
Edward dan Ross melepaskan kerinduan diantara mereka dengan minum kopi dan duduk diatas karpet di depan perapian.
"Ed, bagaimana kau bisa bertemu dengan gadis unik seperti Lerina?" tanya Ross setelah menambah kayu ke dalam tungku.
"Unik?" Ed menatap Ross dengan wajah bingung.
"Ya, Ed. Dia bukan seperti gadis yang biasa kau pamerkan padaku saat kita saling videocall. Biasanya kau suka gadis yang punya kaki yang panjang, tubuh yang tinggi yang hampir sama denganmu. Dan yang punya kulit seputih salju. Tapi Lerina, tinggi hanya sampai dibahumu, kulitnya kuning langsat. Tapi aku suka dengan wajah cantiknya. Matanya yang besar dan bulu mata yang lentik itu membuat dia berbeda dengan gadis-gadismu yang lain."
"Ya. Itulah Lerinaku"
"Kau sudah tidur dengannya?" tanya Ross dan membuat Edward batuk karena tak menyangkah Ross akan menanyakan itu.
"Me...nga..pa kau bertanya seperti itu?" tanya Edward sambil menepuk dadanya sendiri.
Ross tertawa "Mengapa aku merasa kalau dia kelihatannya masih perawan?"
"Perawan?"
"Ya. Keluargaku di Italia adalah keturunan penasehat raja. Kami dididik untuk bisa menilai gadis-gadis yang pantas untuk menjadi pendamping raja dan kaum bangsawan lainnya. Termasuk mencari tahu apakah mereka masih perawan atau tidak melalui bahasa tubuh termasuk cara mereka berjalan. Atau mungkin mataku ini yang sudah terlalu tua sehingga tak bisa melihat secara jelas lagi ya?"
"Mungking Ross. Mana ada perempuan yang dekat denganku dan tidak kutiduri? Dia istriku"
Ross terkekeh "Kamu masih saja nakal. Aku pikir setelah Jesica meninggalkanmu, kau akan kembali seperti dulu" Wanita gembul itu menepuk bahu Edward dengan lembut.
"Aku mengantuk Ed. Nanti kita sambung lagi ceritanya esok." Ross berdiri dan meninggalkan Ed sendiri.
Apa benar Lerina masih perawan? Tapi bukankah ia sudah 4 tahun bersama Calvin? Sungguh mustahil kalau mereka belum pernah tidur bersama.
Edward menggelengkan kepalanya, mencoba mengusir pendapat Ross mengenai Lerina yang masih perawan. Ia berdiri dan membawa gelas kopi yang ditinggalkan Ross menuju ke dapur. Namun saat ia masuk ke dapur, ia terkejut melihat Jien yang sedang menangis.
"Jien...ada apa?" Edward langsung mendekat dan ikut duduk di samping Jien sambil melepaskan gelas yang dibawahnya di atas meja.
"Ed......!" Jien langsung memeluk Edward sambil menangis. Ia memang lebih dekat dengan Edward dibandingkan dengan Taeyung karena Taeyung orangnya sangat cuek.
"Ada apa? Kau bertengkar dengan Calvin?"
"Kami tak bertengkar, Ed. Aku hanya merasa kalau suamiku itu tak mencintai aku lagi."
"Mana mungkin? Bukankah kau begitu nekad menikah walaupun hanya kenal 2 bulan dengannya karena sangat yakin dengan cintanya?"
"Awanya memang seperti itu, Ed. Namun Calvin sekarang berubah sangat aneh. Dia bahkan menggunakan pengaman saat kami bercinta karena tak ingin aku hamil. Pada hal aku ingin segera hamil. Usiaku kan sudah 27 tahun. Dan kau tahu Ed, kami sangat jarang bercinta. Seolah-olah ada yang Calvin pikirkan saat bercinta denganku. Ed...aku tak mau kehilangan Calvin, aku sangat mencintainya" Tangis Jien semakin dalam.
"Sabar, Jien.." Edward mengusap punggung sepupunya yang masih memeluknya sambil menangis.
" Ed, sikap Calvin padaku mulai terasa berbeda semenjak ia ketemu Lerina di hari ulang tahunmu. Menurutmu, apakah Calvin dan Lerina pernah punya hubungan di masa lalu?"
__ADS_1
Edward melepaskan pelukan Jien dan menatap sepupunya itu "Mengapa sampai kau berpikir seperti itu?"
"Mereka sama-sama dari Jakarta, Pernah kuliah di universitas yang sama. Saat aku mengatakan padanya kalau nama istrimu adalah Lerina Avigail, Calvin sangat terkejut."
"Mungkin hanya sebuah kebetulan. Ayolah tenangkan dirimu. Perbaiki lagi hubunganmu dengan Calvin"
Lerina perlahan mundur. Ia memilih untuk pergi. Sedih saat melihat Jien menangis. Lerina tak ingin Jien terluka.
Aku harus menyingkirkan Calvin dalam hidupku. Jien adalah gadis yang baik.
Lerina pun menaiki tangga dan bermaksud kembali ke kamarnya namun seseorang tiba-tiba saja memeluknya dari belakang lalu menariknya sambil menutup mulut Lerina dengan tangan. Ia membawa Lerina ke kamar pertama yang ada di lorong itu.
Saat keduanya sudah berada di kamar, orang itu membalikan tubuhnya dan membuat Lerina hampir menjerit.
"Calvin, apa yang kamu lakukan?" tanyanya dengan suara seperti orang berbisik.
Calvin mendorong tubuh Lerina sehingga perempuan itu bersandar di dinding, memerangkap tubuh Lerina diantara kedua tangannya.
