama bertahun-tahun tak memanggil nama papanya dengan sebutan 'aboji'


Ryun Ong menatap Jesica"Terima kasih sudah merawatku selama ini. Jika.....ter...jadi sesuatu padaku..."Ryun Ong terbantuk-batuk. "Lindungilah Jesica selama Ryun Wong belum tertangkap"


Taeyung dan Edward sama-sama mengangguk.


Apapun status hubungan Jesica dengan Ryun Ong, Taeyung melihat bahwa Jesica sangat setia mengurus papanya. Jesica selalu setia menemani. Makanya Taeyung bersungguh-sungguh hendak melindungi Jesica.


Mata tua itu perlahan meredup "Aku melihat Anastasya berdiri di sana...dia menungguhku...bersama mamamu Tae....dan juga mamamu Ed!"


Lalu ia menarik napas panjang sekali lagi dan Ryun Ong menutup matanya selamanya.


Hujan perlahan membasahi kota Seoul di pagi ini. Seiring dengan air mata keluarga Kim yang mengalir saat dokter memastikan kematian Kim Ryun Ong.


"Aku akan membuat perhitungan denganmu, Kim Ryun Wong!" guman Taeyung diantara isak tangisnya.


Edward mencium dahi papanya "Aboji....! Mianhae"


***********


Guys...My Best Photo kan sudah tamat..


Jangan lupa mampir juga diceritaku yg lain : SONG IN MY LIFE, kisah si penyanyi Arnold Manola

__ADS_1


MAKASI SUDAH BACA PART INI


JANGAN LUPA LIKE, KOMENT DAN VOTE YA


__ADS_2