"Aku akan mati karena cemburu Lerina. Aku bisa gila melihatmu bersama Edward. Secepat itukah kau melupakan kisah cinta kita?" kata Calvin dengan tatapan mata yang penuh dengan kerinduan yang sangat dalam.
Lerina mendorong tubuh Calvin namun lelaki itu begitu kuat berdiri sambil kedua tangannya menempel didinding dengan sangat kuat.
"Lepaskan aku..!" Lerina mencoba keluar dari kungkungan Calvin namun Calvin sama sekali tak bergeming.
"Calvin..kamu sudah gila ya...aku....!" kalimat Lerina terhenti saat mendengar suara Jien dan Edward yang mendekat.
Calvin tersenyum saat melihat wajah Lerina yang tegang. " Berteriaklah. Aku lebih suka kalau Jien dan Ed menemukan kita di sini, supaya malam ini juga kita akan pergi dari rumah ini" bisik Calvin lalu mulai mencium telinga Lerina, kemudian ia menggesekan bibirnya di pipi Lerina dan berakhir di bibir gadis itu. Air mata Lerina mengalir. Ia merasa muak karena tak berdaya melawan Calvin. Ia takut Jien dan Calvin akan menemukan mereka di kamar ini.
Edward yang melangkah bersama Jien tiba-tiba menghentikan langkahnya saat melihat pintu kamar yang pertama sedikit terbuka. Ia juga seperti mendengar ada suara di sana.
"Ada apa, Ed?" tanya Jien bingung.
Edward menggeleng. Tangannya terulur menarik gagang pintu sehingga bisa tertutup dengan sempurna.
"Ayo masuk ke kamarmu!" Edward menarik tangan Jien menuju ke kamarnya.
Jien membuka pintu. Dan langsung masuk. Edward pun segera menuju ke kamarnya. Saat ia membuka pintu, ia tak menemukan Lerina ada di tempat tidurnya. Edward mengetuk pintu kamar mandi.
"Le...kamu didalam?"
Karena tak ada suara, Edward membuka pintu kamar mandi. Namun Lerina tak ada.
Saat Edward hendak meninggalkan kamar, hp nya berbunyi.
"Ya Jien..."
__ADS_1
"Ed, Calvin tak ada di kamar. Apakah Lerina.."
"Lerina sudah tidur, Jien"
"Baiklah. Maaf aku menganggu"
Edward meletakan hp nya dengan dada terasa sesak. Aliran darahnya seakan mendidih dan menyebabkan kepala Edward terasa berat.
Sementara itu Lerina dengan kuat mengigit bibir Calvin sehingga ciuman Calvin terlepas. Lerina langsung mendorong Calvin yang sedikit meringis sehingga pengawasannya berkurang dan membuat Lerina bisa lari keluar dari kamar. Tepat di saat itu Edward baru saja keluar kamar hendak mencari Lerina.
Mata Edward langsung berkilat penuh bara api kemarahan melihat Lerina dan Calvin hampir bersamaan keluar dari kamar itu.
Lerina langsung berlari dan memeluk Edward sambil menangis.
"Ayo masuk, Ed!" Lerina menarik tangan Edward untuk masuk ke kamar. Ia takut Ed akan memukul Calvin seperti waktu itu dan menyebabkan keributan.
Edward menurut walaupun ada kilatan kemarahan melihat wajah Calvin yang seperti tersenyum penuh kemenangan.
"Ed....aku bisa jelaskan apa yang terjadi." kata Maura dengan rasa ketakutan yang masih jelas di wajahnya. Bukan karena apa yang telah dilakukan Calvin padanya namun karena tatapan tajam dari mata biru Ed.
"Katakan mengapa kalian bisa bersama keluar dari kamar itu?" tanya Ed dengan suara yang agak serak menahan rasa marah.
Dengan sedikit tersendat karena air matanya yang mengalir, Lerina berusaha menceritakan semuanya. Bagaimana ia turun karena rasa haus dan mendengar percakapan Edward dan Jien. Lalu saat ia kembali Calvin tiba-tiba saja menarik tangannya dan menyeretnya untuk masuk ke kamar itu.
"Aku berusaha melepaskan diri darinya, Ed. Tepat disaat itu Kau dan Jien sudah kembali. Aku takut kalian akan mengetahui kami ada di kamar itu. Makanya aku tak berdaya saat Calvin menciumku. Lalu saat aku merasa bahwa kalian sudah ada di kamar, aku mengigit bibir Calvin dan berlari keluar dari kamar."
Tangan kanan Edward tiba-tiba meninju tembok yang ada di sampingnya. Wajahnya merah menahan amarah yang tertahan karena berusaha diredamnya sendiri.
Ia memandang Lerina dengan kilatan mata yang masih seperti pertama mereka masuk ke kamar itu.
"Buka bajumu!" kata Ed ketus.
"Mengapa aku harus membuka bajuku?" tanya Lerina bingung.
Ed tak menjawab pertanyaan Lerina. Ia langsung mendekat dan membuka sweater yang dipakai oleh Lerina sehingga menyisahkan t-shirt tanpa lengan yang dipakai Lerina.
Tangannya terulur menarik tali celana panjang tidur yang dipakai Lerina.
"Ed...kamu sudah gila ya?" protes Lerina karena celana panjangnya yang sudah melorot. Kulitnya bagian pahanya langsung terasa dingin.
"Aku akan menghapus semua yang sudah Calvin sentuh dari tubuhmu!" Kata Ed lalu langsung mengangkat tubuh mungil Lerina menuju ke kamar mandi.
#Makasi sudah baca part ini
#Like, koment, vote dan kasih bintang 5 ya...
__ADS_1